Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 23 - Ingin Segera Menghalalkanmu


__ADS_3

Sore hari Yudha sangat rindu dengan Karin. Yudha lalu mengeklik menu aplikasi hijaunya dan mulai melakukan panggilan video.


Yudha : "Sayang kamu lagi apa?"


Karin : "Aku habis mandi. Sekarang lagi sama Momo."


Yudha : "Momo siapa?" tanyanya penasaran.


Karin : "Sebentar ya sayang, aku taruh dulu hpnya di meja biar kamu bisa lihat Momo secara langsung."


Karin : "Ini Momo sayang. Aku menemukannya di dekat parkiran sekolah dan baru saja aku memandikannya."


Yudha : "Oh kamu suka kucing ya sayang? Tapi jangan lupa selalu cek kesehatan Momo di dokter hewan ya? Biar dia gak gampang sakit."


Karin : "Iyaaa... Pak Dokter yang bawel," ucapnya sambil mendengus kesal.


Yudha : "Eh eh... Hadap sini dong sayang. Kok jadi cuekin aku sih?"


Karin : "Aku lebih suka main sama Momo, karena kamu mulai bawel sih."


Karin lalu bercanda dengan Momo. Yudha melihat Karin begitu sayang dengan kucing yang baru ditemukannya itu. Seketika Yudha tersenyum meskipun sedang di cuekin Karin.


"Sama kucing saja Karin begitu sayang. Apalagi sama anaknya sendiri nantinya ya? Ah aku jadi ingin cepat-cepat bertunangan denganmu sayang, lalu kita nanti segera menikah dan punya anak yang lucu-lucu darimu." batin Yudha sambil memperhatikan Karin yang sedang bercanda dengan kucingnya.


Yudha : "Ya udah sayang aku tutup videonya ya. Jangan lupa makan sayang. Wassalamualaikum."


Karin : "Iya. Wa'alaikum Salam."


Setelah video call terputus Yudha masih memikirkan Karin dengan kucingnya. Yudha jadi ingin segera memiliki Karin segera saat tadi Yudha begitu melihat Karin sepertinya sabar dan telaten mengurus kucingnya. Mereka akan ke Korea beberapa minggu lagi untuk bertemu dengan kedua orang tua Karin sekaligus merencanakan pertunangannya.


"Setelah bertunangan denganmu, aku ingin segera menghalalkanmu sayang." batin Yudha.


...*****...


Hari berganti hari tak terasa Dion sekarang sudah hampir sebulan bekerja di perusahaan Papanya. Dion bekerja sebagai asisten Papanya sendiri. Sebenarnya Papanya sudah mempunyai asisten pribadi namun untuk melatih anaknya bekerja, Papanya memutuskan Dion untuk menjadi asistennya dan belajar mengembangkan perusahaan. Dion sekarang sering menemani Papanya meeting bersama klien. Dion sekarang merasakan apa yang Papanya rasakan. Ternyata mencari uang tidaklah begitu mudah. Setelah pulang kerja tak lupa Dion mengetik naskah skripsinya Alya. Jadi setiap harinya Dion kuliah sampai siang, bekerja sampai sore dan malamnya mengerjakan tugas dan mengetik naskah skripsinya Alya dari buku yang Alya berikan padanya.


...*****...

__ADS_1


Setelah selesai kelasnya Dion makan terlebih dahulu bersama Surya di kantin.


"Eh bro, aku dijodohkan dengan kedua orang tuaku."


"Apa?? Lalu bagaimana dengan Kak Alya? Bukankah kamu sudah menerima saranku untuk menikahinya."


"Ya aku belum mengungkap perasaanku dengan Kak Alya. Nanti Kak Alya kaget soalnya baru kenal belum lama kok aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya."


"Bro kamu mau gak sama cewe yang dijodohkan denganku? Aku sekarang sudah memantapkan hatiku untuk Kak Alya."


"Hah?? Yang benar saja kamu ini Dion. Kamu menawariku wanita yang jelas-jelas dijodohkan denganmu. Apa aku tidak salah dengar?"


"Kamu tidak salah dengar bro. Nanti setelah aku mengungkapkan perasaanku dengan Kak Alya, aku akan membatalkan perjodohan ini dan kalau kamu mau nanti aku akan mengatur waktu untuk kalian bertemu."


Surya masih terdiam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Surya tidak habis pikir bahwa sahabatnya yang akan mencomblangkan dirinya dengan wanita yang dijodohkan dengan Dion. Surya masih melamun dan memikirkan perkataan Dion.


"Kayaknya anaknya cantik bro. Soalnya mamanya juga cantik dan sepertinya mereka dari keluarga terpandang," ucap Dion kembali.


"Astaga jadi kamu baru ketemu dengan mamanya saja? Sama anaknya belum gitu?"


"Iya. Mamanya kan teman arisan mamaku. Beberapa minggu yang lalu aku baru ketemu pertama kali dengan mamanya."


"Ah iya kalau itu aku tidak tahu bro."


"Kamu lihat saja dulu wanita yang dijodohkan denganmu nanti kalau cantiknya seperti Kak Alya aku mau kamu comblangkan hehehe."


"Hahaha kalau tidak cantik kamu gak mau gitu?"


"Iyalah yang akan menjadi istri Aditya Surya harus yang cantik dan juga baik akhlaknya."


"Pintar juga kriteria wanita idaman kamu. Semoga kamu juga mendapatkan wanita yang sesuai kriteria kamu ya Surya."


"Aamiin. Makasih bro doanya."


"Iya. Aku duluan ya bro mau ke kantornya Papa."


"Iya bro. Semangat kerjanya biar cepat bisa halalin Kak Alya," ucapnya sambil menepuk pundak Dion dua kali berniat untuk menyemangatinya.

__ADS_1


"Makasih bro," ucapnya sambil tersenyum.


Dion lalu meninggalkan Surya yang masih di kantin. Dion mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor Papanya. Dion mulai bekerja part time dari siang hari sampai dengan jam 17:00 wib. Dion pulang bersama Papanya. Namun berbeda mobil karena tadi Dion membawa mobil sendiri ke kampus. Papa Edwin dan Dion sudah sampai di rumah hampir menjelang adzan magrib. Dion pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya dan lalu turun ke bawah untuk sholat berjamaah. Setelah itu langsung ke kamarnya. Dion tersenyum saat melihat foto profil WhatsApp Alya yang menurutnya begitu cantik. Hatinya terasa damai saat melihat fotonya.



"Adem rasanya melihat wajah Kak Alya di foto ini. Apalagi nanti kalau dia mau beneran menjadi istriku dan aku setiap hari akan melihat wajahnya. Kak Alya seperti apa ya wajahnya kalau sedang tidur." Dion terkekeh membayangkan Alya yang akan menjadi istrinya nanti.


"Huft aku jadi menghayal yang tidak-tidak kan? Sadar Dion, sadar..... Belum tentu Kak Alya mau denganmu. Wanita populer di kampus itu mana mungkin suka dengan brondong sepertimu. Sedangkan di luaran sana masih banyak laki-laki yang lebih tampan dan yang pasti lebih mapan darimu." lirihnya.


Dion belum berani mengungkapkan perasaannya dengan Alya. Karena saat ini saja Dion belum bekerja selama sebulan dan belum mendapatkan gajinya. Dion sebenarnya takut ditolak oleh Alya dan nantinya malu jika bertemu Alya di kampus. Dion berniat ingin mengungkapkan perasaannya nanti setelah Dion selesai membantu Alya mengetikkan naskah skripsinya.


"Eh... Kak Alya lagi pakai softlens dan berdandan ini?"


"Ah aku lebih suka kalau Kak Alya yang seperti biasanya di kampus yang tanpa makeup terlihat lebih cantik dan natural."


Dion lalu memperhatikan foto Alya kembali dengan memperbesar fotonya di layar hpnya.


"Astagfirullah... Aku gak boleh memandangnya lama-lama meskipun cuma fotonya."


Dion lalu kembali membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas kampusnya. Setelah selesai Dion turun ke bawah untuk makan malam bersama.


...*****...


DI RUANG MAKAN


Suasana makan malam hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahut-sahutan. Setelah makan malam Mama Marisa berniat ingin mengajak Dion untuk arisan ke rumah jeng Sofie.


"Sayang, seminggu lagi temani Mama yuk ke tempat arisan."


"Loh kok ke tempat arisan ngajak aku sih Ma?"


"Soalnya kamu mau Mama temuin dengan perempuan pilihan Mama dan Papa yang akan kita jodohkan denganmu."


"Insyaallah ya Ma. Soalnya Dion juga lagi banyak tugas karena bentar lagi UAS."


"Iya nak."

__ADS_1


Mama Marisa berharap Dion bisa ikut dengannya di acara arisannya dan bertemu dengan anaknya jeng Sofie.


__ADS_2