
Dion bangun jam 03:00 seperti biasanya, Dion sudah terbiasa untuk sholat malam. Dion tidak memerlukan alarm karena sudah terbiasa bangun jam segini. Meskipun sekarang sedang berada di rumah istrinya tapi Dion tetap melakukan yang biasa dilakukannya. Dion memakai sajadah dan peci hadiah pernikahannya yang diberikan oleh Rey dan Risa. Setelah sholat tahajud Dion kembali ke ranjang queen size tersebut. Dion melirik kearah Alya dan membelai wajahnya sebentar agar Alya tidak terusik dari tidurnya. Dion tak menyangka sekarang dirinya sudah beristri. Seperti mimpi saja bisa menjadi suaminya Alya.
"Aku tidak menyangka dulu aku hanya mengagumimu dalam diam dan sekarang statusku sudah menjadi suamimu hehehe," ucap Dion terkekeh sambil memandangi wajah cantik istrinya.
Dion lalu membaringkan tubuhnya kembali disamping istri tercintanya. Dion memiringkan tubuhnya dan lalu memeluk Alya. Beberapa menit kemudian Dion akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Suara adzan subuh berkumandang sayup-sayup terdengar di telinga Alya. Alya mulai mengerjapkan matanya. Alya terkaget tiba-tiba ada tangan laki-laki yang sedang memeluknya, wangi aroma maskulin Dion tercium sampai di hidungnya. Alya nyawanya yang belum terkumpul pun lalu mendorong tubuh Dion dengan kencang sampai terjungkal ke belakang.
"Arrgghhhh..............." Dion berteriak dan meringis merasakan pinggangnya yang terbentur dengan meja didekat sofa.
Mendengar ada suara yang dikenalinya Alya mengucek matanya dan lalu melihat ke arah sumber suara tersebut. Di sana sudah ada Dion yang sudah meringis merasakan kesakitan.
"Dion.............."
Alya matanya terbelalak saat Dion sudah ada di kamarnya. Alya nyawanya sudah terkumpul dan baru ingat bahwa Dion saat ini adalah suaminya, jadi wajar saja jika Dion berada di kamarnya.
"Umi tega, di malam pertama Abi sudah merasakan KDRT."
Alya langsung mendekati suaminya yang sah belum genap sehari itu.
"Ma-Maaf Bi. Tadi Umi kaget, biasanya Umi tidur sendirian dan sekarang sudah ada Abi yang menemani tidur disamping Umi."
Dion mengangguk memakluminya dan Memaafkan Alya.
"Ah iya gak apa-apa. Mi, bantu Abi untuk berdiri."
Dengan telaten Alya langsung membantu Dion untuk berdiri dan berjalan menuju ke sofanya.
"Tadi Abi juga ngegetin sih, tiba-tiba memeluk Umi."
Dion baru ingat bahwa wanita itu memang selalu benar. Apalagi kalau wanita sedang PMS seperti ini. Harus benar-benar sabar dan mengalah saat menghadapinya.
"Maaf, aku tadi telah mengagetkanmu Mi."
"Hmm... Bi, tunggu disini sebentar ya, aku akan mencari minyak urut ke dapur."
Dion hanya mengangguk pelan sambil memegang pinggangnya yang masih sakit. Alya berjalan ke dapur mencari kotak P3K yang berada disamping dapur. Kotak P3K sengaja di taruh disamping dapur agar misalnya terkena cipratan minyak panas atau teriris pisau jadi bisa langsung mengobatinya.
"Nah ini dia," ucap Alya tersenyum sambil mengambil minyak urut.
Alya berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Karena dirinya yang menyebabkan suaminya jadi sakit pinggang. Saat Alya sudah sampai di kamarnya dan duduk di sebelah Dion.
"Bi hadap sana dan maaf, tolong kaosnya dinaikin sedikit," ucap Alya dengan gugup karena akan melihat bagian tubuh suaminya.
Dion pun tidak menaikkan kaosnya namun membuka kaosnya dan terlihat tubuh indahnya saat ini. Aroma maskulin itu sampai menusuk hidung Alya. Dengan cepat Alya mengurut pinggang Dion agar tidak terlalu lama melihatnya. Meskipun mereka sudah sah, tapi Alya masih enggan melihatnya.
"Auuwww... Sakit Mi. Pelan-pelan dong Mi dan jangan terlalu cepat."
"Hmm iya Bi..." Alya menuruti perkataan Dion dan lalu kembali mengurutnya dengan pelan.
__ADS_1
"Nah, kalau begini kan enak Mi."
"Bagaimana Bi? Apa sudah lebih enakan?"
Setelah beberapa menit kemudian Dion merasa sudah mendingan.
"Sudah agak mendingan kok Mi. Tapi masih sedikit sakit disebelah sini." Dion sambil menunjuk bagian tubuhnya.
Alya lalu kembali memijit pinggang sebelah kiri. Setelah selesai, Dion langsung bergegas wudhu dan sholat subuh. Sedangkan Alya ke dapur untuk mencuci tangannya dan akan membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dion saat ini sudah sholat subuh dan duduk di sofa kamar Alya sambil memainkan hpnya. Alya masuk ke dalam kamarnya membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Bi, aku buatkan teh. Diminum ya Bi."
"Iya Mi." Dion lalu meletakkan hpnya lalu meraih cangkirnya dan meminum teh buatan istrinya.
"Enak juga ya punya istri ada yang bikinin teh di pagi hari. Benar kata Rey menikah itu memang indah." Batin Dion.
"Mi, aku mau bicara dengan serius."
"Serius? Apa Dion ingin segera mempunyai anak dariku. Jika memang Dion menginginkannya nanti aku akan mengabulkannya dan tidak akan menundanya." Batin Alya.
Alya dan Karin pemikirannya memang sedikit berbeda. Alya sudah siap menjadi seorang ibu setelah menikah. Sedangkan Karin belum siap karena dirinya masih ingin bebas dengan kegiatan kuliahnya nanti, bahkan Karin mempunyai rencana untuk menunda kehamilannya setelah menikah dengan Yudha.
"Loh kok Umi melamun?" ucap Dion yang membuyarkan lamunan Alya.
"Eh iya, tadi Abi mau bicara serius apa?"
"Rencananya Abi mau mengajak Umi untuk tinggal berdua di rumah kontrakan. Apa Umi mau kalau kita ngontrak rumah?"
"Iya Bi mau."
"Alhamdulillah, kita akan bisa hidup lebih mandiri Umi."
Alya senang ternyata suaminya berpikiran dewasa meskipun usianya lebih muda darinya.
"Aku kira tadi Abi mau bicara serius tentang hal lain."
"Hal lain? Maksud Umi apa?"
"Soal anak misalnya."
Dion terkekeh mendengar perkataan Alya yang membicarakan soal anak.
"Emang Umi sudah siap untuk menjadi seorang ibu?"
"Iya Bi."
Dion tersenyum lalu memeluk Alya. Alya juga membalas pelukannya. Mereka baru pertama kali berpelukan.
"Aku akan melakukannya bila kamu sudah mencintaiku Umi." Batin Dion.
__ADS_1
"Yuk Bi. Kita sarapan, tadi aku lihat Bibi sudah menyiapkan makanannya."
"Hmm iya ayo Mi."
Mereka keluar kamar dengan bergandengan tangan. Saudaranya sudah pulang sehabis subuh tadi. Jadi di rumah tinggal ada orang tua Alya dengan asisten rumah tangganya.
"Pengantin baru sudah mau nyebrang saja, pakai ada acara bergandengan tangan segala" ucap Mama Sofie menggoda Alya dan Dion.
Alya dan Dion tersenyum malu-malu. Mereka lalu duduk di kursinya masing-masing. Mereka sarapan pagi bersama. Saat sudah selesai sarapan Papa Zidan yang dari tadi memperhatikan Dion pun akan menanyakan apa yang terjadi.
"Dion, dari tadi saya perhatikan kamu sepertinya menahan sakit. Ada apa?" Tanya Papa Zidan.
"Pinggang saya sakit Pa."
"Ah itu sudah menjadi biasa, apalagi pengantin baru seperti kalian."
"Papa jangan salah sangka. Dion sakit pinggang karena terjatuh dari tempat tidur," ucap Alya.
Alya lalu menceritakan semuanya yang tadi terjadi di kamarnya.
"Hahaha.............." Papa Zidan dan Mama Sofie tertawa terbahak-bahak.
"Kamu jangan ulangi lagi ya nak. Kasihan suami kamu tuh."
"Iya Mama. Tadi Alya cuma kaget saja saat Dion sudah memeluk Alya."
Dion lalu menceritakan tentang keinginannya untuk tinggal berdua bersama Alya dan ingin mengontrak rumah. Orang tua Alya setuju, karena dengan begitu hubungan mereka akan semakin dekat.
...*****...
Hari ini pengumuman kelulusan Karin. Setelah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL) mereka akhirnya foto bersama.
Mereka berempat memang sahabatan. Namun Vino jarang bergabung karena mereka berbeda kelas.
"Akhirnya kita sudah lulus," ucap Karin.
"Yah, kita akan jarang ketemu dong," ucap Vino.
"Kita bisa atur untuk sekedar makan bersama. Tapi kalau jalan bersama akan sulit rasanya karena setelah ini aku akan menikahi Astrid."
"Iya kita akan langsung menggelar pernikahan setelah ini, ya kan beb?" ucap Astrid.
"Iya beb. Kalian jangan lupa nanti datang ya?"
"Siap," ucap Vino.
"Pasti datang dong, kalian kan sahabatku," ucap Karin.
__ADS_1
"Ya sudah yuk saatnya kita makan bersama. Tenang kali ini aku yang traktir," ucap Andre.
Mereka akhirnya akan makan bersama di sebuah cafe. Karin sudah menghubungi Yudha kalau hari ini tidak usah di jemput karena sedang makan bersama dengan teman-temannya. Yudha pun mengerti dan membiarkan Karin bersama teman-temannya karena setelah menikah dan kuliah nanti Karin akan jarang bertemu dengan teman-temannya.