
Karin tak menyangka bahwa tamu yang datang di malam hari adalah suaminya. Yudha tersenyum saat melihat Karin yang membukanya pintunya.
"Assalamualaikum sayang. Alhamdulillah kamu belum tidur."
"Wa'alaikum Salam Mas. Aku baru saja terbangun dari tidurku saat tenggorokanku terasa haus."
Karin tidak bercerita bahwa dirinya sedang ngidam ingin makan martabak manis.
"Mas gak dibolehin masuk rumah nih?"
"Eh iya Mas, sampai lupa. Silakan masuk Mas."
Yudha tersenyum dan lalu masuk ke dalam rumah. Mata Karin berbinar-binar saat melihat kantong plastik transparan yang berisi dua kotak martabak yang sedang Karin inginkan.
"Kenapa bisa kebetulan sekali? Di saat aku ingin makan martabak manis dan suamiku datang membawakan martabak." Batin Karin.
"Sayang, aku kesini karena ingin makan martabak manis bersamamu. Entah mengapa aku ingin makan martabaknya sama kamu sayang."
"Kamu ternyata sedang ngidam sepertiku Mas. Entah mengapa sepertinya anak-anak kita sengaja membuat kita agar selalu bersama, meskipun aku berusaha untuk menghindar darimu." Batin Karin.
"Ehm... Kalau begitu kita ke ruang makan saja Mas."
Terdengar suara derasnya air hujan bercampur dengan petir di luar. Suara gemuruh terdengar sangat menggelegar sampai ke telinga. Karin dan Yudha kini menikmati martabak manisnya di saat derasnya hujan turun membasahi bumi. Sepertinya cuaca mendukungnya untuk makan martabak manis bersama.
"Mas, kita bisa kebetulan ingin makan martabak manis bersama. Aku juga dari tadi ingin martabak manis."
"Ya karena kita sehati sayang hehehe," ucapnya terkekeh.
"Oh iya kenapa kamu tidak memberitahu aku sayang kalau kamu ingin makan martabak dari tadi?" ucapnya Kembali.
"Eh, itu mas karena hari sudah malam dan aku tidak ingin merepotkan kamu Mas."
"Sayang kamu kalau mau apa-apa tinggal bilang saja ya jangan kamu pendam keinginan kamu.
Untung saja aku membawakanmu martabak manis malam ini, kalau tidak anak-anak kita bisa ileran sayang kalau kamu ngidamnya tidak sampai keturutan."
"Ileran? Ah, aku tidak mau kalau sama anakku ileran. Apalagi aku mengandung tiga anak sekaligus. Hmm... Aku akan menuruti kemauan kamu nak. Maafkan Mamamu tadi sempat akan menunda makan martabak." Batin Karin.
__ADS_1
"Iya Mas lain kali aku bilang ke kamu kalau ingin makan sesuatu."
Setelah mereka makan martabaknya kini Yudha akan kembali pulang ke rumah. Namun di luar masih hujan lebat dan bercampur dengan kilat petir yang terlihat di langit. Yudha memandang ke arah luar saat melangkahkan kakinya ke teras rumah Karin berjalan dengan cepat menyusul suaminya. Karin tidak tega jika suaminya pulang di saat derasnya hujan seperti sekarang.
"Mas, sebaiknya menginap di sini. Lihatlah hujan turun dengan deras disertai petir."
Yudha kini dengan senyuman merekah saat istrinya bicara seperti itu. Sepertinya kedatangannya malam ini tidak sia-sia. Niatnya hanya untuk makan martabak manis bersama istrinya dan kini istrinya menawarkan untuk menginap. Yudha tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Iya sayang aku akan menginap malam ini. Aku akan menemanimu tidur bersama ketiga anak-anak kita. Mereka butuh kasih sayang dari Papanya." Kini tangan Yudha sudah berada di perut Karin.
Karin terkejut saat Yudha bicara seperti itu. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Yudha kalau anak-anaknya butuh perhatian dan kasih sayang dari Papanya.
"Hmm... Iya Mas. Ya sudah ayo masuk Mas. Hari sudah malam."
"Iya sayang."
"Yes! Akhirnya aku akan tidur dengan istri dan juga ketiga anak-anakku. Terus saja setiap hari hujan lebat. Itu akan lebih baik dan akan menguntungkan untukku." Batin Yudha bahagia.
Kini mereka sudah berada di kamar Karin. Kini Karin sudah merebahkan tubuhnya ke ranjang. Rasa ngantuknya sudah datang ingin segera memejamkan matanya. Perlahan Yudha naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Yudha lalu tubuhnya menghadap ke arah Karin.
"Selamat tidur istri cantikku dan juga anak-anakku. Aku menyayangi kalian," ucapnya sambil mengecup kening Karin lalu mengecup perut Karin tiga kali seperti mengucapkan selamat tidur untuk ketiga anaknya yang masih dalam kandungan istrinya.
Yudha mengamati wajah cantik istrinya. Yudha tak menyangka istrinya yang masih muda berumur 19 tahun itu kini sedang mengandung ketiga anaknya. Rasa bahagianya kini bertambah saat melihat ke arah perut Karin yang terlihat sedikit, iya hanya terlihat sedikit saja.
"Anak-anakku Papa janji akan menjaga kalian sampai lahir. Kalian cepat tumbuh ya di dalam perut Mama Karin. Papa menyayangi kalian anak-anak Papa." Lirih Yudha sambil memegang perut Karin sebentar, kali ini Yudha tidak mengelus perut Karin karena takut Karin akan terusik tidurnya.
Pagi hari setelah sholat subuh mereka kembali terlelap dalam mimpinya. Kini Yudha tiba-tiba merasakan perutnya bergejolak dan ingin segera memuntahkan semua isi perutnya. Yudha berlari menuju ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Karena buru-buru Yudha akhirnya lupa menutup pintu kamar mandi.
"Hoek.......... Hoekk..............." Yudha memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.
Karin yang mendengar suara Yudha muntah pun merasa terusik tidurnya. Perlahan Karin mengerjapkan matanya dan terbangun karena mendengar suara Yudha yang masih muntah-muntah di wastafel kamar mandi. Karin menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjangnya. Karin lalu menghampiri suaminya yang sedang muntah. Yudha masih muntah di kamar mandi. Karin lalu membantu Yudha untuk memijat tengkuk lehernya.
"Mas, kamu masuk angin?"
Yudha hanya menggelengkan kepalanya dan ingin segera mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang mengalami morning sickness. Setelah selesai memuntahkan semua isi perutnya kini Karin menuntun Yudha yang terlihat lemas untuk berbaring di ranjang.
"Sebentar ya Mas. Aku pergi ke dapur dulu. Aku akan buatkan teh jahe untukmu."
__ADS_1
"Sayang jangan pergi dariku. Aku ingin selalu bersamamu." Yang Yudha inginkan sekarang hanya berdekatan dengan istrinya.
"Kak Yudha ini ngelindur apa gimana. Jelas-jelas aku hanya ingin membuatkannya teh jahe untuknya bukan pergi meninggalkannya." Batin Karin.
Dengan segera Karin pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya. Setelah selesai Karin kembali melangkahkan kakinya ke kamarnya.
"Mas, diminum dulu tehnya. Biar tubuh kamu lebih enakan." Karin menyerahkan secangkir teh ke suaminya.
Kini Yudha minum teh jahe yang istrinya buat. Memang benar tubuhnya kini agak sedikit lebih enakan.
"Mas lagi masuk angin ya? Jadi tadi muntah-muntah."
"Tidak sayang Mas hanya terkena Sindrom Couvade."
"Hah?? Maksudnya apa Mas?" Karin terkejut saat ini suaminya terkena penyakit apa. Karin takut Yudha akan pergi meninggalkannya. Karin bingung dengan nasib ketiga anaknya kalau lahir tanpa seorang ayah. Kini pemikiran Karin sudah terlalu jauh.
"Apa Mas sakitnya sudah parah?" Kini Karin mulai meneteskan air matanya.
"Kamu bicara apa sih sayang? Dan kenapa kamu menangis?" Kini Yudha menghapus air mata istrinya.
"Mas bilang padaku. Apa Mas terkena penyakit serius?"
"Tidak sayang. Mas hanya terkena Sindrom Couvade atau biasa disebut dengan kehamilan simpatik."
"Maksudnya apa Mas?" Karin belum paham dengan arah pembicaraan suaminya.
"Ini sudah hal biasa terjadi saat seorang istri sedang hamil sayang. Jadi kamu yang hamil aku yang mual."
Lalu Yudha menceritakan semuanya dengan detail mengenai Sindrom Couvade agar Karin paham. Kini Karin mengerti karena suaminya begitu mencintainya dan saking dekatnya hubungan sang anak dan ayahnya sehingga Yudha mengalami kehamilan simpatik.
"Oh jadi seperti itu Mas. Aku kira kamu terkena penyakit yang serius dan aku sangat takut untuk kehilangan kamu Mas." Karin dengan cepat langsung memeluk suaminya. Karena Karin teringat saat Yudha pernah mengalami mati suri.
Yudha tersenyum saat melihat istrinya menghawatirkannya. Kini Yudha membalas pelukannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu istriku. Karena aku begitu mencintaimu."
Yudha tidak akan pernah melepaskan Karin meskipun di luar sana banyak laki-laki yang mencintai istrinya termasuk sahabatnya yang bernama Vino dan kemarin juga dokter yang memeriksa Karin sepertinya suka dengan istrinya. Karin wajahnya memang masih sangat imut karena baru saja lulus SMA. Wajar saja banyak laki-laki yang suka dengan istrinya karena Karin wajahnya sangat cantik. Yudha tadi bertanya kepada Karin apakah Karin masih kecewa dengannya. Karin menggelengkan kepalanya pertanda sudah tidak kecewa terhadap suaminya.
__ADS_1
Akhirnya Yudha lega istrinya sudah tidak kecewa lagi dengannya. Yudha tidak masalah jika dirinya mengalami kehamilan simpatik. Karena Yudha bahagia bisa meringankan yang harusnya dialami istrinya. Ini tak sebanding dengan istrinya yang harus menjaga ketiga anaknya yang masih dalam kandungannya. Yudha akan menuruti segala kemauan Karin selama hamil. Karena keinginan Karin merupakan keinginan anaknya juga yang masih dalam kandungan.