Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 65 - Siap Menjadi Seorang Ibu


__ADS_3

Kini saatnya mereka akan kembali ke tanah air. Karin menatap pemandangan Menara Eiffel dari sudut jendelanya dan tersenyum. Yudha sedang mandi, hari ini mereka akan pulang kembali ke Indonesia. Sebelum meninggalkan hotel Karin puas-puasin untuk melihat pemandangan indah di Paris dari jendela kamar sambil perlahan mengusap perutnya.


"Sayang, sebentar lagi kamu akan tumbuh dirahim Mama. Sekarang Mama sudah siap menanti kehadiranmu," ucapnya pelan sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Tak lama kemudian Yudha sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Yudha melihat Karin sedang menatap kearah luar jendela. Yudha tersenyum istrinya bahagia selama di Paris. Yudha berjalan mendekati Karin dan lalu memeluknya dari belakang.


"Eh? Mas........" Karin terkejut saat Yudha memeluknya.


"Sayang biarkan seperti ini sejenak. Sebelum kita pulang ke Indonesia."


Karin mengangguk pelan. Yudha memeluk Karin sambil mengusap-usap pelan perutnya. Karin tahu bahwa suaminya itu sudah menginginkan anak darinya. Sebentar lagi Karin akan mewujudkan impian suaminya. Kini Karin sudah siap untuk hamil dan menjadi seorang ibu.


Hari berganti hari kini mereka sudah sebulan di rumah setelah bulan Madu di Paris waktu itu. Karin belum merasakan kehadiran sang buah hatinya. Yudha sekarang sudah berangkat kerja ke rumah sakit.


Di rumah sakit Yudha termenung memikirkan sudah sebulan lebih lamanya setelah mereka berbulan madu ke Paris namun belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hatinya. Yudha galau karena buah hatinya belum kunjung datang juga sampai sekarang.


"Aku harus menunggunya berapa lama lagi?" ucapnya memijat keningnya yang mulai pening.


Dokter Rio tiba-tiba datang untuk mengajaknya makan siang karena Dokter Siska kekasihnya itu sedang cuti ada urusan keluarga di luar kota. Dokter Rio melihat Yudha sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Dokter Rio mengira kalau sedang ada masalah dalam keluarga sahabatnya.


"Bro kenapa mukanya ditekuk begitu?"


"Istriku belum hamil juga sampai sekarang. Padahal kita sudah menikah setengah tahun."


"Mungkin belum rezeki bro. Jangan patah semangat gitu dong."


"Tapi Mamaku bilang sepertinya aku yang bermasalah karena istriku kan masih muda tak mungkin dirinya yang bermasalah."


"Kalian kan masih pengantin baru kenapa tidak bulan madu lagi saja?"


"Sudah dua kali bulan madu Rio, sudah ke Bandung dan ke Paris namun hasilnya sama saja. Karin belum hamil juga sampai sekarang."


"Jangan sedih gitu dong bro. Aku lihat kamu sehat-sehat saja kok. Mungkin memang belum waktunya kalian dikasih kepercayaan."


"Hmm iya, tapi aku harus cek kondisi kesehatanku. Siapa tahu memang benar yang dikatakan Mama kalau aku tidak bisa memberikan cucu untuknya."


"Bro jangan patah semangat. Percaya pada Allah kalau kalian bisa punya anak. Sudah jangan berpikir macam-macam. Kita makan siang bareng saja yuk bro."


Yudha mengangguk lalu mereka makan siang bersama di restoran biasanya yang menjadi tempat favorit mereka makan siang. Saat Yudha mau memasukkan makanannya ke dalam mulutnya tiba-tiba rasa mual menyerangnya. Yudha menutup mulutnya dan berjalan mencari kamar mandi. Yudha memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel. Dokter Rio menyusul sahabatnya, takut sahabatnya kenapa-kenapa.


"Bro kamu gak apa-apa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak enak badan saja tadi."


"Kamu mau pulang sekarang bro? Aku antar ya?"


"Tidak, nanti aku takut semua orang di rumah cemas. Lagian aku sudah tidak apa-apa kok."


"Kita kembali lagi yuk. Aku ingin pesan makanan yang lainnya. Aku sedang ingin makan steak," ucap Yudha membayangkan betapa enaknya rasa steak yang pernah ia makan di restoran saat ini.


"Baiklah ayo bro."


Mereka lalu kembali ke mejanya dan duduk di kursinya masing-masing. Yudha menyuruh pelayan untuk menyingkirkan makanan yang membuatnya mual. Padahal tidak biasanya dirinya seperti ini bahkan makanan yang ia pesan tadi adalah makanan favoritnya. Namun tiba-tiba saja dirinya ingin makan steak.


Tak lupa Yudha memberi kabar kepada istrinya bahwa sekarang sudah makan siang bareng Rio. Karin juga memberi kabar kepada suaminya bahwa dirinya kini baru saja sampai ke mall. Setelah makan siang Yudha lalu membuka galerinya. Yudha tersenyum saat melihat fotonya saat berdansa dengan Karin. Mereka terlihat begitu mesra. Yudha menjadikannya sebagai wallpaper dan seketika Yudha teringat dengan akun instagramnya.


Sudah lama sekali Yudha tidak mengunggah foto di instagram pribadinya. Foto yang tadi dijadikan wallpaper lalu Yudha unggah di akun instagramnya dengan caption : 'Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah setengah tahun lamanya aku menikah denganmu. Rasa cintaku tak akan pernah berkurang sedikitpun untukmu. Aku sangat mencintaimu istriku. Aku sungguh menantikan kehadiran sang buah hati kita yang akan menemani kehidupan kita yang penuh dengan warna.'


...*****...


PARIS, FRANCE


Seorang perempuan berambut pirang mengepalkan tangannya saat melihat postingan Yudha. Perempuan tersebut bernama Valeria Fani Xylscarett. Satu-satunya perempuan yang berani menyatakan cinta beberapa tahun yang lalu namun ditolak mentah-mentah oleh Yudha. Fina dan Yudha satu kampus saat di Perancis. Namun mereka berbeda fakultas maupun jurusan. Perempuan yang baru saja lulus S3 tersebut geram dengan postingan Yudha yang terlihat begitu mesra. Dirinya kini sudah berjuang untuk lulus S3 karena ingin pulang ke Indonesia dan bertemu Yudha. Namun melihat postingan Yudha seperti mendapatkan kenyataan pahit. Perempuan tersebut lalu menghubungi temannya yang berada di Indonesia dan mencari tahu tentang siapa perempuan yang Yudha nikahi. Setelah tahu Fina lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Aku akan kembali ke Indonesia setelah ijazah aku dapatkan. Aku berjuang untuk bisa lulus S3 agar bisa bersanding dengannya. Tapi mengapa Yudha memilih menikah dengan gadis yang baru saja lulus SMA? Huh sungguh tidak berpendidikan sama sekali."


Fani tidak tahu bahwa Karin saat ini sedang kuliah. Temannya yang ada di Indonesia tersebut hanya memberi tahu bahwa Yudha menikahi perempuan yang baru saja lulus SMA. Fani tidak tahu bahwa Karin berasal dari keluarga yang terpandang. Bahkan perusahaan milik Keluarga Alexander masuk dalam daftar 10 besar pengusaha terkaya di Indonesia. Siapapun yang berani mengusik Keluarga Alexander akan mendapatkan masalah besar.


...*****...


Di tempat lain Karin sedang ke mall. Karin membeli baju dan beberapa pakaian dalam. Dirinya kini sudah mulai merasakan badannya sedikit agak gendutan. Jadi semua pakaian dalamnya maupun bajunya sudah mulai sesak untuk dipakai. Akhirnya Karin memutuskan untuk pergi berbelanja ke mall sendiri. Biasanya Karin berbelanja kalau tidak bersama Yudha ya bersama mertuanya. Namun kini mertuanya lagi tidak enak badan dan Yudha sedang bekerja. Jadi Karin akan ke mall sendirian untuk hari ini.


Karin memilih beberapa baju, celana jeans dan dress dibawah lutut. Yudha tidak mengizinkannya untuk memakai dress diatas lutut. Karin menuruti perintah suaminya karena kalau tidak suaminya bisa marah. Karena rasa cemburunya itu terlalu berlebihan jika Karin berpenampilan lebih menarik. Yudha juga melarang Karin untuk pakai makeup kecuali saat jalan bersamanya. Yudha tidak mau Karin disukai banyak laki-laki lain yang akan merugikan dirinya. Karin menuruti perintah suaminya karena suaminya sangat cemburuan.


Setelah puas berbelanja Karin melajukan mobilnya keluar dari mall. Di jalan Karin melihat tukang rujak buah. Karin seketika ingin memakan rujak buah tersebut. Lalu Karin menepikan mobilnya dan berjalan mendekati sang penjual rujak buah tersebut. Karin ingin segera melahap rujak buah yang kelihatannya menggiurkan untuk disantapnya.


"Pak pesan rujaknya satu porsi ya pedasnya sedang. Buahnya mangga muda sama kedondong saja."


"Siap Non."


Beberapa menit kemudian rujak buahnya sudah jadi. Karin matanya berbinar-binar saat melihat rujaknya yang sepertinya sangat enak. Air liurnya seketika ingin menetes. Dengan cepat Karin segera melahap rujak buahnya sampai habis. Karin ingin memakannya lagi. Kali ini Karin ingin memakan mangga mudanya saja.


"Pak saya pesan lagi satu porsi. Agak pedas ya dan buahnya mangga muda saja."

__ADS_1


"Siap Non," ucapnya kembali.


Saat Karin akan menghabiskan rujak buahnya sang penjual pun berbicara.


"Non saya doakan mudah-mudahan anaknya cantik seperti Non," ucapnya dengan senyuman.


"Anak?" Karin lalu berhenti sejenak memakan rujaknya.


"Iya, Non saat ini sedang hamil kan? Bapak perhatikan dari tadi Non dengan lahap makan rujaknya. Saya yakin Non saat ini sedang ngidam."


"Saya belum cek ke dokter Pak. Jadi saya belum tahu hamil atau tidak," ucap Karin sambil memakan rujak buahnya kembali.


"Saya yakin Non pasti sedang hamil. Sudah terlihat dari bentuk tubuh Non yang agak gendutan."


"Eh? Begitu ya Pak? Saya kira karena saya nafsu makannya bertambah saja akhir-akhir ini."


"Iya Non. Dulu istri saya juga begitu saat sedang hamil. Selamat ya Non. Coba Non segera periksa ke dokter."


"Suami saya seorang dokter Pak dan kebetulan beliau dokter spesialis kandungan."


"Nah kalau begitu segera temui suaminya Non. Pasti bahagia saat mengetahui Non hamil."


Karin segera menghabiskan rujaknya. Dirinya ingin mengecek sendiri apakah benar-benar hamil atau tidak. Karin ingin memberi kejutan untuk suaminya jika benar dirinya hamil.


"Semuanya berapa pak?"


"Dua puluh ribu Non."


Karin mengeluarkan uang seratus ribuan untuk membayar rujaknya.


"Ini Non kembaliannya."


"Tidak usah buat Bapak saja."


"Alhamdulillah, terima kasih Non. Semoga Non selalu bahagia dengan suami Non. Apalagi si kecil akan segera hadir."


"Aamiin. Terima kasih Pak dan saya permisi dulu."


"Iya sama-sama, hati-hati di jalan Non."


Karin mengangguk dan meninggalkan penjual buah tersebut. Karin lalu masuk ke dalam mobil. Sebelum menggunakan sabuk pengaman Karin melihat layar hp. Kini Karin baru menyadari bahwa dirinya sudah terlambat datang bulan selama hampir dua minggu. Pandangan Karin lalu menuju ke arah perutnya. Dirinya yakin saat ini sedang hamil.

__ADS_1


"Nak, terima kasih kamu sudah hadir. Mama bahagia nak. Papamu sudah menunggu kehadiran kamu sejak lama," ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Memang sudah lama Yudha menginginkan anak darinya. Karin yakin bahwa Yudha akan bahagia saat mendengar kabar kehamilannya. Karin akan memastikannya terlebih dahulu dengan testpack. Karin berharap hasilnya akan positif sesuai dengan apa yang diharapkan. Karin juga sudah siap untuk hamil dan siap menjadi seorang ibu.


__ADS_2