Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Bukan Pernikahan Impian..


__ADS_3

Satu bulan kemudian kandungan Anisa sudah jalan 9 bulan lebih 8 hari dan tinggal menunggu saatnya melahirkan 2 hari lagi jika sesuai dengan HPL. Sebenarnya suaminya sudah cuti tapi ada operasi dadakan dan Dokter lainnya tidak bisa menanganinya karena juga sibuk untuk mengurusi pasien lainnya. Jadi Keifano harus berangkat ke rumah sakit juga hari ini.


"Bunda, aku berangkat kerja dulu ya sayang," ucap Keifano mengecup kening Anisa.


"Iya Ayah, kamu hati-hati ya?" ucap Anisa yang lalu meraih tangan suaminya dan kemudian mengecupnya.


Keifano mengangguk pelan dan lalu berjongkok mengecup perut buncit istrinya dua kali seraya berpamitan dengan si kembar.


"Ayah, berangkat kerja dulu ya nak. Tunggu Ayah pulang dan kalian jangan nakal sama Bunda," ucap Keifano sambil mengusap perut Anisa.


Keifano tersenyum saat kedua anaknya merespon dengan tendangannya. Sedangkan Anisa meringis karena merasakan ngilu saat ini.


"Aku merasakan tendangannya sangatlah aktif pagi ini sayang," ucapnya kembali.


"Hmm iya sayang, mereka berdua sepertinya tidak sabar untuk bertemu dengan kita."


"Sehat-sehat ya nak. Sebentar lagi kita akan bertemu," ucapnya kembali.


"Iya Ayah, kita juga sudah tidak sabar ingin bertemu Ayah Keifano yang ganteng," ucap Anisa terkekeh geli saat mendengarkan perkataannya sendiri yang menirukan suara anak kecil.


"Akhirnya kamu mengakui ketampanan aku juga sayang," ucapnya tertawa kecil dan lalu mengecup bibir Anisa sekilas.


"Ayah entar terlambat ke rumah sakitnya loh," ucap Anisa mengalihkan pembicaraan.


"Biarkan saja karena aku masih ingin bersama kamu, lagian kan Papa ini yang punya rumah sakitnya," ucapnya tertawa terbahak-bahak.


"Jangan manja sayang. Kamu juga jangan bersikap seperti itu ya. Hmm, katanya Ayah ada jadwal operasi dadakan."


"Iya sayang, ya sudah aku berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku."


Keifano hanya tidak ingin jika istrinya itu merasakan kesakitan tapi hanya dipendam sendiri. Sepertinya halnya saat itu Anisa pernah mengalami kontraksi palsu tapi karena suaminya sibuk di rumah sakit jadi dia tidak mengabarinya.


"Iya sayangku yang bawel. Kenapa kamu sekarang lebih cerewet sih?"


"Haha, karena aku mungkin ketularan Keyla nih."


Keifano lalu mengecup kening Anisa kembali sebelum pergi ke rumah sakit.


Sinar matahari sudah terang menyinari bumi dan tepat berada di tengah-tengah pancaran cahayanya dan pertanda saatnya kaum Adam dan Hawa untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Anisa berjalan perlahan-lahan ke dapur, seketika ibu hamil itu ingin makan telur mata sapi.

__ADS_1


"Nyonya, biar saya saja yang buatkan," ucap sang Bibi.


"Tidak usah Bi. Aku sedang ingin masak sendiri untuk makan siang hari ini."


"Baiklah Nyonya, tapi kalau perlu bantuan panggilan saja Bibi ya."


"Iya Bi."


Tak tanggung-tanggung, Anisa menggoreng lima telur sekaligus dan tiga telur nanti untuk makan siangnya. Karena semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan biasanya hanya makan siang dengan mertuanya saja. Sebenarnya Bibi juga sudah memasak untuk makan siang namun terkadang Anisa ingin makan sesuatu dan harus dadakan membuatnya.


...*****...


Di tempat lainnya sepasang suami istri itu baru saja sah menjadi pengantin baru dan sudah sebulan lamanya. Cassandra mau menikah dengan Pratama demi anak yang masih dalam kandungannya saat lahir nanti memiliki seorang ayah.


"Maaf Om, aku belum bisa sepenuhnya menerima kamu menjadi suamiku."


"Tidak apa-apa, aku akan berusaha untuk menunggu kamu untuk mencintaiku. Janganlah memanggilku dengan sebutan Om lagi karena aku adalah suami kamu dan bukan Om kamu."


"Eh, iya Mas..."


"Nah, kalau begitu kan lebih baik."


Mereka memang rencana mau mengadakan resepsi pernikahan tapi Cassandra maunya nanti setelah anaknya lahir. Karena meskipun mereka menikah saat kandungan Cassandra sudah menginjak 3 bulan dan pastinya jika dipaksakan memakai dress maka perutnya masih saja terlihat bahwa saat ini Cassandra tengah mengandung. Cassandra tidak mau mendengarkan cibiran dari orang dan lebih memilih untuk menunda resepsi pernikahannya.


Pratama sekarang sedang membuatkan sufor untuk Cassandra, ia ingin menjadi suami siaga untuk istrinya. Entah mengapa Cassandra merasakan sangat enak sufor buatan suaminya itu, dia mengira bahwa mungkin anaknya ingin Papanya yang membuatkannya. Sekarang dirinya sedang menunggu kedatangan suaminya di sofa kamarnya.


Cassandra mengusap perutnya pelan dan tak menyangka kehidupannya akan seperti ini. Hamil, menikah dan nanti setelah melahirkan baru akan menggelar acara resepsi pernikahannya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana dulu pernikahan impiannya bersama Keifano berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini.


"Sayang, ayo diminum dulu," ucap Pratama lembut dan seketika membuyarkan lamunannya.


"Makasih ya Mas."


"Sama-sama sayang, tadi kamu sedang mikirin apa?" ucapnya sambil mengusap punggung istrinya.


Setelah menghabiskan sufor buatan suaminya, dia meletakkan gelas itu di meja.


"Aku tidak memikirkan apapun Mas. Hanya saja," ucapnya sambil menghela napas panjang.


"Hanya saja apa sayang?" tanya Pratama penasaran.

__ADS_1


"Hanya saja pernikahanku ini bukan pernikahan impian yang aku dambakan selama ini."


Pratama lalu mengerti bahwa cinta istrinya masih ke mantan kekasihnya dan mereka telah melakukan kesalahan dimasa lalu sehingga menyebabkan Cassandra hamil saat ini.


"Maaf... Ini semua memang salahku dan tidak seharusnya malam itu kita melakukannya," ucapnya lirih.


Terlihat penyesalan diraut wajah Pratama. Cassandra tidak mau suaminya kecewa. Perlahan Cassandra menggenggam tangan suaminya.


"Mas, aku tahu itu dan aku tidak menyalahkan kamu. Mungkin kita ditakdirkan untuk bersama meskipun pertemuan kita tidaklah begitu baik."


"Sekali lagi maafkan aku Cassandra."


"Iya Mas. Aku juga butuh waktu agar bisa menerima kamu selayaknya suami yang sebenarnya. Jujur aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidupku. Jadi kamu maukah menungguku?"


"Iya aku akan menunggu kamu sampai bisa membalas perasaanku."


Mereka akhirnya berpelukan, meskipun Cassandra belum bisa mencintai suaminya namun merasa nyaman saat berada didekatnya. Cassandra lalu melepaskan pelukannya. Pratama lalu mengecup kening dan pandangannya lalu beralih ke perut Cassandra.


"Cepat tumbuh ya nak. Papa ingin segera melihat kamu saat lahir nanti," ucap Pratama mengusap perut Cassandra.


Cassandra tersenyum tipis dan baru menyadari Pratama betapa mencintainya dan juga menyayangi anak yang masih dalam kandungannya. Pemeriksaan terakhir kali saat bersama Pratama kandungannya baik-baik saja dan baru berjalan 4 bulan lebih 2 hari.


"Masih lama Mas dan sekitar 5 bulanan lagi."


"Aku penasaran sama jenis kelamin bayi kita sayang."


"Bulan depan kita akan melihat bersama-sama Mas."


"Iya aku sudah tidak sabar melihatnya sayang."


"Emangnya Mas mau anak kita laki-laki atau perempuan?" tanyanya penasaran.


"Apa saja sayang yang penting aku punya anak darimu. Dari dulu aku ingin mendekati kamu dan pada akhirnya kamu bisa menjadi istriku. Makasih sayang karena kamu telah menerima aku."


"Aku menerima kamu karena anak kita juga butuh keluarga yang lengkap dan aku mohon sama kamu untuk bersabar menungguku untuk membuka hati."


"Aku akan sabar menunggu kamu sampai kapanpun Cassandra."


Cassandra lalu menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya. Entah mengapa pada saat-saat seperti ini ingin selalu berdekatan dengan suaminya dan Cassandra berpikir bahwa anaknya yang menghubungkan mereka dan sampai bersatu dalam ikatan suci pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2