Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Kecelakaan


__ADS_3

Karin menunggu anaknya untuk keluar dari kelasnya. Tak lama kemudian Key keluar dari kelasnya.


"Mama........" Key mendekati Karin dan memeluknya.


"Sayang, ayo kita segera pulang nak."


"Kenapa Ma? Biasanya kita ke supermarket dulu beli ice cream."


"Tidak apa-apa nak. Ayo kita segera pulang."


Key mengangguk dan mereka bergandengan tangan. Saat sudah sampai di depan mobilnya ada beberapa orang yang berpakaian serba hitam mendekati mereka.


"Mama, Key takut." Key bersembunyi di balik tubuh Karin.


"Jangan takut nak. Tenanglah ada Mama yang akan selalu melindungi kamu..." Karin berusaha membuat anaknya untuk tidak takut melihat melihat orang-orang berpakaian serba hitam tersebut.


"Serahkan anak itu!" ucap sang ketua tersebut.


"Tidak akan! Kalian ini siapa? Beraninya sekali ingin meminta anakku."


"Kamu tidak perlu tahu siapa kita. Cepat serahkan anak itu. Sebelum aku merebut darimu secara paksa!"


"Kamu tidak mau kan bila terjadi apa-apa dengan bayi yang ada dalam perutmu? Maka cepatlah serahkan anak itu pada kami," ucap orang yang satunya sambil menunjuk ke arah perut Karin.


Karin juga takut dengan ancaman orang tak dikenal tersebut. Karin sedikit membungkuk dan berbisik kepada anaknya.


"Nak, berlarilah meminta tolong sama orang-orang. Mama akan menghadapi om-om ini." Sambil memegang bahu Key.


"Tapi Mama. Key gak mau ninggalin Mama disini sendirian. Key, takut Mama dan adik bayi kenapa-kenapa."


"Sudahlah nak. Percayalah sama Mama. Mama dan adik tidak akan kenapa-kenapa. Kamu cepat gih lari dan minta bantuan sama orang lain."


Key mengangguk pelan. Key berlari untuk meminta tolong kepada orang-orang. Sekarang Karin akan menghadapi orang-orang tersebut.


"Tuh anak kabur kemana."


"Tidak tahu bos."


"Hei kamu beraninya membuat anak itu lari dari kita." Sang laki-laki berpakaian hitam itu mencengkram dagu Karin kemudian sekarang mencekiknya.


Karin sebenarnya bisa bela diri. Tapi dirinya sedang hamil sekarang jadi ragu untuk melakukannya. Karin takut jika anak dalam kandungannya kenapa-kenapa jika melawan 3 orang yang ada di depannya saat ini.


"Kita bawa saja dia bos. Jika anaknya tidak dapat, maka masih ada ibu dan calon anaknya yang bisa kita dapatkan."


"Kalian suruhannya siapa? Saya akan bayar kalian dua kali lipat jika kalian mau melepaskan kami." Karin memberikan penawaran.


"Bos bagaimana ini? Dia mampu membayar dua kali lipat," ucap anak buahnya.


"Dia hanya mencoba untuk merayu kita."


"Aku serius akan ucapanku. Suamiku orang kaya, suamiku seorang Dokter dan juga pengusaha. Apa kamu masih ragu dengan apa yang aku katakan?" Karin berbicara untuk mengulur waktu agar anaknya berhasil meminta bantuan kepada orang-orang.


"Bagaimana ini bos?" Tanya orang yang satunya.

__ADS_1


"Apa kalian masih ragu dengan ucapanku? Apa kalian tidak bisa melihat dari penampilanku?"


"Sepertinya suaminya memang lebih kaya bos dibandingkan bos kita. Lihat saja perhiasan yang wanita ini kenakan berlian semua. Jam tangan dan tasnya juga branded bos."


"Sepertinya aku berhasil mengelabui mereka. Kalau saja aku sedang tidak hamil pasti kalian akan tepar semua sudah terkena bogeman dan tendangan dariku. Hanya saja aku tidak bisa melawan mereka sekarang. Aku harus menjaga kandunganku. Putriku harus tetap sehat dalam kandunganku sampai dia bisa lahir dengan selamat." Batin Karin.


"Kalian jangan bicara seperti itu. Kita lakukan saja tugas dari bos. Bisa saja kan dia hanya mengelabui kita?" Orang tersebut menoleh ke arah anak buahnya.


Karin memanfaatkan waktu luang itu untuk menginjak kaki orang tersebut. Karin langsung berlari meninggalkan tempat itu.


"Arghhh kakiku....." Rintihnya sambil meringis.


Karin lalu berlari sekencang mungkin.


"Nak, semoga kamu tidak kenapa-kenapa ya. Kamu harus kuat nak." Batin Karin sambil memegang perut buncitnya. Karin juga cemas dengan anaknya yang masih dalam kandungan diajak berlarian. Namun terpaksa karena ini dalam keadaan darurat.


"Mama......." Key berteriak saat melihat Mamanya berlarian.


Karin lalu menghentikan langkahnya dan mendekati Key.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan nak?"


"Key tidak apa-apa. Justru Key yang takut Mama dan adik bayi kenapa-kenapa." Key memegang perut Karin.


"Adik bayi tidak apa-apa nak."


"Bu sebelah mana penculiknya? Kami sudah menelepon polisi untuk kesini. Mereka akan segera datang. Maka dari itu kita akan mencegah mereka untuk kabur."


Semua orang berjumlah 9 orang tersebut berjalan ke arah yang Karin tunjuk.


"Bos, ayo kita segera temukan anak dan ibunya. Kita tidak akan dibayar bos jika tidak mendapatkan mereka."


"Iya benar juga. Ayo kita harus mencarinya. Mereka harus kita dapatkan."


"Kalian mau kemana?" ucap orang yang baru saja datang tersebut.


"Bos gawat. Ternyata anak dan ibunya meminta tolong kepada warga sekitar."


"Kita lawan saja mereka semua."


Tak lama kemudian polisi datang.


"Jangan bergerak. Atau kalian akan kami tembak."


Semua orang mengangkat tangannya. 3 orang berpakaian hitam tersebut langsung diringkus polisi.


"Terima kasih ya Bapak-bapak semuanya telah membantu kami."


"Sama-sama Bu."


"Kita pulang yuk nak. Penjahatnya sudah tertangkap polisi."


"Iya Mama..."

__ADS_1


Bella geram, misinya gagal. Bella diam-diam dari tadi memantau dari jarak jauh.


"Aku harus turun tangan sendiri kali ini."


Karin dan Key sekarang sudah masuk ke dalam mobilnya. Bella mengikuti mobil Karin dari belakang.


"Kamu tidak akan lolos dariku. Aku akan membikin kalian pergi untuk selama-lamanya. Hahaha..... Yudha aku akan menggantikan Karin sebagai istrimu sebentar lagi."


Karin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karin melihat kaca spion dari tadi ada mobil yang mengikutinya.


"Siapa yang mengikuti mobilku?"


Bella melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Kamu tidak akan lolos dariku kali ini Karin..."


Bella berhasil menyusul mobil Karin. Bella menabrak mobil Karin dari belakang.


"Brak............" Terdengar suara bagian belakang mobil Karin ditabrak oleh Bella.


Karin tetap melajukan mobilnya dengan menaikkan kecepatannya.


"Mama, Key takut."


"Jangan takut ya sayang. Ada Mama nak..."


Karin tangan kirinya mengambil hp yang berada di tasnya. Karin mencari nomor Yudha. Panggilan telepon tersambung dan beberapa saat kemudian Yudha mengangkatnya.


"Hallo sayang ada apa?"


"Mas, ada mobil yang mengikuti aku dari tadi. Dia juga berhasil menabrak mobil bagian belakang mobilku."


"Apa? Kamu sekarang dimana sayang?" Yudha panik saat ini.


"Aku kirim lokasinya sekarang ya Mas lewat pesan WhatsApp."


"Mama awas ada truk..."


Karin lalu membelokkan mobilnya ke kiri sehingga menabrak sebuah pohon. Yudha mendengar teriakan Key dan Karin secara bersamaan lalu sambungan teleponnya terputus begitu saja.


"Hallo... Hallo... Karin....." Yudha gemetar memegang ponselnya. Kini istrinya sudah tidak menyahuti teleponnya. Pikiran Yudha jadi kacau karena tadi mendengar ada truk yang sepertinya menabrak mobil suara pecahan kacanya sampai terdengar di telepon. Yudha takut terjadi sesuatu dengan Key, Karin dan juga anak yang masih dalam kandungan istrinya.


Truk muatan pasir tadi menabrak mobil Bella sampai mobilnya rusak parah. Di mobilnya, Karin masih sadar tapi Key sudah pingsan. Karin memegang kepalanya yang sudah mengalir darah di pelipisnya.


"Key, anak kesayangan Mama bangun nak. Kita harus keluar dari sini."


Tak lama kemudian Karin merasakan perutnya sakit.


"Arghhh perutku sakit sekali....." Sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.


"Sayang, bertahanlah nak. Putri Mama harus kuat..." Karin kini takut akan kehilangan putrinya seperti kehilangan si kembar beberapa tahun yang lalu.


Karin juga pingsan saat ini. Tak lama kemudian beberapa warga menolong mereka dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2