
Karin dan Yudha kini sudah sholat subuh berjamaah. Karin kini sedang duduk dan kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Suaminya pasti sebentar lagi akan pulang ke Indonesia. Bagaimanapun juga suaminya seorang dokter dan harus bekerja. Karin terlihat murung dan sedang melamun. Yudha yang sedang melihat istrinya memikirkan sesuatu pun langsung duduk disamping Karin.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Kamu cuti berapa hari Mas?"
"Ternyata istriku sedang mencemaskan aku jika aku akan segera pulang ke Indonesia." Batin Karin.
"Seminggu sayang."
"Kita bakalan LDR berarti Mas?"
"Kita akan LDR hanya sebulan sayang. Selanjutnya kita akan selalu bersama bersama dengan anak-anak kita. Aku akan selalu bersamamu. Aku tidak ingin berpisah lagi darimu."
Karin mengerti sepertinya harus ada yang mengalah salah satu jika ingin bersama.
"Mas, tapi aku ingin kuliah di Korea sampai lulus. Aku tidak mau kalau pindah-pindah tempat kuliah lagi Mas."
"Iya sayang aku tahu makanya kita akan LDR, selama sebulan itu aku akan mengurus visa agar bisa tinggal di Korea bertahun-tahun."
"Maksudnya kamu akan meninggalkan pekerjaan kamu sebagai seorang dokter Mas?"
"Iya sayang, apapun akan aku lakukan demi bisa bersama kamu. Aku akan ."
Karin terdiam sejenak dan berpikir bahwa suaminya begitu mencintainya sehingga tidak mau terlalu lama untuk LDR.
"Sayang, bagaimana jika kalau setelah kamu lulus kuliah kita pulang ke Indonesia dan tinggal menetap di Indonesia?"
Karin mengernyitkan dahinya. Sepertinya belum siap jika untuk bertemu dengan Mama Sabrina lagi. Melihat kegelisahan istrinya yang sepertinya belum siap untuk bertemu dengan Mamanya, Yudha lalu mengatakan apa rencananya kepulangannya ke Indonesia selama sebulan.
"Sayang, kamu tidak usah khawatir. Kita tidak akan tinggal lagi di Jakarta. Aku tahu kamu gelisah karena Mama kan?"
"Kenapa Mas bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan?"
"Ya karena kita sehati sayang."
__ADS_1
"Mas kita sedang bicara serius."
"Jadi begini, aku berencana untuk menjual rumah kita yang ada di Jakarta. Terus kita pindah rumah. Kamu ingin kita pindah ke kota mana sayang?"
"Bagaimana kalau di Bandung Mas?"
"Ok setuju. Nanti aku akan cari rumah di Bandung."
"Mas, kalau bisa rumahnya yang tidak terlalu besar. Karena rumah kita yang kemarin terlalu besar."
"Baiklah, akan aku turuti semua kemauan kamu sayang. Tapi kalau selama sebulan rumah kita tidak terjual gimana?"
"Ya sudah, gak usah diri jual Mas."
"Hmm... Atau begini saja. Kita menyewa rumah di Bandung. Jadi kalau kita ingin ke Jakarta masih ada rumah kita di sana."
"Ehm... Gimana ya.." Karin kini sedang memikirkan perkataan suaminya.
"Iya Mas, aku setuju."
"Iya Mas," ucapnya dengan senyuman manisnya.
"Oh iya Mas, bagi saat kandunganku sudah 9 bulan kan nanti pas aku liburan semester. Aku ingin ke Bandung Mas."
"Baiklah sayang nanti kita akan ke Bandung saat sudah liburan semester."
Karin mengangguk pelan. Yudha bahagia kini akan selalu bersama-sama.
...*****...
Hari ini Yudha akan mengantarkan Karin untuk cek kandungannya. Risa dan Rey beserta anak-anaknya akan ikut juga untuk melihat jenis kelamin bayi kembar tersebut.
"Aku tidak sabar ingin melihat jenis kelamin kedua keponakan aku," ucap Risa.
"Iya sayang, aku juga ingin tahu jenis kelamin bayinya."
__ADS_1
"Apalagi aku sebagai seorang Papa aku ingin sekali melihatnya."
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit," ucap Karin.
Mereka lalu naik taksi ke rumah sakit. Sekarang mereka sudah sampai di rumah sakit dan setelah Karin diperiksa kandungannya sehat dan kuat. Yudha bahagia bahwa kini saat melihat ke arah layar monitor tersebut Yudha sudah tahu apa jenis kelamin kedua anaknya. Kini air matanya sudah menetes haru melihat jenis kelamin kedua anaknya. Karin yang melihat suaminya sudah berlinang air mata dan terharu saat melihat ke layar monitor pun tersenyum bahagia karena kini mereka akan segera mempunyai dua anak yang berjenis kelamin berbeda yaitu laki-laki dan perempuan.
Setelah periksa kandungannya kini Karin diberikan hasil pemeriksaannya dan USG. Sekarang Yudha sudah menembus vitaminnya. Yudha bahagia akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Karin juga tidak sabar menunggu kelahiran putra dan putrinya.
"Sayang, aku bahagia banget anak kita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."
"Iya Mas. Aku juga bahagia banget tadi saat melihat ke arah layar monitornya."
"Akhirnya keponakan aku akan ada lengkap berjenis laki-laki dan perempuan."
"Iya Kak Risa. Alhamdulillah ya."
Risa lalu mengangguk pelan. Mereka lalu setelah ke rumah sakit mereka makan bersama di restoran.
Tak terasa kini Yudha sudah seminggu di Korea. Siang hari ini yang akan pulang ke Indonesia hanya Yudha saja. Risa dan Rey beserta kedua anaknya akan menemani Karin di Korea seminggu lagi agar Karin tidak terlalu kesepian. Meskipun apartment sebelahnya ada sahabatnya namun temannya juga
sibuk untuk kuliah dan juga kerja part time.
Kini Yudha sudah berkemas dan akan pulang ke Indonesia.
"Sayang, aku akan pulang ke Indonesia dulu ya. Nanti aku akan kembali lagi ke sini setelah mengurus visa."
"Iya Mas. Kamu hati-hati ya Mas."
"Iya sayang pasti," ucapnya lalu mengecup kening Karin.
Kini Yudha juga akan pamit dengan kedua anaknya yang masih dalam kandungan.
"Sayang, Papa pulang dulu ya nak. Masih ada yang perlu Papa urus di Indonesia. Kalian sama Mama dulu ya. Kalian baik-baik ya selama Papa tinggal. Papa janji setelah urusan Papa selesai di Indonesia, Papa akan langsung menemui kalian lagi. Kita tidak akan berpisah nak," ucapnya sambil mengelus perut Karin sebentar.
Kedua anaknya merespon dengan tendangan kecilnya. Tak lupa Yudha juga mengecup perut Karin dua kali seperti pamit dengan kedua anaknya. Berat rasanya meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Apalagi Karin hamil dua anak sekaligus. Karin melambaikan tangannya dan air matanya kini sudah menetes. Sekarang taksi yang ditumpangi suaminya sudah pergi dari apartment. Risa merangkul sepupunya dan mengajak Karin untuk masuk lagi ke apartment.
__ADS_1
Yudha akan menepati janjinya ke Korea sebulan lagi setelah urusannya selesai di Indonesia. Yudha juga berjanji tidak akan memberitahu kepada kedua orang tuanya soal keberadaan Karin dan Karin kini tengah mengandung. Yudha paham bahwa Karin begitu takut untuk kehilangan anaknya kembali dan Yudha akan menepati janjinya bahwa tidak akan memberitahu kepada kedua orang tuanya tentang keberadaan Karin termasuk kepada Mama Sabrina. Yudha juga masih kesal dengan Mamanya yang masih ingin menjodohkannya dengan temannya dulu waktu SMP. Maka dari itu Yudha ingin menemani Karin di Korea sampai lulus kuliahnya dan nanti akan membuka usahanya di Bandung. Yudha sudah memikirkan matang-matang tentang hal ini. Karena ini juga pilihan yang terbaik untuk bisa selalu bersama anak dan istrinya.