
Hari ini Dion sedang melajukan mobilnya menuju ke kampusnya. Dion hari ini ada 2 mata kuliah yang harus ia hadiri. Dion memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil Alya sang Bendahara BEM di kampusnya. Alya sudah keluar dari mobilnya dari tadi dan sambil memainkan hpnya masuk ke gedung. Dion terburu-buru ingin segera masuk ke kelas karena ia sudah terlambat datang. Tiba-tiba saja Dion menabrak Alya dan menyebabkan hp Alya jatuh berkeping-keping di lantai.
"Pyar......." hp yang berbahan dari kaca dengan kamera 3 dibelakangnya dan berlogo buah apel tak utuh itu akhirnya pecah karena jatuh di lantai.
Alya membulatkan matanya saat hpnya sudah rusak dan tidak bisa dipakai kembali. Dion tidak minta maaf atau tidak menoleh sama sekali saat sudah menabrak Alya. Ia hanya fokus agar segera sampai ke kelasnya. Alya yang tahu Dion menabraknya lalu berteriak.
"Hei kamu berhenti disitu Adion Hendrawan!"
Dion yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh. Dion terkejut saat melihat siapa wanita yang menyebutkan namanya tadi. Dia adalah Alya Bendahara BEM sekaligus dulu yang mengampu di kelompok Dion saat ospek.
"Ada apa Kak? Dion udah terlambat nih untuk masuk kelas."
"Ada apa kamu bilang? Coba lihat ini." lalu menunjukkan hpnya yang sudah hancur berkeping-keping di lantai.
Dion melongo dan ingat tadi menabrak perempuan yang ternyata itu adalah Alya.
"Maaf Kak Alya, Dion tadi gak sengaja. Dion tadi buru-buru hari ini ada kelas. Nanti Dion ganti ya hpnya. Dion beneran hari ini buru-buru Kak. Besok Dion janji akan ganti hp Kakak dengan yang baru bahkan sama persis warnanya."
Dion langsung berjalan cepat meninggalkan Alya. Alya lalu berlari menarik tas Dion agar berhenti. Dion lalu menoleh ke arah Alya.
"Kakak tidak butuh hp baru karena Kakak masih sanggup membelinya sendiri dengan uang Kakak. Kakak hanya ingin kamu bertanggung jawab sebagai laki-laki atas apa yang kamu lakukan tadi itu tidaklah sopan. Sudah menabrak orang tidak langsung meminta maaf dan langsung main pergi saja. Apa kelakuan kamu diluar sana seperti itu? Setelah menabrak orang tidak mau bertanggung jawab," ucap Alya menjelaskan panjang lebar.
Dion mematung saat Alya berbicara seperti itu didepannya. Memang salahnya tadi Dion tidak langsung meminta maaf saat menabraknya.
"Ehm... Kak maaf Dion tadi.." belum sempat menjelaskan kepadanya, Alya sudah memotong pembicaraannya.
"Pokoknya Kakak gak mau tahu kamu harus jadi asisten Kakak. Saat ini Kakak sedang menyiapkan proposal untuk skripsi. Nanti kamu harus membantu Kakak mengetikkan naskah skripsi Kakak sebagai tanggung jawab atas kamu telah merusak hp Kakak," ucap Alya dengan tegas.
Dion melongo mendengar ucapan Alya yang tidak mau diganti hpnya dan malah menjadikannya sebagai asisten pribadinya.
"Tapi Kak Dion gak mau menjadi asisten pribadi Kakak"
"Tidak ada tapi-tapian Dion. Atau kamu mau saya adukan kepada kedua orang tua kamu?"
__ADS_1
Sebenarnya Alya orangnya sabar dan lembut. Namun entah kenapa saat bertemu dengan Dion tadi yang mencari masalah dengannya tiba-tiba amarahnya menjadi meledak-ledak.
"Memang Kakak kenal dengan kedua orang tuaku? Kakak saja tidak tahu rumahku kan hahaha," ucapnya dengan tertawa.
"Kamu lupa Kakak bendahara BEM dan tentunya mudah saja untuk mendapatkan informasi tentang mahasiswa sepertimu melalui pihak akademik. Atau kamu mau Kakak laporkan ke bidang kemahasiswaan mengenai hal ini?"
"Duh gimana nih kalau Kak Alya sampai lapor ke Mama dan Papa apalagi ke bidang kemahasiswaan bisa jadi semua fasilitas dari Papa dan Mama dicabut nih. Wah gawat... Dengan terpaksa aku harus menerima tawarannya sebagai asistennya." batin Dion yang sudah tidak ada pilihan lagi.
"Baiklah Kak, Dion setuju menjadi asisten Kakak."
Sebenarnya Alya tidak tega menjadikan Dion sebagai asistennya karena Alya sebenarnya mampu kalau hanya untuk mengetik naskah skripsi saja. Hanya saja Alya ingin Dion agar belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dan demi masa depannya.
"Sini mana hp kamu."
"Untuk apa Kak?"
"Menyimpan nomor Kakak lah. Lalu untuk apa lagi?"
"Eh iya Kak." Dion lalu menyerahkan hpnya lalu Alya segera mengetik nomornya di hp Dion.
"Iya Kak."
"Ya sudah kamu boleh pergi."
Dion lalu pergi berjalan menjauh meninggalkan Alya. Alya langsung berjalan meraih hpnya yang hancur. Alya ingin mencabut kartunya yang ada di hpnya. Namun saat meraih hpnya Alya terkena pecahan kaca dari hpnya yang mengakibatkan tangannya berdarah.
"Auwww....." rintihan Alya terdengar sampai ke telinga Dion.
Dion menghentikan langkahnya dan lalu berbalik melihat ke arah Alya. Dion membolakan matanya saat tangan Alya berdarah karena terkena pecahan kaca hpnya. Dion segera berlari menghampiri Alya.
Dion mengambil kantong plastik dari tasnya untuk membungkus hp Alya. Dion ingin membantu Alya untuk mencabut kartunya yang masih menancap di hpnya.
"Tangan Kak Alya berdarah. Ayo Dion obatin Kak. Dion ada kotak P3K di mobil."
__ADS_1
Dion khawatir dengan Alya. Karena akibat Dion menabrak Alya hpnya jadi pecah berkeping-keping. Saat ini Dion ingin mengobati tangan Alya. Dion lalu segera berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya dan diikuti oleh Alya. Alya tidak ada pilihan lain dan harus segera diobati agar tidak terjadi infeksi.
Sebenarnya Dion tidak ingin bersentuhan dengan perempuan begitu juga dengan Alya yang tidak ingin bersentuhan dengan laki-laki. Namun saat ini dalam keadaan darurat dan Dion harus mengobati Alya. Dion membuka bagasi mobilnya untuk mencari kotak P3K nya. Setelah menemukan kotak P3K nya Dion segera mencari alkohol terlebih dahulu untuk membersihkan lukanya. Dion mencabut pecahan kaca yang menancap di tangan Alya.
"Auwww......"
"Tahan bentar ya Kak. Biar tidak terjadi infeksi."
Dion dengan telaten mengobati tangan Alya. Alya tersenyum saat Dion tadi panik saat Alya terkena pecahan kaca dan menawarkan diri untuk mengobatinya.
"Kalau dilihat-lihat Dion lumayan ganteng dan juga perhatian." batin Alya yang tiba-tiba memperhatikan wajah Dion yang masih mengobati lukanya.
"Sudah selesai," ucap Dion sambil merekatkan plaster di kapasnya dan lalu menutup kotak P3K.
Seketika Alya jadi sadar akan lamunannya tadi.
"Eh... Astagfirullah apa yang kamu pikirkan Alya? Sampai-sampai kamu memandang laki-laki yang bukan mahramnya. Ya Allah maafkan kesalahanku." batin Alya langsung menundukkan kepalanya.
"Terima kasih." Alya langsung menarik tangannya dari Dion.
"Sama-sama Kak. Maaf tadi Dion menyentuh tangan Kakak. Dion tahu tidak seharusnya Dion menyentuh Kakak. Tapi tadi dalam keadaan darurat."
Alya hanya menjawab dengan anggukan tidak berani menatap wajah Dion. Dion juga tahu bahwa Alya adalah perempuan baik-baik yang selalu menjaga pandangan matanya dengan laki-laki. Dion memang mengagumi Alya sang Kakak kelasnya itu sejak saat ospek Alya yang menjadi pendampingnya saat ospek. Dion hanya bisa mengagumi Alya dalam diam.
"Oh iya ini kartu Kakak sudah berhasil Dion cabut dari hp Kakak." sambil menyerahkan kartunya.
Alya menerima kartunya.
"Untuk hpnya mau Kakak apain?" tanyanya karena ia tidak sopan jika harus membuangnya tanpa seizin sang pemiliknya.
"Sudah kamu buang saja. Soalnya kan sudah tidak bisa untuk dipakai lagi."
"Baik Kak." Dion langsung membuang hp Alya ke tong sampah.
__ADS_1
Dion sudah tidak bisa masuk ke kelasnya karena sudah sangat terlambat datang dan kalau nekat mau masuk kelas pasti sudah tidak bisa. Karena dosennya hanya memberikan waktu 10 menit untuk terlambat datang ke kelasnya dan ini sudah lebih dari 20 menit Dion terlambat. Dion lalu melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan. Sedangkan Alya hari ini akan menyerahkan proposal skripsinya.