Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 81 - Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Wanita berambut pirang dan ayahnya kini sudah sampai di Indonesia. Wanita cantik itu tersenyum sudah kembali lagi ke Indonesia.


"Akhirnya, aku kembali lagi ke Indonesia. Yudha aku sangat merindukanmu." Batin Fani dengan senyuman manis diwajahnya.


"Nak, ayo kita pulang. Itu Papa sudah pesan go car."


"Iya Papa, ayo kita masuk ke mobil. Fani sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mama di rumah."


"Iya nak. Papa juga sudah kangen dengan Mama kamu."


"Iya Papa. Akhirnya Fani lega kalau Papa sama Mama akan bersama-sama lagi."


Orang tua Fani akan rujuk. Mereka akan melangsungkan pernikahan sebulan lagi.


...*****...


Beberapa hari kemudian.


Karin sudah mengambil cuti kuliahnya untuk fokus dengan kehamilannya. Yudha yang menyuruh Karin untuk mengambil cuti. Yudha tidak tega kalau Karin masih tetap kuliah dengan keadaan hamil apalagi sedang hamil anak kembar tiga. Yudha takut jika istrinya kelelahan. Karin menuruti keinginan suaminya karena Karin tidak mau durhaka kepada suaminya dan sekaligus ini demi keselamatan anak-anaknya. Yudha masih mengalami mual setiap pagi hari, Sindrom Couvade atau kehamilan simpatik yang dialami Yudha masih berlaku sampai sekarang. Selama hamil Karin baru mual dua kali saja. Namun untuk ngidam mereka selalu merasakan sama-sama. Entah mengapa mereka selalu merasakan hal yang sama saat ingin makan sesuatu.


Kini Karin tengah tidur siang. Entah selama hamil Karin jadi sering tidur siang. Kalau kata Mama Chintya itu karena bawaan bayinya. Karin tertidur sampai sore hari sampai suaminya pulang dari rumah sakit. Yudha segera mandi setelah tiba di kamarnya. Istrinya masih tetap terlelap dalam tidurnya. Yudha tersenyum saat melihat istrinya yang masih tertidur pulas. Lalu pandangan Yudha mengarah ke perut Karin yang di sana ada ketiga anaknya. Yudha tidak menyangka Karin akan hamil kembar tiga. Perlahan Yudha lalu naik ke ranjangnya dan lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang. Yudha memeluk Karin dari belakang, tangannya Yudha kini sudah berada tepat di perut Karin.


Karin yang tidurnya mulai terusik pun lalu mengerjapkan matanya. Karin terkejut saat melihat tangan kekar suaminya sudah berada di perutnya, kini suaminya telah pulang. Seketika Karin ingat belum membuatkan teh hangat untuk suaminya.


"Sayang......."


"Sayang, biarkan seperti ini sebentar ya. Aku sangat rindu denganmu dan juga anak-anak."


"Iya Mas."


Setelah cukup lama Yudha memegang perutnya kini Karin akan bangun dari tempat tidurnya.


"Mas, ini sudah sore. Aku belum mandi dan belum membuatkan teh hangat untukmu."


"Sayang, kamu ini istriku bukan pembantu jadi tidak usah repot-repot lagi untuk membuatkan teh hangat untukku apalagi kamu sedang hamil. Lagian di rumah ada Bibi."


"Tapi Mas, aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk kamu."


"Kamu sudah menjadi istri yang terbaik untukku. Ini buktinya kamu sudah bisa menjaga dan mengandung tiga anakku sekaligus," ucap Yudha yang kini mengelus-elus perut Karin.

__ADS_1


Kini Karin tersenyum saat suaminya berbicara seperti itu.


"Mas, rumah kita kapan jadi?"


"Seminggu lagi kita akan pindah ke rumah baru kita sayang. Nanti kita adakan pengajian untuk syukuran rumah baru kita."


"Iya Mas, aku setuju saja. Ya sudah aku mandi dulu ya Mas."


"Iya sayang."


Karin lalu sekarang sedang mandi. Yudha menyuruh Bibi untuk membuatkan dua cangkir teh hangat untuk diantar ke kamarnya. Yudha ingin meminum teh hangat dengan istrinya.


...*****...


Yudha akan berangkat ke rumah sakit. Kini Karin mengecup punggung tangan suaminya. Yudha juga mengecup kening istrinya. Tak lupa Yudha pamit kepada ketiga anak-anaknya yang masih di dalam kandungan Karin.


"Anak-anakku Papa berangkat kerja dulu ya. Jangan lupa kalau ingin apa-apa bilang saja sama Mama. Nanti pasti Papa berikan." Yudha mengelus perut Karin.


"Iya Papa." Karin menirukan suara anak kecil.


"Kamu gemesin banget sih sayang," ucapnya mencubit kedua pipi Karin.


"Kok dicubit sih Mas? Kan sakit. Lihatlah nak, Papamu KDRT sama Mama."


"Ya sudah Mas segera berangkat gih. Nanti keburu macet jalannya Mas."


"Iya sayang. Papa berangkat kerja dulu ya nak," ucapnya sambil mengecup perut Karin tiga kali seperti berpamitan kepada ketiga anaknya.


Karin tersenyum meskipun Yudha kadang jahil dengannya tapi setiap hari Yudha selalu pamit kepada ketiga anaknya yang masih dalam kandungannya. Karin bahagia dengan kehadiran ketiga sang buah hatinya kini Yudha semakin perhatian.


Pukul sepuluh pagi kini bel rumah berbunyi. Mama Sabrina membukakan pintu. Mama Sabrina terkejut saat melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya.


"Fani... Ayo masuk nak."


Fani mengangguk dan tersenyum. Kini dirinya sudah kembali ke Indonesia sejak beberapa hari yang lalu.


"Tante apa kabar?" saat sudah duduk di sofa.


"Alhamdulillah baik."

__ADS_1


"Kamu apa kabarnya nak? Sudah lama sekali kamu tidak main ke rumah Tante. Terakhir kita ketemu saat Yudha wisuda di Perancis," ucapnya kembali.


"Alhamdulillah kabar saya baik juga Tante. Iya Tante, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu."


"Oh iya Tante, ini Fani bawakan oleh-oleh dari Perancis." Sambil menyerahkan beberapa oleh-olehnya.


"Wah terima kasih banyak ya nak. Tante tadi pangling loh sama kamu. Sekarang kamu cantik banget."


"Ah bisa aja Tante Sabrina ini. Tante terlalu berlebihan muji Fani."


Karin yang mendengar suara perempuan pun melihat sedikit.


"Siapa wanita itu? Sepertinya umurnya tak jauh dari Kak Yudha." gumamnya.


"Oh iya sekarang kamu bekerja di mana nak?"


"Ini Tante saya kebetulan di terima kerja di salah satu universitas ternama di Jakarta. Saya sebagai Dosen di fakultas ekonomi."


"Wah kamu hebat sekali nak menjadi dosen. Kamu lulus S2 atau S3?"


"Kebetulan saya lulus S3 dengan predikat Cumlaude."


"Hebat sekali kamu nak. Kalau Yudha belum menikah pasti Tante akan jodohkan kamu dengan anak Tante."


Mama Sabrina tahu kalau Fani dulu menyukai anaknya dan sampai sekarang Fani juga belum menikah.


"Deg...................." Hati Karin terasa teriris pisau, sangat sakit tapi tak berdarah.


"Itu tujuanku untuk merebut kembali hati Yudha dari istrinya Tante. Sebentar lagi aku pastikan Yudha akan segera menceraikan istrinya." Batin Fani yang sudah mendapatkan lampu hijau dari Mama Sabrina.


Karin lalu tidak ingin mendengar pembicaraan mereka lebih lanjut. Karin saat akan melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas kamarnya Mama Sabrina memanggilnya.


"Sayang, sini nak. Ini ada teman nak Yudha yang baru saja datang dari Perancis."


Mau tidak mau Karin berjalan mendekat ke ruang tamu tersebut. Karin menampilkan senyuman tipisnya.


"Istrinya tampilannya biasa saja begini. Apa Yudha tidak bisa melihat. Atau jangan-jangan Yudha terkena pelet wanita ini?" Batin Fani saat melihat penampilan Karin yang menurutnya biasa saja.


Fani menatap Karin dari atas sampai bawah. Karin mendengus kesal saat dilihat seperti itu. Karin memakai dress sederhana ala rumahan.

__ADS_1


"Kenapa dia melihatku seperti melihat setan saja. Sampai melihat ke kakiku. Emang matanya gak bisa melihat apa kalau aku ini manusia. Astagfirullah... Amit-amit jabang bayi. Barusan aku mengumpat orang ini. Semoga saja anakku tidak akan mirip dengannya." Batin Karin sambil mengelus perutnya pelan.


Karin memang tidak memakai makeup saat di rumah. Ini juga atas kemauan suaminya. Yudha lebih suka melihat istrinya tanpa makeup. Yudha justru tidak suka dengan wanita yang berpenampilan berlebihan. Karin tanpa makeup saja Yudha melihatnya tanpa kedip. Apalagi kalau Karin sudah pakai makeup sudah seperti bidadari yang turun dari kayangan.


__ADS_2