
Karin lalu duduk dan dengan tangan gemetar Karin membuka hp Yudha. Karin kaget melihat wallpaper di hp Yudha adalah foto dirinya yang 3 tahun yang lalu Yudha ambil diam-diam saat ulang tahun Risa yang ke 17 tahun sekaligus acara pertunangan Risa dengan Rey. Karin pernah mengira kalau Yudha berbohong saat menyatakan perasaannya dengan Karin kalau Yudha sudah suka dengannya saat di acaranya Rey dan Risa. Namun sekarang Karin percaya saat melihat wallpaper hp Yudha adalah fotonya. Karin lalu beralih membuka pesan WhatsApp. Karin mengeryitkan dahinya saat melihat nama Karin disana Yudha tulis dengan 'Bidadari Hatiku ❤️'. Karin semakin terisak dengan tangisannya. Karin menyesal tadi telah membentak dan berbicara seperti itu dengan Yudha.
Tak lama kemudian Rey dan Risa sudah sampai di IGD dengan bergandengan tangan.
"Karin, bagaimana bisa Yudha bisa kecelakaan?" tanyanya lalu duduk disampingnya.
"Aku juga tidak tahu Kak Risa. Tadi aku mendapat telepon dari seseorang bahwa Yudha kecelakaan dan dibawa kesini. Aku belum tahu bagaimana kejadian kecelakaannya karena saat ini Mama Sabrina pingsan dan Papa Yudhistira sedang membayar biaya administrasi untuk operasi Kak Yudha."
"Kak Yudha keadaannya cukup parah dan gagar otak ringan Kak Risa... Hiks..."
Risa lalu memeluk Karin, berusaha untuk menenangkannya.
"Kamu yang sabar ya Karin, Kakak yakin Kak Yudha akan baik-baik saja. Kamu harus selalu mendampinginya agar cepat sembuh."
"Iya Kak," ucapnya singkat.
Tak lama kemudian Papa Yudhistira datang kembali ke depan ruang IGD.
"Om, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Kak Yudha bisa kecelakaan?"
Papa Yudhistira lalu menceritakan semuanya yang tadi di ceritakan oleh orang yang menolong Yudha. Kronologi kecelakaan dari sebuah truk yang melaju kencang berlawanan arah dan Yudha berusaha untuk menghindarinya yang akhirnya Yudha menabrak pohon sampai mobilnya terbakar. Sekarang keadaannya masih kritis dan akan segera di lakukan operasi. Karin, Risa, Rey dan Papa Kevin yang mendengarkannya pun terkejut atas apa yang menimpa Yudha. Setelah menceritakan semuanya tak lama kemudian pintu IGD terbuka dan Yudha di bawa ke ruang operasi. Karin sedih melihat Yudha dengan mata yang terpejam dan wajahnya begitu pucat karena banyak kehilangan darah.
"Kak Yudha kamu harus bertahanlah untukku dan segera sembuh. Aku janji tidak akan menolak lagi jika kamu ingin menikah denganku saat aku sudah lulus SMA." batin Karin dengan mantap dan tidak ingin kehilangan Yudha.
Karin, Risa, Rey, Papa Yudhistira dan Papa Kevin mengikuti hanya sampai di depan ruang operasi. Jam semakin berputar sudah dua jam operasi berjalan namun dokter maupun suster belum ada yang keluar dari ruang operasi tersebut. Rasa cemas dan gelisah mereka rasakan saat ini.
"Kak Yudha jadi seperti ini gara-gara aku. Aku gak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kak Yudha." batin Karin.
27 menit kemudian dokter keluar dari ruang operasi tersebut dengan wajah yang nampak gelisah.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan dok?" tanyanya ingin memastikan anaknya dalam kondisi yang baik-baik saja.
__ADS_1
"Ada kabar baik dan kabar buruk yang menimpa pasien Pak."
"Dokter cepat katakan. Apa yang terjadi dengan anak saya?" Papa Yudhistira sekarang sudah sangat cemas.
"Kabar baiknya operasi berjalan dengan lancar sedangkan kabar buruknya pasien mengalami koma dengan waktu yang tidak dapat ditentukan."
"Apa??" ucap Papa Yudhistira dan Rey bersamaan.
Papa Yudhistira sekitika kakinya lemas dan jatuh dengan posisi duduk saat mendengar anaknya koma.
"Dan ada lagi yang belum saya sampaikan tadi Pak."
"Dokter cepat katakan."
"Hal terburuk yang dapat dialami pasien adalah kemungkinan pasien mengalami kehilangan daya ingatnya sebagian."
Papa Yudhistira lalu berdiri dan menatap tajam dokter tersebut.
"Iya Pak, itu kemungkinan besar yang akan terjadi kalau komanya berkepanjangan dalam jangka waktu berbulan-bulan. Jika dalam seminggu ini pasien sudah sadar kemungkinan tidak akan terjadi hilang ingatan."
"Apakah saya boleh melihat anak saya dok?"
"Boleh silahkan saja Pak. Maksimal yang masuk 3 orang saja. Nanti setelah ini akan kita bawa ke ruang perawatan sampai keadaan pasien sadar dari komanya."
Papa Yudhistira, Karin dan Rey masuk ke dalam ruangan. Berbagai alat terpasang dalam tubuh Yudha. Suara detak jantungnya terdengar di Elektrokardiogram sebuah alat pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik. Terlihat garis gelombang yang naik turun bergerak dan berbunyi di layar monitor tersebut. Mereka bertiga tak menyangka Yudha akan seperti ini kondisinya.
"Nak, kamu harus cepat sembuh. Papa dan Mama kesepian di rumah jika tidak ada kamu. Lihatlah calon istrimu dari tadi menangis melihatmu seperti ini. Apa kamu tidak kasihan padanya?" ucap Papa Yudhistira yang air matanya sudah menetes membasahi pipinya.
"Benar Kak Yudha harus segera sembuh, ada kami disini yang mensupport untuk kesembuhan Kakak. Kak segeralah sadar dari komamu, ada calon istrimu yang menunggumu sadar disini," ucap Rey yang juga sedih melihat keadaan Yudha.
Karin hanya diam saja sambil menangis, lidahnya seketika kelu dan dia tidak bisa bicara apa-apa saat ini. Sedangkan Papa Kevin dan Risa memutuskan untuk di depan ruang saja, karena maksimal yang masuk hanya boleh 3 orang saja. Papa Kevin lalu berjalan dan duduk di samping anak tercintanya.
__ADS_1
"Gimana kandungan kamu nak? Apakah cucu Papa sehat?"
"Sehat Pa. Bahkan sangat sehat sekali, Baby R sering bergerak-gerak di dalam perut Risa Pa karena sering di ajak berinteraksi."
"Papa boleh bicara sama cucu Papa nak?" ucapnya sambil memegang kepala Risa.
"Boleh Pa. Bahkan dokter juga menyarankan untuk sering-sering berinteraksi dengan janin yang masih berada di dalam kandungan. Karena bagus untuk tumbuh kembangnya."
Papa Kevin lalu kepalanya sudah berada di depan perut Risa.
"Hallo cucuku. Ini Opa Kevin, Opa ingin kamu besarnya nanti seperti mamamu menjadi orang yang tegas dan kuat. Jangan seperti papamu yang kelakuannya sedikit manja itu," ucapnya sambil mengelus perut Risa pelan-pelan.
Baby R lalu merespon ucapan Opanya dengan menendang di perut Risa.
"Hehehe Papa bisa saja doain Baby R begitu. Tapi emang iya sih Pa Rey masih sedikit manja. Tapi sudah tidak seperti dulu lagi."
"Baby R cukup aktif ya nak? Tadi setelah Papa bicara di depan perutmu, Baby R lumayan lama menendang-nendang di dalam perutmu. Apa mungkin cucu Papa laki-laki ya?"
"Iya Pa. Papi Aldi bahkan menebak juga kalau Baby R berjenis kelamin laki-laki."
"Wah Papa juga berharap cucu pertamaku laki-laki. Ohya kapan kamu cek kandungan lagi nak?" ucapnya sambil melepaskan tangannya yang tadi mengelus perut Risa.
"Minggu depan akan cek kandungan sekaligus ingin tahu jenis kelamin bayinya Pa."
"Wah Papa boleh ikut ya? Papa ingin mendengar detak jantung cucu Papa dan melihat langsung jenis kelamin bayinya di layar monitor."
"Iya Pa boleh kok. Malah Risa senang kalau Papa bisa ikut."
"Baiklah nanti kita janjian langsung di rumah sakit saja ya nak?"
"Iya Pa."
__ADS_1
Risa senang ternyata Papanya juga ingin menemaninya ke rumah sakit. Sedangkan Papa Kevin sudah tidak sabar melihat jenis kelamin cucunya. Papa Kevin berharap cucu pertamanya laki-laki dimana nanti bisa menggantikannya untuk memimpin perusahaannya.