Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 78 - Resmi Menjadi Seorang Ayah


__ADS_3

Kini kandungan Alya sudah berjalan 9 bulan dan tinggal menunggu saatnya sewaktu-waktu untuk melahirkan kedua anaknya. Dion sudah mulai cuti dari kantor sudah 3 hari ini. Tak lupa Dion selalu membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an kepada kedua anaknya yang masih dalam kandungan. Dion berharap anaknya akan lahir dengan selamat dan menjadi anak yang sholeh dan sholihah nantinya. Dion nanti akan mendidik anak-anaknya dengan baik untuk bersekolah sekaligus tinggal di pondok pesantren seperti dirinya dahulu.


Hari ini Alya dan Dion mengajak makan bersama, tak lupa mereka mengajak Yudha dan Karin. Mereka sudah janjian di restoran. Sekarang Alya sudah duduk di sofa dan di depannya sudah ada suami tercintanya. Alya tersenyum sambil memperhatikan suaminya.


Dion kini sedang melihat buku menu makanan. Dion selalu memilih makanan yang sehat dan bergizi untuk Alya. Karin dan Yudha kini sudah sampai di restoran. Karin membolakan matanya saat melihat perut Alya yang sudah membesar.


"Kak Alya hamil dua anak saja perutnya seperti itu. Apalagi aku yang mengandung tiga anak." Batin Karin yang mulai membayangkan nanti perutnya akan lebih besar dari Alya.


"Sayang, kok ngelamun?" Yudha melihat istrinya memperhatikan Alya.


"Ayo kita temui Alya dan Dion," ucapnya kembali yang berhasil membuyarkan lamunan Karin.


"Eh? Iya ayo sayang."


Mereka lalu bergandengan tangan menemui Dion dan Alya. Kini Karin duduk disamping Alya.


"Kak Alya kandungannya sudah berapa bulan?" tanyanya penasaran karena perut Alya sudah sangat besar.


"Sudah jalan 9 bulan lebih 8 hari Karin."


"Wah, sebentar lagi dong ya Kak Alya akan melahirkan baby twins."


"Iya Karin," ucapnya sambil tersenyum dan mengelus perutnya pelan.


"Kak Alya sudah naik berat badannya berapa kilo?"


"Dua belas kilo Karin hehehe," ucapnya terkekeh.


"Astaga dua belas kilo? Berarti kemungkinan berat badanku akan naik 16 kilo karena aku mengandung tiga anak." Batin Karin.


"Kak Alya kenapa? Sepertinya perut Kakak sakit?" tanya Karin saat melihat Alya sedikit meringis.


"Ini Karin, anak-anakku menendangnya terlalu begitu kencang."


"Sesakit itukah?" Batin Karin.


Kini Karin penasaran ingin merasakan tendangan bayi kembarnya Alya.

__ADS_1


"Kak Alya aku juga sedang mengandung bayi kembar.


"Alhamdulillah akhirnya kamu juga sudah isi Karin. Selamat ya." Kini Alya bahagia Karin juga sudah hamil dan apalagi Karin juga hamil anak kembar seperti dirinya.


"Iya Kak. Aku sedang mengandung bayi kembar tiga."


"Alhamdulillah," kini Alya dan Dion mengucapkan secara bersamaan.


"Bolehkah aku memegang perut Kak Alya? Aku juga ingin merasakan tendangannya."


"Boleh saja Karin." Alya kini mengizinkan Karin untuk memegang perutnya. Alya kini tahu kalau Karin sedang ngidam ingin memegang perutnya.


Karin merasakan geli saat bayi kembarnya Alya menendang-nendang dalam perut Alya. Kini Karin membayangkan bahwa yang Alya rasakan nanti juga akan dirinya rasakan.


Yudha dan Dion tersenyum saat Karin dan Alya sangat akrab. Dion tak menyangka bahwa Alya dan Karin bisa dekat seperti ini. Karena Dion dan Karin dulu sempat mau dijodohkan tapi mereka kini bahagia dengan pasangannya masing-masing. Mereka lalu makan bersama. Setelah mereka makan bersama saat akan pulang ke rumahnya masing-masing kini Alya merasakan sakit perutnya yang luar biasa.


"Bi, perutku rasanya sakit sekali," ucapnya sambil memegang perutnya.


Karin yang masih disamping Alya pun lalu melihat ke arah kaki Alya.


Dion terkejut saat Karin berbicara seperti itu. Dion langsung menghampiri istrinya dan merasa khawatir dengan keadaannya.


"Umi, ayo kita ke rumah sakit."


"Dion lebih baik aku yang menyetir mobilnya dan kamu yang menemani Alya duduk di belakang."


"Iya Kak Yudha."


Kini Yudha sudah berjalan ke arah mobilnya dan membukakan pintu untuk Alya dan Dion. Kini Karin sudah duduk di depan. Karin untuk kedua kalinya melihat orang akan mau melahirkan. Pertama Risa dan kedua Alya.


"Bi, sakit........." Alya masih memegang perutnya.


"Umi sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Dion juga sambil mengelus perut Alya. Mungkin ini terakhir kalinya Dion mengelus perut istrinya sebelum kedua anaknya lahir.


Yudha melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai ke rumah sakit. Setelah dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Kini Dion menemani Alya yang akan melahirkan kedua bayi kembarnya.


Yudha berpikir bahwa mereka akan segera seperti Alya dan Dion. Gambaran saat Alya kesakitan tadi masih terngiang-ngiang di kepala Yudha. Kini Yudha khawatir Karin akan merasakan kesakitan seperti Alya nanti beberapa bulan lagi. Apalagi Karin akan melahirkan ketiga anak kembarnya.

__ADS_1


Kini Dion terus menggenggam tangan Alya. Bayangan Alya dalam mimpinya beberapa bulan yang lalu kini dia rasakan secara nyata. Alya bisa melahirkan secara normal.


"Umi, semangat. Umi pasti bisa," ucap Dion menyemangati istrinya sambil mengecup keningnya.


"Bi, ini sangat sakit sekali." Kini Alya sudah merasakan sakit yang sangat luar biasa.


"Sayang pasti kamu bisa." Dion menyemangati istrinya yang sedang berjuang melahirkan kedua anaknya.


"Ayo Bu dorong lagi," ucap sang dokter.


"Aaaaaaaaaaaa...................." Teriaknya sambil mencengkram kuat lengan suaminya. Dion tidak masalah karena ini tidak seberapa dengan yang Alya rasakan.


Alya yang menjerit di dalam ruangan pun terdengar sampai luar ruangan. Kini Karin merasa ngeri mendengar jeritan Alya yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kedua anak kembarnya. Karin seketika membayangkan jika dirinya juga akan seperti Alya sebentar lagi. Melihat kecemasan Karin kini Yudha tahu apa yang sedang istrinya pikiran.


"Sayang, kamu tidak usah khawatir. Aku juga akan menemanimu nanti saat kamu melahirkan ketiga anak kita."


"Iya Mas," ucap Karin tersenyum tipis.


Tak lama kemudian suara bayi menangis terdengar dari luar. Sepuluh menit kemudian terdengar suara tangisan bayi menangis lagi.


"Umi, terima kasih." Dion mengecup kening Alya dua kali.


Alya mengangguk pelan. Setelah itu Alya di bius untuk penanganan selanjutnya. Kini Dion sedang mengadzani kedua anaknya. Anak pertamanya lahir perempuan sedangkan anak keduanya lahir laki-laki. Dion bersyukur anaknya lahir berbeda jenis kelaminnya. Kini keluarga kecilnya sudah lengkap dengan kedua anaknya.


"Anak pertamanya mau dinamakan siapa Mas?" ucap sang suster.


"Anisa Hendrawan."


"Kalau putranya?" Tanya sang suster kembali.


"Andika Hendrawan."


"Wah nama yang bagus. Anaknya lucu-lucu sekali Mas."


"Iya Alhamdulilah. Terima kasih sus."


Kini kedua box bayi tersebut sudah ditempel masing-masing nama anaknya Dion. Kini Dion telah resmi menjadi seorang ayah. Dion bahagia anak-anaknya lahir dengan selamat. Kini Alya sudah di pindahkan di ruang rawat inap. Alya akan dirawat beberapa hari di rumah sakit sampai kondisinya membaik. Tadi di mobil Dion memberitahu Mamanya dan juga mertuanya bahwa Alya akan melahirkan. Mungkin sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2