Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Langsung Gaspol


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Keifano lalu ingin mengajak istrinya tidur. Karena matanya sudah mengantuk dan badannya pegal-pegal karena hampir seharian mereka duduk dan berdiri di kursi pelaminan menyalami tamu undangan yang datang. Keifano juga melihat beberapa kali Anisa menguap.


"Istriku, sudah malam dan waktunya kita untuk tidur," ucap Keifano.


Anisa hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Saat Anisa akan beranjak dari tempat duduknya Keifano dengan cepat menggendong Anisa ala bridal style menuju ke ranjang berukuran king size tersebut. Anisa terkejut bukan main saat suaminya menggendongnya.


"Keifano, turunkan aku," ucap Anisa pelan.


Keifano tidak menghiraukan perkataan istrinya dan terus berjalan mendekati ranjangnya. Keifano mendudukkan Anisa dengan pelan di ranjangnya. Sekarang Anisa sudah duduk di ranjang berukuran king size tersebut. Keifano juga sudah naik ke ranjang.


"Selamat tidur istriku. Semoga mimpi yang indah," ucap Keifano yang lalu mendaratkan kecupannya di kening Anisa.


"Selamat tidur juga suamiku," ucap Anisa tersipu malu.


Mereka lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang dan saling berhadapan. Anisa mencoba untuk memejamkan matanya namun beberapa saat kemudian Keifano membolak-balikkan tubuhnya. Anisa lalu ingin bertanya karena Keifano dari tadi tak kunjung tertidur.


"Ada apa suamiku? Sepertinya kamu susah untuk tidur."


"Aku tidak bisa tidur. Biasanya ada guling yang selalu aku gunakan. Karena tidak ada guling bolehkah aku memelukmu?" ucap Keifano meminta izin kepada Anisa.


"Hmm iya boleh," jawabnya singkat.


Keifano lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Anisa jantungnya berdetak tak beraturan saat ini. Keifano lalu memeluk istrinya dan menghirup aroma shampo yang dipakai istrinya. Keifano memeluk Anisa layaknya guling yang sering ia pakai di kamarnya. Tak lama kemudian mereka menuju ke alam mimpinya masing-masing. Seharusnya malam ini menjadi malam pengantin bagi mereka, namun mereka memutuskan untuk tidur karena terlalu lelah menggelar resepsi pernikahan sampai malam.


Berbeda dengan pasangan yang tengah dimabuk asmara. Yudha tidak ingin kalah dengan anaknya. Yudha tiba-tiba saja menggiring Karin ke ranjang.


"Sayang, aku tidak mau kalah dengan anak kita."


Karin membolakan matanya saat Yudha berbicara seperti itu.


"Mas, sudah malam. Kamu lihat sudah hampir jam sebelas. Besok kalau aku bangunnya kesiangan gimana?"


"Sebentar saja ya sayang?" tawar Yudha.


"Hmm, ya sudah, janji kan hanya sebentar saja?"


Yudha mengangguk. Sebentarnya Yudha memakan waktu satu jam lebih.


Pagi hari Anisa masih merasakan pelukan hangat dari suaminya. Anisa melihat ke arah jam dinding dan pas terdengar adzan subuh.


"Astagfirullah, aku sampai lupa sholat tahajud," ucap Anisa yang tertidur saking nyenyaknya karena ada suaminya memeluknya.


"Suamiku, bangun. Sudah adzan subuh, kita sholat berjamaah yuk," ucap Anisa menepuk pipi suaminya.

__ADS_1


"Sebentar lagi ya sayang, aku masih ngantuk sekali," ucap Keifano yang lalu mengeratkan pelukannya.


"Keifano memanggilku sayang?" ucap Anisa lirih.


Anisa tersenyum bahagia saat ini karena Keifano memanggilnya dengan sebutan sayang. Beberapa saat kemudian Anisa akan mencoba membangunkan suaminya.


"Kei, bangunlah. Nanti waktu subuhnya habis."


Keifano lalu mengucek matanya dan duduk.


"Aku bahagia mempunyai istri sepertimu. Mengajakku dalam hal kebaikan."


"Sebagai muslim kita harus saling mengingatkan. Yuk kita sholat subuh berjamaah."


"Iya," ucap Keifano yang langsung beranjak dari ranjangnya.


Mereka lalu wudhu bergantian. Anisa sekarang sudah menggunakan mukenanya. Keifano menggunakan peci dan sarungnya. Saat ini mereka pertama kali melakukan sholat berjamaah. Anisa tadi mendengar suara suaminya sangat merdu melantunkan beberapa ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Setelah mereka sholat berjamaah Anisa dan Keifano lalu duduk di sofa. Keifano ingin tahu kisah cinta Anisa yang selama ini belum ia ketahui.


"Anisa ceritakan kisah cintamu. Aku ingin mendengarkannya. Pasti kamu pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Aku ingin tahu tentang hal itu."


Anisa tersenyum tipis.


Keifano tersenyum saat Anisa mengatakan bahwa dirinya adalah cinta pertamanya. Keifano akan mencoba belajar mencintai Anisa.


"Terimakasih telah mencintaiku. Aku butuh waktu untuk mencintaimu."


"Iya, aku akan menunggumu sampai kamu bisa mencintaiku."


"Aku butuh kamu agar bisa membantuku," ucap Keifano.


Anisa menganggukkan kepalanya pertanda menjawab iya. Tak lama kemudian ponsel Keifano berbunyi dan ada panggilan telepon dari Yudha.


"Papa telepon," ucap Keifano sambil memperlihatkan layar hp.


"Angkat saja suamiku, siapa tahu penting."


Keifano lalu mengangkat telepon dari Papanya.


"Nak, gimana? Apakah kamu sudah merasakan yang namanya surga dunia tadi malam?"


"Maksud Papa apa?" tanya Keifano yang belum mengerti.

__ADS_1


"Kamu sudah melaksanakan kewajiban kamu sebagai suami belum?" tanya Yudha menyelidik.


"Belum Papa," ucap Keifano jujur yang sekarang membuat Yudha tercengang padahal semalam Yudha justru yang merasakannya.


"Jangan bilang sampai pagi ini kalau kamu masih perjaka nak," ucapnya kembali.


"Memang masih Papa. Memangnya kenapa sih Pa?" tanyanya penasaran karena Papanya bertanya ke hal-hal yang menurutnya bersifat privasi.


"Astaga nak... Kamu ini gimana sih? Dulu saja waktu malam pengantin Papa langsung gaspol sama Mamamu," ucap Yudha yang teringat saat masa-masa indah beberapa tahun yang lalu bersama Karin.


"Ehem......." Karin berdehem saat mendengar percakapan antara Yudha dan Keifano. Karin bisa menebak Yudha sedang menelepon anaknya.


"Eh, sudah dulu ya nak. Kalian selamat bersenang-senang dan segera berikan Papa cucu yang lucu-lucu," ucapnya yang lalu menutup teleponnya.


"Mas, bicara yang tidak-tidak ya sama Keifano?"


"Sayang, ternyata mereka belum melakukan malam pertama," ucap Yudha mengalihkan pembicaraan.


"Apa mereka belum melakukannya juga?" Karin terkejut.


"Iya sayang, barusan aku tanya langsung sama Keifano."


"Gimana sih anak itu. Bagaimana aku cepat punya cucu kalau mereka bahkan belum melakukannya."


"Sayang, tenang saja. Nanti kita pikirkan lagi agar bisa punya cucu."


Di kamarnya Keifano sedang mencerna perkataan Papanya.


"Papa ini aneh masa saat aku bilang masih perjaka Papa sampai terkejut seperti itu. Memang apa salahnya coba." Batin Keifano.


"Suamiku, tadi Papa Yudha tanya apa?"


"Papa ingin segera punya cucu dari kita," ucap Keifano tidak mau membohongi istrinya. Karena mereka sudah sepakat untuk saling terbuka dan berkata jujur agar rumah tangga mereka tidak ada konflik.


"Hah? Papa ingin cucu?" tanya Anisa terkejut.


"Iya Anisa. Kita akan berikan mereka cucu setelah kita sama-sama saling mencintai. Kamu mau kan menungguku sampai benar-benar aku mencintaimu?" ucap Keifano menatap wajah cantik istrinya.


"Iya, aku akan menunggumu sampai kapanpun."


"Terimakasih," ucap Keifano sambil menggenggam tangan Anisa.


Anisa bahagia Keifano berkata jujur kepadanya. Anisa akan membuat Keifano perlahan untuk mencintainya. Anisa berharap rumah tangganya akan baik-baik saja dan tidak akan ada pelakor ataupun pebinor. Anisa ingin rumah tangganya baik-baik saja seperti Abi dan Uminya bahagia sampai menua bersama.

__ADS_1


__ADS_2