
Suara ayam berkokok terdengar sampai telinganya. Tadi setelah sholat subuh mereka tidur lagi. Karin mulai mengerjapkan matanya.
"Pagi sayang," ucapnya sambil mengecup pipi istrinya.
"Pagi juga Mas."
"Mas, kamu ingat kan janji kamu semalam?" ucapnya kembali.
"Iya sayang, aku akan mencari kostumnya. Nanti aku akan meminta bantuan Rey untuk mengantarkan aku ke tempat yang beli kostumnya."
"Iya Mas. Aku ikut ya cari kostumnya?"
"Tidak usah sayang, kamu di rumah saja dan jaga si kecil." Sambil memegang perut Karin.
"Pokoknya aku ikut! Kalau tidak boleh, kamu mulai malam ini tidur sendiri. Aku akan tidur di kamar lainnya sampai anak kita lahir." Mengancam suaminya dan lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan begitu dong sayang. Iya kamu boleh ikut kok sayang."
"Nah harusnya bilang begitu dong Mas dari tadi. Itu baru namanya suamiku yang ganteng." Sambil menepuk-nepuk pipi suaminya.
"Kok cuma ditepuk doang sih sayang?"
"Terus maunya apa? Ditampar?" ucapnya sambil terkekeh.
"Di kecup pipiku!" Sambil menunjuk pipinya.
"Haha, kamu seperti anak kecil saja Mas. Ingat sudah mau punya 3 anak. Bahkan jika anak kita tidak keguguran kamu akan punya anak 6 anak dariku."
Yudha terdiam sejenak dan mengingat anaknya yang telah tiada.
"Sudahlah aku mau mandi dulu Mas. Habis ini kita sarapan bareng Papa Yudhistira dan Mama Sabrina."
"Sayang kamu kok gak jadi kecup pipiku?"
"Nanti setelah aku mandi ya!"
"Oke, siap. Aku akan menunggumu."
Yudha tadi sudah mandi duluan, jadi sekarang sedang duduk di sofa menunggu istrinya selesai mandi. Sekarang Karin sudah mandi dan rapi dengan menggunakan dress berwarna merah muda.
"Sayang, kamu terlihat cantik sekali."
Karin mendekati suaminya dan kemudian mengecup pipinya. Yudha tersenyum senang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan ekspresinya.
"Sudah ya Mas. Ayo kita ke ruang makan. Pasti mereka semua sudah menunggu kita."
"Iya ayo sayang. Anak Papa sudah lapar ya?" Sambil mengelus perut Karin sebentar.
"Hmm iya Papa....." Karin sambil menurunkan suara anak kecil.
Kemudian Karin dan Yudha turun dari kamarnya.
"Pagi, Mama dan Papa....."
"Pagi nak......" Jawab Papa Yudhistira dan Mama Sabrina secara bersamaan.
"Nak, Mama tadi bantu Bibi masak. Ini Mama masak sayur buat kamu. Bagus untuk ibu hamil. Semoga kamu suka ya dengan masakan Mama?"
"Wah, Mama seharusnya tidak perlu repot-repot membuatkan aku sayuran. Nanti Mama capek."
"Tidak nak. Mama ingin menjadi orang yang lebih baik lagi. Mama sudah menganggap kamu sebagai anak Mama sayang."
"Karin coba ya Mama."
"Iya nak....."
Yudha dan Papa Yudhistira lalu saling memandang dan mengkode dengan anggukan. Mereka bahagia Mama Sabrina telah berubah.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya nak?"
"Enak kok Mama. Karin suka, makasih ya Mama," ucapnya dengan senyuman.
Mama Sabrina lalu mengangguk dan tersenyum. Lega rasanya menantunya menyukai masakannya. Mereka lalu sarapan pagi bersama. Setelah sarapan pagi Mama Sabrina dan Papa Yudhistira akan pulang ke rumah.
"Mama dan Papa pulang ke rumah dulu ya nak."
"Iya, Mama dan Papa hati-hati di jalan."
"Nak, jangan lupa turuti kemauan istrimu," ucap Papa Yudhistira sambil menepuk pundak Yudha.
"Siap Papa. Apapun akan aku lakukan jika itu yang membuatnya senang."
Mereka lalu pulang diantar sopir yang biasanya mengantarkan Karin kalau Yudha sedang tidak ada di rumah. Yudha dan Karin lalu masuk ke dalam rumah.
"Mas, telepon Kak Rey biar kesini."
"Iya sayang."
Setelah beberapa menit kemudian Yudha sudah menelepon Rey. Mereka akan datang nanti setelah urusan rumahnya beres.
"Mereka akan datang nanti jam sepuluh sayang."
"Hmm... Iya aku ke dapur dulu ya Mas. Aku haus nih. Aku mau minta Bibi bikinin aku jus jeruk."
"Biar aku saja yang membuatkan jus untuk kamu sayang."
"Ok deh, kamu memang suamiku yang pengertian."
Yudha dan Karin lalu ke dapur. Yudha membuatkan jus jeruk untuk istrinya.
"Segar sekali Mas. Kamu mau tidak?"
"Tidak sayang buat kamu saja."
Sekarang sudah jam sepuluh Rey dan Risa belum datang.
"Mas, kok mereka belum datang ya?"
"Mungkin macet sayang."
Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya.
"Itu mereka sayang."
Sekarang Rey dan Risa sudah masuk ke dalam rumah. Mereka mengajak kedua anaknya.
"Wah, keponakan aku sebentar lagi Launching nih. Kak Yudha kamu banyak sekali memberikan aku keponakan." Risa lalu memegang perut Karin.
"Ppfftt..........." Rey menahan tawanya.
"Kamu juga bisa kok Risa memberikan aku keponakan yang banyak. Asalkan kamu mau hamil lagi. Rey sepertinya ingin punya anak perempuan."
"Iya sayang, apa kamu mau hamil lagi?"
"Tidak ya! Dua anak cukup ya Rey."
Bibi lalu memberikan minuman untuk tamunya.
"Kita berangkat sekarang yuk. Nanti keburu ramai mall-nya."
"Iya ayo, lebih cepat lebih baik."
Mereka lalu masuk ke mobilnya masing-masing.
"Kita sebentar lagi akan melihat Papa pakai kostum Lebah nak," ucap Karin mengelus perutnya dan anaknya meresponnya.
__ADS_1
"Wah kamu sudah tidak sabar ya nak ingin Papa kamu memakai kostumnya."
Yudha hanya tersenyum kecut mendengar perkataan istrinya.
"Mas, anak kita sudah tidak sabar loh untuk melihat kamu memakai kostum Lebahnya. Dari tadi dia terus menendang-nendang dalam perutku."
"Semoga kamu tidak meminta Papamu yang aneh-aneh lagi ya nak setelah ini. Jadilah anak yang baik seperti kedua Kakak kamu." Batin Yudha.
Mereka akhirnya sudah sampai di mall dan langsung menuju ke toko mainan besar. Toko mainannya sangat lengkap sampai ada kostum badut juga.
"Di sebelah mana Rey kamu membeli kostumnya?"
"Ayo Kak Yudha aku antar," ucap Rey.
Kebetulan kostum yang biasa habis.
"Sayang, kostumnya habis gimana?"
"Pokoknya aku gak mau tahu harus dapat hari ini."
Pelayan toko tersebut lalu memberitahu bahwa masih ada kostum yang tersedia namun kostum badut.
"Bagaimana Tuan kostum badutnya jadi dibeli atau tidak?"
"Jadi Mbak. Saya bayar sekarang."
Karin tersenyum senang kostumnya ada. Ya meskipun kostum badut tapi yang penting kan kostum Lebah. Setelah itu mereka makan siang terlebih dahulu.
"Mas, nanti saat mau pulang ke rumah kan ada taman. Kamu pakai kostumnya di sana ya Mas?"
"Apa tidak di rumah saja sayang?"
"Tidak Mas. Lebah kan adanya di taman tidak di rumah."
"Pintar kamu Karin," ucap Rey mendukung Karin.
Mereka lalu setelah makan dan keluar dari mall langsung menuju taman. Sekarang Yudha sudah memakai kostum Lebahnya. Semua orang tertawa melihat Yudha. Termasuk kedua anaknya.
"Papa ucu..." [Papa lucu...]
"Ini demi adik kamu nak, Papa jadi seperti ini."
Sedangkan Rey dan Risa tertawa terpingkal-pingkal melihat Seorang pengusaha kuliner sekarang tiba-tiba beralih profesi menjadi badut demi istrinya yang lagi ngidam.
"Sayang, senyum dong." Karin menyiapkan kameranya dan akan memfoto suaminya.
"Panas sekali sayang. Lihatlah matahari sedang muncul tepat di atas kepala kita. Gerah banget ini pakai beginian."
"Sudahlah jangan protes cepat tersenyum!"
Dengan terpaksa Yudha tersenyum dan Karin memfotonya.
"Lebah yang imut," ucap Karin sambil melihat hasil foto jepretannya.
Keifano dan Keisha tertawa melihat Papanya menjadi Lebah.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Gift dari kalian sangat membantu author untuk naik peringkat rangking 😊
Terima kasih yang sudah kasih gift author 💙
__ADS_1