
Yudha akan menyakinkan Papa Keynan bahwa dirinya sungguh-sungguh terhadap anaknya.
"Saya sungguh-sungguh terhadap Karin Om."
"Karena menikah itu hanya sekali dalam seumur hidup, jadi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi menikahi anakku."
Semua orang terkejut mendengar ucapan Papa Keynan.
"Syarat yang diajukan Papa akan memberatkan Kak Yudha gak ya?" Batin Karin.
"Apa itu Om?"
"Yang pertama kejujuran adalah hal yang terpenting dalam menjalin suatu hubungan. Jangan pernah sekalipun berbohong terhadap anakku. Sebesar apapun masalahmu dalam rumah tangga nantinya, tapi sekalipun kamu berbohong akan terus berbohong dan saja tidak suka dengan hal itu."
Yudha mengangguk mengerti.
"Yang kedua jangan pernah berkata kasar ataupun berbuat kasar terhadap Karin. Apalagi kalau sampai berani main tangan. Saya tidak suka dengan adanya kekerasan dalam rumah tangga."
"Yang ketiga ini syarat terakhir. Hal yang paling penting dan kamu jangan menyepelekannya."
Yudha akan mendengarkan syarat yang terakhir itu dengan memasang telinganya dengan lebar-lebar.
"Kamu jangan pernah menyakiti hati anak kesayanganku. Jika sampai hal itu terjadi misalnya kamu ketahuan berselingkuh atau menduakannya. Maka kamu kembalikan anakku dengan baik-baik ke rumah ini. Karena kamu juga memintanya dengan baik-baik seperti malam ini."
"Deg... Deg..... Deg.........." Jantung Yudha berdegup dengan kencang saat mendengar syarat-syarat yang diajukan Papa Keynan terhadapnya. Sedangkan Karin terkejut mendengar ucapan Papanya.
"Bagaimana? Apakah kamu mengerti? Apa kamu sanggup menjalani 3 syarat dariku?" Tanya Papa Keynan dengan serius dan wajahnya yang sudah menatap tajam ke arah Yudha.
"Calon Papa mertuaku galak banget sih. Untung aku sayang dan cinta sama anaknya. Jadi apapun syarat yang ia berikan akan aku turuti." Batin Yudha.
"Iya Om, saya mengerti dan saya sanggup dengan 3 syarat yang Om ajukan."
"Baiklah, saya merestui hubungan kalian."
__ADS_1
"Alhamdulillah......" Seisi ruangan mengucapkannya.
"Bahagiakan dia nak. Jangan pernah menyakiti hatinya."
"Iya Om, saya janji tidak akan pernah menyakiti hatinya. Karena saya sangat mencintainya Om."
Papa Keynan melihat kesungguhan Yudha. Papa Keynan menatap tajam Yudha. Yudha ketakutan dengan tatapan Papa Keynan.
"Tapi kamu harus ingat bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku tadi. Jika kamu benar-benar menyakiti hati anak saya, lebih baik kalian berpisah saja. Karena untuk apa bersama jika hanya untuk menyakiti."
"Tidak akan pernah bisa aku menyakiti hati wanita yang sangat kucintai. Hanya Karin yang bisa memporak-porandakan hatiku. Hanya dengan dialah jantungku rasanya ingin copot." Batin Yudha.
"Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hatinya Om."
"Baguslah kalau begitu. Saya pegang janji kamu."
"Sekarang waktunya menentukan tanggal pernikahan anak-anak kita saja gimana Pak? Pak Keynan adakah usul?" Tanya Papa Yudhistira.
"Begini saja, setelah Karin mendapatkan ijazahnya saja mereka bisa menikah Pak. Karena ada waktu luang sebelum Karin masuk kuliahnya."
"Iya saya setuju. Yang penting cucu saya bahagia," ucap sang Kakek.
"Saya sangat setuju, sebelum Nenek pergi nenek ingin melihat cicit-cicit Nenek," ucap sang Nenek.
Nenek bahagia cucunya akan menikah dengan laki-laki pilihannya yang dicintai. Sebentar lagi cicitnya akan lahir dari cucunya Risa. Mungkin tak lama lagi cucunya Karin juga akan segera memberikan cicit untuknya. Itulah yang ada dipikirannya. Nenek ingin sebelum pergi untuk selamanya bisa melihat cicitnya.
"Nenek jangan bilang seperti itu," ucap Karin.
"Nenek sudah tua cu dan sering sakit-sakitan. Mungkin umur Nenek tak lama lagi nenek akan pergi untuk selamanya."
"Bu, aku mohon jangan pernah bicara seperti itu," ucap Mama Chintya kepada mertuanya.
"Sebentar lagi cicit Nenek akan lahir dari cucuku Risa. Makanya kalian segera menikah dan berikan cicit untuk Nenek."
__ADS_1
Seketika suasana jadi hening setelah nenek berbicara seperti itu. Sekarang usia kandungan Risa sudah 7 bulan, jadi sekitar dua bulanan lagi Risa akan melahirkan Baby R. Karin semakin bingung neneknya juga ingin segera mempunyai cicit darinya. Padahal sebelumnya Karin ada niat untuk menunda kehamilannya. Tapi nampaknya sekarang Karin ragu untuk melakukannya.
"Siap Nek. Nenek tenang saja, setelah saya menikah dengan Karin nanti. Kita akan segera memberikan Nenek cicit," ucap Yudha dengan senyuman.
Karin hanya diam saja dan melamun. Dia masih berpikir untuk ingin menunda kehamilannya nanti. Namun saran dari Astrid sahabatnya yang menjadi ragu untuk menunda kehamilannya. Apalagi sang nenek juga ingin segera memiliki cicit darinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Beberapa bulan lagi aku bakal menjadi istrinya Kak Yudha. Disatu sisi aku ingin menunda kehamilanku tapi disisi lain Kak Yudha ingin segera punya anak dariku dan nenek juga menginginkan cicit dariku. Aku benar-benar bingung harus menundanya atau tidak nanti." Batin Karin.
"Baguslah, itu yang Nenek harapkan."
Nenek lega akhirnya calon cucu menantunya akan segera memberikannya cicit nantinya. Nenek pun bahagia sebentar lagi cucu-cucunya akan segera memberikan cicit untuknya.
...*****...
DI RUMAH KELUARGA HENDRAWAN
Setelah makan malam bersama lalu Dion menuju ke kamarnya, ada tugas yang harus ia print dari kemarin hasil belajar kelompoknya bersama teman-temannya dan 2 hari lagi akan di presentasikan didepan Dosennya dengan teman sekelompoknya. Papa Edwin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar anaknya. Terlihat Dion sedang mengeprint tugas kuliahnya. Papa Edwin lalu berjalan mendekati Dion.
"Nak, sebentar lagi kamu akan menikah. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab untuk istrimu dan juga anak-anakmu nanti," ucap Papa Edwin.
"Anak-anak? Apakah Papa ingin segera punya cucu dariku? Bagaimana dengan Kak Alya, bahkan dia sampai sekarang belum mencintaiku. Kemarin Kak Alya menerimaku dengan 3 alasan yang dia berikan, salah satunya karena mimpinya." Batin Dion.
"Apa Papa ingin segera punya cucu dariku?"
"Ya iyalah nak. Siapa sih yang tidak ingin punya cucu dari anaknya," ucap Papa Edwin dengan senyuman.
Dion tersenyum kecut mendengar perkataan Papanya. Dion sudah mencintai Alya namun Alya hanya merasa nyaman saja bila di dekatnya. Alya belum mencintainya. Dion akan menunggu Alya sampai benar-benar mencintainya. Dion punya ide untuk mengontrak rumah setelah menikah nanti. Dion ingin hidup berdua saja dengan Alya. Harapannya jika hidup berdua maka akan semakin dekat dengan Alya. Mudah-mudahan saja Alya bisa mencintainya setelah tinggal bersama. Dion hanya berharap semoga kedepannya seperti itu memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama istri dan anak-anaknya.
"Iya Papa insya'allah Dion akan berikan Papa cucu. Oh iya Pa, bolehkah setelah menikah Dion dan Kak Alya mengontrak rumah? Kami ingin mandiri Papa."
"Boleh saja nak. Tapi kamu cari kontrakan yang bulanan saja bayarnya. Karena misalkan tidak betah kan bisa pindah cari kontrakan lainnya."
"Baik Papa."
__ADS_1
Papa Edwin tersenyum anaknya ini masih muda tapi pemikirannya sudah dewasa. Tak salah jika mereka menjodohkan dengan wanita yang umurnya lebih tua darinya 3 tahun dan tak disangka Alya juga wanita yang Dion cintai. Dion akan bisa mengimbangi Alya, Alya wanita dewasa dengan hidupnya yang mandiri. Bahkan Alya sudah punya usaha sendiri dengan memiliki toko kue usahanya lumayan berkembang pesat di lingkungannya.
Papa Edwin berharap anaknya akan bisa hidup bahagia setelah menikah nanti. Dengan hadirnya seorang anak nanti akan menambah hubungan Alya dan Dion yang semakin harmonis. Itulah yang saat ini berada di pikiran Papa Edwin. Papa Edwin hanya ingin anaknya bahagia dengan wanita yang dicintainya dan itu akan segera terwujud karena sebentar lagi mereka akan menikah kira-kira 2 bulan lagi setelah Alya lulus sidang skripsinya. Sebentar lagi Alya akan menjadi menantu idamannya. Sifatnya yang sopan, baik, pengertian dan yang terpenting sholehah. Pas untuk Dion anaknya yang juga sholeh dimana Dion merupakan seorang lulusan pondok pesantren dan merupakan seorang hafidz Qur'an.