Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 64 - Honeymoon ke Paris


__ADS_3

Sudah 5 bulan lamanya Yudha dan Karin menikah. Namun mereka belum dikaruniai anak. Karin belum ada tanda-tanda kehamilannya sampai saat ini. Mama Sabrina curiga pasti ada yang tidak beres dengan anaknya atau menantunya. Saat sudah selesai sarapan pagi Mama Sabrina membuka suara.


"Nak, mana janjimu ingin memberikan Mama cucu kembar? Sampai sekarang istri kamu belum hamil juga."


"Mama cukup! Mereka baru saja menikah dan wajar saja kalau misalnya belum dikaruniai keturunan. Bahkan banyak kok orang yang menikah bertahun-tahun baru punya anak. Mama sabar dong." Papa Yudhistira berusaha untuk membela anaknya.


"Mungkin belum rezeki Pa," ucap Yudha dengan nada melas.


"Nak, jangan-jangan kamu yang bermasalah? Kalau Mama lihat istri kamu masih muda jadi tidak mungkin dia tidak bisa hamil dan pasti kamu yang bermasalah," ujar Mama Sabrina yang membuat semua orang di ruang makan terkejut.


"Mama jangan bicara sembarangan! Yudha tidak mandul!" Yudha berdiri meninggalkan ruang makan.


"Maafkan aku Mas." Batin Karin merasa bersalah, karena dirinya menunda kehamilannya Mama Sabrina mengira Yudha tidak bisa memberikan keturunan.


"Karin susul Kak Yudha dulu ya Ma,Pa."


"Iya nak," ucapnya bersamaan.


Setelah Karin pergi menjauh dari ruang makan. Papa Yudhistira masih kesal dengan istrinya yang merendahkan anaknya.


"Ma, kenapa Mama bicara seperti itu didepannya? Anak kita bisa sakit hati mendengar omongan Mama."


"Pa, buktinya mana kalau Yudha akan bikin Karin hamil secepatnya? Pakai acara mau kasih kita cucu kembar lagi. Papa masih ingat kan saat Yudha bilang seperti itu?"


"Mama bersabar dong."


"Taulah Papa, Mama pusing," ucapnya meninggalkan ruang makan.


"Tapi ada benarnya juga omongan Mama. Apa mungkin Yudha yang bermasalah?" gumam Papa Yudhistira.


Di kamar Yudha masih memikirkan apa perkataan Mamanya. Ia meraih vas bunga dan dilemparkan ke lantai.


"PYARR...................." Vas bunga itu pecah dan hancur berkeping-keping.


Karin melongo saat masuk ke dalam kamarnya. Dirinya menutup mulutnya dengan tangan. Tak percaya Yudha terlihat sangat frustasi. Perlahan Karin mendekati Yudha. Suaminya itu butuh ketenangan saat ini.


"Mas..................." Karin memegang kedua pipi suaminya yang sudah dibanjiri air mata dari tadi.


"Sayang, aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Aku laki-laki yang tidak berguna!"

__ADS_1


Karin semakin bersalah atas apa yang dirinya lakukan. Disaat dirinya ingin menunda kehamilan hanya sekali. Namun akhirnya ketagihan dan selama berbulan-bulan Karin mengkonsumsi obat itu untuk menunda kehamilannya. Karena kesibukan di bangku kuliahnya yang menyebabkan dirinya meminum kembali pil penunda kehamilan.


"Sayang jangan berbicara seperti itu. Kita pasti akan segera punya anak kok Mas." Karin berusaha meyakinkan Yudha.


Karin semakin mantap dengan keputusannya untuk tidak meminum pil penunda kehamilan.


"Maksud kamu apa sayang?"


"Besok adalah hari terakhirku UAS. Setelah itu aku akan liburan semester dan kita bisa melanjutkan bulan madu kita ke Paris yang sempat tertunda."


"Mas, percayalah sebentar lagi kita bisa memberikan Mama dan Papa cucu," ucapnya kembali.


Yudha menggeleng-gelengkan kepala lemah. Yudha yakin Karin hanya menghiburnya. Istrinya itu hanya membuatnya jauh lebih tenang.


"Mungkin yang dikatakan Mama benar sayang. Mungkin aku yang bermasalah karena kita sudah menikah selama 5 bulan tapi belum juga kita dikaruniai anak."


"Aku tidak akan menunda kehamilanku lagi setelah ini. Maafkan aku telah membuatmu frustasi sayang. Aku tidak ingin kamu bersedih lagi dan setelah ini impian kamu menjadi Papa akan segera terwujud. Aku siap untuk hamil setelah kita pulang dari Paris nanti." Batin Karin.


"Mas berikan aku obat penyubur kandungan yang waktu itu Mama bicarakan. Aku akan meminumnya nanti saat kita akan ke berangkat ke Paris."


"Tidak sayang, aku tidak mau. Mama akan lebih merendahkan aku jika kamu meminumnya. Aku ingin Mama percaya bahwa aku bisa memberikannya cucu tanpa kamu minum obat penyubur kandungan."


"Kalau 5 hari lagi gimana, lebih cepat lebih baik kan sayang?"


"Iya Mas," ucapnya dengan senyuman.


"Oke aku pesan tiketnya dulu."


Yudha lalu memesan tiket pesawat secara online.


...*****...


Sekarang saatnya Karin dan Yudha berbulan madu ke Paris. Yudha dan Karin membawa 2 koper. Bibi dan sopirnya membantu memasukkan kedua koper tersebut ke dalam bagasi. Karin dan Yudha sudah berpamitan kepada Mama Sabrina dan Papa Yudhistira. Saat akan masuk ke dalam mobil Mama Sabrina menghampiri Yudha.


"Nak, jangan lupa oleh-olehnya. Mama tunggu ya sayang. Kalian pasti bisa berikan Mama cucu setelah pulang dari Paris."


Yudha menghela nafas panjang.


"iya Mama. Kita berangkat dulu."

__ADS_1


Mereka lalu saling melambaikan tangan. Mama Sabrina tersenyum melihat kepergian anak dan menantunya.


...*****...


Setelah menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan pesawat akhirnya mereka sampai di Paris. Karin tersenyum menatap kota impiannya yang selama ini akan dia kunjungi. Akhirnya kesampaian juga ke Paris dan kini bersama suaminya.


"Sayang aku bahagia melihatmu tersenyum seperti ini."


"Sayang, kamu tahu tidak. Paris adalah kota impian yang ingin aku kunjungi selama ini. Mama dan Papa melarangku untuk pergi ke luar negeri sendirian waktu itu. Karena Nenek dan Kakek sudah lanjut usia jadi kami tidak pergi ke mana-mana."


Karin menghembuskan nafas panjangnya.


"Jadi kami selama ini kalau tidak di Korea ya di Indonesia. Kedua negara itu saja yang aku kunjungi. Sekarang aku bahagia bisa kesini bersama suamiku," ucapnya mengulas senyuman.


"Aku akan selalu membahagiakanmu sayang."


Yudha lalu memeluk Karin. Beruntungnya Karin mempunyai suami seperti Yudha.


"Mas, kali ini aku janji akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan lagi mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Bulan depan aku pastikan aku akan hamil anak kamu." Batin Karin tersenyum bahagia.


Malam telah tiba setelah makan malam bersama. Yudha dan Karin kembali ke hotel. Mereka malam ini akan melaksanakan kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri kembali.


"Sayang sudah siap?" Tanyanya kepada sang istri.


"Sudah Mas....."


Yudha lalu membaca doa terlebih dahulu sebelum melakukannya. Perlahan Yudha mendekati istrinya dan berbisik kepada Karin.


"Sayang kalau nanti kita gak berhasil lagi gimana?" ucap Yudha pelan.


"Kalau kamu tahu aku selama ini mengkonsumsi pil penunda kehamilan apa kamu akan marah Mas sama kepadaku? Tapi aku janji untuk tidak mengkonsumsinya lagi. Kamu akan segera menjadi Papa setelah ini." Batin Karin yang sudah mantap untuk segera hamil.


"Sayang kita sebagai manusia hanya bisa terus berusaha dan berdoa. Biar Allah yang menentukan."


"Terima kasih ya istriku. Kamu selalu bisa menenangkan hati suamimu." Yudha mengelus puncak rambut kepala istrinya dengan hangat.


"Itu sudah menjadi tugasku Mas." Karin tersenyum begitu tulus saat ini.


Yudha tersenyum memiliki istri yang begitu pengertian dan akhirnya malam ini mereka memadu kasih untuk pertama kalinya saat sudah sampai di Paris.

__ADS_1


Sesuai janjinya Yudha mengajak Karin ke Menara Eiffel. Karin sangat bahagia bisa puas jalan-jalan mengelilingi Kota Paris. Galerinya kini penuh dengan foto dirinya dan juga suaminya saat berbulan madu. Mereka berbulan madu di Paris selama 7 hari. Yudha tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk terus berusaha agar istrinya segera hamil. Yudha menggempur Karin habis-habisan selama di Paris. Yudha ingin membuktikan bahwa dirinya tidak mandul kepada Mamanya. Yudha yakin setelah ini Karin akan segera hamil anaknya. Yudha berharap bulan depan akan mendapat kabar bahagia kehamilan istrinya dan tepat disaat istrinya akan berulang tahun ke 19 tahun.


__ADS_2