
Dosennya memberikan tugas dan setelah selesai mengajar dosennya keluar dari kelas.
"Eh bro gimana? Apa kamu sudah pikirkan caranya untuk mendekati Kak Alya?"
"Aku belum tahu bro. Selama ini aku hanya mengaguminya dalam diam."
"Hadehh.. Bro kesempatan sudah ada di depan mata saat kamu menjadi asistennya. Jangan kamu sia-siakan kesempatan ini begitu saja. Jangan sampai suatu saat nanti kamu cerita kepadaku kalau kamu menyesal jika kamu kalah cepat dengan orang lain. Karena Kak Alya bisa saja memilih salah satu orang yang mengaguminya menjadi calon suaminya. Kamu tahu kan betapa banyaknya laki-laki yang ingin menjadikannya istri."
Dion terdiam sejenak saat sahabatnya memberikan saran untuknya. Benar apa yang dikatakan Surya. Dion jadi teringat saat tadi baru di perpustakaan saja sudah 2 orang yang mengagumi dan menyukai Alya dan gimana nantinya di luaran sana. Pasti akan banyak saingannya. Dion nyalinya menciut karena yang ingin ia dekati adalah Kakak kelasnya. Dion hanya takut ditolak oleh Alya. Dion takut Alya hanya menganggapnya adik kelas yang beraninya menyatakan cinta dengan wanita dewasa.
"Bro, kita ini masih belum dewasa. Aku juga belum kepikiran untuk menikah. Apalagi kalau untuk menjadi suaminya Kak Alya kan sangat mustahil sekali. Lagian aku tidak tahu tipe laki-laki idaman Kak Alya seperti apa. Bukankah kamu tadi bilang bahwa belum ada yang bisa meluluhkan hati seorang Alya Assyifa wanita yang selalu menghindari pandangannya dari laki-laki."
"Ya kan tidak ada salahnya untuk mencoba bro. Aku hanya memberikanmu saran saja. Secara aku akan melakukan hal yang sama jika aku yang menyentuh tangan Kak Alya. Pasti orang tuanya juga akan setuju kalau kita ada niat baik untuk menikahinya."
"Bro menikah tanpa cinta itu hanya akan sengsara nantinya. Aku tidak mau hal yang seperti itu terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku. Apalagi menikah itu tidaklah main-main dan hanya satu kali seumur hidup."
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Aku yakin itu Dion dan kamu percayalah kepadaku. Kak Alya pasti akan menerima pinanganmu kalau kamu segera memberi tahunya kalau kamu ingin menikahinya. Orang tuamu pasti akan setuju dengan keputusanmu."
"Aku tidak yakin bro. Aku belum memiliki pekerjaan. Selama ini aku hanya menerima uang saku dari kedua orang tuaku. Bagaimana aku bisa menghidupinya jika aku belum bekerja?"
"Kamu bisa meminta pekerjaan dari Papamu dan kamu bisa berkerja part time sambil kuliah. Kamu bisa menghubungiku jika perlu apa-apa bro."
Dion belum menjawab perkataan sahabatnya. Seketika hpnya berbunyi. Dion meraih hpnya dari kantong sakunya. Terlihat nama mamanya yang ada di layar hpnya. Dion lalu mengangkat teleponnya.
📞 Marisa : "Hallo, Assalamualaikum nak."
📞 Dion : "Wa'alaikum Salam Mama."
📞 Marisa : "Kamu sudah selesai kuliahnya nak?"
📞 Dion : "Udah Ma. Ada apa Ma?"
__ADS_1
📞 Marisa : "Mama minta tolong belikan beberapa kue dan satu kotak brownies di toko langganan Mama. Soalnya Mama hari ini ada arisan di rumah."
📞 Dion : "Iya Ma."
📞 Marisa : "Sekarang ya kamu jalan kesana. Mama kasih tahu alamatnya lewat WhatsApp."
📞 Dion : "Ok Ma. Dion akan kesana sekarang."
📞 Marisa : "Hati-hati ya nak. Wassalamu'alaikum."
📞 Dion : "Wa'alaikum Salam Ma."
Tak lama setelah mamanya memutuskan sambungan teleponnya. Ada pesan WhatsApp masuk dari mamanya.
"Surya, aku pergi dulu ya. Mamaku memintaku pergi ke toko kue sekarang juga. Kita bisa bahas lagi mengenai ini besok ya."
"Ok bro. Hati-hati di jalan ya."
"Aku harap kamu mau menikahinya bro. Sebagai laki-laki kamu harus bisa bersikap tegas," ucap Surya lirih.
Surya lalu keluar dari kelasnya dan berjalan menuju parkiran. Surya melihat mobil Dion yang sudah keluar dari kampus. Surya langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke rumah.
23 menit kemudian Dion sudah sampai di toko kue yang diberikan alamat mamanya lewat WhatsApp. Saat Dion akan berbelok ke tempat tersebut Dion melihat mobil Alya terparkir di toko tersebut. Dion berhenti sebentar, Dion melihat Alya tangannya kanannya membawa 3 box nasi di kantong plastik. Sedangkan ditangan kirinya ada 3 box nasi di kantong plastik dan paper bag berlogo buah apel tak utuh itu.
Dion lalu teringat saat Alya tadi bilang kalau dia harus WhatsApp Alya karena Alya akan menghubungi Dion nanti saat Alya membutuhkan Dion untuk mengetikkan naskah skripsinya. Namun Dion saat melihat Alya sedang sibuk Dion mengurungkan niatnya untuk saat ini WhatsApp Alya. Dion nanti sore atau malam akan mengirim pesan WhatsApp ke Alya. Dion terus memantau Alya dari kejauhan, Dion bingung karena Alya membawa 6 box nasi ke dalam toko kue tersebut. Alya sudah berjalan masuk ke toko kuenya.
"Selamat siang Bu Alya," ucap kedua karyawannya, satu berada di kasir dan satunya membukakan pintu untuknya.
"Siang juga. Saya bawa masuk ya makanannya di ruang karyawan. Nanti kalian bergantian makan siangnya."
"Iya Bu," ucapnya bersamaan dengan tersenyum.
__ADS_1
Alya berjalan masuk kedalam. Dibalik tokonya ada ruang dapur, ruang karyawan dan ruang kerjanya bersama asistennya. Alya meletakkan 4 box di ruang karyawan. Sedangkan 2 box nya Alya bawa kedalam ruangannya. Dion semakin bingung saat Alya masuk ke ruang belakang toko kue. Dion lalu memarkirkan mobilnya di depan toko kue tersebut. Tak lupa Dion memakai topi, kacamata hitam dan maskernya.
"Oh Kak Alya jadi bekerja disini rupanya?" gumamnya.
Setelah Alya tidak terlihat Dion lalu masuk ke toko kue tersebut. Kemudian Dion membeli beberapa kue dan brownies pesanan mamanya. Dion berjalan ke kasir untuk membayar yang ia beli. Saat di kasir Dion penasaran dengan Alya bekerja sebagai apa disini.
"Maaf mbak perempuan berhijab tadi yang bawa box nasi itu karyawan disini?"
"Bukan mas. Itu Bu Alya, beliau adalah pemilik toko kue ini."
"Bu Alya?" tanyanya.
"Iya mas Bu Alya. Sebenarnya kami para karyawan tidak boleh memanggilnya Bu karena pemilik toko kuenya masih muda. Tapi kami sangat menghormatinya sehingga kami memanggilnya Bu. Tidak sopan kalau hanya memanggil seorang owner dengan sebutan nama saja atau mbak," ucap sang kasir menjelaskan.
"Oh... Kalian tadi titip makan siang dengan Bu Alya?" tanyanya penasaran.
"Tidak mas. Kami tidak pernah titip makan siang dengan Bu Alya. Bu Alya orangnya baik karena setiap makan siang beliau yang membelikannya untuk kami. Kami kagum karena Bu Alya tidak membeda-bedakan antara makanan karyawan dengan pemilik toko kue ini. Bu Alya selalu membeli makanan yang sama."
"Wah kalian pasti betah ya bekerja disini."
"Iya kami betah mas bekerja disini mas. Kami juga kadang diberikan hadiah oleh Bu Alya jika salah satu dari kami ada yang sedang berulang tahun."
"Ehm kalau boleh tahu kalian sudah pernah dapat kado apa saja darinya?"
"Waktu itu saya dapat kado hp mas. Soalnya hp saya kebetulan layarnya pecah karena habis terjatuh."
Karyawan tersebut lalu memperlihatkan hpnya. Hp karyawan tersebut kira-kira harganya 3 jutaan.
"Kalau saya dapat kado motor mas. Namun saat itu saya sedang tidak berulang tahun. Waktu itu kebetulan motor saya habis dibegal. Saya lebih memilih nyawa saya mas dan mengikhlaskan motor saya. Saya yakin Allah pasti akan menggantinya dan benar saja Allah menggantinya dengan motor baru pemberian dari Bu Alya."
"Kak Alya aku semakin kagum denganmu. Pantas saja semua laki-laki mengagumimu dan berusaha untuk mengejar cintamu. Memang kamu wanita yang pantas untuk diperjuangkan Kak. Kamu wanita yang spesial." batin Dion.
__ADS_1