
Anisa dan Andika sekarang sudah berumur 4 tahun lebih 9 bulan. Mereka sudah sekolah TK sekarang. Sedangkan Keifano dan Keisha bar berumur 2 tahun lebih 10 bulan. Mama Sabrina yang melihat si kembar Anisa dan Andika lalu ingin bertanya dengan Alya dan Dion. Dulu saat Alya mau melahirkan Karin baru saja hamil muda dan sekarang Karin sudah hamil lagi dua kali.
"Apa kalian tidak mau menambah anak lagi nak Alya dan Dion?" Tanya Mama Sabrina yang sifatnya memang ceplas-ceplos.
"Uhukk....... Uhukk.........." Dion tersedak saat meminum tehnya.
"Maaf, lantainya jadi kotor."
"Tidak apa-apa biar Bibi nanti yang beresin." Yudha langsung memanggil asisten rumah tangganya untuk membersihkan lantai yang terkena tumpahan teh.
"Eh, Abi pakai ini..." Alya langsung menyodorkan tisu. Dion mengelap bibirnya dengan tisu. Sedangkan Alya membersihkan sisa tumpahan teh di kemeja Dion dengan tisu.
"Maaf nak. Kamu jadi tersedak," ucap Mama Sabrina merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Tante."
"Kak Yudha aku mau numpang ke kamar mandi."
"Iya Dion. Kamu tinggal lurus saja nanti ada ruang keluarga. Setelah itu kamu belok kiri nah sebelah dapur nanti ada kamar mandi."
Dion terlihat bingung saat Yudha menjelaskan.
"Aku anterin kamu saja yuk biar kamu tidak bingung bro."
"Iya Kak."
"Panggil nama saja biar lebih akrab Dion."
"Siap Yudha," ucapnya dengan diakhiri dengan tawanya.
Anisa dan Andika kini sudah bisa mulai akrab dengan Keifano dan Keisha. Mereka kini sedang bermain bersama.
"Wah lucu ya nak mereka. Anisa cantik dan manis," ucap Maka Sabrina disebelah Karin.
"Iya Mama. Kalau sudah besar pasti akan cantik seperti Kak Alya."
Anisa meskipun masih kecil tapi sudah di didik dengan baik. Anisa sudah Alya biasakan memakai hijabnya sejak berusia 1 tahun. Sedangkan Alya hanya tersenyum dan sambil menyeruput tehnya.
"Mama, apa Anisa dijodohkan saja dengan Keifano. Sepertinya mereka cocok ya Mama," ucap Karin menoleh ke arah Mama Sabrina.
"Iya nak." Jawabnya singkat.
"Bagaimana menurutmu Kak Alya?" ucapnya kembali dengan senyuman.
Karin sedang hamil. Mau menolak keinginannya juga susah. Lagian jika mereka nanti sudah besar pasti mereka akan saling kenal dan tidak menutup kemungkinan untuk berjodoh. Karena Karin dan Alya sudah menjadi sahabat.
"Iya, aku setuju saja Karin. Tapi tunggu mereka besar dulu ya? Kamu jangan memanggilku Kakak biar kita lebih akrab."
"Iya Alya, beberapa tahun lagi kita akan menjadi calon besan," ucapnya terkekeh.
Alya tersenyum dan jika Anisa menjadi menantunya Yudha dan Karin pasti Keifano sikapnya akan sama seperti kedua orang tuanya. Mereka selalu setia selama ini. Walaupun berbagai rintangan selalu menghadang tapi tetap mereka tidak terpisahkan. Alya juga berharap jika seandainya anaknya berjodoh dengan Keifano maka akan seperti Karin dan Yudha yang mencintai dengan tulus tanpa memandang usia. Dan juga seperti dirinya yang mencintai suaminya apa adanya dan tidak memandang usia. Karena Dion lebih muda 3 tahun dari Alya.
"Tapi Karin, Keifano dan Anisa kan umurnya jaraknya 2 tahun kurang 1 bulan. Apa Anisa mau dengan laki-laki yang lebih muda darinya?"
__ADS_1
"Bukankah kamu juga menikah dengan yang lebih muda Alya," ucapnya sambil mengedipkan mata.
"Hehehe iya juga Karin. Tapi namanya anak zaman sekarang nanti takutnya tidak mau untuk dijodohkan."
"Mereka satu sekolah saja kalau tidak satu kampus nanti saat dewasa."
"Ah, iya kamu ada benarnya juga Karin."
Yudha dan Dion sekarang sudah kembali ke ruang tamunya.
"Kayaknya sedang asyik banget. Lagi pada bicarakan apa sih?" Tanyanya penasaran.
"Calon besan," ucap Papa Yudhistira dan Mama Sabrina secara bersamaan.
"Calon besan?" Dion mengerutkan keningnya.
"Iya, Karin dan juga Alya merencanakan bahwa ingin menjodohkan Keifano dengan Anisa."
"Wah aku setuju kalau gitu."
"Mending kita lihat mereka nanti sampai besar dulu. Apakah mereka mau dijodohkan atau tidak? Soalnya kemungkinan anak zaman sekarang tidak mau dijodohkan."
"Iya benar juga kata kamu Dion. Tapi kita masih bisa sering bertemu jadi mereka akan saling lebih kenal lebih akrab."
"Iya Yudha. Semoga saja beneran kita jadi berbesanan," ucapnya dengan senyuman.
"Oh iya, kita makan bersama yuk. Aku tadi sudah masak dibantu Bibi."
"Wah kamu masak sendiri ya Karin. Hebat kamu hamil besar masih bisa masak banyak."
"Menantuku memang hebat nak Alya," ucap Mama Sabrina dengan senyuman.
Mereka lalu makan bersama. Setelah makannya selesai lalu Alya mulai membuka pembicaraan.
"Karin ternyata masakan kamu enak sekali."
"Iya istriku ini memang jago memasak," ucap Yudha sambil mencubit pipinya.
"Biasa saja kok," ucapnya dengan senyuman tipis.
Setelah makan bersama Alya dan Dion akan pulang.
"Kita pulang dulu ya semuanya."
"Sering-seringlah main kesini ya? Nanti kita juga akan main ke rumah kalian."
"Iya Karin. Insya'allah."
"Hati-hati bro bawa mobilnya."
"Siap. Aku selalu bawa mobil dengan kecepatan sedang kok."
"Kalian hati-hati ya nak."
__ADS_1
"Iya Tante dan Om kami permisi terlebih dahulu."
Mereka mengantarkan Alya, Dion dan kedua anaknya sampai ke halaman rumah. Setelah mobil Dion sudah tidak terlihat lagi mereka lalu masuk kembali ke dalam rumah.
"Mama dan Papa menginap di sini ya?"
"Tapi nak. Nanti kita mengganggu ketenangan kalian," ucap Mama Sabrina yang masih teringat dengan masa lalu.
"Tidak Mama. Lagian benar apa kata Karin. Sekarang sudah malam. Lebih baik Papa dan Mama menginap saja di sini."
Papa Yudhistira dan Mama Sabrina lalu saling memandang dan Papa Yudhistira memberikan kode anggukan.
"Iya kita akan menginap di sini nak."
"Nah, gitu dong Mama."
Sudah malam Mama Sabrina dan Papa Yudhistira sekarang sudah berada di kamar tamu. Mereka akhirnya menginap di rumah Yudha yang baru.
"Alhamdulillah ya Papa... Anak kita dan menantu kita menjadi orang yang sukses, meskipun sekarang Yudha tidak menjadi Dokter lagi."
Mama Sabrina mensyukuri sekarang anaknya dan menantunya sudah sukses.
"Iya Mama. Papa sih berharap Yudha masih mau menjadi Dokter lagi."
"Sepertinya Yudha sudah nyaman menjadi seorang pengusaha kuliner Papa."
"Iya Mama. Sepertinya juga begitu. Ya sudah Mama ini sudah malam, lebih baik kita tidur saja."
"Iya Papa. Selamat tidur Papa."
"Iya selamat tidur juga Mama."
Mereka lalu sudah tertidur dan mulai menuju ke alam mimpinya.
Di kamar Yudha kini tengah tersenyum. Istrinya memang hatinya sangat mulia bahkan meminta Mama dan Papanya untuk menginap malam ini di rumahnya.
"Sayang, terima kasih ya..."
"Terima kasih untuk apa Mas?"
"Kamu baik sama Mama. Kamu memang istriku yang sempurna dan berhati mulia."
"Hahaha. Mas gombalnya kok malam-malam sih? Aku kan sudah ngantuk."
"Ya sudah. Kamu bisa tidur sekarang sayang."
Seperti biasa sebelum tidur Yudha selalu memberi perhatian dengan calon anaknya. Yudha selalu mengucapkan selamat tidur dan sambil mengecup perut istrinya. Kini Karin sudah mulai terbawa dalam mimpinya. Yudha lalu menaikkan selimutnya dan menyusul Karin untuk tidur.
...****************...
Part selanjutnya Yudha akan pakai kostum Lebahnya guys 🤣
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and gift biar author tambah semangat 🆙
__ADS_1
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Terima kasih 💙