Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 22 - Mau Menerima Perjodohan


__ADS_3

DI RUMAH ALYA


Alya sudah sampai di rumahnya. Hari ini toko kuenya sangat laris manis jadi mereka pulang sebelum Magrib.


"Nak, tumben pulang cepat?"


"Iya Ma Alhamdulillah. Toko lagi rame banget tadi Ma. Alya juga bantuin karyawan tadi melayani pembeli."


"Ah iya ini pasti berkat nak Dion juga yang tadi memborong kue-kue dan brownies di toko." batin Sofie.


"Alhamdulillah, Mama juga lagi dapat arisan sayang.


"Wah Alhamdulillah ya Ma. Hari ini kita dapat berkah rezeki yang berlimpah."


"Iya nak. Minggu depan kan jatahnya arisan di rumah kita. Nanti kamu luangkan waktumu sebentar ya nak. Mama ingin memperkenalkan kamu dengan teman Mama."


"Iya Ma."


Sofie ingin memperkenalkan Alya dengan Marisa mamanya Dion. Sofie dan Marisa belum tahu kalau Alya dan Dion bahkan sudah saling kenal.


"Nak apakah kamu sudah punya pandangan yang akan menjadi pendamping hidupmu?"


"Belum Ma. Alya masih muda baru mau nyusun skripsi. Kok mama ngomongin ke situ? Alya belum punya pandangan untuk calon suami Alya."


"Nak misalkan ada seorang Hafidz Qur'an apakah kamu mau kalau mama kenalkan kamu dengannya? Sepertinya laki-laki itu cocok dengan kriteria calon suamimu anaknya baik dan sopan santun."


"Maksud Mama Alya akan dikenalkan dengan siapa?"


"Mama berniat ingin menjodohkan kamu dengan anak teman mama yang seorang Hafidz Qur'an. Tapi umurnya lebih muda darimu nak dan sekarang ia masih kuliah. Gimana nak apakah kamu mau?"


"Astaga Mama ingin menjodohkan aku dengan brondong? Yang benar saja Ma? Apa kata Papa nanti kalau calon suami Alya usianya lebih muda dariku dan apalagi omongan tetangga. Alya tidak mau Ma."


"Nak, katanya kamu ingin mempunyai calon suami yang bisa menuntunmu ke jalan Allah. Sudah ada yang seperti kriteria yang kamu inginkan dan hanya permasalahan umur saja kok sayang gak masalah kan?"


"Ma..... Kalau usianya lebih muda dari Alya pasti sifatnya kekanak-kanakan Ma. Alya gak mau Ma, nanti bukannya ia yang bimbing Alya tapi Alya yang harus membimbingnya."


"Tidak sayang. Mama lihat dia sepertinya anak yang mandiri dan baik. Kamu coba berkenalan dulu dengannya ya nak?"


"Tapi Ma....."


"Coba dulu sayang. Umur tidak bisa mencerminkan kedewasaan seseorang. Meskipun ia terlihat lebih muda darimu tapi yang mama lihat tadi ia bisa bersikap dewasa dan sopan santun."


Mama Sofie tidak menyebutkan nama Dion. Alya jadi penasaran dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Alya terdiam sejenak sambil memikirkan perkataan Mama Sofie.


"Baiklah Ma Alya mau menerima perjodohan ini. Alya nurut apa kata Mama," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Mama Sofie lalu memeluk Alya dan Alya membalas pelukannya.


"Terima kasih sayang kamu telah menyetujuinya, padahal kamu belum melihat wajah laki-laki yang dijodohkan denganmu seperti apa."


"Alya percaya pilihan Mama pasti yang terbaik buat Alya." Alya lalu melepaskan pelukannya.


"Baiklah sayang. Nanti Mama akan bicarakan ini sama Papa kamu. Papa kamu pasti akan setuju. Feeling Mama tidak mungkin salah."


"Iya Ma. Alya ke kamar dulu ya Ma. Alya mau mandi."


"Ok nak."


Mama Sofie tersenyum anaknya mau dijodohkan dengan laki-laki pilihannya, meskipun mereka belum bertemu. Tapi Alya yakin bahwa pilihan Mama Sofie tidaklah salah. Mama Sofie juga ingin yang terbaik untuk anaknya, Mama Sofie ingin menantunya kelak bisa membimbing anaknya ke jalan Allah sesuai kemauan Alya. Mama Sofie yakin bahwa Dion adalah laki-laki yang tepat untuk mendampingi Alya. Meskipun usianya lebih muda tapi Mama Sofie yakin Dion pikirannya dewasa."


...*****...


DI RUMAH DION


Papa Edwin Hendrawan sudah pulang dari kantornya. Mama Marisa menyambut suaminya dengan senang sambil membawakan teh hangat untuk Papa Edwin. Seperti biasa Mama Marisa sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Papa Edwin duduk di sofa ditemani istrinya.


"Papa minum dulu tehnya selagi hangat." sambil menyodorkan secangkir teh.


"Iya Mama makasih ya." Papa Edwin laku menyeruput tehnya.


"Apa Dion sudah tau bahwa akan dijodohkan dengan anak teman Mama itu?"


"Dion belum tahu Pa. Maka dari itu Mama ingin kasih tahu Papa terlebih dahulu. Anaknya jeng Sofie sepertinya perempuan baik-baik Pa. Jeng Sofie pernah cerita bahwa anaknya tidak pernah dekat dengan laki-laki lain karena anaknya selalu menundukkan pandangannya jika melihat laki-laki."


"Wah bagus tuh Ma. Papa setuju saja sih Ma."


"Tapi Pa usianya lebih dewasa tiga tahun dari Dion. Apa Papa tetap setuju?"


"Umur kan gak jadi masalah Ma. Nabi dulu juga bahkan menikahi perempuan yang terlampau usianya lebih jauh darinya."


"Baiklah kalau Papa setuju. Nanti kita bicarakan sama Dion ya setelah makan malam."


"Iya Ma. Biar Papa saja nanti yang mulai pembicaraannya. Kan Dion akan nurut apa kataku. Ya udah Papa mau mandi dulu ya Ma."


"Iya Pa."


Papa Edwin lalu berjalan menuju kamar mandinya. Mama Marisa senang ternyata suaminya juga setuju untuk menjodohkan Dion dengan Alya.


...*****...


Sekarang hari sudah malam. Dion sudah mandi dan sholat berjamaah bersama kedua orang tuanya. Mereka akan makan malam bersama.

__ADS_1


DI RUANG MAKAN


"Nak, ada yang Papa mau bicarakan sama kamu. Nanti setelah kita selesai makan malam. Temuin Papa di ruang keluarga."


"Iya Pa. Dion juga ada yang mau Dion bicarakan sama Papa."


"Baiklah. Sekarang lanjutkan makannya."


Dion mengangguk. Lalu mereka makan bersama dengan keadaan hening hanya suara sendok dan garpu yang terdengar di meja makan.


...*****...


DI RUANG KELUARGA


Papa Edwin sudah duduk di kursinya. Mama Marisa duduk disamping Dion.


"Nak, tadi kamu mau bicara apa sama Papa?"


"Ehm... Begini Pa, Dion ingin bekerja di tempat Papa sambil kuliah. Dion Ingin menjadi anak yang mandiri Pa."


Setelah Dion melihat Alya di toko kue tadi Dion jadi tidak ragu dengan saran Surya sahabatnya itu untuk menikahi Alya. Maka dari itu Dion ingin bekerja di perusahaan Papanya. Namun Dion belum berani bilang dengan kedua orang tuanya jika berniat ingin menikahi Kakak kelasnya itu. Papanya tersenyum saat anaknya ingin bekerja di kantornya.


"Baiklah Papa akan kabulkan permintaan kamu nak tapi kamu juga harus nurut sama Papa."


"Iya Pa. Dion pasti nurut sama Papa."


"Papa ingin menjodohkan kamu dengan anak teman Mama kamu," ucapnya kembali.


"Uhukk.... Uhukk......" Dion yang lagi makan biskuit tersedak mendengar perkataan Papanya.


Mama Marisa mengambilkan minum untuk anaknya.


"Papa menjodohkan Dion dengan siapa?"


"Anak teman Mama Jeng Sofie yang tadi kamu ketemu dengannya," ucap Mama Marisa.


Sekilas Dion mengingat wajah teman mamanya yang namanya Sofie tadi.


"Mamanya aja cantik, bagaimana dengan anaknya ya? Eh mikir apa sih aku ini. Aku kan sudah berniat untuk bersama dengan Kak Alya. Aku iyain aja dulu perkataan Papa. Nanti kalau Kak Alya entar sudah menerimaku, akan ku kenalkan dengan Papa Mama dan membatalkan perjodohan ini." batin Dion.


"Iya Pa Dion mau menerima perjodohan ini."


Mama Marisa dan Papa Edwin tersenyum senang anaknya mau dijodohkan dengan pilihannya. Karena sudah tidak ada harapan lagi untuk Dion bersama dengan Karin karena Karin juga sudah memiliki calon suami.


Dion sudah memantapkan hatinya dengan Alya. Dion tidak ingin kehilangan wanita yang ia suka untuk ketiga kalinya. Cukup Selena dan Karin yang ia tidak bisa dapatkan hatinya. Dion sekarang benar-benar ingin mendapatkan hatinya Alya. Dion yakin suatu saat nanti Alya akan mencintainya seiring dengan berjalannya waktu.

__ADS_1


__ADS_2