
3 tahun kemudian.
Key usianya sekarang sudah mulai masuk TK. Kedua Kakaknya sudah kelas 2 SD. Karena berlawanan arah akhirnya Karin mengantar Key. Sedangkan sopirnya mengantarkan kedua anaknya.
"Anak Mama belajar yang rajin ya nak." Karin mengelus kepala anaknya.
"Siap Mama cantik." Sambil hormat.
Karin lalu mengantarkan anaknya sampai ke depan kelasnya. Setelah itu Karin menuju butiknya.
Waktu menunjukkan pukul 10.15 wib. Saatnya Karin menjemput putranya.
"Duh, kok macet segala lagi. Key pasti sudah menungguku."
Di sekolahnya Key duduk di kursi yang terbuat dari semen yang ada di halaman depan kelasnya.
"Mama mana ya kok belum datang..." Melihat ke arah gerbang sekolahnya.
"Sama, aku juga sedang menunggu Mamaku," ucap Laura teman beda kelas dengan Key.
"Itu dia Mamaku," ucap Laura menunjuk Mamanya yang sudah datang.
"Laura sayang..." Mamanya Laura mendekati anaknya.
"Mama......" Berlari memeluk Mamanya.
Key melihat semakin lama perut Mamanya Laura semakin membesar. Mamanya Laura sekarang sedang hamil 9 bulan jadi memang terlihat perutnya sudah membesar.
"Tante kok perutnya besar banget? Perasaan waktu itu perut Tante sama seperti perut Mama Karin. Tapi kok perut Mama gak sebesar perut Tante ya?" Tanyanya bingung.
Mamanya Laura lalu tersenyum dan mendekati Key.
"Perut Tante besar karena ada adiknya Laura nak." Sambil memegang perutnya yang sudah membesar.
"Adik itu apa Tante? Mama Karin kok tidak pernah bicara tentang adik ya?" Key masih bingung.
"Eh? Ehm... Adik itu, nah seperti itu kalau sudah lahir." Menunjuk wali murid lainnya yang sedang menggendong bayi.
"Oh begitu ya Tante."
"Iya nak. Nanti kalau adiknya Laura sudah keluar akan seperti bayi yang ibu-ibu tadi yang membawa anaknya."
Key hanya mengangguk pelan.
"Tapi kok perut Mama gak membesar ya seperti perut Tante?"
"Itu karena perut Mama kamu tidak ada adiknya nak. Apakah kamu ingin adik juga nak seperti Laura?" Tanyanya penasaran.
"Iya Tante. Key juga ingin punya adik seperti Laura."
Mamanya Laura lalu tersenyum dan mengusap kepala Key.
"Kamu minta saja sama Mama Karin nak. Pasti dikabulkan."
"Benarkah Tante? Cara mintanya gimana?"
"Mama, Key minta adik. Pasti Mama Karin langsung paham."
"Terus kalau Key minta adik sama Mama, perut Mama akan langsung sebesar seperti perut Tante?"
"Iya nak. Tapi menunggu beberapa bulan biar bisa seperti perut Tante."
"Aduh auwww....." Mamanya Laura langsung memegang perutnya.
"Tante kenapa?"
"Adiknya Laura menendang-nendang di dalam perut Tante."
Kini Laura mengelus perut Mamanya.
__ADS_1
"Iya Mama, adik bergerak terus dalam perut Mama."
"Tante, bolehkah aku memegang perut Tante? Key juga ingin merasakannya."
"Boleh saja nak, kemarilah."
Key perlahan memegang perut Mamanya Laura. Key merasakan tendangan adiknya Laura.
"Tante, perut Tante kok bergerak sendiri?"
"Itu adik bayinya sedang main bola di dalam perut Tante nak." Mamanya Laura bingung untuk jelasinnya sama anak baru berumur 4 tahun tersebut.
"Oh gitu. Key jadi ingin punya adik juga Tante. Key ingin perut Mama Karin juga bergerak-gerak seperti perut Tante."
"Minta sama Mama dan Papa kamu ya nak. Pasti mereka akan menuruti kemauan kamu."
"Iya Tante. Key akan coba meminta adik nanti sama Mama dan Papa."
Key tersenyum bahagia dan nanti setelah pulang sekolah Key akan minta adik ke Mama dan Papanya.
"Kita pulang duluan ya nak."
"Iya Tante." Sambil mengangguk.
"Dada Key, sampai bertemu besok..." Sambil melambaikan tangannya.
"Dada Laura, hati-hati di jalan ya..." Jawabnya sambil melambaikan tangannya.
Tak lama kemudian Karin sudah sampai di sekolah anaknya.
"Nak, maafin Mama yang jemput kamu terlambat. Tadi jalanan macet sayang."
"Iya tidak apa-apa Mama. Ayo kita pulang Ma."
Mereka lalu masuk ke dalam mobilnya dan Karin lalu melajukan mobilnya ke arah rumah. Sore hari Yudha sudah pulang. Karin membawakan tas suaminya.
"Mas, sepertinya capek sekali."
"Oh gitu Mas. Sini aku pijitin."
Setelah dua puluh menit berlalu, Karin sudah selesai memijat suaminya.
"Sayang kamu masih muda, apa kamu tidak mau hamil lagi?"
"Mas, jangan bahas itu lagi deh! Kita sudah punya 3 anak dan menurutku sudah cukup punya 3 anak saja."
"Iya sayang. Aku tadi hanya penasaran saja. Ya sudah aku mau mandi dulu."
"Mas Yudha sepertinya ingin punya anak lagi dariku. Maaf Mas bukannya aku tidak mau memberikan kamu anak lagi. Tapi aku capek Mas jika harus melahirkan lagi." Lirihnya.
Sekarang saatnya makan bersama. Mereka semua sudah kumpul di ruang makan.
"Enak masakan Mama." Karin mendapatkan pujian dari Keisha sang putrinya.
"Kalau kamu suka, besok Mama masak lagi yang seperti ini nak."
"Iya Mama Keisha suka kok."
Keifano makan dengan lahapnya dan tidak bersuara. Sedangkan Key hanya memakan sedikit.
"Kenapa makannya cuma sedikit nak?"
"Tidak apa-apa Mama."
Key kini bingung mau memberitahu bahwa dirinya ingin adik. Karin mencari anaknya. Putra bungsunya itu tiba-tiba menghilang setelah makan bersama.
"Mas, lihat Key tidak?"
"Tidak sayang, ayo kita cari bersama-sama."
__ADS_1
Karin dan Yudha lalu ke ruang keluarga. Ternyata saat ini anaknya sedang duduk di meja kayu tersebut. Yudha dan Karin lalu mendekati anaknya. Key sedang memikirkan sesuatu untuk berbicara dengan kedua orang tuanya sambil menggaruk tengkuknya.
"Gimana ya cara ngomongnya sama Mama dan Papa kalau Key mau minta adik. Mama dan Papa mau gak ya mengabulkan permintaan Key." Batin Key.
"Sayangnya Mama ternyata disini nak..." Key menoleh ternyata Mama dan Papanya datang.
"Eh Mama, Papa..." Sambil tersenyum.
"Sini sayang kita duduk di sofa."
Key lalu menghampiri Papa dan Mamanya duduk di sofa. Key duduk di tengah-tengah antara Karin dan Yudha.
"Kamu kenapa nak, kok tadi melamun?"
"Ehm... Mama, Papa, Key mau minta sesuatu."
"Kamu mau minta apa nak? Pasti Papa dan Mama turutin," ucap Karin sambil mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Iya nak, kamu mau minta mainan apa? Kita beli sekarang yuk sambil jalan-jalan."
Key hanya menggelengkan kepalanya. Yudha dan Karin semakin bingung dengan permintaan anaknya.
"Bicaralah nak. Biar Mama dan Papa tahu kamu ingin apa."
"Key ingin adik."
Karin membolakan matanya saat putranya minta adik. Yudha terkejut saat ini dan seketika suasana menjadi hening.
"Kok Papa sama Mama diam? Katanya mau menuruti permintaan Key."
"Ah, sayangnya Mama jangan minta yang macam-macam ya nak. Mama dan Papa gak bisa mengabulkan permintaan Key."
"Mama... Key mau minta adik. Key ingin punya adik seperti Laura Ma."
Karin hanya terdiam saja. Kini Key menoleh ke arah Papanya.
"Papa, Key ingin perut Mama besar. Seperti perutnya Mamanya Laura. Kata Mamanya Laura, Key harus minta sama Papa dan Mama kalau ingin punya adik."
"Ehm... Nak, gimana ya. Papa nurut saja sama Mama. Kamu bujuk Mama gih nak." Sambil melirik ke arah Karin.
Karin terkejut bukannya Yudha menasihati anaknya tapi sepertinya mendukung kemauan putranya untuk punya adik.
"Mama......." Key memanggil Karin.
"Mama pusing nak." Sambil memijat keningnya yang mulai pening.
Karin lalu meninggalkan ruang keluarga tersebut dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Papa, Mama marah ya sama Key? Mama gak mau ya kalau menuruti kemauan Key."
"Eh? Tidak sayang. Mama tidak marah, Mama hanya terkejut atas permintaan kamu nak."
"Papa, apa salahnya Key? Kan Key hanya meminta adik saja."
"Jangan sedih ya nak. Nanti Papa akan coba bicara sama Mama."
"Iya Papa."
Yudha lalu mengantarkan anaknya ke kamarnya. Setelah itu menyusul istrinya ke kamar.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya baru author 💙