
Pernikahan paksa tanpa cinta itulah yang dirasakan oleh Pratama saat menikah dengan Sofia. Candra saat ini memijat keningnya yang sudah mulai pening.
"Huh kamu tahu tidak, gara-gara kamu aku hampir saja kehilangan cucuku," tunjuk Candra kepada Pratama.
"Maksud kamu apa Candra?" tanya Putra cemas dengan keadaan cucunya.
"Menurut pihak kepolisian Cassandra memukul-mukul perutnya sehingga sampai pendarahan. Sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit, tadi aku baru saja menjenguknya."
"Apa Om? Katakan sekarang Cassandra ada di rumah sakit mana?" ucap Pratama panik.
Tama panik jika terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Dia sudah tidak apa-apa. Cucuku baik-baik saja. Sebaiknya kamu urus perceraian kamu dengan Sofia. Karena aku tidak mau anakku dimadu," ucap Candra menatap tajam Pratama.
"Iya Om. Sebenarnya kami sudah mengurus perceraian seminggu yang lalu dan tinggal menunggu waktu sidangnya saja."
Diam-diam Pratama mengurus perceraiannya dengan istrinya. Mereka sepakat untuk berpisah. Istrinya tidak keberatan karena memang tidak ada cinta di antara mereka. Karena dulu mereka menikah juga karena melalui perjodohan antara kedua keluarga.
"Baguslah nak. Lagian istrimu itu tidak bisa memberikan Papa cucu."
Putra lalu memandang sahabatnya.
"Candra, aku minta maaf atas kejadian ini. Maafkan putraku dan aku jamin Tama akan segera bercerai dan menikahi Cassandra," ucapnya kembali.
"Hmm iya. Aku juga tidak menyangka kita akan menjadi besan."
"Mungkin Tama sama Cassandra memang berjodoh. Meskipun hubungan mereka bermula tidak baik."
Candra lalu menatap Pratama, calon menantunya.
"Aku tunggu kalian berpisah Tama dan segera nikahi anakku. Karena cucuku juga butuh kasih sayang dari ayahnya."
"Siap Om. Lagian aku sudah lama menaruh hati dengan Cassandra. Hanya saja selama ini aku memendam perasaanku dan mengikuti semua kemauan Papa untuk menikahi Sofia."
"Maafkan Papa ya nak, setelah ini Papa tidak akan memaksa kamu lagi."
"Makasih Pa."
__ADS_1
Candra lalu pamit pulang dan lega setelah tahu bahwa ayah dari cucunya adalah anak dari sahabatnya sendiri. Maka hubungan mereka akan semakin dekat karena sebentar lagi Pratama akan menikahi Cassandra.
...*****...
Beberapa bulan kemudian.
Sekarang Pratama sudah bercerai dengan Sofia. Candra sudah membujuk beberapa kali agar anaknya mau menikah dengan Tama. Namun usahanya belum berhasil.
Di dalam penjara Cassandra mengusap perutnya yang sudah mulai terasa jika dipegang perutnya. Sekarang tak terasa sudah berjalan 3 bulan usia kandungannya. Pratama beberapa kali menemuinya dan membujuknya agar mau menikah dengannya. Cassandra memikirkan lagi perkataan Pratama bahwa kehamilannya itu tidak akan sehat jika terus berada dalam lingkungan penjara apalagi Cassandra hanya makan seadanya. Saat hamil seperti ini Cassandra harusnya banyak memakan buah dan sayuran serta daging yang bergizi. Belum lagi keinginan ngidamnya yang kadang tidak terpenuhi.
"Apa aku harus menikah dengan Om Tama? Tapi aku tidak mencintainya. Hmm namun bagaimanapun juga ia tetap ayah dari bayi yang sedang aku kandung." Batin Cassandra sambil mengelus perutnya.
"Ah, iya mungkin ini semua karma untukku. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Keluarga Alexander dan Keluarga Sanjaya," ucapnya lirih.
"Aku akan menerima tawaran Papa untuk menikah dengan Om Tama. Anakku sepertinya juga butuh ayahnya dan aku tidak mau terus-terusan hidup di sini." Batin Cassandra dengan mantap akan menerima tawaran dari Papanya.
Nanti saat Papa Candra atau Pratama datang menjenguknya Cassandra akan setuju untuk menerima tawaran menikah dengan ayah dari bayi yang dikandungnya. Cassandra sudah cukup menderita hidup di dalam jeruji besi. Cassandra akan memulai hidup barunya dengan Pratama.
Di tempat lainnya Anisa sedang bahagia. Kedua anaknya begitu aktif menendang-nendang dalam perutnya. Kandungan Anisa sudah jalan 8 bulan lebih 1 minggu dan tinggal menunggu waktu satu bulanan lagi si kembar akan lahir.
"Kasih tahu gak ya?" ucap Anisa sambil memegang perutnya dan melemparkannya pandangannya ke lain arah.
"Sayang, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan ketika anak-anak kita begitu aktif menendang-nendang dalam perutmu."
"Rasanya geli bercampur bahagia sayang. Apalagi jika kita bicara dan mereka merespon dengan tendangan kecilnya. Kadang juga terasa ngilu jika tendangannya terlalu kuat," ucap Anisa menjelaskan.
"Sayang, makasih. Kamu adalah anugerah terindah yang Allah berikan untukku. Kamu istri yang hebat dan aku bahagia bisa menikah denganmu," ucapnya yang lalu mengecup kening Anisa.
"Dan kamu juga sudah memberikan kedua anak untukku sebagai bonusnya," ucapnya kembali.
Anisa menutup matanya sejenak saat suaminya mengecup keningnya. Dia merasakan suaminya berbicara begitu tulus kepadanya.
"Hahaha, kamu bisa saja sih sayang dan bilang mereka bonus," ucap Anisa terkekeh geli dan sambil memegang perutnya
Keifano juga ikut memegang perut buncit Anisa.
"Iya bonus yang telah Allah titipkan kepada kita untuk menjaga mereka," ucap Keifano.
__ADS_1
"Oh iya Bunda, aku akan abadikan foto saat kamu sedang mengusap perut," ucapnya kembali.
Anisa lalu memegang perutnya yang sudah membesar itu. Keifano lalu memfoto istrinya dengan jarak tidak sampai 2 meter.
"Sempurna!"
"Apanya yang sempurna?" tanya Anisa menoleh dan lalu mengerutkan keningnya.
"Kamu selalu saja sempurna di mataku Bunda. Makasih karena kamu sudah mau mengandung anak-anakku. Maafkan aku yang dulu telah menyakitimu," ucap Keifano sambil mengecup pipi dan lalu memeluk Anisa.
Meskipun terhalang oleh perutnya yang sudah membesar tetapi Anisa berusaha untuk membalas pelukan suaminya.
"Ayah jangan bicara seperti itu lagi ya, jangan membahas masa lalu. Hmm bagaimanapun juga sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk memberikan suaminya keturunan dan alhamdulilah kita diberikan dua sekaligus sama Allah."
"Baiklah kalau begitu aku ingin punya banyak anak darimu Bunda. Setelah nanti si kembar lahir dan kita akan melakukan program hamil."
"Eh? Banyak anak?" tanya Anisa terkejut yang lalu melepaskan pelukannya.
"Iya, nanti setelah si kembar lahir kita harus honeymoon. Kita belum pernah honeymoon kan sayang?"
Memang semenjak menikah mereka belum pernah pergi honeymoon ke suatu tempat.
"Ehm mana bisa seperti itu sayang? Kita menurut aturan pemerintah saja, dua anak cukup dan tak perlu honeymoon."
"Gak mau, jika ketiga Kakakku masih hidup saja Papa dan Mama punya 7 anak dan aku juga ingin punya banyak anak seperti Papa dan Mama."
"Ehm kalau begitu kita harus menunda untuk punya anak lagi. Program hamilnya nanti saja. Minimal jarak mereka dua sampai tiga tahun ya dari si kembar?"
"Hmm kelamaan sayang. Satu tahun saja jaraknya gimana?"
Anisa membolakan matanya saat suaminya berbicara seperti itu. Dia yang merasakan betapa susahnya saat hamil apalagi hamil anak kembar. Lalu suaminya meminta lagi untuk punya anak saat dirinya sedang hamil.
"Astaga Keifano, masa iya saat nanti anak kita berumur satu tahun dan aku sudah hamil lagi. Hmm yang benar saja?"
"Hehehe itu sudah menjadi tugas kamu sebagai istriku sayang. Kamu harus memberikan aku banyak anak. Seperti Mama memberikan banyak anak kepada Papa," ucap Keifano terkekeh.
Anisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Suaminya ingin punya banyak anak darinya. Padahal si kembar saja belum lahir saat ini.
__ADS_1