
Keyla setelah pergi dari kamarnya langsung masuk ke dalam kamarnya. Keyla lalu berdiri di samping meja riasnya. Dia tidak percaya dengan perkataan Key barusan.
"Sepertinya Kak Key tahu sesuatu yang terjadi antara Kak Anisa dan Kak Keifano tapi berusaha untuk menutupinya dariku. Hmm jadi curiga, kenapa tidak memberitahu aku ya?" ucap Keyla sambil mondar-mandir di kamarnya.
Keyla lalu berpikir mencari jalan keluar untuk masalah ini.
"Aku akan memojokkan Kak Keifano nanti malam agar ia mengaku telah melakukan KDRT sama Kak Anisa. Meskipun Kak Keifano adalah Kakakku tapi aku tidak suka kalau ia berbuat kasar sama perempuan. Apalagi Kak Anisa sedang hamil."
Keyla lega sudah mencari solusi yang menurutnya tepat yaitu saat nanti sesudah makan malam usai dia akan membuka suara duluan.
Di kamarnya Keifano mengaktifkan hpnya, saat ini istrinya sedang mandi. Ia sangat terkejut saat mendapatkan pesan WhatsApp dari Key. Matanya melotot saat melihat pesan WhatsApp yang isinya menegurnya.
"Kakak, jangan pamer kemesraan. Aku tahu aku belum menikah tapi Kakak jangan sengaja untuk tidak mengaktifkan mode kedap suara. Telingaku jadi ternodai dan aku jadi tidak bisa berpikiran jernih setelah mendengar suara dari dalam kamar Kakak. Tadi Keyla juga mendengarnya. Untung saja aku bisa beralasan yang tepat dan Keyla bisa percaya kepadaku. Lain kali jangan seperti ini ya Kak, bahaya jika sampai terdengar lagi oleh Keyla. Tadi dia bahkan meminta mendobrak pintu kamar Kakak bersama-sama."
Keifano sangat tahu jika adiknya itu bisa saja berbuat nekad. Karena sejak dulu keinginannya harus dituruti. Sifat keras kepalanya meearisi sifat dari sang Mama. Anisa sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Melihat suaminya yang terbengong Anisa lalu mendekati suaminya.
"Ayah, kok sepertinya sedang gelisah? Ada apa sih sayang? Apa ada masalah?" tanya Anisa kepada suaminya.
"Bunda, kamu baca saja pesan dari Key."
Anisa lalu meraih hp suaminya. Matanya terbelalak saat melihat pesan WhatsApp dari adik iparnya itu sekarang dia sangat malu jika bertemu dengan Key maupun Keyla.
"Aku sangat malu sekali jika bertemu dengan adik ipar."
"Sudahlah sayang, kamu bersikap seperti biasa saja nanti. Ini salahku yang lupa mengaktifkan mode kedap suara kamar kita."
"Apa sebaiknya kita mengontrak rumah saja Ayah? Karena jujur saja aku jadi tidak enak sama Key dan Keyla."
"Sayang, sebenarnya aku sudah membeli sebuah rumah di perumahan, tapi masih dalam proses pembangunan. Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan ini sama kamu saat nanti rumahnya sudah jadi. Tapi tadi kamu bilang ingin mengontrak rumah saja jadi aku bilang seperti itu."
"Maaf ya Bunda, bukannya aku tidak ingin berbicara terbuka sama kamu. Tapi sebenarnya itu nanti adalah kejutan untuk kamu. Aku juga ingin kita hidup mandiri bersama dengan keluarga kecil kita. Kamu jangan marah ya sayang?" ucapnya kembali.
"Tidak, aku tidak marah kok sayang. Justru aku bahagia kamu mau terbuka sama aku dan memikirkan keluarga kecil kita," ucapnya tersenyum sambil memegang pipi suaminya.
"Nanti setelah rumahnya sudah jadi kita akan segera pindah sayang. Untuk sementara waktu kita akan tetap tinggal di rumah Papa dan Mama."
"Iya sayang. Oh iya apa Papa dan Mama tahu tentang hal ini?"
"Tidak sayang, aku belum memberitahu mereka."
"Nanti beritahu Papa dan Mama ya Ayah?"
"Iya Bunda, nanti saja kalau rumah juta sudah jadi."
"Ayah mandi gih, Bunda sudah siapin airnya. Sekarang tinggal siapin pakaian ganti untuk Ayah."
"Makasih sayang, kamu memang istri yang baik."
__ADS_1
Keifano mengecup kening istrinya dan lalu berjalan ke kamar mandi. Anisa bersyukur rumah tangganya berjalan dengan baik dan tidak ada orang ketiga di antara mereka.
...*****...
Malam telah tiba mereka makan malam bersama di ruang makan. Keifano maupun Anisa jadi merasa canggung dengan Key. Keyla ingin tahu Kakaknya menyiksa Anisa karena salah apa. Dari tadi Keyla berusaha untuk menahan emosinya.
Setelah selesai makan malam bersama Keyla lalu membuka pembicaraan duluan. Keyla tidak menerima alasan Key yang berbicara bahwa Keifano memijat pinggang Anisa, menurutnya alasan itu tidaklah masuk akal.
"Kak Keifano, apa kamu masih mau berpura-pura tidak ada masalah dalam rumah tangga kamu?" ucap Keyla menggebrak meja yang seketika membuat semua orang menjadi terkejut dan bingung tapi tidak dengan Key.
Key hanya menghela napas panjang saat adiknya berbicara seperti itu.
"Apa maksudnya adikku? Kakak tidak mengerti, berbicaralah dengan jelas."
"Jangan kamu berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya Kak," ucap Keyla menunjuk Keifano.
"Keyla, bersikaplah sopan sama Kakakmu!"
"Bagaimana Keyla bisa bersikap sopan sama Kakak. Kalau Kak Keifano tidak bisa menghargai perempuan," ucap Keyla yang membuat Key tersedak saat sedang minum.
Key tidak habis pikir bahwa adiknya itu akan berbicara di ruang makan. Key memberikan kedipan ke Keyla agar tidak meneruskan perkataannya. Keyla mendengus kesal dan lalu memandang Papa dan Mamanya.
"Mama, Papa, Kak Keifano telah menyiksa Kak Anisa tadi siang. Kak Keifano telah melakukan KDRT, aku tidak menyangka Kak Keifano tega menyiksa Kak Anisa, wanita yang sedang hamil kedua anaknya."
"Katanya cinta, tapi kok Kak Anisa Kakak disiksa!" ucapnya kembali.
"Apa yang telah kamu lakukan kepada Anisa nak? Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk KDRT Keifano!" bentak Yudha dan lalu menampar pipi Keifano.
Keifano memegang pipi bekas hadiah cap lima jari dari Papanya. Sedangkan Karin lalu mendekati menantunya. Karin menggenggam tangan Anisa.
"Nak, kamu jawab jujur sayang. Apa Keifano benar-benar telah menyiksa kamu? Mana yang sakit sayang? Bilang sama Mama nak," ucap Karin lirih.
Sedangkan Anisa bingung mau menjelaskannya dan lebih memilih untuk mengkode dengan gelengan kepala. Key dan Keyla yang tahu soal tadi saja sudah membuatnya malu apalagi jika semua anggota keluarganya.
"Ehm Papa dan Mama jangan salah paham dulu. Keifano tidak menyiksa Anisa kok, sungguh. Keifano berani bersumpah."
"Bohong! Aku mendengarnya. Kak Anisa berbicaralah dan jangan takut Kak," ucap Keyla.
"Semuanya janganlah salah paham. Aku sama Keifano baik-baik saja dan tidak ada masalah di antara kami."
"Iya, rumah tangga kita baik-baik saja," ucap Keifano.
"Baik-baik apanya? Tadi aku mendengar teriakkan Kak Anisa."
Keyla lalu menirukan suara Anisa. Key dan Keisha menepuk jidatnya sedangkan Yudha dan Karin menatap tajam Keifano yang lupa untuk mengaktifkan mode kedap suara kamarnya.
"Ehm jadi benar seperti itu Keifano?" tanya Karin.
__ADS_1
"Iya Mama. Aku lupa untuk mengaktifkan mode kedap suara."
"Astaga nak. Kamu membikin Mama pusing saja."
"Loh Mama kok gak memarahi Kak Keifano? Kak Anisa disiksa loh ini. Kita sebagai perempuan harus membelanya!" ucap Keyla geram.
"Kak Anisa tidak disiksa nak. Kamu nanti juga akan tahu jika sudah menikah."
Yudha bingung untuk menjelaskan kepada putri bungsunya yang statusnya masih pelajar itu.
"Kenapa harus menunggu aku untuk menikah untuk mengerti. Memang sebenarnya kenapa sih?"
"Sudah Keyla kamu jangan terlalu kepo," ucap Key.
"Belum saatnya kamu tahu nak. Kamu masih kecil sayang."
"Sudah aku katakan berkali-kali kalau Keyla sudah SMA yang berarti Keyla sudah dewasa."
"Kalau kamu merasa sudah dewasa dan ingin mengerti kamu nikah saja setelah lulus SMA," ucap Keisha.
"Aku gak mau nikah muda. Apalagi punya anak di usia remaja. Aku masih ingin jalan-jalan keliling dunia dan menjadi chef yang hebat."
"Mimpi kamu ketinggian. Sebentar lagi mungkin kamu akan melangkahi Kakak untuk menikah duluan. Papa pasti akan menikahkan kamu jika kamu tidak ingin kuliah," ucap Key.
"Tidak akan terjadi. Kak Keisha dan Kak Key duluan yang akan menikah dan habis itu baru aku dan itupun masih lama karena bahkan aku tidak memiliki pacar sampai saat ini."
"Tidak punya pacar tapi tahu-tahu langsung menikah."
"Kakak jangan meledekku!"
"Sudah bubar, kalian masuk ke kamar kalian masing-masing. Ini sudah malam."
"Papa terus saja membela Kak Keifano yang salah."
Keyla lalu menghentak-hentakkan kakinya dan pergi dari ruang makan.
Keyla membanting pintu kamarnya dengan kencang.
"Astagfirullah anak itu benar-benar menyebalkan," ucap Yudha.
Semua orang telah meninggalkan ruang makan kecuali Karin dan Yudha.
"Anak sama ibu sama saja kalau marah-marah pasti membanting pintu." Batin Yudha.
"Apa kamu masih saja ingin terus di sini? Mau tidur di ruang makan?" ucap Karin yang lalu meninggalkan suaminya.
"Tunggu aku sayang."
__ADS_1
Yudha lalu menyusul istrinya dan naik ke lantai atas kamarnya.