Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 40 - Bayangan Masa Depan


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu kini Yudha belum bisa mengingat Karin. Beberapa bulan lagi Karin akan ujian nasional dan sebentar lagi akan lulus SMA. Sedangkan Karin berusaha untuk selalu sabar membantu Yudha untuk mengingat ingatannya kembali. Satu yang belum Karin coba agar Yudha kembali ingatannya adalah ke rooftop. Karin belum mengajak Yudha ke rooftop dimana mereka pernah dinner romantis pada malam itu. Karin berharap Yudha akan mengingatnya saat Karin mengajaknya ke rooftop. Karin berencana akan mengajak Yudha ke rooftop suatu saat nanti.


Sekarang Karin dan Yudha sedang berada di rumah Rey. Risa dan Rey sedang menggelar acara tujuh bulanan dengan pengajian dan tradisi adat jawa. Berbagai acara tradisi Jawa telah Rey dan Risa laksanakan. Tradisi ini sudah dilakukan sejak turun temurun oleh Keluarga Wijaya dan Keluarga Alexander yang masih ada keturunan Jawa. Karin juga ikut dalam acara siraman, Karin mengguyur Risa dengan air yang berasal dari 7 sumber yang sudah dicampur dengan bunga 7 rupa. Setelah itu untuk acara selanjutnya Karin tidak ikut. Karena hanya Risa, Rey dan kedua orang tuanya yang akan menjalankan tradisi selanjutnya. Apalagi sekarang keluarga Karin sudah pindah ke Indonesia. Kakek, nenek dan orang tua Karin sudah membeli rumah di dekat rumah Risa.


Yudha membayangkan jika yang sedang berada di sana bukan Risa tetapi adalah Karin. Yudha tersenyum bahagia melihat bayangan masa depan nanti sudah tergambar di pikirannya. Karin berjalan mendekati Yudha dan lalu duduk disampingnya. Yudha masih tersenyum melihat ke arah Risa yang sedang melakukan siraman. Lamunannya masih membayangkan bahwa yang di sana adalah Karin dan yang menjadi Rey adalah dirinya. Alangkah bahagianya kalau hal itu akan segera terwujud beserta ingatannya yang akan segera kembali. Yudha masih melihat tradisi acara tujuh bulanannya Risa.


"Kak Yudha... Kak... Hello......." Karin meletakkan tangannya di depan muka Yudha dan seketika Yudha sadar dari lamunannya.


"Ada apa Karin?" Yudha lalu menengok ke arah Karin.


"Kakak kok dari tadi melamun sih? Apa Kakak baru kali ini melihat acara seperti ini."


"Iya maaf. Kakak tadi sedang membayangkan yang berada di sana adalah Kakak dan kamu Karin. Kan sebentar lagi setelah kamu lulus SMA kita juga akan menikah dan pastinya kita akan melakukan adat seperti ini juga kalau kamu hamil anakku iya kan hehehe," ucapnya terkekeh.


Karin membulatkan matanya saat Yudha berbicara seperti itu. Karin langsung tersipu malu mendengar perkataan Yudha. Padahal Karin berencana untuk menunda kehamilannya jika menikah dengan Yudha saat lulus SMA. Bukan gimana-gimana tapi Karin tidak ingin saat kuliah nanti dengan kondisi hamil dan perutnya membesar pasti akan ribet menurutnya untuk melakukan aktivitas di kampusnya.


Karin melihat Risa yang saat pulang dari kampus terkadang mengeluh capek saat hamil pun jadi merasa niatnya mantap ingin menunda kehamilannya nanti jika sudah menikah dengan Yudha. Sedangkan pikiran Yudha berbeda dengan Karin. Yudha ingin segera sembuh dari hilang ingatannya dan membangun keluarga kecilnya bersama Karin. Yudha ingin nanti segera diberikan keturunan saat menikah dengan Karin. Yudha juga tidak melarang Karin untuk kuliah. Hanya saja jika Karin nanti hamil, Yudha akan meminta Karin untuk mengajukan cuti kuliahnya. Karena cuti kuliah berlaku untuk 1 tahun yang berarti 2 semester dan itu lumayan bila Karin mengambilnya untuk di rumah fokus dengan kehamilannya dan juga mengurus bayinya.


Sedangkan Alya dan Dion melihat acara seperti ini senang karena mendapat pengetahuan tentang acara tujuh bulanan. Di rumah selain mengurusi bisnis toko kuenya Alya juga saat ini kegiatannya sedang merevisi skripsinya dan tak lupa Dion juga membantu Alya mengetikkan naskah skripsinya agar segera selesai dan sidangnya tinggal 2 bulan lagi. Yang berarti pernikahan Alya dan Dion akan segera dilaksanakan mungkin juga 2 bulan lagi karena sambil menunggu saat acara wisudanya Alya yang akan dilaksanakan sekitar 4 bulanan lagi.

__ADS_1


Dion bahagia berkat saran dari kedua sahabatnya Rey dan Surya sekarang tinggal selangkah lagi Dion melewati ke jenjang pernikahan. Dion bersyukur bisa mendapatkan wanita yang menjadi pujaannya selama ini. Dion tidak menyangka bahwa Alya akan menerima cintanya dan orang tua dari mereka berdua juga ternyata saling menjodohkan. Dion berpikir bahwa kalau sudah jodoh itu tak akan kemana. Itulah yang berada dipikiran Dion saat ini. Namun Dion belum menanyakan alasan kenapa Alya menerima cintanya. Dion akan menanyakan nanti sehabis acara tujuh bulanan Risa selesai. Setelah satu jam kemudian akhirnya acara tujuh bulanan kehamilan Risa selesai.


Dion dan Alya pamit pulang duluan. Dion mengajak Alya untuk makan di restoran terlebih dahulu sambil menanyakan hal yang serius. Setelah mereka sudah selesai makan. Dion dengan penasaran ingin tahu jawaban dari Alya yang waktu itu menerima cintanya. Dion dan Alya saat ini berada di ruang VIP yang bebas asap rokok dan tentunya tidak banyak orang di dalam restoran di ruang VIP tersebut.


"Kak Alya apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"


"Boleh, tanyakan saja."


"Tapi aku mau Kak Alya menjawabnya dengan jujur."


"Iya. Kakak akan menjawabnya dengan jujur."


"Apakah aku harus menceritakan semuanya kepada Dion sekarang?" batin Alya.


"Kak..... Kak Alya kok jadi melamun?"


"Eh maaf Dion Kakak tadi melamun, jika Kakak menceritakan semuanya tapi kamu jangan kaget ya?"


"Iya Kak," ucap Dion sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya alasan Kakak menerimamu adalah yang pertama karena kamu laki-laki pertama kali yang menyentuh tangan Kakak ya meskipun waktu itu Kakak terkena pecahan kaca dari hp Kakak dan kamu yang mengobatinya. Yang kedua karena Kakak merasa nyaman jika berada di dekatmu dan yang ketiga karena Kakak mendapatkan petunjuk melalui mimpi tentang bayangan masa depan denganmu."


Dion tersenyum saat Alya menceritakan alasan menerima cintanya.


"Mimpi bayangan masa depan denganku? Kak Alya mimpi apa?" tanya Dion penasaran dan berpikir bahwa Alya bermimpi menikah dengannya.


"Setelah sholat istikharah Kakak lalu tertidur dan Kakak bermimpi tiba-tiba sudah berada di rumah sakit. Kakak kaget saat itu didalam mimpi, Kakak sedang hamil 9 bulan dan akan segera melahirkan. Saat Kakak sedang merasakan kesakitan disaat itu juga kamu datang sebagai suamiku dan kamu akan menemani Kakak untuk melahirkan. Kamu selalu menyemangati Kakak selama di rumah sakit sampai anak kita akan lahir. Itulah yang membuat Kakak yakin untuk menerimamu."


"Uhukk..... Uhukkk........" Dion tersedak saat mendengar ucapan Alya yang bermimpi sedang hamil anaknya dan berjuang akan melahirkan di rumah sakit.


"Minum dulu Dion."


Dion lalu meminum minumannya hingga hampir habis jusnya.


"Maaf jika kamu kaget dengan mendengar cerita Kakak. Sebenarnya Kakak juga malu untuk cerita seperti ini kepadamu. Namun kamu tadi ingin Kakak jawab jujur, jadi Kakak jawab dengan sebenarnya."


"Tidak apa-apa Kak Alya. Dion senang kok Kakak bisa cerita jujur sama Dion."


Dion sekarang sudah lega saat tahu Alya menerimanya dengan tiga alasan tadi. Terlebih mimpi Alya yang membikin Dion terkejut karena di mimpinya Alya sedang mengandung anaknya dan sedang berusaha untuk melahirkan anaknya di rumah sakit. Dion berharap dengan pernikahannya nanti Alya juga akan mencintainya karena saat ini Alya bilang baru nyaman jika berada didekatnya.

__ADS_1


__ADS_2