
Pandangan mata Dion tertuju pada dua menu minuman yang ada di toko kuenya Kak Alya.
"Mbak kenapa menu minumannya hanya hot chocolate sama mineral water saja?"
"Sebenarnya Bu Alya hanya ingin menjual beberapa roti, bolu dan brownies saja. Namun saat cuaca panas para pengunjung yang sedang antri banyak yang kehausan jadi Bu Alya membeli kulkas untuk menjual air mineral dingin. Sedangkan untuk minuman coklat panasnya itu cocok untuk cuaca di kala hujan dan semuanya berhasil laris terjual mas."
"Iya Bu Alya juga suka coklat panas. Karena itu minuman favoritnya dan beliau hampir tiap hari minum itu. Katanya bisa merilekskan pikiran sejenak saat minum coklat panas. Bu Alya juga kadang yang membuatnya untuk para pembeli jika kami sedang kewalahan saat toko mulai ramai. Toko kami mulai ramai pembeli saat sore dan malam hari mas," ucap karyawan satunya.
"Eh... Boleh dong mbak saya juga mau coklat panasnya. Tapi dibungkus saja ya."
Dion sebenarnya ingin meminumnya di toko Alya. Tapi mamanya menyuruhnya tadi supaya cepat pulang karena akan ada arisan di rumah.
"Baik mas." karyawan toko tersebut langsung membuatkan coklat panas untuk Dion.
Dion lalu membayar beberapa kue, sekotak brownies semua pesanan mamanya dan satu cokelat panas yang ia pesan.
"Total semuanya jadi berapa mbak?"
"Semuanya jadi Rp 247.500 mas."
Dion lalu mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.
"Kembaliannya jadi Rp 52.500 ya mas."
"Tidak usah kembali buat mbak saja."
Dion lalu mengambil kantong plastik yang diberikan oleh karyawan toko tersebut.
"Terima kasih mas. Semoga mas diperlancar urusannya dalam mencari rezeki dan jangan lupa datang kembali ke toko kami mas."
"Sama-sama mbak. Terima kasih atas doanya. Mama saya sudah menjadi langganan beli kue di toko ini. Hanya saja baru kali ini saya yang beli karena kebetulan saya dari kampus dan arahnya sejalan dengan rumah saya."
"Oh kalau boleh tahu nama mama mas siapa barangkali kita sudah kenal."
"Marisa."
"Oh Bu Marisa kami kenal mas. Memang benar Bu Marisa pelanggan tetap kami."
"Iya. Kalau gitu saya permisi pulang dulu ya, kuenya udah ditungguin mama saya untuk arisan di rumah. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam. Hati-hati mas."
Dion hanya menganggukkan kepalanya dan pergi dari toko kuenya Alya. Dion lalu melajukan mobilnya meninggalkan toko kuenya Alya. Setelah Dion pergi Alya memberitahu karyawannya untuk makan siang secara bergantian agar tetap ada 1 orang yang melayani pembeli di depan.
__ADS_1
"Zahra kamu makan duluan ya. Habis itu gantian sama Tika."
"Baik Bu Alya," ucap Zahra sambil pergi ke belakang dan makan di ruang karyawan.
Sekarang didepan hanya ada Tika dan Alya.
"Bu barusan ada mas-mas masih muda memborong beberapa kue kita, brownies dan coklat panas. Katanya mamanya ada arisan di rumah. Bu Marisa pelanggan tetap dan dia mama dari mas-mas tersebut."
"Hmm seperti Mamaku saja hari ini juga sedang arisan." batin Alya.
"Oh ya? Wah bagus dong biar kita tutupnya lebih cepat dan gak kemalaman."
"Iya Bu Alya. Sepertinya mas-mas yang tadi baik orangnya Bu. Harusnya uangnya kembalian Rp 52.500 tapi dia gak mau menerima dan katanya buat saya."
"Ya udah gak apa-apa kok itu rezeki kamu."
...*****...
Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumahnya. Di rumah sudah ada 2 mobil yang terparkir di halaman rumahnya dan Dion yakin itu pasti mobil teman arisan mamanya. Teman arisan mamanya yang lainnya belum pada datang.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum Salam," ucap mereka bersamaan.
"Sini sayang mama kenalkan kamu ke teman mama," ucapnya kembali.
Dion langsung mengecup punggung tangan mamanya kemudian ke kedua teman arisan mamanya.
"Nak ini Bu Sofie dan ini Bu Ella," ucap Mama Marisa yang menujuk teman arisannya.
"Selamat siang tante," ucapnya dengan senyuman.
"Anak yang sopan santun. Jadi ini anak jeng Marisa yang katanya seorang Hafidz Qur'an itu dan lulusan pondok pesantren. Wah gak nyangka anak jeng Marisa masih muda banget ternyata. Calon menantu idaman nih dari akhlaknya kelihatannya anak yang baik." batin Sofie.
Dion ke belakang dulu ya ma. Dion mengkode ke mamanya bahwa akan menyuruh Bibi untuk mempersiapkan kue dan brownies yang ia beli dan dihidangkannya. Beberapa menit kemudian Bibi sudah membawa berbagai kue dan brownies di piring untuk disajikan ke tamunya. Mama Sofie tahu bahwa kue yang di beli Dion tadi dari tokonya.
"Ehm jeng kuenya belinya dimana? Enak sekali rasanya," ucap Ella.
Sofie terdiam ingin menjawab kue tersebut dari tokonya tapi tidak enak dengan Marisa.
"Ini saya beli di toko kue langganan saya jeng Ella."
"Oh iya jeng Sofie tadi anak saya Dion yang saya ceritakan waktu itu. Dia gagal dalam perjodohannya dengan sepupu temannya. Jeng Sofie gimana kalau kita menjodohkan anak-anak kita? Katanya anak jeng Sofie ingin punya calon suami yang seorang penghafal Al Qur'an. Kebetulan anak saya lulusan pondok pesantren."
__ADS_1
"Saya bingung jeng. Apakah anak jeng mau dengan anak saya yang usianya lebih dewasa 3 tahun darinya? Saya juga belum yakin anak saya mau dengan berondong."
"Kita coba saja dekatkan mereka jeng. Siapa tahu cocok, soal usia kan tidak jadi masalah. Saya juga belum cerita mengenai hal ini sih dengan suami dan anak saya," ucap Marisa.
"Baiklah jeng. Nanti saya coba tanya ke anak saya dia mau tidak punya pendamping hidup yang lebih muda darinya."
"Sip jeng, nanti saling berkabar ya?"
"Iya jeng Marisa."
Beberapa temannya sudah datang. Mereka lalu mengkocok arisan dan kebetulan yang dapat Sofie.
"Alhamdulilah saya yang dapat. Jadi arisan berikutnya di rumah saya. Saya tunggu kedatangan kalian semua ya jeng jangan ada yang absen tidak datang loh ya."
"Siap jeng Sofie. Saya pasti datang," ucap Marisa.
"Ok jeng," ucap Ella.
"Pasti jeng," ucap mereka bersamaan.
Setelah itu mereka semua berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
...*****...
Dion merebak tubuhnya di ranjang. Seketika ia teringat dengan Alya. Dion merogoh kantong saku celananya untuk menghubungi Alya lewat WhatsApp.
📤 Dion : "Assalamualaikum Kak Alya ini nomor Dion."
📥 Alya : "Wa'alaikum Salam. Ok Kakak save ya."
📤 Dion : "Iya Kak 🙂"
Dion masih menunggu balasan dari Alya namun Alya tak kunjung untuk membalas pesannya.
"Kak Alya gak balas pesan WhatsApp ku. Atau aku WhatsApp lagi saja ya? Ah malu jika harus mengirim pesan WhatsApp lagi. Mending besok saja."
Seketika mata Dion ngantuk dan kemudian beberapa menit sudah terlelap.
"Nak ayo makan dulu. Kamu belum makan kan dari tadi?" ucap Mama Marisa di luar kamar Dion.
Karena tidak ada sahutan dari anaknya Marisa langsung masuk ke kamar Dion.
"Pantas saja gak jawab ternyata tidur. Biarkan saja dulu lah nanti biar bibi yang bangunin. Kalau saja kamu sudah punya istri nak. Pasti yang masakin istrimu."
__ADS_1
Mama Marisa langsung menutup pintu kamar anaknya pelan-pelan agar anaknya tidak terbangun.