Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 69 - Pendarahan


__ADS_3

Yudha sudah sampai di hotel. Yudha bertanya kepada resepsionis istrinya menempati kamar nomor berapa. Setelah tahu keberadaan istrinya Yudha langsung masuk ke lift dan menekan tombol 23. Yudha tadi meminta kartu akses untuk masuk ke kamar istrinya.


Setelah sampai didepan kamarnya. Yudha mengatur nafasnya. Yudha akan langsung membogem Vino jika ketahuan sedang berduaan bersama dengan istrinya. Dengan cepat Yudha membuka kamar hotel tersebut melalui kartu aksesnya. Seketika Karin terkejut pintu kamarnya terbuka dan melihat suaminya sudah berada di kamarnya.


"Mas? Mas Yudha kok tahu kalau aku di hotel ini?"


Yudha berjalan mendekati Karin. Sedangkan Karin saat ini takut dengan tatapan suaminya. Perlahan Karin memundurkan tubuhnya dan akhirnya sampai mentok ke sofa. Tidak ada pilihan lain, Karin akhirnya duduk di sofa samping ranjang king size tersebut.


"Di mana kamu menyembunyikannya laki-laki itu?"


Karin mengeryitkan dahinya, bingung dengan siapa laki-laki yang dimaksud suaminya.


"Jawab Karin!"


"Laki-laki siapa Mas? Di sini tidak ada laki-laki lain selain kamu."


"Bohong! Aku mencium bau parfum laki-laki di kamar ini. Cepat katakan di mana kamu sembunyikan laki-laki itu!" ucapnya dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


"Aku tidak menyembunyikan laki-laki di kamar ini Mas," ucap Karin yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


Yudha lalu mencari Vino di kolong tempat tidur dan lalu ke kamar mandi sampai ke almari pakaian. Namun tidak menemukan Vino di kamar hotel yang Karin tempati.


"Di mana kamu menyembunyikannya?"


"Aku tidak menyembunyikan laki-laki siapapun. Cukup ya Mas! Kamu sudah menuduhku sembarangan."


"Kalau begitu coba kamu jelaskan ini!" Yudha lalu meraih ponselnya dan memperlihatkan foto yang tadi dilihatnya.


Karin matanya terbelalak saat melihat foto tersebut.


"Mas hanya salah paham. Ini bukan kejadian yang sebenarnya."


"Lalu kejadian yang sebenarnya seperti apa Karin?Di sini tercium parfum laki-laki saat aku masuk tadi."


"Tadi memang ada laki-laki masuk ke dalam kamarku. Tapi hanya mengantarkan mukena dan sajadah saja dan itu juga atas perintah Kak Rey. Kalau kamu tidak percaya itu sajadah dan mukenanya ada di sana," ucap Karin menunjuk ke meja samping sofa. Tadi Karin meletakkan mukena dan sajadahnya di sana.


Memang benar di meja samping sofa ada mukena dan sajadah yang sudah dilipat dengan rapi.


"Mas percayalah kepadaku, aku tidak mungkin berselingkuh atau berniat sedikitpun untuk mengkhianati kamu."


"Aku tidak percaya padamu. Kamu sudah membohongiku dengan meminum pil penunda kehamilan selama berbulan-bulan. Lalu kebohongan apalagi yang belum aku ketahui darimu?"

__ADS_1


"Atau kamu sengaja ya menyuruh Vino pergi dulu karena aku pasti akan datang menemuimu," ucapnya kembali.


"Kamu semakin mengada-ada bicaranya Mas!" Karin kini sudah terbawa emosi.


Melihat Karin terbawa emosi Yudha jadi teringat dengan foto Karin dan Vino di taman disaat Vino menggenggam tangan Karin dan mengecupnya begitu mesra.


"Bagian mana saja selain tanganmu yang disentuh oleh laki-laki itu?"


"Apa maksudmu Mas?" Karin tidak mengerti siapa laki-laki yang dimaksud Yudha.


"Vino menyentuh tubuhmu bagian mana saja?"


Karin terkejut suaminya bicara seperti itu. Kini dirinya merasa direndahkan oleh suaminya sendiri.


"PLAKKK..................." Karin menampar wajah suaminya.


"Aku bukan seperti wanita yang kamu pikirkan. Kalau kamu kesini hanya membuatku emosi, lebih baik kamu pulang saja Mas," ucap Karin menatap tajam kearah suaminya.


"Aku tidak akan pulang sebelum aku membuktikannya sendiri."


"Bukti? Apa maksudmu?"


Yudha lalu berjalan mendekati istrinya. Karin berjalan mundur hingga tubuhnya membentur dinding. Dengan cepat Yudha mengecup bibir Karin dengan kasar. Karin lalu mendorong tubuh suaminya. Karin tahu apa yang akan suaminya lakukan. Karin menolaknya karena akan membahayakan janin yang ada didalam perutnya jika melakukannya.


Karin tidak habis pikir suaminya bisa bicara seperti itu dengannya. Karin terdiam sejenak sedang memikirkan sesuatu. Namun Yudha memanfaatkan itu dengan mendorong tubuh Karin dengan keras sehingga Karin sekarang berada di ranjang.


"Mas, aku tidak mau!" ucap Karin perlahan memundurkan tubuhnya.


"Kalau kamu tidak mau, berarti kamu ada hubungan spesial dengan Vino. Kamu pasti sudah berselingkuh dibelakangku kan?"


Karin sekarang pikirannya hanya akan menyelamatkan anaknya yang masih didalam kandungannya. Karin tidak ingin anaknya dalam bahaya. Karin saat ini merasakan perutnya terasa sakit.


"Mas pergilah! Aku tidak ingin melihatmu!" Karin semakin ketakutan saat ini, takut kalau Yudha berbuat macam-macam dengannya.


'


Melihat Karin menggerakkan tubuhnya semakin mundur Yudha lalu melihat darah yang ada di seprei berwarna putih tersebut. Yudha tersenyum, Yudha mengira Karin saat ini sedang datang bulan dan tuduhannya memang salah jadi Vino pasti tidak akan berbuat sampai sejauh itu. Pikiran Yudha saat ini adalah Karin tidak mau melakukan hubungan suami istri karena dirinya sedang kedatangan tamu bulanannya.


"Baiklah aku akan pulang sayang. Tapi besok aku akan menjemputmu," ucapnya dengan lembut sambil mengelus rambut panjang istrinya.


Karin menepis tangan Yudha. Karin sungguh kecewa Yudha menuduhnya yang tidak-tidak dengan Vino. Setelah Yudha pergi Karin masih merasakan sakit dibagian perutnya. Karin lalu meraih ponselnya. Karin membulatkan matanya saat melihat darah yang mengalir sampai ke kakinya.

__ADS_1


"Anakku......." Lirihnya sambil memegang perutnya.


Karin kembali duduk di ranjang dan lalu menelepon Rey.


"Hallo.. Kak Rey.. Tolongin Karin Kak.... Arghhh sakit...." Teriaknya.


"Kak Rey dan Kak Risa akan segera kesana. Karin, ini Kakak kebetulan sedang di jalan. Tunggulah sebentar lagi kami akan sampai."


Setelah itu Karin tidak menjawab teleponnya dan menutup teleponnya begitu saja.


"Nak bertahanlah....." Karin sambil memegang perutnya.


"Ini semua gara-gara Kak Yudha yang mendorongku dengan kasar tadi. Awas saja sampai anakku kenapa-kenapa. Aku tidak akan memaafkannya."


10 menit kemudian Risa dan Rey sudah berada di hotel. Rey meminta kartu akses untuk masuk ke kamar Karin. Risa dan Rey membolakan matanya saat melihat Karin sudah tak berdaya. Wajahnya terlihat pucat dan sudah ada darah dikakinya.


"Kak Rey.. Kak Risa.. Tolong bayiku.. Selamatkan dia..."


"Astaga Karin, kamu pendarahan." Risa lalu menutup mulutnya dengan tangannya.


"Sayang kamu gendong Karin ya. Aku akan memberitahu Yudha tentang hal ini."


Rey mengangguk dan langsung mendekati Karin dan akan menggendongnya.


"Kak Risa, tolong jangan beritahu Kak Yudha. Ini semua karena ulahnya. Nanti aku akan menceritakan semuanya secara detail. Kak Yudha tadi mendorongku dengan keras di ranjang sampai aku pendarahan seperti ini. Kak Yudha sedang salah paham dan marah kepadaku."


"Apa??" Risa dan Rey terkejut saat mendengar penjelasan dari Karin.


"Tolong jangan beritahu Mama dan Papa terlebih dahulu. Nenek sedang sakit aku takut kalau sampai terdengar nenek akan berakibat fatal."


"Hmm baiklah. Ayo kita ke rumah sakit sekarang kalau begitu."


Dengan cepat Rey menggendong Karin. Setelah sampai mobil Karin berada di belakang bersama Risa. Sedangkan didepan ada Reno dan Rey.


"Karin gimana kondisi kandungan kamu saat kamu periksa?"


"Aku belum periksa kandunganku dan aku baru tahu aku hamil baru kemarin."


"Arghhh... Kak Risa sakit sekali perutku," ucapnya kembali.


"Bersabarlah sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Sekarang Karin sudah pingsan dan Risa semakin cemas dengan kondisi sepupunya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Karin sudah masuk ke ruang ICU. Rey dan Risa sedang duduk di kursi luar menunggu sang dokter keluar dari ruangan. Reno tertidur dipangkuan Risa dengan kakinya menekuk di kursi dan kepalanya berada dipaha Risa. Risa cemas dengan keadaan sepupunya saat ini. Hal yang Risa takutkan adalah kalau nanti Karin akan kehilangan bayinya. Karena Risa juga pernah mengalami hal yang sama. Risa pernah pendarahan waktu itu saat hamil Reno dan untung saja saat itu bayinya bisa diselamatkan karena saat itu kandungan Risa terakhir periksa kuat. Namun Risa sempat kritis dan koma saat itu setelah terjadi pendarahan. Akhirnya kandungannya jadi lemah dan Risa harus meminum obat penguat kandungan dari dokter.


Namun saat ini Karin belum pernah periksa kandungannya dan Risa takutnya kondisi janinnya lemah karena jika kondisi janinnya lemah kemungkinan besar bisa terjadi keguguran.


__ADS_2