
Dokter Siska dan Dokter Rio memang sudah saatnya menikah menyusul Yudha dan Karin.
"Lebih baik segera halalin Siska, Rio. Ingat umur kamu sudah 30 tahun. Aku saja sudah mau punya 3 anak. Memangnya kamu tidak mau punya anak yang lucu-lucu seperti Keifano dan Keisha?" ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk kedua anaknya yang sedang asyik bermain.
"Iya... Aku akan menikahi Siska secepatnya."
"Gitu dong bro! Apa kamu tidak takut kalau Siska nanti diambil orang kalau kamu kelamaan tidak menikahinya. Aku saja menikahi Karin setelah dia lulus SMA, takut diambil Dion dan Vino bro."
Karin mencubit perut suaminya.
"Kok dicubit sih sayang? Sakit nih!"
"Kamu jangan terlalu mengejeknya. Kasihan Dokter Rio. Lagian kenapa bahas Dion dan Vino segala?" Menatap tajam suaminya.
"Biar Rio semangat untuk naik ke pelaminan saja kok sayang."
"Aku pulang dulu ya?" Rio tak enak melihat pasangan suami istri tersebut bertengkar karena membahas dirinya dan juga tunangannya.
"Iya Rio, terima kasih ya sudah datang di acara tujuh bulanan istriku."
"Dokter Rio terima kasih sudah datang dan hati-hati di jalan ya," ucapnya dengan ramah.
"Sama-sama. Iya aku akan selalu hati-hati naik mobilnya. Karena aku belum menikah." Diakhiri gelak tawanya.
Dokter Rio lalu meninggalkan Yudha dan Karin. Sekarang Dokter Rio sudah pulang.
"Sayang, kok kamu terlalu perhatian sih sama Rio?"
Karin membulatkan matanya. Sepertinya suaminya cemburu.
"Kamu cemburu Mas sama sahabatmu sendiri?"
"Iya karena kamu terlalu perhatian kepadanya. Bilang hati-hati di jalan segala lagi." Yudha mendengus kesal karena istrinya perhatian dengan sahabatnya.
"Itu wajar Mas. Setiap orang yang mau pulang kita harus bilang hati-hati."
"Pokoknya aku tidak suka," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Karin lalu tertawa melihat suaminya sifat cemburuannya masih sama seperti dulu saat Karin sedang bersama Vino.
"Mas, jangan terlalu berlebihan deh! Aku cintanya hanya sama kamu. Kita sudah mau punya anak tiga loh Mas. Kamu masih saja cemburuan."
"Habis kamu terlalu cantik sih sayang. Jadi aku takut kalau kamu akan pindah ke lain hati."
"Astaga Mas. Kamu mikirnya kejauhan. Aku ini istri kamu dan aku juga ibu dari kedua anakmu. Kamu jangan ragu akan cintaku."
__ADS_1
"Iya aku tidak ragu kok sama kamu sayang. Tadi aku hanya kesal saja dengan Rio yang terlalu akrab sama kamu."
"Mas, sudahlah jangan terlalu cemburuan. Slow saja ya..."
"Iya sayangku ibu dari anak-anakku." Mencubit pipinya istrinya.
Yudha gemas jika istrinya hamil maka pipinya chubby.
...*****...
Sebulan telah berlalu kini usia kandungan Karin sudah berjalan 8 bulan. Karin sudah mulai merasakan pinggangnya sudah mulai pegal. Yudha selalu telaten mengurut pinggang istrinya. Bagaimanapun juga istrinya yang sudah memberikan dirinya anak-anak yang lucu.
Karin sudah mulai merasa engap untuk berjalan sudah mulai ngos-ngosan. Biasanya saat Yudha pulang Karin membuatkan teh hangat atau teh jahe untuknya. Namun sudah dua hari ini Yudha melarangnya dan biar Bibi saja yang membuatkan. Yudha tidak mau merepotkan istrinya yang sedang hamil tua.
"Sayang..." Yudha membuka pintu kamarnya sambil membawa bunga mawar merah muda yang banyak.
Melihat istrinya akan beranjak dari tempat tidurnya Yudha pun langsung tidak membolehkan istrinya untuk turun dari tempat tidur.
"Eh Mas, sudah pulang."
"Iya sayang, kamu di tempat tidur saja. Sudah ada Bibi nanti yang akan mengantarkan minuman hangat untuk kita."
Karin mengangguk pelan. Suaminya datang membawa bunga untuknya.
"Sayang ini bunga untukmu."
"Tentu dong sayang. Aku melakukan ini semua karena aku tidak mau kehilangan kamu."
"Maksudnya Mas? Aku tidak mengerti akan ucapan kamu."
"Kamu kan banyak yang menyukai pria-pria yang lebih muda di luaran sana. Jadi aku khawatir akan kehilangan kamu."
"Tidak akan Mas. Mana mungkin aku meninggalkan kamu. Bahkan kita sudah punya anak Mas."
"Tapi aku takut sayang. Lihatlah Vino saja sampai saat ini belum menikah juga. Aku takut Vino akan merebut kamu dariku."
"Mas mikirnya kejauhan deh. Mana mungkin aku akan meninggalkan kamu. Mas jangan khawatir ya. Kalau aku meninggalkan kamu lalu siapa yang akan menjadi ayah dari anakku ini Mas," ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Sayang, maaf tadi aku berbicara seperti itu. Aku hanya takut saja."
"Sudah Mas tidak ada yang perlu kamu takutkan. Selamanya aku akan menjadi istri kamu. Kita akan membesarkan Keifano, Keisha dan anak yang masih dalam kandunganku," ucap Karin dengan senyuman.
"Makasih ya sayang." Yudha lalu mengecup kening istrinya.
Dari tadi Karin memegang perutnya. Yudha juga memegang perut Karin dan mereka kini memegang perut Karin bersamaan.
__ADS_1
"Aku janji akan setia sama kamu dan kita akan membesarkan anak-anak kita bersama-sama."
"Iya Mas. Aku percaya sama kamu."
"Ya sudah aku mandi dulu ya sayang?"
Karin mengangguk pelan. Yudha lalu masuk ke dalam kamar mandi. Bibi datang membawakan dua cangkir minuman hangat. Seperti biasa teh jahe yang selalu menjadi minuman favorit Yudha dan Karin.
"Taruh di meja saja Bibi."
"Iya Non, Bibi permisi dulu ya mau ke dapur."
"Iya Bi." Jawabnya singkat.
Bibi lalu pergi meninggalkan kamar Yudha dan Karin.
"Alhamdulillah Non dan Tuan selalu romantis. Semoga mereka langgeng terus sampai maut memisahkan." Bibi tadi melihat bunga mawar merah muda di tempat tidur Karin.
Karin masih bersenderan di tempat tidurnya. Di sampingnya sudah ada beberapa tangkai bunga mawar yang masih segar.
"Mas Yudha sangat romantis sekali." Tersenyum bahagia, Yudha selalu memberikan bunga mawar sejak dahulu saat Karin masih SMA. Yudha sering memberinya mawar.
"Nak, Papa kamu orang yang baik. Papa kamu juga sangat sayang sama Mama. Jika kamu berjenis kelamin laki-laki, aku berharap kamu akan bersikap seperti Papa kamu saat kamu sudah besar," sambil mengelus perutnya pelan.
Yudha sudah selesai mandi dan menggunakan pakaiannya dengan rapi. Yudha melihat istrinya yang sedang menghirup bunga mawar pemberiannya. Yudha bahagia Karin menyukai bunga pemberiannya. Yudha lalu mendekati istrinya.
"Sayang, apa kamu suka?" Sambil merapikan anak rambut istrinya dan mengelus rambut istrinya perlahan.
"Suka sekali Mas. Kamu selalu romantis sejak dulu."
Yudha lalu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan terus membuatmu bahagia sayang. Berjanjilah untuk selalu setia dan sehidup semati denganku."
"Iya Mas, aku berjanji akan selalu setia dan sehidup semati dengan kamu suamiku Yudha Sanjaya."
Yudha bahagia istrinya berbicara seperti itu. Yudha berharap tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kehidupan rumah tangganya. Sekarang Yudha sudah bahagia dengan istrinya dan kedua anaknya. Tak lama lagi si kecil akan lahir ke dunia. Yudha sudah tidak sabar menunggu kelahiran si jagoannya.
angan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Gift dari kalian sangat membantu author untuk naik peringkat rangking 😊
Terima kasih yang sudah kasih gift author 💙
__ADS_1