
Kini Karin ingin tinggal di rumah sendiri. Karin akan memberikan pendapat kepada suaminya untuk mengontrak rumah dengan alasan ingin mandiri. Padahal sebenarnya Karin tidak ingin Mama Sabrina terlalu ikut campur dalam rumah tangganya. Kalau dengan Papa Yudhistira Karin cocok karena selalu memberikan saran dan solusi yang terbaik dalam setiap masalahnya.
Yudha kini sudah sampai di rumah. Kini Karin sedang membuatkan teh jahe untuk suaminya di dapur. Tiba-tiba saja saat Karin baru membuatkan teh jahenya tangan Yudha sudah melingkar di perutnya. Karin terkejut saat tiba-tiba suaminya memeluknya dari belakang.
"Mas... Mas mengagetkanku."
"Maaf sayang aku telah membuatmu terkejut."
"Tidak apa-apa Mas. Ini diminum dulu tehnya."
Kini Yudha meminum tehnya di ruang makan. Kelihatan suaminya sangat capek hari ini. Karin lalu memijat pundak suaminya.
"Sayang, kamu menang istriku yang pengertian."
"Memang kamu punya istri lagi Mas selain aku?"
"Tidak sayang, hanya kamu istriku satu-satunya. Karena hanya ada nama kamu yang ada di hatiku. Percayalah padaku sayang."
"Mas gombal deh. Sudah mau punya anak juga," ucap Karin sambil menyeruput tehnya.
"Sayang, aku berkata jujur apa adanya." Sambil menggenggam tangan Karin dan menatap wajah cantik istrinya.
Karin tersenyum, lalu mereka melanjutkan minum teh jahe bersama. Papa Yudhistira tersenyum melihat menantu dan juga anaknya semakin mesra. Papa Yudhistira berharap mereka akan selalu bersama dan tidak akan pernah berpisah.
Mereka setelah meminum tehnya lalu masuk ke kamar. Kini Yudha sedang mandi dan Karin sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Kini Yudha sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi dan lalu menyusul istrinya yang sedang duduk di sofa dan melamun melihat ke arah jendela. Yudha tahu kini Karin sedang memikirkan sesuatu. Yudha tidak mau istrinya terlalu banyak pikiran karena Karin sedang hamil dan akan bahaya jika terlalu banyak pikiran sebab kehamilannya masih sangat muda dan masih rentan.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Eh? Mas... Tidak kok, tidak ada."
"Kalau aku bilang, mungkin Kak Yudha tidak akan setuju dengan usul yang aku inginkan karena aku ingin mengontrak rumah agar Mama Sabrina tidak terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga." Batin Karin.
"Sayang, apa yang sedang mengganggu pikiran kamu?" Tanya Yudha kini sambil membenarkan anak rambut Karin yang menutupi wajah cantiknya.
"Aku tidak bisa berbohong dengan suamiku. Bagaimanapun juga aku harus jujur." Batin Karin.
"Hmm... Mas, aku ingin kita hidup lebih mandiri. Bagaimana kalau kita mengontrak sebuah rumah? Atau kalau mau ngekos juga tidak apa-apa," ucapnya berhati-hati agar Yudha tidak marah.
__ADS_1
"Jadi itu yang kamu inginkan sayang?"
"Iya Mas. Kalau aku boleh jujur sebenarnya aku tidak nyaman jika Mama terlalu mencampuri urusan kehidupan rumah tangga kita." Kini Karin menunduk karena takut kalau Yudha akan marah.
Karena Karin takut kini Yudha lalu memeluknya.
"Sayang, aku tahu kamu tidak nyaman karena Mama terlalu mencampuri kehidupan rumah tangga kita. Kamu bersabar ya, sebentar lagi kita akan punya rumah."
"Apa? Kita akan punya rumah?" ucap Karin sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya.
"Iya sayang, sebenarnya aku akan memberitahu saat rumah kita sudah jadi. Tapi karena kamu tadi ingin kita mengontrak rumah akhirnya tidak jadi surprise deh."
"Mas, aku senang kalau kita akan punya rumah sendiri. Aku pikir kamu bakal marah sama aku karena ini menyangkut soal Mama."
"Tidak sayang. Aku juga tidak suka kalau Mama terlalu mencampuri urusan kehidupan rumah tangga kita." Yudha jadi teringat saat Karin akan kasih surprise kehamilannya dan saat itu juga Mamanya membikin berita heboh tentang Karin yang selama ini mengkonsumsi pil penunda kehamilan.
"Makasih ya Mas. Kamu memang selalu mengerti aku." Kini Karin memeluk suaminya.
"Iya sayang," ucap Yudha sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Mas, sejak kapan menyiapkan rumah untuk kita?"
"Sejak lama sayang, setahun yang lalu aku mulai membangun rumah untuk keluarga kecil kita. Aku sengaja tidak memberitahu kamu agar surprise tapi tadi kamu bilang ingin mengontrak rumah. Jadi ya terpaksa deh gak jadi surprise hehehe," ucapnya terkekeh.
"Sayang, maaf ya kalau misalnya uang belanja kamu kurang. Karena sebagian gajiku uangnya untuk membangun rumah kita."
"Mas, kamu sudah memberikan uang bulanan yah sudah cukup kok. Puluhan juta rupiah setiap bulan sudah aku terima dan itu sudah lebih dari cukup."
"Sayang, kenapa kamu tidak pernah pakai credit card yang aku berikan? Kenapa kamu hanya pakai debit card saja?"
"Karena belum ingin beli apa-apa Mas. Jadi belum aku gunakan. Aku juga tidak mau menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras suamiku."
"Sayang, aku itu bekerja untuk kamu dan juga anak-anak kita jadi pergunakanlah uang itu. Berbelanjalah sepuas kamu."
"Hmm... Iya nanti akan aku pergunakan uang itu tapi hanya untuk keperluan penting saja."
"Kamu memang istriku yang sederhana dan tidak suka kemewahan. Tidak seperti remaja zaman sekarang yang tahunya hanya menghambur-hamburkan uang ayahnya."
__ADS_1
"Mas, aku sudah tidak remaja lagi. Aku sudah dewasa dan sebentar lagi aku akan menjadi ibu dari ketiga anak kita."
"Iya, Mas tahu sayang. Tapi kamu masih berumur 19 tahun. Jadi masih bisa dikatakan sebagai calon ibu yang masih remaja hehehe," ucapnya terkekeh.
"Mas ini selalu meledekku!" Karin kini cemberut.
"Kamu kalau cemberut semakin cantik sayang."
"Mas...... Emphh..." Kini Yudha bibirnya sudah mengecup bibir Karin.
Kini terdengar suara adzan magrib. Karin tersadar dan lalu melepaskan kecupan suaminya.
"Mas, sudah adzan magrib mari kita segera sholat."
"Hmm... Iya sayang ayo."
Kini mereka sudah berwudhu dan menggelar sajadahnya. Mereka sholat berjamaah bersama. Sambil menunggu adzan isya kini mereka membaca ayat suci Al-Qur'an bersama.
Setelah sudah sholat isya berjamaah kini mereka turun dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Setelah selesai makan kini Yudha akan membicarakan tentang rumah barunya kepada Papa dan Mamanya. Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Pa, Ma. Ada yang Yudha ingin sampaikan kepada Papa dan Mama."
"Apa nak? Sepertinya hal yang serius?"
"Itu Papa. Yudha dan Karin sebentar lagi akan pindah ke rumah baru. Rumah Yudha sebentar lagi selesai dicat dan tinggal diisi perabotan rumah tangga."
"Papa turut bahagia karena kalian akan punya rumah sendiri dan kalian bisa hidup lebih mandiri."
"Tapi Papa. Rumah kita akan semakin sepi jika Karin dan Yudha akan pindah ke rumah baru mereka. Kalian jangan pindah ya? Mama mohon kalian tetap tinggal di sini."
Kini Yudha dan Karin saling memandang.
"Mama, kita masih bisa bertemu dengan anak dan menantu kita. Biarkan mereka hidup mandiri Mama dan jangan mencampuri kehidupan rumah tangga Yudha."
"Iya Papa, Mama mengerti."
Kini Yudha dan Karin lega, akhirnya mereka akan secepatnya pindah ke rumah baru mereka.
__ADS_1