
Tak terasa pernikahan mereka tinggal menghitung hari saja. Alya saat ini sudah lulus sidang skripsi dan tinggal menunggu acara wisudanya saja yang akan digelar sekitar dua bulanan lagi. Waktu itu dimanfaatkan untuk acara pernikahannya Dion dan Alya yang akan segera di laksanakan besok di pagi hari. Mama Sofie berpesan dengan Alya agar selalu menurut apa kata suaminya nanti. Meskipun suaminya usianya lebih muda darinya 3 tahun, namun Alya harus tetap menghormatinya. Karena surga istri ada pada suaminya.
Tak terasa hari ini tepat pukul 09:00 wib pernikahan Alya dan Dion akan dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Sebelum akad nikah, Dion membacakan Surat Ar Rahman sesuai dengan mahar yang Alya minta. Alya sudah di rias, kecantikannya terpancar dan semakin anggun menggunakan gaun berwarna putih. Alya tidak ingin dirias dengan berlebihan, dia hanya ingin terlihat lebih fresh saja. Sebelum para saksi mengucapkan kata sah, Alya masih berdiam di ruang tamu menunggu perkataan itu di ucapkan oleh para saksi. Terpancar aura kebahagiaan dari wajahnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Adion Hendrawan bin Edwin Hendrawan dengan putri kandung saya Alya Assyifa binti Zidan Saputra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas logam mulia seberat 23 gram di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Alya Assyifa binti Zidan Saputra dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana para saksi sah?" ucap sang penghulu.
"Sah...... Sah..................." Semua orang berkata sah dengan lantang.
Setelah kata sah terucapkan Alya keluar dari ruang tamu menuju ke pelaminan didampingi Mama Sofie. Dion takjub melihat kecantikan Alya, wajahnya sangat bersinar. Alya lalu duduk disamping Dion. Alya langsung mengecup punggung tangan suaminya untuk pertama kali. Tak lupa Dion juga mengecup kening Alya sang Kakak kelasnya itu sekarang sudah menjadi istri sahnya. Mereka lalu bertukar cincin dan mendatangani buku nikah. Dion sangat bahagia akhirnya ialah laki-laki satu-satunya yang beruntung bisa menikahi Alya Assyifa wanita populer di kampusnya. Alya terlihat gugup duduk berdekatan dengan Dion. Padahal mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri karena biasanya sebelumnya mereka selalu menjaga jarak.
Mereka menggelar resepsi pernikahan di kediaman mempelai wanita sampai malam hari pukul 20:00 wib di rumahnya Alya. Para tamu undangan mengucapkan selamat mulai dari Risa dan Rey, Yudha dan Karin, Surya, Rendy dan Sheila dan masih banyak lagi teman dan saudara lainnya. Tak lupa Rey dan Risa juga mendoakan agar Alya segera hamil. Setelah selesai acara, tidak terasa hari sudah malam.
...*****...
DI KAMAR ALYA
Dion dan Alya sudah masuk ke dalam kamar Alya. Kamar Alya menurut Dion cukup rapi dan bersih. Tak ada sedikitpun debu yang menempel di setiap sudut kamarnya.
"Aku tidak salah pilih istri, tak hanya cantik dan baik namun juga sederhana dan rajin. Tidak hanya rajin ibadah saja tapi rajin dalam menjaga kebersihan. Dan yang paling penting rajin dalam menjaga pandangannya terhadap laki-laki." Batin Dion dengan sudut bibirnya yang terukir dengan senyumannya.
Dion bangga bisa mendapatkan Alya Assyifa mahasiswi berprestasi sekaligus wanita terpopuler di kampusnya. Alya sudah membersihkan dirinya dan mengganti baju pengantinnya dengan baju tidur biasanya dan membersihkan sisa-sisa make-up yang menempel di wajahnya di meja rias. Dion lebih suka melihat Alya natural tanpa make-up, karena wajahnya terlihat lebih bersinar. Alya bahagia dulu masih sholat sendiri namun mulai saat ini akan ada suaminya yang akan menjadi imam setiap sholatnya. Namun saat ini Dion sholat isya sendiri karena Alya masih berhalangan atau haid. Setelah Dion sudah berganti baju dan sholat isya, Alya mengajaknya untuk makan di ruang makan yang sudah ditunggu Mama dan Papa dan beberapa saudaranya.
...*****...
DI RUANG MAKAN
Dion mengajak untuk makan sepiring berdua saja. Hal itu yang membuat Alya malu karena diperhatikan tidak hanya Mama dan Papanya saja namun keluarga yang masih menginap di rumah orang tua Alya. Dion sebenarnya tidak ingin makan malam, karena perutnya tadi sudah banyak diisi dengan snack yang ada di acara resepsinya. Selama resepsi Dion mengemil jajanan seperti arem-arem dan wajik, camilan khas jawa yang wajib ada saat acara resepsi.
__ADS_1
"Kak, kita makan sepiring berdua saja. Dion sebenarnya tidak ingin makan malam karena tadi sudah ngemil pas resepsi. Tapi sungkan kalau tidak ikut makan," ucap Dion berbisik di telinga Alya.
Alya mengangguk pelan menuruti perintah adik kelasnya yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Lalu mengambil satu piring dan diisi nasi, sayuran dan lauk pauk tapi sendoknya dua.
"Ciieeeee........ Pengantin baru mesranya sepiring berdua," ucap sepupu Alya yang bernama Sinta.
"Sinta apa-apaan sih?" ucap Alya malu-malu.
"Hehe Sinta bisa saja," ucap Dion dengan tersenyum menampilkan gigi putihnya..
"Kalian bikin iri Sinta tuh," ucap Mama Sofie.
"Sinta belajar yang benar terlebih dahulu. Setelah itu boleh menikah seperti Kak Alya," ucap Papa Zidan.
Sinta hanya mengangguk pelan.
"Alhamdulillah, sekarang sudah bisa makan bareng istri dan ini merupakan kenikmatan yang hakiki bisa makan sepiring berdua."
...*****...
DI KAMAR ALYA
Setelah sampai di kamarnya, tak lupa Dion mengunci pintu, sekarang kamarnya sudah terkunci. Jadi tidak akan ada seseorang yang bisa masuk ke kamar mereka.
"Dion, Kakak mau jujur sama kamu. Kita tidak bisa melaksanakan kewajiban suami istri malam ini karena aku masih halangan atau haid. Maaf jika aku mengecewakanmu."
"Tidak apa-apa Kak. Dion juga tidak akan memaksa Kak Alya. Dion akan menunggu Kak Alya sampai benar-benar mencintai Dion," ucapnya dengan tersenyum kecut setahu Dion Alya belum mencintainya.
Dion menjawabnya dengan senyuman dan memahaminya. Dion juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Lagian juga Dion ingin melakukannya saat Alya sudah benar-benar mencintainya. Alya sebenarnya mulai ada rasa dengan Dion. Tapi Alya terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Alya nanti akan mengucapkannya saat Dion juga bilang mencintai dirinya. Alya menunggu Dion mengucapkannya duluan, baru dia juga akan mengungkapkan perasaannya.
"Kak, kita kan sudah menjadi suami istri sekarang. Sebaiknya kita mengganti panggilan kita biasanya."
__ADS_1
"Kakak setuju saja Dion."
"Bagaimana kalau aku memanggil Kak Alya Umi? Apakah Kak Alya setuju atau keberatan? Kalau Kak Alya keberatan kita bisa ganti dengan panggilan lainnya."
"Umi setuju saja Bi," ucap Alya dengan senyuman dan langsung memanggil Dion dengan Bi yang berarti Abi.
Dion tersenyum senang. Mereka lalu memutuskan untuk membuka kado pernikahan yang telah diberikan oleh keluarga, teman dan para tamu undangan. Kedua orang tua Alya dan Dion katanya akan memberikan hadiah pernikahan mereka saat nanti sebulan lagi. Alya dan Dion juga bingung kenapa hadiahnya akan mereka berikan sebulan lagi. Mereka lalu berpikir bahwa mungkin pas 1 bulan pernikahan mereka akan memberikannya hadiah spesial.
Rata-rata hadiah dari pernikahannya adalah alat rumah tangga, aksesoris, selimut, handuk. Sedangkan dari Risa dan Rey mereka memberikan kado yang lumayan cukup besar yang isinya alat sholat lengkap untuk Dion dan Alya beserta seprei. Rendy dan istrinya memberikan baju tidur couple dan kaos couple. Surya memberikan kado seprei. Terakhir kado yang paling besar ternyata dari Karin dan Yudha dan saat dibuka isinya membuat Dion sekaligus Alya terkejut. Intinya kado tersebut entahlah maksudnya mendoakan agar Dion dan Alya untuk segera punya momongan. Kadonya berisi test pack, dot bayi, baju-baju bayi perempuan dan laki-laki yang lengkap dengan bedak bayi, minyak telon dan lain-lainnya. Bahkan sampai gendongan dan bantal guling bayi juga ada.
"Mi, Karin dan Kak Yudha banyak banget kasih kadonya. Pantesan kadonya paling besar dibandingkan yang lainnya."
"Iya Bi. Mereka kasih kadonya terlalu berlebihan."
Pipi Alya mulai memerah karena mendapatkan kado yang menurutnya aneh dan bikin canggung. Dion lalu mengambil hadiah yang tadi diberikan dari salah satu teman Alya. Dion lalu menyalakan benda tersebut ternyata lampu tidur yang berbentuk bintang-bintang di langit. Saat Alya melihat Dion yang wajahnya tersenyum dengan indah di pancaran lampu tidur yang di wajah tampannya ditambah senyumannya yang begitu manis. Seakan rasa di hati ini mulai tumbuh dengan sendirinya. Dion mulai menggenggam tangan Alya dan mulai menciumnya tak lupa Dion juga mencium kening Alya dan mengucapkan selamat malam untuknya. Hati Alya berbunga-bunga saat Dion melakukan itu padanya.
"Mi, biasanya kalau tidur pakai hijab atau tidak?"
"Tidak Bi." Alya lalu menggelengkan kepalanya.
Alya sudah sangat mengantuk terlihat matanya sudah mulai tidak kuat untuk membuka mata. Dion pun membantu membuka hijab Alya dan lalu membawanya ke tempat tidur. Rambut panjang Alya sangatlah wangi.
"Jangan lupa baca doa sebelum tidur istriku," ucap Dion yang sudah berbaring disamping Alya.
Alya hanya mengangguk lalu membaca doa sebelum tidur dan beberapa menit kemudian sudah tidur dengan pulasnya.
"Ternyata wajah Kak Alya kalau lagi tidur sangat teduh," ucap Dion sambil tersenyum melihat Alya yang sudah tertidur pulas.
"Terima kasih Ya Allah, akhirnya engkau mengabulkan doaku. Aku bisa menikahi wanita yang ku cintai dan yang selama ini aku kagumi dalam diam," ucap Dion lirih.
Dion lalu membaca doa tidur, tak lama kemudian Dion juga sudah tertidur menuju alam mimpinya.
__ADS_1