Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Orang Ketiga


__ADS_3

Sekarang sudah selesai periksa kandungannya. Anisa mengusap perutnya pelan dan tidak menyangka akan menjadi seorang ibu dari dua anak sekaligus. Dokter tadi memberitahu bahwa Anisa harus menjaga kesehatannya karena mengandung dua anak sekaligus dan itu bukan hal yang mudah. Setelah diberi resep oleh Dokter, Anisa lalu keluar untuk menemui Key.


"Kak, sudah selesai?"


"Sudah," jawab Anisa singkat.


"Gimana keadaan keponakan aku?" ucap Key tersenyum.


"Alhamdulillah dia sehat," ucap Anisa yang langsung melihat ke arah perutnya dan mengusap perutnya yang masih rata.


"Aku tidak akan bilang sama Key kalau aku hamil anak kembar. Biar suamiku tahu duluan tentang berita bahagia ini." Batin Anisa.


"Kakak mau menebus obat dan vitaminnya dulu," ucap Anisa tersenyum tipis.


"Aku antar ya Kak."


Anisa mengangguk pelan dan ditemani Key untuk menebus obat dan vitaminnya. Setelah itu mereka melajukan mobilnya ke arah rumah sakit milik keluarga Sanjaya. Saat sudah sampai rumah sakit Anisa melihat ke arah jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Setelah masuk rumah sakit Anisa berjalan menuju ke ruangan suaminya bekerja. Sedangkan Key ke ruangan Papanya. Yudha berprofesi sebagai Dokter kandungan sedangkan Keifano berprofesi sebagai Dokter spesialis jantung. Anisa masuk ke dalam ruangan dan tidak ada siapa-siapa. Berarti suaminya telah pergi makan siang.


"Suamiku, kamu sedang dimana?" tanya Anisa mengirimkan pesan WhatsApp kepada Keifano.


Anisa menunggu sampai beberapa menit dan tidak ada jawaban dari suaminya. Anisa masih berpikiran positif bahwa suaminya mungkin sedang di jalan untuk makan siang. Lalu Anisa memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dan saat keluar dari ruangan tersebut ada Suster yang sedang lewat.


"Loh Bu Anisa kok ada di sini? Bukankah harusnya bersama Dokter Keifano."


Suster tersebut terlihat bingung karena melihat Anisa membawa tas yang Suster itu bisa tebak berisi makanan untuk makan siang.


"Memang ada apa Sus?"


"Tadi saya melihat suami Bu Anisa mau makan siang ke cafe depan. Dokter Keifano terlihat buru-buru dan kebetulan berpapasan dengan saya saat keluar dari ruangannya."


"Makasih Suster atas informasinya."


"Sama-sama Bu."


Suster tersebut lalu pergi. Key keluar dari ruangan Papanya karena Papanya mau makan siang. Tadi Karin membawakan bekal dan diantarkan oleh sopirnya. Key berjalan ke ruang Kakaknya.

__ADS_1


"Ada apa Kak? Dan mana Kak Keifano?" tanya Key.


"Kakakmu ke cafe depan."


"Yuk kita susul."


Anisa mengangguk dan mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke cafe depan. Saat sudah sampai di cafe baru mau masuk ke ruang VIP bebas asap rokok Anisa dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya sakit hati. Terlihat suaminya tersenyum dan lalu merentangkan kedua tangannya. Anisa melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Key tangannya mengepal melihat Kakaknya menuduhnya selingkuh dengan Anisa tapi pada kenyataannya dirinya sendiri yang berselingkuh dengan wanita yang tak lain adalah mantannya sendiri yaitu Cassandra. Saat Key akan menghampiri Kakaknya dan selingkuhannya itu Anisa lalu menarik kemeja Key. Anisa tidak ingin bersentuhan langsung dengan adik iparnya maka dari itu Anisa menarik kemeja Key.


"Kita pulang saja," lirihnya dengan air mata yang sudah berlinang.


"Tapi Kak..."


Anisa menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju bahwa Key akan menghampiri mereka. Anisa meninggalkan Key yang masih terdiam terpaku melihat Kakaknya bermesraan. Key lalu memutuskan untuk mengejar Kakak iparnya yang tengah sakit hati tersebut ada rasa sedih ketika Kakak iparnya disakiti oleh Kakaknya sendiri.


Key takut Anisa berbuat yang tidak-tidak saat mengetahui suaminya berselingkuh. Key segera menyusul Anisa. Key lega Anisa berada di mobilnya. Key berpikir bahwa Anisa akan menabrakkan dirinya di jalan raya seperti orang-orang yang tengah frustrasi. Namun Key bersyukur Anisa tidak melakukan hal yang bodoh. Key dengan segera masuk ke mobilnya.


"Kak Anisa..." Key merasa sedih Kakak iparnya menangis tersedu-sedu saat ini.


"Kak Anisa jangan bersedih."


Key mengernyitkan dahinya. "Kenapa Kak? Bahkan tadi Kakak antusias sekali untuk memberitahukan ke Kak Keifano kalau Kakak sedang hamil."


"Kamu lihat kan tadi mereka terlihat begitu bahagia. Kakak hanya merasa sebagai orang ketiga saja di antara mereka."


"Kakak jangan berbicara seperti itu. Kak Keifano suami Kakak dan seharusnya tadi kita melabraknya dan minta penjelasan."


"Kita pulang saja Key. Kakak ingin tinggal di rumah Abi dan Umi."


"Kakak mau pergi dari rumah?"


"Aku hanya tidak ingin merasakan sakit hati yang terlalu dalam. Mungkin seharusnya mereka bisa bersama dan Kakaklah orang ketiga di antara mereka," ucap Anisa sambil menghapus air matanya.


"Key, berjanjilah untuk merahasiakan kehamilanku. Kakak mohon, biarkan Kakakmu bahagia meskipun bukan dengan Kakak," ucapnya kembali.


"Kak Anisa," ucap Key yang merasa bersalah karena sebagai saudara Keifano, Key jadi merasa tidak enak kepada Anisa.

__ADS_1


"Sudahlah Key kita pulang saja. Ayo jalankan mobilnya."


Key lalu menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah.


"Stop Key," perintah Anisa.


Key langsung memberhentikan mobilnya.


"Ada apa Kak?" Key bingung karena Anisa tiba-tiba berbicara seperti itu.


Anisa tidak menjawab pertanyaan Key dan lalu keluar dari mobilnya membawa tas yang berisi bekal makan siang tadi. Key tersenyum meskipun Kakak iparnya itu sedang bersedih tapi masih memikirkan orang lain. Anisa memberikan bekal makan siang untuk suaminya ke pengemis jalanan. Key semakin terkagum dengan Kakak iparnya.


"Seandainya saja aku yang berada diposisi Kakak dan tidak akan pernah aku sakiti hati wanita sebaik Kak Anisa," lirihnya sambil melihat keakraban Kakak iparnya itu dengan pengemis jalanan.


Anisa juga memberikan uang kepada pengemis tersebut. Setelah itu Anisa kembali ke mobil Key. Beberapa puluh menit kemudian Anisa dan Key sudah sampai di rumah. Anisa lalu pergi ke kamarnya dan hanya mengambil kunci mobilnya, tak lama kemudian Anisa turun dari kamarnya.


"Loh nak mau kemana lagi?" tanya Karin terheran.


"Anisa sedang ingin pulang ke rumah. Mama bolehkah untuk sementara Anisa tinggal di rumah Umi dan Abi?"


"Boleh saja sayang. Tapi jangan lama-lama ya. Mama pasti kangen masak bareng sama kamu dan nanti Mama akan suruh Keifano ke rumah Dion."


"Iya Mama. Kalau begitu Anisa pamit pulang ke rumah," sambil mengecup punggung tangan Karin.


"Nak, biar sopir yang mengantarkan kamu pulang."


"Tidak usah Mama. Anisa bisa bawa mobil sendiri."


"Tapi kan nak, kemarin kamu baru saja sembuh."


Karin ingat kemarin Anisa sempat demam tinggi.


"Anisa akan hati-hati kok. Mama tenang saja, Anisa akan hati-hati bawa mobilnya."


"Baiklah nak. Ayo Mama antar sampai depan," ucap Karin sambil tersenyum.

__ADS_1


Karin mengantarkan menantunya sampai ke teras depan rumah. Karin melambaikan tangannya dan Anisa mengklakson mobilnya. Anisa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Anisa tidak berani bawa mobil terlalu kencang seperti biasanya karena sekarang ada dua anak yang harus dia jaga.


__ADS_2