Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 103 - Dua Tahun Kemudian


__ADS_3

Setelah anak-anaknya kenyang dan akhirnya mereka terlelap tidur kemudian Risa muncul karena tadi baru saja dari kamar mandi.


"Wah, dua keponakan aku yang cantik dan ganteng nan lucu ini ternyata sudah tidur."


"Iya, mereka sudah kenyang habis diberi asi."


Rey kemudian datang bersama kedua anaknya dan juga kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum......"


"Wa'alaikum Salam....."


"Suamiku ternyata sudah bangun tidur," ucap Risa terkekeh.


"Jangan meledekku sayang." Berjalan mendekati istrinya.


Anak-anak Rey kini bersama dengan kedua orang tua Rey. Dengan melangkahkan kakinya ke arah box bayi Rey ingin melihat anak Karin dan Kak Yudha. Langsung saja Rey melihat ke box bayi tersebut. Rey melihat nama yang tertempel di box bayi tersebut.


"Wah, ganteng juga anak Kak Yudha." Sambil melihat Baby Keifano.


"Iya dong. Kan Papanya juga ganteng," ucapnya dengan percaya diri.


"Subhanallah, imut sekali ini Baby Keisha. Sayang, lihatlah, cantik banget kan anaknya Kak Yudha dan Karin."


Risa mengangguk pelan dan tersenyum.


"Putriku mukanya campuran antara aku dan Karin jadi ya begitu Rey," ucapnya terkekeh.


Memang putrinya sangat menggemaskan.


"Kak Risa, sepertinya Kak Rey ingin punya anak perempuan," ucap Karin sambil mengedipkan mata pertanda ingin keponakan lagi dari Risa.


"Ah, tidak. Aku tidak mau. Cukup dua anak saja sudah repot ngurusnya Karin."


"Kalau Rey tetap mau punya anak lagi gimana Risa?" Tanya Yudha.


"Biar Rey yang hamil sendiri."


"Ppffftttt......" Yudha menahan tawanya.


Seisi ruangan lalu hanya tersenyum dan menahan tawanya, tidak berani tertawa karena si kembar baru saja tertidur.


"Emang Rey pikir tidak sakit apa melahirkan dua anak," ucapnya kembali.


Perkataan Risa lolos membuat Yudha mengingat perjuangan Karin saat tadi melahirkan kedua anaknya. Yudha lalu mendekati istrinya tangan kirinya menggenggam tangan Karin.


"Sayang terima kasih atas semuanya. Kamu telah berhasil melahirkan kedua anak kita semua dengan selamat," ucap Yudha sambil membelai rambut panjang istrinya.


"Iya, sama-sama sayang."


"Aku bahagia sekali memiliki dua anak darimu."


Kini Yudha lalu mengecup kening istrinya dan memeluknya. Tak lama kemudian Mama Chintya dan Papa Keynan datang. Mama Chintya langsung mendatangi anaknya.


"Putriku sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu."


"Iya Mama."


"Ah, iya aku sampai lupa mau lihat cucuku yang lucu-lucu."


Mama Chintya lalu mendekati box bayi tersebut bersama Papa Keynan. Air mata bahagia Mama Chintya menetes setelah melihat kedua cucunya. Papa Keynan juga matanya sudah berkaca-kaca. Cucunya lahir dengan selamat dan sehat.


"Pa, kedua cucu kita lucu-lucu ya."


"Iya Mama. Mereka sangat cantik dan ganteng. Menggemaskan sekali."


"Cucu perempuan kita mukanya campuran antara Yudha dan Karin jadi sangat cantik sekali Papa."


"Iya Mama. Papa ingin menggendongnya tapi kasihan nanti mereka menangis karena sedang terlelap dalam tidurnya."


"Tidak apa-apa Papa. Gendong saja," ucap Karin agar Papanya menggendong cucunya.


Papa Keynan perlahan menggendong cucu laki-lakinya. Mama Chintya menggendong cucu perempuan nya.


"Keisha imut sekali Papa," ucapnya lalu mengecup pipi Baby Keisha sebentar agar tidak terganggu tidurnya.

__ADS_1


"Iya Mama. Keifano juga tak kalah imutnya." Sambil mengelus kepala cucunya.


Karin dan Yudha saling memandang dan lalu tersenyum. Tak lama kemudian mereka menangis bersamaan karena terganggu tidurnya. Mama Chintya dan Papa Keynan lalu memberikan cucunya kepada Yudha dan Karin.


Karin menimang-nimang putranya dan Yudha yang menimang-nimang putrinya. Mereka kini bisa terdiam setelah ditimang-timang oleh kedua orang tuanya.


"Oh iya nak. Apa kamu tidak ingin memberitahu kabar bahagia ini dengan kedua orang tua kamu?" Tanya Papa Keynan penasaran.


"Iya sekarang kan kalian sudah punya anak," ucap Mama Chintya.


Yudha lalu menoleh ke arah Karin. Wajah istrinya kini sudah ditekuk. Yudha tahu kalau istrinya belum siap untuk bertemu dengan Mamanya.


"Nanti Yudha akan kabarin Papa dan Mama. Tapi sekarang belum saatnya mereka tahu Papa."


Karin lega suaminya mengerti apa yang dirinya rasakan. Memang Karin belum siap untuk bertemu mereka terutama dengan Mama Sabrina.


Papa Keynan paham karena anaknya pernah disuruh untuk memilih dimadu atau bercerai dengan Yudha. Hanya karena beralasan Karin tidak bisa hamil lagi. Keluarga Sanjaya berhak mendapatkan penerus perusahaan dari anaknya Yudha untuk meneruskan yang akan menjadi pemilik rumah sakit tersebut.


...*****...


Setelah kedua anaknya lahir Yudha dan Karin bergantian menjaga anaknya. Tak lupa Karin selalu pumping asi agar jika kedua anaknya menangis bersamaan bisa sama-sama minum asi. Karin dan Yudha bagi tugas untuk menjaga anaknya sekarang makan pun bergantian karena si kecil akan rewel jika tidak di gendong.


Selama liburan semester Karin dan Yudha tinggal di rumah kedua orang tua Karin. Setelah liburan semesternya nanti selesai Yudha dan Karin akan kembali ke Korea. Mama Chintya sudah menemukan pengasuh bayi untuk menemani mereka selama di Korea.


Kini Karin dan Yudha sudah kembali ke Korea lagi. Mereka kini sudah beberapa bulan tinggal di Korea. Pagi sampai siang Karin berkuliah. Sedangkan Yudha sekarang sedang belajar bisnis dengan bekerja di perusahaan cabang milik Orang tua Risa yang ada di Korea. Yudha meninggalkan profesinya sebagai Dokter demi bisa selalu bersama dengan istri dan juga kedua anaknya. Yudha harus mengalah demi keutuhan rumah tangganya. Yudha berkerja dari pagi sampai sore hari.


Karin sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke apartment. Karin sudah rindu dengan kedua putra dan putrinya. Tak lupa Karin membeli sayuran dan buah-buahan serta kebutuhan untuk si kecil.


Sekarang Karin sudah sampai di apartment. Karin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartment. Anak-anaknya sekarang sedang makan sun.


"Biar saya saja Bi yang menyuapi mereka."


"Baik, Nona. Bibi permisi ke belakang dulu." Bibi lalu membawa belanjaan yang tadi Karin beli ke dapur. Karin tidak mau dipanggil Nyonya maka dari itu Bibi memanggilnya Nona.


Sore hari Karin kini sudah mandi. Anak-anaknya juga sudah wangi. Kini Karin duduk manis di sofa sambil menunggu kedatangan suaminya. Keifano dan Keisha tidak rewel jika bersama dengan Karin. Mungkin anaknya tahu jika Karin adalah Mamanya. Kebahagiaan telah Karin dapatkan saat tinggal di Korea bersama suami dan juga anak-anaknya.


Di Indonesia sudah berbulan-bulan ini Mama Sabrina berdiam diri di kamar. Keluar kamar jika hanya melakukan berjemur di pagi hari. Hidupnya terasa sepi tidak bisa bertemu dengan anaknya. Kini Mama Sabrina terlihat lebih kurus karena memikirkan putra semata wayangnya entah pergi kemana mencari Karin. Mama Sabrina kini menyesal air matanya menetes setiap hari saat mengingat semua tentang kesalahannya dimasa lalu. Semua yang dia lakukan dengan Karin ataupun Yudha. Sifat egoisnya yang ingin segera memiliki cucu berakibat anaknya pergi dari hidupnya.


Tak terasa mereka sudah dua tahun di Korea. Kini Karin sudah lulus kuliah dan hari ini Karin wisuda. Yudha memboyong kedua anaknya ke acara wisuda istrinya. Kedua anaknya kini lucu-lucu. Keifano dan Keisha sekarang makin hari makin menggemaskan.


"Selamat ya sayang. Akhirnya kamu lulus juga." Yudha sambil mengecup kening Karin.


"Terima kasih sayang."


"Ini sayang bunga untukmu."


Karin menerimanya dan seperti biasa Karin selalu menghirup aroma bunga mawar tersebut. Namun seketika Karin merasa mual dan tidak seperti biasanya.


"Mas... Bunganya kok bau sih? Aku jadi mual nih..." Kini Karin menutup hidungnya.


"Masa sih sayang? Coba sini aku hirup bunganya."


Karin lalu menyodorkan sebuket bunga mawar tersebut. Yudha menghirup bunga mawar tersebut dan bunganya harum dan wangi tidak seperti yang Karin bicarakan kalau bunga mawarnya bau.


"Tidak bau sih sayang bunganya. Justru harum dan wangi khas bunga mawar."


"Masa sih? Coba bawa sini. Apa hidungku sedang bermasalah ya?" ucapnya terheran-heran.


Karin lalu menghirup bunga mawar merah tersebut. Karin merasakan mualnya kembali.


"Sepertinya Nona Karin hamil." Lirihnya.


Karin sudah tidak tahan lagi dan langsung menjatuhkan sebuket bunga mawar merah tersebut ke lantai. Karin berlari meninggalkan Yudha yang masih mematung di sana. Karin langsung mencari kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Yudha menitipkan kedua anaknya dengan Bibi. Yudha lalu mencari istrinya yang sedang ke kamar mandi.


"Hoek........... Hoekk............" Karin mengeluarkan semua isi perutnya.


Seketika Karin merasakan pusing. Yudha dengan sigap menangkap istrinya yang hampir saja pingsan.


"Sayang, kamu sepertinya sakit. Kita ke rumah sakit sekarang ya?"


"Tidak Mas. Aku sudah tidak apa-apa. Rasa pusingnya sudah hilang. Bantu aku berdiri Mas."


Yudha lalu membantu istrinya untuk berdiri.


"Mas, ayo kita berfoto keluarga."

__ADS_1


"Sayang apa kamu sudah tidak pusing?"


"Sudah tidak Mas."


Entah kenapa saat berdekatan dengan suaminya rasa pusingnya hilang begitu saja. Karin juga merasa aneh. Tapi segera menipis kecurigaannya karena ingin segera berfoto bersama keluarga kecilnya. Karin dan Yudha lalu keluar dari kamar mandi umum tersebut dan segera kembali ke tempat tadi dimana ada Bibi dan kedua anaknya.


Mereka lalu berfoto keluarga. Karin bahagia kini sudah menjadi seorang sarjana. Tak bisa dibayangkan. Dulu cita-citanya ingin kuliah dan langsung bekerja lalu menikah dan punya anak. Tapi sepertinya ini sebaliknya. Karin menikah dahulu lalu kuliah sambil mengurus kedua anaknya. Namun Karin tetap mensyukurinya. Bagaimanapun juga Karin bersyukur memiliki suami seperti Yudha yang selalu pengertian kepadanya dan juga sayang sekali dengan kedua anak-anaknya.


Setelah itu mereka langsung pulang ke apartment. Sang Bibi tadi sudah memasak makanan kesukaan Karin. Keifano dan Keisha sudah tertidur pulas.


"Sayang ayo kita makan bersama."


"Iya Mas."


Tak lupa Karin mengambilkan suaminya nasi sayur dan beserta lauk pauknya. Saat Karin akan memakan udang goreng tepung ke dalam mulutnya. Rasa mual kembali menyerangnya. Karin menutup mulutnya dan berjalan ke arah wastafel yang ada di dapur. Kini Karin muntah kembali.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit. Kamu sudah mual dua kali hari ini."


"Den, sepertinya Non Karin hamil," ucapnya dengan tersenyum.


"Hamil?" Seketika Karin teringat bahwa dirinya memang belum kedatangan tamu bulanannya.


"Sayang, bukannya kamu belum datang bulan ya?"


"Eh, iya Mas."


"Asyik, istriku hamil lagi."


Yudha bahagia kini istrinya hamil lagi.


"Sayang, belum pasti. Karena aku belum mengeceknya. Aku takut kamu akan kecewa Mas jika hasilnya negatif."


"Sayang, coba kamu tes dulu deh. Siapa tahu kalau kita akan punya anak lagi."


"Iya Mas."


Karin lalu mengambil alat tes kehamilan tersebut dan berjalan ke arah kamar mandi. Kini Karin sedang mondar-mandir ingin melihat hasilnya.


"Bagaimana ini kalau aku hamil lagi? Anak-anak masih berumur 2 tahunan. Mereka masih kecil untuk punya adik." Lirihnya.


Kini Karin sudah lima belas menit di dalam kamar mandi. Yudha takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Karena tadi Karin bilang jangan senang dahulu. Karin takut Yudha akan kecewa jika melihat hasilnya.


"Sayang, keluarlah. Apapun hasilnya aku tidak akan kecewa," ucap Yudha agar istrinya cepat keluar dari kamar mandi.


"Iya, sebentar Mas."


Karin langsung mencuci alat tes kehamilan tersebut. Karin melihatnya sekilas dan langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Karin lalu membuka pintunya. Yudha yang melihat istrinya menunduk pun tahu sepertinya hasilnya negatif.


"Sayang, sudahlah jangan seperti ini. Aku tidak kecewa kok. Mungkin belum rezeki kita untuk mempunyai anak lagi."


Karin lalu menyodorkan alat tes kehamilan tersebut. Yudha langsung melihatnya. Matanya kini terbelalak saat melihat dua garis merah terlihat sangat jelas di sana.


"Sayang, kamu... Kamu hamil lagi?" ucapnya yang kini matanya sudah berkaca-kaca saat melihat hasilnya.


Karin hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Sayang, aku bahagia sekali kamu hamil lagi." Kini Yudha memeluk istrinya.


Karin masih terdiam saja. Dia masih memikirkan bagaimana kedua anaknya yang masih kecil dan akan mempunyai adik.


"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Tanya Yudha sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Karin.


"Aku hanya berpikir anak-anak kita masih kecil Mas untuk mempunyai adik."


"Sayang, nanti mereka tidak akan kejauhan kok jarak umurnya kan hanya 3 tahun nanti. Seperti Reno dan juga Revano juga seperti itu kan?"


Karin berpikir sejenak dan memang mereka tidak terlalu jauh jaraknya.


"Iya Mas."


"Sekarang kamu jangan sedih lagi ya sayang. Ibu hamil tidak boleh bersedih."


Karin mengangguk pelan dan lalu tersenyum. Karin kemarin lupa meminum pil penunda kehamilannya karena sibuk untuk mempersiapkan kelulusannya.


Karin berharap rumah tangganya akan selalu seperti ini. Bahagia meskipun hanya menyewa apartment. Karin teringat saat di Indonesia yang memiliki rumah sendiri namun tidak ada kebahagiaan. Justru kesedihan yang bertubi-tubi datang menghampirinya. Dimana Karin harus kehilangan ketiga anaknya belum lagi muncul kedua pelakor. Mama mertuanya juga tidak tulus selama ini menyayanginya karena hanya menginginkan cucu darinya. Hanya Papa mertuanya yang tulus sayang kepadanya dan menganggap Karin seperti anaknya sendiri. Setelah tahu Karin tidak bisa memberikan anak baru Karin disuruh memilih untuk mau dimadu atau meninggalkan Yudha. Waktu itu Karin lebih memilih untuk meninggalkan suaminya dan melanjutkan kuliahnya di Korea. Karin berhasil meraih gelar sarjana dengan waktu yang singkat 3,5 tahun dengan predikat Cumlaude.

__ADS_1


Kini Karin sudah hamil untuk ketiga kalinya. Setelah mendapatkan penjelasan dari suaminya kini Karin lega dan jarak kedua anaknya nanti dengan bayi yang masih dalam kandungannya nanti tidak akan terlalu dekat. Karena jarak mereka 3 tahun setelah anaknya nanti lahir. Yudha bahagia karena kini istrinya hamil lagi.


__ADS_2