
Dua bulan kemudian.
Karin akhir-akhir ini mual saat dekat dengan suaminya. Yudha bahkan sudah 3 hari ini tidur di sofa ruang keluarga karena Karin tidak mau sekamar dengan suaminya.
"Mas, jangan mendekat, kamu bau!" Teriak Karin sambil menutup hidungnya.
Yudha baru saja mandi dan menurutnya badannya wangi. Yudha juga mengendus bajunya dan aromanya harum seperti biasanya.
"Sayang kamu kenapa sih? Kok makin hari makin aneh?"
Yudha belum sadar bahwa istrinya kini sedang berbadan dua. Karena saat hamil yang sebelum-sebelumnya Karin tidak seperti ini.
"Sayang, aku sudah pakai parfum. Sekarang bagaimana apa masih bau?"
Karin membuka hidungnya dan semakin mual menghirup parfum suaminya. Karena sudah tidak tahan lagi Karin akhirnya memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel. Yudha mendekati istrinya dan mencoba membantunya memijat tengkuknya.
"Mas jangan mendekat! Aku semakin mual dekat denganmu."
Yudha lalu keluar dari kamar mandi.
"Kenapa sih Karin aneh banget hari ini. Sepertinya ada masalah dengan hidungnya."
Yudha lalu melihat ponselnya dan seketika membolakan matanya karena teringat sesuatu.
"Ini sudah tanggal 7 berarti Karin sudah terlambat datang bulan. Apa jangan-jangan Karin hamil ya," ucapnya senang matanya kini berbinar-binar.
Karin masih saja mual di kamar mandi. Yudha lalu mencari alat tes kehamilan 2 sekaligus di laci.
"Semoga saja tebakanku benar. Dari ciri-cirinya sih sepertinya memang Karin sedang hamil," ucap Yudha sambil menatap dua buah alat tes kehamilan tersebut.
Dengan segera Yudha menyusul Karin di kamar mandi.
"Sayang, coba pakai ini. Sepertinya kamu hamil lagi."
Karin mengelap mulutnya.
"Hah?? Hamil?" Karin matanya terbelalak saat ini.
"Hanya dugaan sementara sayang. Cobalah untuk mengeceknya."
Karin lalu mengambil dua alat tes kehamilan tersebut.
"Kamu kenapa masih disini Mas! Cepat keluar sekarang juga Mas!" Teriak Karin.
"Hmm..... Iya... Iya..."
Karin lalu menutup pintu kamar mandi.
"Brak............" Karin menutup pintu kamar mandi dengan kencang sampai Yudha kaget.
"Astagfirullah, senam jantung di pagi hari." Gerutu Yudha.
Di dalam kamar mandi Karin menatap dua buah alat tes kehamilan tersebut.
"Apa aku hamil lagi ya?" Karin melamun mengingat ini sudah tanggal berapa.
__ADS_1
"Ah, lebih baik langsung cek saja," ucapnya kembali sambil membuka kedua alat tes kehamilan tersebut.
Sekarang Karin sedang menunggu hasilnya. Karin berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi.
"Bagaimana kalau aku hamil lagi ya?" ucap Karin sambil melihat ke arah perutnya yang masih rata.
"Lebih baik aku langsung melihat hasilnya saja."
Dengan tangan yang gemetar Karin membalikkan kedua alat tes kehamilan tersebut untuk melihat hasilnya. Karin membolakan matanya saat melihat kedua alat tes kehamilan tersebut menunjukkan garis dua semuanya. Karin lalu mencuci kedua alat tes kehamilan tersebut.
"Aku hamil lagi? Bagaimana ini?"
Karin lalu meletakkan alat tes kehamilan tersebut di pinggir wastafel. Karin menangis di dalam kamar mandi.
"Kenapa aku bisa lalai seperti ini lagi." Karin masih ingat saat di Korea dulu dirinya juga lupa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan karena sedang fokus mau wisuda saat itu dan akhirnya lahirlah Key.
Mendengar istrinya menangis Yudha jadi khawatir dengan Karin.
"Sayang, buka pintunya. Kamu kenapa sayang?" Yudha cemas saat ini karena istrinya tidak menjawab pertanyaannya.
"Sayang, buka pintunya. Kalau tidak aku dobrak sekarang."
Karin membuka pintu kamar mandi. Setelah mual Karin sekarang merasa suaminya tidak bau lagi.
"Sayang kamu kenapa menangis?"
Karin hanya menggelengkan kepalanya. Yudha semakin bingung dengan istrinya.
"Hasilnya bagaimana sayang?" ucapnya kembali.
Yudha lalu mengambil kedua alat tes kehamilan tersebut. Dua-duanya sama-sama menunjukkan dua garis merah. Karin kini sudah duduk di sofa kamar. Yudha berjalan mendekati istrinya.
"Sayang kamu hamil?"
Karin hanya mengangguk pelan dan air matanya masih menetes membasahi pipinya. Yudha lalu memeluk istrinya dan mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang alhamdulilah akhirnya kamu hamil lagi. Sayang, terima kasih kamu mau mengabulkan permintaan Key. Anak kita pasti akan senang akan senang mempunyai adik," ucap Yudha lalu mengecup kening Karin.
Karin hanya terdiam saja. Sebenarnya karena Karin lalai mengkonsumsi pil pencegah kehamilannya. Karena akhir-akhir ini butiknya ramai dan Karin kewalahan banyak pesanan. Jadi dirinya lupa untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilannya.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang hamil lagi?" Tanya Yudha hati-hati karena biasanya ibu hamil sangat sensitif dan mudah marah.
Karin masih terdiam air matanya masih menetes membasahi pipinya.
"Sayang, jangan menangis dan mendiamkan aku seperti ini. Aku kan jadi bingung harus gimana."
"Mas, ini semua salahmu!"
"Kok aku sih sayang?" Yudha mengernyitkan dahinya dan kedua alisnya terlihat seperti akan menyatu.
"Ya karena kamu tidak mengingatkan aku untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilannya. Jadi aku hamil lagi kan sekarang," ucap Karin yang melipat tangannya di atas perutnya.
"Dia yang lupa aku yang disalahkan. Benar apa kata peribahasa. Wanita selalu benar, meskipun dia bersalah." Batin Yudha.
"Sayang, maaf... Aku juga sibuk sayang, pasien di rumah sakit banyak. Belum lagi bisnis kuliner kita yang harus aku cek langsung ke restoran. Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan orang lain karena kita juga harus cek sendiri restoran kita."
__ADS_1
Karin masih terdiam tidak berbicara sepatah katapun.
"Sayang kamu jangan diam saja seperti ini terus dong. Aku jadi bingung harus bagaimana bersikap sama kamu."
"Aku masih kesal sama Mas!" Akhirnya Karin membuka suara.
"Sayang coba kamu berpikir masih banyak di luaran sana yang ingin punya anak namun mereka tidak bisa punya anak. Bahkan mereka ada yang harus merogoh kocek lebih tebal untuk mengikuti program bayi tabung jika ingin punya anak. Kita yang diberi kepercayaan lagi oleh Allah harusnya kita bersyukur."
"Iya Mas. Maafkan aku ya..."
"Kamu tidak perlu meminta maaf karena kamu tidak bersalah sayang." Yudha sambil mengusap air mata Karin.
Karin tersenyum tipis. Karin tidak menyangka bahwa dirinya akan hamil lagi dan keinginan anaknya pun terkabul untuk punya adik.
"Sayang kita beritahu yuk ke anak-anak kalau mereka akan punya adik."
"Hmm iya Mas. Ayo kita beritahu mereka."
Yudha dan Karin lalu keluar kamarnya. Ketiga anaknya kini terlihat sedang duduk di ruang keluarga. Keifano dan Keisha sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan Key sedang menggambar.
"Anak-anak... Kalian akan punya adik. Sekarang Mama Karin sedang hamil."
"Hore..." Key kegirangan keinginannya akan terpenuhi. Key bahagia akan punya adik.
Key lalu berjalan mendekati Karin.
"Mama, berarti disini sudah ada adiknya?" Sambil memegang perut Karin.
"Iya nak. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Kakak." Sambil mengusap rambut Key yang menurut Karin sangatlah lucu jika Key berpenampilan dengan gaya rambut yang acak-acakan.
"Kok perut Mama belum besar kalau sudah ada adiknya."
"Bertahap nak. Tiap bulan akan semakin membesar perut Mama," ucap Yudha menjelaskan.
"Key bahagia kan akan punya adik?"
"Bahagia Papa..." Sambil tersenyum menampilkan giginya.
"Keisha juga bahagia Papa."
Tinggal Keifano yang hanya diam saja.
"Keifano kenapa kamu diam saja nak? Apa kamu tidak suka kalau Mama Karin akan memberikan kamu adik?"
"Aku hanya takut kalau kasih sayang Papa dan Mama akan semakin berkurang karena akan punya anak lagi."
"Tidaklah nak. Kita tetap menyayangi kalian."
Keifano menggelengkan kepalanya dan lalu pergi ke kamarnya. Keifano membanting pintu kamarnya sampai terdengar di ruang keluarga.
"Kelakuan ibu dan anak sama saja. Sukanya membanting pintu." Batin Yudha terheran-heran karena sikap Karin yang menurun ke Keifano.
"Sayang, biar aku saja yang ke kamar Keifano. Kamu disini saja ya menemani anak-anak."
"Iya Mas." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Yudha lalu pergi ke kamar Keifano. Putranya itu harus diberi pengertian agar tidak ngambek lagi seperti ibunya. Anaknya itu 70% sifatnya mirip dengan Karin. Hanya 30% sifat dinginnya saja yang mirip dengan Yudha. Mereka juga terlihat sekilas mirip wajahnya.