
Karin pun mengejar Yudha yang tiba-tiba saja keluar dari gedung. Yudha sudah menunggu Karin di dalam mobilnya. Yudha terbakar api cemburu dan saking kesalnya akhirnya meninju stir mobilnya berkali-kali. Yudha masih kesal saat Karin tadi bilang Vino lumayan ganteng didepannya. Melihat Karin akan masuk ke mobilnya Yudha menghentikan aksinya. Karin lalu masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kenapa kamu tadi pergi begitu saja?" Tanya Karin penasaran.
Yudha menghela nafasnya.
"Kamu tahu tidak bahwa teman kamu yang bernama Vino tadi menyukaimu?" Yudha masih memandang lurus tidak melihat wajah Karin.
"Tidak mungkin. Vino hanya sahabatan denganku."
"Astrid dan Andre dulunya juga sahabatan kan? Dan mereka kini sudah menikah. Apanya yang tidak mungkin coba kalau Vino juga menyukaimu. Aku tadi lihat dari tatapan matanya sepertinya Vino beneran suka denganmu bahkan tadi sempat memujimu cantik."
"Kamu cemburu ya sama Vino? Tapi memang aku cantik kan sayang?" ucap Karin terkekeh.
"Jelas aku cemburulah. Aku jadi tidak yakin tentang perasaanmu padaku."
"Eh? Apa yang kamu bicarakan?"
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku atau tidak?"
"Iya, aku sungguh mencintaimu."
"Kalau begitu buktikan! Aku butuh bukti bahwa kamu juga mencintaiku."
"Bukti?" Karin mengeryitkan dahinya.
"Ya............" Yudha menghela nafas panjang.
"Bukti apa? Kak Yudha, kita kan sudah akan menikah, bukankah hubungan kita sudah jauh ke jenjang yang lebih serius? Itu bukti bahwa aku sudah siap untuk menjadi istrimu." Jawab Karin yang bingung Yudha ingin bukti apa lagi darinya.
"Bukan itu, aku ingin bukti bahwa kamu hanyalah milikku."
"Hah??"
"Masa iya aku harus menciumnya sih? Lebih baik aku memeluknya saja seperti waktu di rumah sakit saat itu Kak Yudha mati suri." Batin Karin.
"Kak Yudha..........." Yudha pun menoleh kearah Karin. Dengan cepat Karin memeluk Yudha. Yudha kaget tiba-tiba Karin memeluknya.
"Aku sudah buktikan bahwa aku hanya milikmu dan kamu hanyalah milikku," ucap Karin lirih dan masih terdengar di telinga Yudha.
Yudha tersenyum senang bisa dipeluk Karin, Yudha pun membalas pelukannya. Ini pertama kalinya Yudha dipeluk perempuan selain Mamanya.
"Akhirnya kamu bisa memelukku untuk pertama kalinya."
"Sudah dua kali....." Karin sambil melepaskan pelukannya.
"Hah dua? Coba jelaskan sayang." Yudha pun bingung karena seingatnya baru kali ini Karin memeluknya.
"Pertama kali aku memelukmu saat di rumah sakit saat itu Kakak mati suri dan waktu itu Kakak berhasil kembali lagi setelah aku memelukmu."
Yudha tersenyum mendengar perkataan Karin.
"Saat itu aku sedang bermimpi di sebuah ruangan yang gelap sendirian dan ada suara perempuan menangis dan itu ternyata suara kamu sayang. Lalu ada orang berjubah datang dan bilang kepadaku untuk kembali. Lalu seketika ada cahaya putih berkilau di sana."
__ADS_1
"Jadi Kakak mendengar suaraku saat itu?"
"Ya, aku mendengar semuanya tapi samar-samar tidak jelas. Tapi aku hanya sendirian di sana, aku hanya mendengar suaramu tapi tidak bisa melihat wajahmu."
Karin tersenyum saat mendengar cerita Yudha yang sebenarnya terjadi.
"Sayang mau peluk lagi dong." Sambil merentangkan kedua tangannya.
Karin menatap tajam ke arah Yudha.
"Nggak ada acara peluk-pelukan lagi. Kakak ini jadi cari kesempatan dalam kesempitan. Nikahin aku dulu!" Karin mengerucutkan bibirnya.
Yudha hanya terkekeh mendengar ucapan Karin dan melihat tingkahnya yang menurutnya sangat lucu. Yudha lalu melajukan mobilnya kembali.
"Sayang kamu memeluk laki-laki hanya denganku saja kan?"
"Tidak..... Hanya tiga laki-laki yang sudah aku peluk."
Yudha terkejut saat mendengar perkataan Karin. Mobil Yudha tiba-tiba ngerem mendadak dan berhenti. Yudha lalu menatap tajam ke arah Karin.
"Apa? Tiga laki-laki? Katakan siapa saja yang pernah berpelukan denganmu!" ucap Yudha yang sudah penuh dengan amarah.
"Sayang kenapa kamu jadi marah-marah seperti ini?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan siapa saja laki-laki itu!"
"Kamu cemburu? Aish... aish.... Dokter gantengku ini ternyata cemburuan."
Yudha hanya mendengus kesal mendengar perkataan Karin. Sedangkan Karin terkekeh melihat tingkah laku Yudha yang cemburuan.
"Huh syukurlah..... Kirain kamu sudah pernah memeluk Vino."
"Vino? Hahaha tidak mungkinlah aku memeluknya. Atau kamu ingin aku memeluk Vino didepanmu?" Karin memancing Yudha.
"Jangan pernah lakukan itu!"
"Iya sayang, aku hanya bercanda. Kamu kok menganggapnya serius sih."
"Jangan sebut nama laki-laki itu saat bersamaku. Aku tidak suka padanya."
"Iya dokterku yang ganteng....."
Yudha lalu tersenyum senang saat mendengar Karin bilang dirinya ganteng. Karin yang melihat Yudha sudah ceria kembali pun kembali meledeknya.
"Sudah cemburunya? Sudah ngambeknya?" ucapnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ngambek. Hanya cemburu saja."
Mereka kini akhirnya sudah kembali berbaikan.
"Sayang, bagaimana kalau besok pagi kita foto prewedding?"
"Baiklah, mumpung hari minggu. Oh iya sekalian nanti jalan-jalan ke mall ya? Mau ada yang pengen aku beli."
__ADS_1
"Iya sayang siap."
Mobil Yudha pun berhenti karena jalanan lumayan macet.
"Huft kenapa macet segala sih," ucap Yudha saat melihat banyak mobil didepannya yang tidak bergerak.
"Ya kan ini malam minggu sayang."
"Bosan banget kalau sudah macet begini. Kita selfie saja yuk sayang."
"Sejak kapan Kakak jadi narsis begini?"
"Semenjak kenal kamulah."
"Hmm ya sudah ayo keluarkan hpnya."
Yudha lalu mengambil hpnya dari kantong saku celananya dan segera mengeklik menu kamera.
"Sini sayang lebih mendekat," ucap Yudha.
Karin mendekati Yudha lalu Yudha memfotonya.
"Kak fotonya gak jelas. Kan cuma ada lampu mobil saja. Jadi kurang terang hasil fotonya."
"Hmm... Sini hp kamu sayang."
"Mau buat apa?" Karin lalu menyerahkan hpnya.
"Biar lebih jelaslah sayang kita fotonya."
"Hah? Apa maksudnya Kak?"
"Sudah lihat saja nanti."
Yudha lalu menyalakan lampu LED flash di hp Karin.
"Sayang ini memalukan!"
"Kenapa memalukan?"
"Terlalu terang, orang di luar pada melihat ke arah mobil kita."
"Biarkan saja. Lagian kaca mobilnya kan berwarna hitam jadi tidak terlalu kelihatan. Aku kita foto selfie saja."
Karin menurutinya agar cepat selesai fotonya.
"Sudah Kak."
"Dari samping sana belum sayang. Sekarang gantian ambil fotonya, kamu yang pegang hpnya."
Karin mengangguk dan ingin segera selesai berfoto didalam mobilnya.
"Sudah... Tuh sayang mobil di depan sudah jalan." Dengan segera Karin mematikan lampu LED flash di hpnya.
__ADS_1
Yudha kembali melajukan mobilnya. Ini pertama kalinya mereka berfoto di mobil dan memakai lampu LED flash. Karin malu saat orang-orang tadi pada melihat ke arah mobilnya meskipun kaca mobil Yudha berwarna hitam. Namun jika lampu LED flash nyala kan jadi terlihat lebih terang.
Pagi hari jam 09:00 wib Yudha dan Karin sudah berada di taman. Mereka hari ini akhirnya foto prewedding. Yudha bahagia akhirnya nanti bisa seperti Astrid dan Andre yang ada foto prewedding di resepsi pernikahannya. Mereka foto sampai hampir 2 jam lamanya. Mencari tempat foto yang bagus. Setelah ini mereka berencana akan pergi ke mall untuk makan siang dan jalan-jalan.