
Setelah menyerahkan proposal skripsinya Alya ingin ke perpustakaan. Dia melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Saat sudah sampai di perpustakaan Alya segera mencari buku yang akan ia baca sebagai bahan skripsinya. Lalu tiba-tiba ada yang memanggil nama Alya.
"Alya," ucap sang laki-laki tersebut.
"Eh Gio ada apa?" Alya melihat siapa yang memanggil namanya. Setelah tau itu Gio lalu pandangan menunduk.
Gio adalah teman seangkatan Alya namun berbeda jurusan. Mereka kenal saat sudah bergabung dalam anggota BEM.
"Tidak apa-apa Al. Kamu lagi cari buku apa?"
"Aku lagi cari buku ini untuk membantu bahan skripsiku."
"Oh. Aku lagi cari buku juga untuk skripsiku. Tapi tadi aku belum sampai mencari bukunya aku lihat kamu disini dan aku samperin."
"Ya sudah kamu cari buku yang sedang kamu cari saja Gio. Aku udah dapet bukunya nih dan aku duluan ya?"
Alya lalu pergi meninggalkan Gio. Gio yang melihat tangan Alya sepertinya luka pun penasaran. Gio ingin bertanya dengan Alya kenapa bisa sampai seperti itu.
"Iya Al. Eh Alya tunggu tangan kamu kenapa?"
"Ehm.. tadi terkena pecahan kaca. Aku duluan ya Gio. Aku masih ada banyak urusan."
Alya tidak ingin berlama-lama dengan Gio karena dia ingin menjaga pandangan matanya dengan laki-laki.
"Iya Alya."
__ADS_1
Setelah Alya pergi darinya. Gio masih di tempat yang tadi dan Gio bergumam.
"Alya, kapan kamu bisa tahu kalau aku memiliki perasaan padamu. Aku sudah lama memendam rasa ini padamu semenjak kita sama-sama bergabung di BEM. Kamu wanita yang sangat sempurna bagiku Alya."
Mereka tidak sadar dari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka. Orang tersebut adalah Dion. Dion kaget tidak hanya ia yang mengangumi Alya dalam diam. Ternyata ada laki-laki lainnya yang juga mengaguminya.
Alya langsung berjalan ke arah petugas perpustakaan. Alya memberikan buku yang akan dipinjamnya untuk diakses agar dia bisa meminjamnya. Petugas perpustakaan tersebut mengetik dengan cepat buku yang akan Alya pinjam.
"Alya tumben pinjam bukunya cuma satu. Tidak biasanya hanya satu kan?" ucap sang petugas perpustakaan yang bertanya kepada Alya.
Petugas perpustakaan tersebut bernama Alif. Alif dulu Kakak kelasnya Alya. Alif seorang sarjana sastra di kampusnya. Setelah lulus pihak kampus merekrut Alif untuk menjadi karyawan yang ditugaskan untuk menjadi petugas perpustakaan. Tentu saja Alif tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut karena ia juga ingin bertemu dengan Alya setiap kali Alya ke perpustakaan. Alif sudah lama menyukai Alya saat pertama kali bertemu dengannya, namun Alya tidak tahu akan hal itu.
"Iya Kak. Butuhnya lagi satu saja," ucapnya singkat.
Sebenarnya Alya masih ingin melihat buku yang lainnya tentang fikih. Namun karena tadi bertemu Gio jadi Alya memutuskan untuk meminjam satu buku saja. Alya tahu bahwa Gio menyukainya. Tapi Alya hanya menganggap Gio sebagai teman anggota BEM-nya saja. Alya langsung keluar dari perpustakaan. Sesudah itu Dion lalu menyerahkan bukunya yang akan ia pinjam. Sekilas Dion mengernyitkan dahinya saat petugas perpustakaan tersebut bergumam.
Dion mematung mendengar ucapan sang petugas perpustakaan tersebut. Ternyata banyak laki-laki yang mengagumi Alya selama ini. Nyali Dion jadi ciut untuk mendekati Alya yang memang benar apa yang dikatakan Gio tadi, Alya memang wanita yang sempurna dan pantas saja jika banyak laki-laki yang menyukainya. Dion sudah selesai akses meminjam bukunya lalu keluar untuk masuk ke kelasnya. Ia jadi ikut mata kuliah kedua saja. Setelah Dion sampai di kelas sahabatnya bernama Surya menghampirinya dan duduk disamping Dion.
"Eh Dion kemana saja kamu baru datang. Kamu kenapa bolos mata kuliah Pak Rezai? Baru kali ini kamu tidak hadir dalam kelas."
"Aku barusan dari perpustakaan dan meminjam buku."
Dion memang tidak pernah tidak datang dalam setiap mata kuliahnya. Dion lalu menceritakan semuanya kepada Surya. Tapi tidak menceritakan kejadian di perpustakaan yang 2 orang laki-laki itu yang mengagumi dan menyukai Alya.
"Aku heran dengan Kak Alya kenapa dia tidak mau aku ganti hpnya. Padahal kan harga hpnya lumayan mahal 20 jutaan," ucap Dion terheran-heran.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu saja bro kalau Kak Alya itu tidak akan menerima barang dari laki-laki manapun kecuali laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak."
"Oh jadi Kak Alya sudah punya calon suami?" tanya Dion penasaran.
"Sepertinya belum bro. Soalnya gosipnya sih belum ada laki-laki yang bisa meluluhkan hati seorang Alya Assyifa."
"Kok kamu tahu gosip tentang Kak Alya?"
"Huh kamu aja yang tidak sadar bahwa Kak Alya itu lumayan populer di kampus. Eh bro kamu akan menjadi asistennya kan? Wah kesempatan bagus tuh saat kamu menjadi asistennya."
"Kesempatan bagus? Yang ada waktuku banyak yang terbuang karena aku harus mengetik naskah skripsinya," ucap Dion.
"Kamu tuh gimana sih? Justru ini kesempatan kamu bisa lebih dekat dengan Kak Alya wanita sejuta pesona."
"Wanita sejuta pesona? Apa maksudmu Surya?" Dion bingung dengan ucapan sahabatnya itu.
"Iya memang benar kan kalau Kak Alya itu wanita sejuta pesona yang banyak di kagumi pria di kampus kita. Siapa sih yang tidak suka dengannya sudah cantik, baik, mahasiswi berprestasi dan bagus lagi dalam agamanya. Dia juga punya usaha tapi aku tidak tahu dia usaha dalam bidang apa dan yang aku dengar sih dari usahanya itu dia menyumbangkan sebagian uangnya untuk menjadi donatur tetap di salah satu panti asuhan. Kak Alya juga selalu menunduk jika sedang berhadapan dengan laki-laki manapun. Dia tidak ingin berlama-lama jika bertemu dengan laki-laki."
Memang benar yang dikatakan Surya saat tadi Alya bersamanya pandangannya terus saja selalu menunduk tidak berani menatap Dion dan saat di perpustakaan tadi memang benar Kak Alya berusaha untuk menghindari Gio karena tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki. Dion semakin kagum dengan Alya yang menyumbangkan sebagian uangnya untuk menjadi donatur tetap di panti asuhan, hatinya sangat mulia sekali dan masih memikirkan nasib orang lain yang membutuhkan bantuannya.
"Kalau aku jadi kamu aku akan menikahinya bro."
"Apa?? Aku harus menikahi Kak Alya gitu maksudmu? Yang benar saja kamu kalau bicara Aditya Surya. Mana mungkin Kak Alya mau dengan adik kelas sepertiku yang bahkan aku belum mempunyai pekerjaan tetap."
Seketika Dion teringat dengan Alif karyawan yang bertugas di perpustakaan yang menyukai Alya. Bahkan Alya bersikap cuek dan hanya berbicara seperlunya saja dengan Alif.
__ADS_1
"Ya mungkin saja bro. Secara hanya kamu laki-laki yang pertama kali yang sudah bersentuhan dengannya. Ya meskipun hanya bersentuhan tangan saja sih dan dalam keadaan darurat. Lagian siapa sih yang tidak mau menjadikan Kak Alya sebagai istrinya. Kamu buka hati kamu Dion, kesempatan terbuka lebar saat kamu menjadi asistennya. Ingat pesanku kawan, aku hanya ingin yang terbaik untukmu sahabatku," ucapnya sambil menepuk pundak Dion untuk menyemangatinya.
Dion mematung mendengar ucapan Surya dan masih memikirkan setiap perkataannya. Seketika lamunannya buyar saat dosen sudah masuk ke dalam kelasnya.