
Papa Cassandra lalu menyusul anaknya ke kantor polisi. Cassandra menangis tersedu-sedu dihadapan Pak Candra. Dia ingin dibebaskan saat ini juga.
"Papa, tolong bebaskan aku."
"Kamu kenapa tidak berpikir dulu sebelum bertindak sih nak. Keluarga Alexander itu tidak akan tinggal diam jika ada keluarganya yang disakiti."
"Papa, aku tahunya Keifano berasal dari Keluarga Sanjaya."
"Itu kan Papanya Keifano yang dari Keluarga Sanjaya kalau Mamanya dari Keluarga Alexander, keluarga terpandang di negeri ini."
"Papa, Cassandra harus bagaimana?"
"Huh, kamu ini bikin Papa pusing saja sih nak. Masalah kamu sangat berat nak. Jika mereka tidak mau mencabut tuntunannya maka kamu akan lama di sini."
"Aku tidak mau lama-lama di dalam sini Papa. Sangat mengerikan sekali."
Keifano sudah melaporkan Cassandra dengan laporan tuduhan pembunuhan berencana dan juga sopirnya siap untuk menjadi saksi atas korban tabrak lari.
...*****...
Sebulan kemudian, Cassandra merasakan pusing dan lalu tiba-tiba pingsan. Pihak polisi lalu mengurusnya. Cassandra terkejut saat Dokter menyatakan dirinya positif hamil saat ini. Sekarang dia sudah kembali lagi ke dalam jeruji besi tersebut.
"Aku tidak mau hamil anak Om Tama," ucap Cassandra sambil memukul perutnya.
"Kamu keluarlah dari dalam perutku hei anak yang tidak diinginkan!" teriak Cassandra kembali.
"Jangan berisik!"
Tak lama kemudian Cassandra merasakan perutnya mulai sakit. Teman satu jeruji besinya itu lalu berbicara kepadanya karena Cassandra masih saja memukul perutnya dan tidak ingin mengandung anak dari laki-laki yang dia tidak cinta.
"Jika kamu seperti itu terus yang ada anak kamu akan meninggal."
"Memang yang aku inginkan seperti itu dan aku tidak ingin mengandungnya apalagi sampai melahirkannya."
"Astaga, dasar wanita kejam. Anak sendiri saja mau kamu bunuh."
"Iya dasar kejam, aku saja yang keguguran sampai saat ini tidak bisa hamil lagi," ucap teman yang satunya.
Cassandra matanya membola dengan sempurna. Dia takut jika setelah keguguran dan tidak akan bisa hamil lagi. Maka pupus sudah harapannya untuk bisa menikah dan hamil anak Keifano. Cassandra lalu merutuki kebodohannya karena ingin menyingkirkan anaknya.
__ADS_1
"Arghhh, perutku sakit sekali," pekik Cassandra sambil memegang perutnya.
Orang yang berada dalam satu jeruji besi itu lalu berteriak minta tolong. Melihat kondisi Cassandra yang sudah sangat pucat pada akhirnya Cassandra lalu dilarikan ke rumah sakit. Papanya sangat terkejut saat ditelpon pihak kepolisian. Kini ia mengetahui anaknya saat ini mengalami pendarahan. Papanya baru tahu bahwa anaknya itu sedang hamil. Ia bingung anaknya hamil sama siapa dan setahu ia anaknya itu sudah putus sama mantan kekasihnya. Dengan segera Papanya pergi ke rumah sakit dan meminta penjelasan sama anaknya tentang bayi yang ada dalam kandungannya.
Kandungan Cassandra baik-baik saja. Cassandra menyesal telah berbuat seperti itu. Pintu hatinya terbuka saat ada perawat yang menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Cassandra lalu mengusap perutnya yang masih rata. Dia lalu bisa menerima anaknya saat ini.
"Maafkan Mama sayang. Tadi Mama hanya terkejut saja saat tahu kamu ada dalam perut Mama," ucapnya lirih.
Bagaimanapun juga sebentar lagi Cassandra akan menjadi seorang ibu. Cassandra tidak menyangka kehidupannya akan seperti ini. Dia akan membesarkan anaknya sendiri dan tidak mau menikah dengan Tama meskipun Tama bercerai dari istrinya. Pintu lalu terbuka dan Cassandra ketakutan saat melihat siapa orang yang datang dan tak lain adalah Papanya. Pihak polisi telah menghubunginya dan langsung menuju ke rumah sakit.
"Papa......"
"Cassandra katakan siapa ayah dari bayi yang ada dalam perutmu?"
Cassandra hanya diam saja dan tidak ingin Papanya tahu bahwa saat ini dirinya mengandung anak dari Pratama, anak dari sahabat Papanya.
"Papa sudahlah, Papa juga tidak peduli kan sama aku?"
"Papa akan membebaskan kamu dari penjara asalkan kamu bilang siapa ayah dari bayi yang sedang kamu kandung. Laki-laki itu harus menikahi kamu."
"Tidak mau. Aku bisa mengurusnya sendiri. Anakku tidak butuh ayahnya."
"Sangat malu sekali jika Papa tahu aku mengandung anak dari Om Tama." Batin Cassandra.
"Pa, apa tidak ada pilihan lain selain menikah dengan ayah dari bayi yang sedang aku kandung?"
"Tidak! Pria itu harus menikahi kamu. Bagaimanapun juga ia adalah ayahnya."
"Bagaimana keputusan kamu?" ucapnya kembali.
"Aku tetap tidak ingin menikah dengan ayah dari bayi yang sedang aku kandung titik!"
"Ya sudah kamu nikmati saja terus-terusan dalam jeruji besi."
"Apa Papa tidak kasihan padaku? Aku anak kandungmu dan saat ini aku sedang mengandung cucu Papa."
"Kamu tidak menurut denganku. Maka kamu bukanlah anakku lagi. Oh iya sebulan lagi aku akan datang untuk menemui kamu. Jika kamu masih saja tetap tidak ingin bicara siapa ayah dari bayi yang sedang kamu kandung dan tidak mau menikah dengannya maka kamu siap-siap saja tidak akan bisa kembali lagi menginjakkan kaki di rumahku. Kamu bukan lagi anakku setelah ini karena aku akan mencoret nama kamu dari daftar warisan."
"Papa jangan seperti ini."
__ADS_1
"Pikiran kembali apa yang Papa katakan padamu. Aku pergi dulu dan sebulan lagi Papa akan mengunjungi kamu di kantor polisi."
Cassandra sangat bingung saat ini. Jika tidak bicara siapa ayah dari bayi yang sedang dikandungnya dan menikah dengan pria itu maka Papanya tidak akan membantu untuk keluar dari penjara dan bahkan mencoret namanya dari daftar warisan. Papanya sebenarnya hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Ia kasihan jika melihat anaknya yang tengah mengandung dan masih dalam penjara. Maka ia tadi memberikan pilihan kepada Cassandra agar anaknya bisa terbebas dari jeruji besi itu dan menikah dengan ayah dari sang bayi yang dikandungnya.
Papanya Cassandra setelah ke rumah sakit ia ke tempat sahabatnya. Hanya sahabatnya yang bisa memberikannya solusi.
"Ada apa Candra? Kenapa kamu terlihat murung seperti ini?"
"Anakku dipenjara Putra dan dia hamil entah sama siapa. Dia tidak mengaku siapa ayah bayi yang sedang dikandungnya."
"Apa? Cassandra dipenjara dalam keadaan hamil?" tanya Tama yang seketika duduk dan ikut mengobrol.
"Iya nak. Laki-laki itu harus segera menikahinya. Aku akan mengurus untuk kebebasannya dengan jaminan uang. Tapi anakku tidak mengakui siapa ayah dari bayi yang sedang dia kandung."
"Mungkin ini saat yang tepat agar menjadi alasanku untuk bercerai dengan Sofia." Batin Pratama.
"Om Candra. Cassandra hamil anakku," lirihnya.
Akhirnya Pratama mengaku bahwa dirinya adalah ayah dari anak yang sedang Cassandra kandung. Putra sangat terkejut saat anaknya mengakui bahwa anak yang sedang Cassandra kandung adalah cucunya sendiri.
"Apa??" Candra maupun Putra terkejut.
Candra lalu beranjak dari tempatnya duduknya dan lalu membogem Tama. Pratama tidak melawan karena dirinya yang salah karena telah menghamili Cassandra saat masih beristri.
"Pantas saja Cassandra tidak mau mengaku siapa ayah dari bayi yang sedang dia kandung dan ternyata itu kamu? Pria yang sudah beristri."
"Om Candra, Tama bisa jelaskan semuanya. Om jangan terbawa emosi."
"Jelaskan pada kami nak awal kamu dan Cassandra bisa bersama dan akhirnya sampai Cassandra hamil," ucap Putra.
Sedangkan Candra masih tidak terima jika anaknya telah ternodai. Apalagi yang menodainya laki-laki yang sudah beristri. Tama sudah menceritakan semuanya. Mereka sempat terkejut saat mendengar cerita dari Tama.
"Om kecewa sama kamu Tama! Kamu laki-laki kurang ajar. Berani-beraninya menyentuh putriku sampai dia hamil," ucap Candra sambil menampar pipi Tama.
"Maaf Om. Tapi kita melakukannya atas dasar sama-sama suka waktu itu. Kita malam itu tengah mabuk bersama-sama."
"Kamu harus menceraikan Sofia dan menikahi Cassandra. Bagaimanapun juga saat cucuku nanti lahir harus sudah punya ayah."
"Akhirnya Papa menyuruhku juga untuk menceraikannya." Batin Pratama bahagia.
__ADS_1