Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Berhentilah Mengejar Cinta Yang Tak Pasti


__ADS_3

Pria itu bangun dari tidurnya dan menatap wajah wanita disampingnya. Kemudian pria itu mendaratkan kecupannya pada kening Cassandra.


"Tidurlah yang nyenyak sayang, kamu pasti kelelahan," ucapnya lirih.


Pria itu lalu memutuskan untuk mandi dan sudah memesan makanan agar diantarkan ke kamar hotelnya saja. Tak mungkin pria itu bersama Cassandra sarapan pagi di restoran hotel.


Cassandra mulai mengerjapkan matanya. Dia melihat sekeliling kamar dan bukan kamarnya.


"Aku ada di kamar siapa ini?" lirihnya.


Cassandra lalu teringat saat semalam tengah tidur dengan mantan kekasihnya. Dia lalu tersenyum senang dan sebentar lagi pasti akan mengandung anak Keifano. Cassandra mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Keifano pasti sedang mandi."


Cassandra merasakan tubuhnya pegal-pegal.


"Keifano membuatku lelah semalaman. Huh, untung saja aku mencintainya."


Cassandra lalu berusaha untuk berdiri dan berjalan pelan-pelan menuju ke kamar mandi. Cassandra menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya dan lalu mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, aku ingin mandi. Kamu keluarlah!"


Tak lama kemudian pria yang ada di kamar mandi itu menyudahi mandinya. Ia menggunakan handuk sepinggang dan membuka pintu. Cassandra membolakan matanya saat melihat siapa pria yang ada di depan matanya.


"Om Tama? Kenapa Om ada di sini dan mana Keifano?" tanya Cassandra.


"Dari semalam kamu bersamaku."


"Apa?" Cassandra terkejut saat mendengar perkataan Tama.


"Mandilah, tubuhmu pasti sangat lengket."


"Om, habis ini kita perlu bicara!" ucap Cassandra dengan tatapan tajam dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Pria yang bermalam bersamanya adalah Pratama Wiradinata, seorang pria dewasa yang umurnya 34 tahun. Tama merupakan anak dari rekan bisnis Papanya Cassandra. Mereka saling mengenal sejak lama. Pria yang statusnya sudah beristri itu dulu menikahi istrinya karena dijodohkan. Tidak ada cinta di antara keduanya. Mereka hanya sama-sama menuruti keinginan keluarganya untuk menikah. Bahkan saat ditagih cucu mereka berusaha untuk memberikannya tapi Tuhan belum memberikan mereka kepercayaan untuk punya anak. Mereka memang ingin berpisah sejak lama namun belum ada alasan yang tepat untuk mereka berpisah.

__ADS_1


Tak lama kemudian setelah mandi Cassandra lalu keluar dan menggunakan bathrobe dengan handuk yang menutupi kepalanya yang masih basah.


"Jelaskan, mengapa aku bisa bersamamu."


Tama lalu menceritakan semuanya. Cassandra lalu menepuk jidatnya karena mengira Tama adalah Keifano. Tama lalu menggenggam tangan Cassandra.


"Cassandra, aku serius ingin berpisah dengan istriku. Kami menikah sudah 3 tahun tapi tidak ada cinta dalam rumah tangga yang sudah kami jalankan."


"Aku menerima tawaran kamu semalam karena aku memang menyukai kamu sejak lama," ucapnya kembali.


"Apa?" Cassandra melotot dan lalu melepaskan genggaman tangan Tama.


"Setelah aku menceraikan istriku aku akan menikahi kamu."


"Tidak mau! Semalam aku kira kamu adalah Keifano."


"Cassandra semalam kamu bersamaku dan kamu jangan menjadi perusak rumah tangga orang."


"Bukankah kamu akan bercerai dengan istrimu dengan ingin bersamaku. Apa tidak sama saja aku perusak rumah tangga orang? Jadi lebih baik aku merebut Keifano dari Anisa."


"Tapi aku tidak mencintaimu dan aku yakin Keifano masih mencintaiku."


"Kamu terima aku saja karena sebentar lagi kamu akan hamil anakku Cassandra."


"Aku akan menggugurkannya jika sampai aku benar-benar hamil anak kamu!"


"Tidak boleh!"


"Kamu bukan siapa-siapa aku dan jangan mencampuri urusan kehidupanku."


"Sejak kejadian semalam dan sekarang kamu adalah wanitaku."


Cassandra melongo mendengar perkataan Tama. Bel pintu kamar terdengar pertanda makanan sudah datang. Mereka akhirnya menyudahi perdebatan itu sementara waktu dan mengganjal perutnya dengan makanan karena memang sudah kelaparan.


...*****...

__ADS_1


DI RUMAH SAKIT


Keifano bersyukur kedua anaknya masih bisa diselamatkan. Semua keluarganya sudah pulang terkecuali Key. Sejak tadi malam Keifano meminta adiknya itu untuk menemaninya menjaga istrinya di rumah sakit. Key tadi malam menginap di rumah sakit menemani Kakaknya dan Anisa. Key tidur di sofa, ruang rawat inap Anisa kelasnya VIP jadi Key bisa leluasa untuk tidur di sofa. Sedangkan Keifano lebih memilih untuk tidur di kursi karena menjaga istrinya.


Mentari pagi bersinar terang. Anisa mulai mengerjapkan matanya dan melihat suaminya berada disampingnya. Suaminya masih tertidur lelap di kursi dengan kepalanya direbahkan di ranjang rumah sakit. Anisa tersenyum tipis saat melihat tangan suaminya masih menggenggam erat tangannya sejak semalam. Anisa teringat semalam saat dirinya meminta Keifano untuk menggenggam tangannya sampai dirinya bisa tertidur.


Anisa bersyukur terhindar dari kecelakaan tabrak lari itu dan sekarang kondisi kedua anaknya baik-baik saja meskipun saat ini kandungannya masih lemah. Sekarang keadaan Pak Agus sudah sadar dan bisa dikatakan membaik. Hanya saja mungkin butuh waktu beberapa minggu untuk di rawat di rumah sakit karena kepalanya mengalami luka yang cukup serius. Yudha akan tetap menggaji sopirnya itu dan membayar biaya rumah sakit sampai sopirnya itu sembuh. Yudha bahkan sudah memberikan uang lebih kepada keluarganya karena merasa berhutang budi kepada sopirnya. Berkat Pak Agus menantu dan kedua cucunya bisa selamat. Yudha tidak tahu apa yang bakal terjadi jika Pak Agus tidak menolong menantunya saat itu.


Anisa tangan kanannya masih digenggam oleh suaminya. Perlahan Anisa mengangkat tangan kirinya. Anisa memegang perutnya terlebih dahulu dan ingin menyapa anak-anaknya yang masih dalam kandungannya.


"Nak, alhamdulilah kalian tidak apa-apa. Bunda sangat takut jika kalian kemarin tidak selamat sayang. Alhamdulillah, Allah masih sayang sama kita dan membiarkan kita untuk bersama," ucapnya lirih.


Pandangan Anisa beralih pada laki-laki yang berada disampingnya. Siapa lagi kalau tidak suami tercintanya. Anisa mengusap rambut suaminya perlahan. Keifano yang terusik tidurnya lalu membuka matanya. Ia melihat istrinya tersenyum meskipun masih terlihat sedikit pucat diwajahnya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" ucap Keifano yang lalu mengusap kepala istrinya.


"Iya... Makasih ya suamiku, kamu telah menjagaku semalam."


"Eh, sayang jangan berbicara seperti itu. Sudah seharusnya aku selalu berada disamping kamu. Maaf kemarin aku lalai dalam menjaga kamu."


Anisa bahagia dan memang disaat seperti ini sangat membutuhkan perhatian dari suaminya.


"Tidak apa-apa sayang. Lagian keadaan baby twins sudah baik-baik saja."


"Tapi kamu harus hati-hati sayang. Jangan keluar rumah ya. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan kedua anak kita."


Anisa mengangguk pelan dan seketika ingin ke kamar mandi untuk cuci muka dan sekaligus buang air kecil.


"Aku ingin ke kamar mandi sayang. Bantu aku untuk berjalan ke kamar mandi ya."


Keifano membantu istrinya untuk turun dari ranjangnya. Anisa terkejut saat tiba-tiba suaminya menggendongnya. Bukan gimana-gimana tetapi ada Key sudah bangun tidur dan melihatnya digendong oleh Keifano. Key sebagai pria yang masih single hanya mendengus kesal melihat pemandangan di pagi hari yang membuatnya menggerutu.


"Mentang-mentang sudah nikah dan terus-terusan bermesraan didepan mataku? Apa mereka tidak melihatku? Jangan-jangan mereka hanya menganggap aku sebagai patung. Huh, benar-benar keterlaluan!"


Key benar-benar kesal saat ini.

__ADS_1


__ADS_2