Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 60 - Kado Pernikahan.


__ADS_3

Setelah sarapan pagi mereka kembali ke kamarnya. Karin dan Yudha akan membuka kado pernikahan mereka. Ada beberapa tumpukan kado, Karin bingung mau buka kado yang mana. Karena banyak sekali mereka mendapatkan kado, akhirnya separuhnya lagi ada di rumahnya Yudha.


"Mas, kadonya banyak banget. Buka yang mana dulu nih mas?"


"Buka kado yang paling kecil saja dulu sayang," ucap Yudha memberikan saran.


"Ok baiklah."


Karin lalu mengambil kado yang paling tipis dari pada kado yang lainnya. Karin penasaran dengan isinya.


"Kira-kira ini isinya apa ya? Langsung buka saja deh dari pada penasaran," ucap Karin sambil membuka kadonya.


Kado yang Karin buka ternyata dari Alya dan Dion. Mereka memberikan voucher bulan madu ke bandung selama 3 hari.


"Mas, Kak Alya dan Dion kasih kita voucher. Vouchernya tanggalnya 2 hari lagi mas."


"Mana coba aku lihat sayang," ucap Yudha sambil melihat voucher yang dihadiahkan oleh Alya dan Dion.


Yudha membaca vouchernya dan benar saja Alya dan Dion memberikan mereka voucher bulan madu ke bandung.


"Eh mas, ini masih ada suratnya," ucap Karin sambil membuka surat tersebut.


Isi dalam surat tersebut adalah sebagai berikut.


'Assalamualaikum. Selamat menempuh hidup baru Yudha dan Karin. Semoga bahagia selalu, langgeng dan cepat dikaruniai keturunan. Kami sebenarnya bingung mau kado apa sama kalian. Jadi menurut kami ini kado yang tepat untuk kalian. Kami juga berterima kasih kado yang kalian berikan waktu itu akan segera kami pakai untuk si kembar nanti. Selamat berbulan madu di bandung selama 3 hari, semoga segera menyusul si kembar. Biar nanti si kembar ada teman bermainnya saat sudah lahir nanti.


^^^Alya dan Dion.'^^^


Karin melongo melihat isi surat dari Alya dan Dion tersebut. Melihat perubahan raut wajah istrinya Yudha lalu melihat surat dari Alya dan Dion. Yudha tersenyum tidak menyangka Alya dan Dion memberikan kado bulan madu ke bandung.


"Sayang, apa kamu ingin punya anak kembar juga seperti Alya? Aku bisa memberikannya."


"Apa? Anak Kembar?"


Seketika Karin membayangkan Risa kemarin hamil Reno saja sudah begitu besar perutnya. Karin bergerdik ngeri jika nanti hamil anak kembar.


"Sayang kok melamun sih?"


"Eh maaf, sayang aku tidak ingin hamil anak kembar. Kak Risa kemarin saat hamil Reno perutnya sudah sebesar itu apalagi kalau aku hamil anak kembar."


"Sayang, tapi aku ingin punya anak kembar darimu. Pasti nanti akan lucu sayang. Apalagi kalau anaknya laki-laki dan perempuan. Satu mirip denganku dan satunya mirip denganmu. Pasti akan sangat lucu dan menggemaskan," ucap Yudha sambil tersenyum membayangkan wajah anaknya nanti jika kembar.


"Mas, kita lanjut buka kado yang lainnya," ucap Karin mengalihkan pembangunan.


Karin lalu membuka kado dari Risa dan Rey. Karin membolakan matanya saat membuka isi kado tersebut. Seketika Karin teringat saat resepsi pernikahannya. Risa pernah bilang untuk segera membuka kadonya dan ternyata isinya berbagai baju tidur dari model yang biasa sampai ada yang bermodel transparan dan satu pack testpack. Karin lalu membaca surat dari Risa dan Rey.


'Karin jangan lupa segera dipakai ya bajunya biar Kak Yudha bahagia saat kamu pakai ini baju. Aku ingin kamu segera memberikanku ponakan. Biar Reno ada teman bermainnya. Bulan depan jangan lupa testpack itu dipakai ya. Aku harap dua garis nanti hasilnya.

__ADS_1


^^^Risa dan Rey.'^^^


"Astaga, Kak Risa dan Kak Rey kadonya begini amat ya."


"Memang kadonya apa sayang?" Tanya Yudha penasaran.


"Eh? Tidak apa-apa kok sayang kadonya biasa saja," ucap Karin sambil menutup kado dalam box tersebut.


"Sini coba aku lihat kadonya sayang."


"Ah jangan dilihat." Seketika Karin mencegah Yudha untuk melihat kado dari Rey dan Risa.


Yudha mengernyitkan dahinya saat Karin mencegah untuk melihat kado dari Rey dan Risa.


"Memang kadonya apa sayang?"


"Tidak apa-apa, biasa saja kok kadonya. Ehm itu cuma baju saja kok sayang."


Yudha mengangguk dan nanti saat Karin membuka kado yang lainnya Yudha akan membuka kado dari Risa dan Rey karena Yudha penasaran apa isi kadonya.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu sebentar ya. Kamu lanjutkan saja buka kadonya."


"Siap Nyonya Sanjaya," ucap Yudha sambil hormat.


Karin terkekeh geli saat Yudha berbicara seperti itu. Memang sekarang dirinya sudah menikah dengan seorang dokter muda yang begitu tampan bernama Yudha Sanjaya. Jadi gelar Nyonya Sanjaya tentu saja langsung dia dapatkan. Saat Karin sudah masuk ke kamar mandi Yudha lalu membuka kado dari Risa dan Rey. Yudha terkejut melihat isi kado tersebut dan seketika tersenyum saat membaca isi surat tersebut.


"Reno akan segera punya teman bermainnya Risa dan Rey. Aku akan berusaha secepat mungkin untuk memberikan kalian ponakan," ucap Yudha tersenyum.


"Karin akan sangat cantik jika pakai ini nanti malam," ucapnya sambil tersenyum.


Yudha tak sadar bahwa Karin sekarang sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekatinya. Karin matanya terbelalak saat Yudha memegang baju yang Risa berikan untuknya, apalagi Yudha tersenyum melihat pakaian tersebut.


"Mas........." Yudha langsung menoleh kearah istrinya. Yudha terkejut saat Karin sudah selesai dari kamar mandi. Yudha langsung memasukkan baju tersebut ke dalam kotak box seperti semula.


"Eh sayang sudah selesai ke kamar mandinya?"


"Pintar sekali Kak Yudha mengalihkan pembicaraan." Batin Karin.


"Mas kenapa buka kado itu?"


"Kata kamu lanjutkan buka kadonya, aku penasaran sama isi kado dari Risa dan Rey. Sayang kamu pakai kado dari Risa ya nanti malam?" ucap Yudha sambil menggenggam tangan Karin.


Tatapan mata Yudha seperti memohon. Karin tidak tega melihatnya. Lagian tidak ada salahnya untuk mencoba baju yang Risa berikan.


"Hmm iya." Karin mengiyakan perintah suaminya. Yudha tersenyum Karin menuruti keinginannya.


"Sayang, kita akan segera berikan ponakan untuk Risa dan Rey. Reno akan segera punya teman bermain. Kamu siap-siap 9 bulan lagi akan melahirkan," ucap Yudha berbisik ditelinga Karin.

__ADS_1


Karin membayangkan saat Risa mau melahirkan Reno dan masih terngiang-ngiang sampai saat ini dipikirannya. Saat itu Risa terus menerus memegang perutnya sambil berteriak karena merasakan kesakitan. Karin bergerdik ngeri membayangkannya jika hal itu segera dirinya alami.


"Eh sayang aku takut untuk hamil. Kemarin saat Kak Risa mau melahirkan, aku yang menyetir mobilnya. Kak Risa sepertinya kesakitan sekali saat mau melahirkan Reno."


"Sayang kamu tidak perlu takut. Risa kemarin lahirannya secara normal. Kamu bisa operasi caesar saja nanti. Apalagi kalau nanti kamu beneran hamil anak kembar hehehe," ucapnya terkekeh.


"Operasi caesar kan nanti membekas sayang. Aku gak mau perutku jadi ada bekas jahitannya."


"Sudah itu kita bahas nanti saja. Sekarang waktunya kita bikinin Reno teman bermain."


Karin matanya terbelalak saat Yudha bicara seperti itu.


"Mas, kita sudah melakukannya semalam," ucapnya sambil memundurkan tubuhnya.


"Hari ini kan belum sayang," ucap Yudha menggoda Karin.


"Mas jangan sekarang!" ucapnya menatap tajam suaminya.


"Baiklah, tapi nanti malam tidak boleh kamu menolakku sayang dan jangan lupa pakai baju dari Risa."


"Iya......." Karin mengangguk pelan.


Yudha tersenyum istrinya benar-benar penurut. Mereka lalu kembali membuka kadonya dan rata-rata semua memberikan kado berbagai souvernir, handuk dan seprei. Karin mendapatkan kado dari sahabatnya Astrid dan Andre berupa baju tidur couple dan seprai. Sedangkan Vino memberikan kado Karin dress cantik selutut dan jika Karin memakainya akan terlihat sangat cantik. Apalagi surat dari Vino yang bilang Karin harus memakainya nanti saat ulang tahunnya.


"Sayang, itu kado dari Vino dibuang saja."


Karin mengeryitkan dahinya saat Yudha ingin kado dari Vino dibuang.


"Ini kado dari Vino dress yang sangat cantik, bahkan aku suka. Kenapa harus dibuang sayang?"


"Karena aku tidak suka kalau kamu memakai barang pemberian dari laki-laki lain."


"Astaga sayang kamu jangan berlebihan deh! Ini hanya sebuah kado."


Yudha masih cemberut saat Karin mendapatkan kado dari Vino. Yudha hanya terdiam saja tidak berbicara lagi. Karin melihat Yudha yang cemburuan pun senang. Karena artinya Yudha benar-benar mencintainya.


"Sayang kamu cemburu?" ucapnya terkekeh.


"Siapa juga yang cemburu!"


"Kalau tidak cemburu itu kenapa mukanya ditekuk?"


Yudha kembali terdiam. Karin lalu memegang kedua pipi suaminya agar menatap wajahnya dan tatapan mata mereka saling terkunci.


"Sayang, Vino itu hanya sahabatku. Aku hanya mencintaimu dan semalam adalah bukti bahwa aku hanyalah milikmu. Kamu jangan ragu dengan cintaku," ucap Karin sambil mengecup pipi Yudha agar tidak ngambek lagi.


Yudha bahagia Karin berbicara seperti itu kepadanya. Sekarang hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


"Aku tidak ragu dengan cintamu. Terima kasih sayang kamu telah mencintaiku. Aku juga sangat mencintaimu Istriku."


Yudha dengan cepat mengecup kening Karin. Yudha lalu memeluk Karin dengan erat dan Karin pun membalas pelukannya. Yudha lega akhirnya cinta Karin begitu tulus kepadanya. Perbedaan usia tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa bersama. Yudha berharap akan terus bahagia seperti ini dengan Karin dan juga anak-anaknya kelak. Yudha juga ingin dalam rumah tangganya tidak akan ada pelakor atau pebinor. Yudha berharap kedepannya rumah tangganya akan baik-baik saja.


__ADS_2