
Sekarang Karin ingin berfoto dengan suaminya dan meminta tolong kepada Rey.
"Kak Rey, minta tolong fotoin kita ya?" Sambil menyerahkan kameranya.
"Siap Karin." Memperlihatkan jempolnya dan lalu menerima kamera tersebut.
Rey terkekeh melihat Yudha. Rey jadi teringat saat Risa hamil Reno dulu. Rey harus memakai kostum Dino saat itu karena Risa melihat album foto dirinya waktu masih balita sampai dengan dewasa. Jadi Risa ingin melihat Rey memakai kostum Dino lagi seperti dulu Rey waktu masih remaja.
"Sayang, perut kita sama-sama menggendut." Karin tertawa terbahak-bahak.
"Iya sayang..."
"Anakku... Sudah ya nak kamu jangan menyiksa Papa lagi. Cukup hari ini saja ya nak." Batin Yudha.
"Sayang ayo tersenyum. Jangan cemberut gitu dong."
"Hmm iya sayang." Yudha lalu tersenyum, apapun keinginan istrinya akan Yudha lakukan dan ini demi anaknya juga.
Rey memfotonya beberapa kali.
"Bagus banget fotonya," ucap Rey sambil terkekeh.
"Sayang sini nak. Ayo kita foto sama Papa," ucap Karin agar anaknya mendekat.
Keifano dan Keisha lalu berjalan mendekati Karin dan Yudha. Keifano minta gendong Yudha. Sedangkan Keisha digandeng Karin. Mereka berempat seperti keluarga bahagia dan sebentar lagi si kecil akan lahir. Karin penasaran dengan hasil fotonya. Mereka sekarang sedang berteduh di bawah pohon yang rindang.
"Kak Rey seperti apa hasil fotonya?"
"Bagus kok, pas cuacanya lagi cerah. Tapi sepertinya tidak secerah wajah Kak Yudha," ucap Rey yang diakhiri dengan tawanya.
"Kamu jangan meledekku Rey. Kamu juga sama kan dulu seperti ini saat Risa sedang hamil."
"Iya Kak Yudha aku pakai kostum Dino saat Risa hamil Reno. Tapi saat Risa hamil Revano aku disuruh manjat pohon kelapa karena Risa ingin minum es kelapa muda yang langsung dari pohonnya. Risa menungguku di bawah dan aku sampai terpeleset saat turun waktu itu pinggangku sampai sakit."
Yudha melongo seorang Reynaldi Wijaya yang terkenal sebagai anak mami saja mau manjat pohon kelapa untuk menuruti istrinya yang lagi ngidam.
"Benarkah itu Risa?"
"Iya benar kok Kak Yudha. Memang tiap anak ngidamnya beda-beda."
"Sayang, jangan minta hal yang aneh-aneh ya ngidamnya?"
"Tidak janji." Jawabnya singkat.
Risa terkekeh sedangkan Rey berusaha untuk menahan tawanya.
"Nak, apa kamu puas sekarang? Papa sudah pakai kostum Lebah yang kamu inginkan," ucapnya sambil mengelus perut Karin dan anaknya merespon dengan tendangannya.
__ADS_1
"Terima kasih nak," ucapnya lalu mengecup perut istrinya.
"Jangan meminta aneh-aneh lagi ya sama Papa." Batin Yudha.
"Sayang apa kamu bahagia?"
"Iya aku bahagia melihatmu berpakaian seperti ini. Jadi badut Lebah muka kamu tambah imut sayang." Dengan gemas Karin mencubit kedua pipi suaminya.
"Sayang kok dicubit sih. Bukannya dipeluk," ucapnya cemberut.
"Uh... Ngambek ya?" Sambil memegang pipi suaminya.
"Tau ah!"
Karin lalu memeluk Yudha dari samping.
"Mas, terima kasih ya sudah mau menuruti keinginan aku hari ini."
"Iya, sama-sama sayang." Sambil mengusap punggung istrinya.
"Mama..... Papa......."
Keifano dan Keisha lalu berjalan mendekati Karin dan Yudha. Yudha dan Karin lalu berjongkok dan mereka berempat lalu berpelukan bersama.
"Alhamdulillah mereka bahagia ya sayang."
"Iya sayang, akhirnya mereka hidup bahagia dan sebentar lagi kita akan punya keponakan lagi dari mereka." Rey tersenyum melihat Yudha dan Karin bahagia bersama kedua anaknya.
...*****...
Yudha mengantar istrinya untuk cek kandungannya. Yudha ke rumah sakit milik Papanya.
"Sayang, biarkan aku yang mengecek kandungan kamu sendiri. Mari ke ruanganku."
"Iya Mas. Sudah lama sekali aku tidak dicek kandunganku sama kamu." Karin masih teringat terakhir kalinya dia dicek kehamilannya oleh suaminya saat dirinya hamil kembar 3 yang waktu itu belum mengalami keguguran.
Yudha lalu memeriksa kandungan istrinya.
"Sayang, anak kita sehat. Coba kamu lihat."
Karin lalu menoleh ke arah layar monitor.
"Sayang jenis kelamin bayi kita adalah....." Perkataannya terpotong karena baru ingat sesuatu.
"Mas, aku kan sudah bilang jangan beritahu aku jenis kelamin bayi kita, meskipun kamu tahu. Biar aku lebih semangat nanti saat lahirnya kan jadi penasaran dengan jenis kelamin bayinya."
"Iya sayang aku hampir saja lupa. Maaf ya..."
__ADS_1
"Iya Mas....."
Yudha sudah tahu sekarang jenis kelamin anaknya. Namun Karin tidak mau Yudha menyebutkannya saat ini juga. Karin ingin tahu nanti saat melahirkan anaknya. Yudha pun menuruti perkataan istrinya. Yudha lalu membersihkan cairan gel yang ada diperut istrinya.
"Mas, apa kamu tidak mau menjadi Dokter lagi? Apa kamu nyaman menjadi seorang pengusaha?" Pertanyaan itu lolos dari mulut istrinya.
"Aku nyaman kok sayang jadi pengusaha." Yudha tidak mau menampilkan kesedihannya. Sebenarnya Yudha ingin menjadi Dokter kembali.
"Jangan bohong kamu Mas. Aku tahu kamu ingin menjadi Dokter lagi, sudah terlihat dari raut wajah kamu Mas."
"Sayang tadi aku hanya tidak ingin kamu kepikiran bahwa aku ingin menjadi Dokter lagi."
"Mas boleh kok jadi Dokter lagi. Nanti biar kamu merekrut asisten buat selalu memantau restoran kita."
"Beneran boleh sayang?" Tanyanya memastikan.
"Iya boleh Mas. Karena passion kamu sebagai seorang Dokter."
"Makasih sayang. Kamu memang yang terbaik," ucapnya sambil memeluk istrinya.
"Nanti kalau anak kita sudah lahir saja aku akan kembali menjadi Dokter lagi."
"Iya Mas, aku setuju" ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Sayang ayo kita segera pulang. Nanti akan ada pengajian di rumah kita.
"Eh iya Mas ayo."
Mereka lalu pulang ke rumah karena akan ada acara pengajian.
Besok adalah hari dimana tasyakuran kehamilan 7 bulanan Karin. Hari ini diadakan pengajian bersama pada sore hari.
Karin kini sedang berada di kamarnya. Karin mengusap-usap perutnya yang sudah mulai membesar.
"Sayang, anak Mama sebentar lagi kita akan bertemu nak. Mama bahagia dengan kehadiran kamu sekarang Nenek kamu sudah bisa berubah sikapnya sama Mama. Nanti kamu sebentar lagi akan bisa melihat Nenek kamu nak," ucapnya sambil menunduk melihat ke arah perutnya.
Karin berjalannya sudah mulai terasa engap, mungkin karena sudah hamil tua jadi merasakan seperti itu. Kadang kalau anaknya sedang tidak dielus perutnya juga kadang menendang-nendang sendiri. Karin terkadang sampai kaget. Tapi tidak sekaget saat mengandung si kembar. Saat mengandung si kembar Karin sering dibuat terkejut oleh kedua anaknya. Bahkan tendangannya terasa sampai ngilu karena terlalu kencang mereka menendangnya. Karin bersyukur hamil satu anak setidaknya tidak terlalu terkejut saat anaknya menendang-nendang perutnya secara mendadak.
Yudha sedang mandi sekarang. Karin manfaatkan waktu itu untuk membaca novel kesukaannya. Semenjak hamil anaknya Karin jadi suka baca novel. Yudha membelikan beberapa novel untuknya. Rata-rata Karin membaca novel satu hari satu bab.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Gift dari kalian sangat membantu author untuk naik peringkat rangking 😊
Terima kasih yang sudah kasih gift author 💙
__ADS_1