
Alya dan Dion sangat terkejut saat Yudha berbicara mau melamar Anisa untuk putranya. Putra yang mana dalam benak hati mereka, Keifano atau Key. Karena Yudha dan Karin datang bersama Keifano dan juga Key. Sedangkan Key dari tadi tersenyum. Mereka jadi bingung laki-laki yang mana yang mau melamar Anisa. Jika itu Keifano, Keluarga Hendrawan masih kecewa karena Keifano masih punya pacar saat mau dijodohkan dengan Anisa.
"Putramu yang mana yang ingin menjadikan Anisa sebagai istrinya?" Tanya Dion penasaran.
"Putraku Keifano," jawab Yudha.
"Nak, berbicaralah," ucap Karin dengan mengusap pundak anaknya dengan lembut.
"Jadi begini Om Dion. Saya sudah memutuskan untuk menikahi Anisa."
"Nak, tapi kan kamu masih punya pacar. Anisa tidak boleh menikah dengan laki-laki yang memiliki pacar."
"Saya sudah putus dengannya Om."
Keifano lalu menceritakan semuanya tentang Cassandra yang hanya memanfaatkannya saja. Keifano juga bercerita bahwa pilihan orangtuanya pasti yang terbaik.
"Jadi bagaimana Dion? Apakah kamu menerima lamaran putraku?"
"Anisa yang akan menjawabnya. Karena putriku yang akan membina rumah tangga," jawab Dion.
"Anisa berhak menentukan siapa laki-laki yang akan menjadi suaminya," ucap Alya menambahkan.
Karin dan Yudha sedikit lega saat Dion dan Alya berbicara seperti itu. Jadi keputusan iya atau tidaknya ada ditangan Anisa. Karin merasa yakin jika Anisa akan mau menerima lamaran anaknya.
"Nak, ini lamaran dari putraku. Terimalah," ucap Karin sambil menyerahkan kotak berwarna biru itu kepada Anisa. Kotak itu berisi cincin berlian.
Anisa menerimanya kotak tersebut. Karin dan Yudha bahagia melihat Anisa menerima kotak perhiasan darinya. Padahal Anisa sedang memikirkan untuk bagaimana bicara sama Karin.
"Nak, apa jawaban kamu?" tanya Karin dengan senyuman.
Anisa menghembus napasnya dan lalu mengucapkan bismillah dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk menjawabnya Tante. Anisa tidak bisa memberikan keputusan sekarang juga dan maaf Tante Karin, Anisa tidak bisa menerima ini," ucap Anisa sambil menyerahkan kotak berisi cincin berlian tersebut kepada Karin.
"Nak, apa artinya kamu tidak mau menerima lamaran Keifano? Kamu menolaknya nak?"
"Tante, beri Anisa waktu untuk menjawabnya. Anisa tidak bisa memberikan keputusan saat ini. Anisa ingin menikah satu kali seumur hidup. Jadi Anisa tidak ingin salah melangkah dalam mengambil keputusan. Tante Karin, Anisa mohon hargai keputusan Anisa."
Karin merasa kecewa saat Anisa bilang tidak bisa menerima cincin lamaran anaknya. Apalagi Anisa memanggilnya dengan sebutan Tante seperti dulu lagi. Padahal sebenarnya Anisa akan sholat istikharah terlebih dahulu meminta petunjuk dari Allah. Jika Keifano memang jodohnya nanti Anisa akan menerimanya. Tapi jika tidak, terpaksa Anisa harus mengambil keputusan. Meskipun nantinya Karin pasti akan sangat kecewa. Hubungan persahabatan mereka juga akan renggang.
"Iya nak. Tapi Tante masih berharap jika kamu yang akan menjadi menantuku. Tante tunggu jawaban kamu nak."
"Nak, kapan kamu akan memberikan jawabannya?" tanya Yudha.
"Secepatnya Om. Beri Anisa waktu satu sampai dua minggu untuk berpikir."
"Baiklah nak. Tapi Om masih berharap kamu akan menjadi menantuku," ucap Yudha dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu. Kita pamit pulang dulu," ucap Yudha kembali.
"Ini semua gara-gara kamu nak. Kamu diam-diam kemarin masih berhubungan dengan Cassandra. Jika saja kamu sudah tidak ada hubungan dengan Cassandra saat kita bertemu dengan Keluarga Hendrawan. Maka Anisa sudah dipastikan akan menjadi menantuku."
"Sekarang sudah tidak ada harapan lagi. Sepertinya Anisa sangat kecewa sama kamu," ucapnya kembali.
"Mama, Kak Anisa belum memberikan jawabannya. Dia hanya butuh waktu untuk memikirkan hal ini," ucap Key.
"Iya, kamu tenanglah. Apapun jawaban Anisa kita harus terima. Lagian juga tidak sepenuhnya salah Keifano yang kemarin masih menjalin hubungan dengan Cassandra. Anak kita juga hanya dimanfaatkan saja sama mantan pacarnya. Kamu jangan memarahinya, nanti Keifano semakin tertekan," ucap Yudha.
Karin lalu meninggalkan ruang keluarga. Karin masuk ke kamarnya dan membanting pintunya.
"Mama sepertinya masih marah sama aku. Betapa bodohnya aku dulu yang dibutakan oleh cinta. Sehingga aku tidak tahu kalau Cassandra hanya memanfaatkan aku saja." Batin Keifano yang merasa menyesal telah berpacaran dengan Cassandra.
Semuanya lalu bubar dan masuk ke kamarnya masing-masing. Keifano saat ini sudah ganti baju tidurnya.
__ADS_1
"Apakah Anisa akan menolakku? Sepertinya tidak ada harapan lagi untuk bersamanya."
Di kamar, Yudha akan mengajak bicara sama istrinya.
"Sayang, sudah kamu jangan pikirkan. Jika Anisa bukan jodoh Keifano kita tidak bisa berbuat apa-apa."
"Mas, aku masih ingat Anisa menjadi menantuku."
"Tapi jika Anisa menolak Keifano? Masa iya kita akan menjodohkannya dengan Key? Sedangkan kita sudah sepakat dengan Rio dan Siska akan menjodohkan Key dengan Andin."
"Pokoknya Anisa harus menikah dengan Keifano apapun itu caranya. Kamu harus membantuku Mas untuk mewujudkan pernikahan mereka."
"Sayang, kita berdoa saja mudah-mudahan Anisa mau menerima Keifano. Aku yakin Anisa akan menerima anak kita. Karena aku tadi sempat melihat sepertinya Anisa masih memiliki perasaan sama Keifano," ucap Yudha menenangkan istrinya.
"Tapi gimana jika Anisa benar-benar menolak Keifano?"
"Sayang, sudah kita jangan berprasangka buruk terlebih dahulu. Mungkin saja kan Anisa mau menerima lamaran Keifano."
Karin mengangguk pelan. Lagian Karin juga sudah sangat mengantuk.
"Sudah malam sayang, kita tidur saja yuk," ucap Yudha kembali.
Karin dan Yudha lalu memutuskan untuk tidur.
...*****...
Di kamar Anisa sudah terlelap dalam tidurnya. Seperti biasa Anisa selalu sholat malam. Anisa mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Kali ini Anisa akan sholat istikharah. Anisa akan meminta petunjuk dengan Allah. Jika Keifano merupakan jodohkan maka Anisa akan menerima lamarannya. Jika tidak, Anisa akan berusaha untuk melupakan Keifano. Setelah sholat Anisa menengadahkan tangannya ke atas.
"Ya Allah, jika Keifano merupakan jodohku maka dekatkanlah. Jika Keifano bukan jodohku maka jauhkanlah. Aamiin..."
Anisa lalu melipat mukena dan sajadahnya dan kembali ke ranjangnya. Anisa memutuskan untuk tidur dan nanti akan terbangun saat adzan subuh berkumandang. Keluarga Hendrawan biasanya sholat berjamaah saat sholat subuh dan sholat isya. Karena di waktu sholat lainnya mereka ada kegiatan masing-masing, Dion dan Andika ada di kantor sedangkan Anisa mengajar sebagai Dosen di kampus Key. Lalu untuk Alya pergi ke toko kuenya.
__ADS_1