
Risa lalu keluar dari kamarnya saat Yudha berteriak meminta tolong karena Karin akan melahirkan. Risa melihat air ketuban yang sudah menetes di kaki Karin. Dengan segera Risa mengambil kunci mobilnya. Rey masih tidur dengan kedua anaknya di kamar. Risa tidak membangunkan suaminya karena nanti pasti anak-anaknya juga akan menangis nanti tambah repot urusannya. Risa bilang kepada Mama Angel untuk nanti membangunkan Rey agar menyusulnya ke rumah sakit. Papa Kevin soalnya masih mandi jadi Risa yang yang akan menyetir mobilnya.
"Ayo Kak Yudha."
Risa berjalan sedikit berlari dan membuka pintu mobilnya agar Yudha segera masuk membawa Karin. Setelah menutup pintu mobilnya, Risa berjalan dan membuka pintu mobil yang berada di depan. Dengan segera Risa melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Keringat dingin sudah mulai membasahi wajah Karin. Dirinya masih merasakan kesakitan yang sangat luar biasa pada perutnya.
"Mas... Masih berapa lama lagi? Ini sangat sakit sekali." Lirihnya sambil terus memegang perut buncitnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Sambil membenarkan anak rambut Karin yang menutupi wajahnya.
"Sebentar lagi Karin kita akan sampai." Risa menambah kecepatannya.
Dulu saat Risa mau melahirkan Reno anak pertamanya Karin yang menyetir mobilnya ke rumah sakit dan secara tidak sengaja sekarang Karin mau melahirkan dan Risa yang menyetir mobilnya.
Karin sudah terlihat agak pucat mukanya dan Yudha tambah panik saja.
"Mas, aku sudah tidak kuat lagi. Auwww.... Ini beneran sangat sakit sekali Mas." Teriaknya yang merasakan kesakitannya mulai bertambah.
"Sayang, bertahanlah. Kita akan segera sampai rumah sakit."
Lima menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Dengan segera Yudha berjalan sedikit berlari agar cepat ditangani istrinya. Sekarang Karin sudah masuk ke ruang IGD. Yudha menemaninya di dalam. Sedangkan Risa menunggunya di luar dan sambil mengabari kedua orang tua Karin. Dokter memeriksa Karin dan ternyata sudah pembukaan ke sepuluh. Sebentar lagi Karin akan segera melahirkan. Di ruangan Karin meremas kuat tangan suaminya.
"Sayang, semangat. Aku ada disini bersamamu," ucapnya sambil mengecup kening istrinya sejenak dan mengelus rambutnya.
Yudha terus menyemangati istrinya yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kedua anaknya. Yudha terus saja berdoa agar nanti istri melahirkan dengan lancar. Sang Dokter memberi arahan untuk tarik napas dan lalu buang agar bayinya segera keluar. Karin menurut aba-aba Dokter.
"Ayo bu dorong lagi," ucap sang Dokter yang sudah siap menerima bayi kalau sudah keluar.
"Aaaarrrghhhh...... Mas Yudha......" Karin berteriak sambil meremas tangan suaminya. Yudha tidak masalah jika istrinya seperti itu. Karena sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan yang Karin rasakan. Dimana Karin harus mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kedua anaknya.
Tak lama kemudian suara bayi laki-laki terdengar menangis. Yudha mengucapkan syukur Alhamdulillah karena putranya kini sudah lahir. Tinggal putrinya yang masih belum lahir.
"Mas ini sangat sakit, aku sudah tidak kuat lagi." Lirihnya yang merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Karin sudah lemas saat melahirkan putranya. Yudha jadi semakin panik melihat kondisi istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu pasti bisa. Semangat berjuang sayang. Aku akan selalu bersamamu." Yudha menyemangati istrinya yang sedang berjuang melahirkan anaknya dengan mengecup keningnya dua kali dan membacakan doa agar istrinya berhasil melahirkan putrinya.
Karin lalu kembali berusaha untuk melahirkan putrinya. Karin kembali menarik napas dalam-dalam dan membuangnya lalu berusaha untuk kembali melahirkan anaknya. Setelah beberapa kali berusaha akhirnya putrinya berhasil dia lahirkan.
"Oek.... Oek..... Oek........." Terdengar suara bayi perempuan yang menangis, bayi mungil yang wajahnya sangat cantik berhasil Karin lahirkan.
Karin tersenyum sambil menahan rasa sakitnya ketika kedua anaknya telah berhasil dirinya lahirkan dengan selamat.
"Sayang, terima kasih," ucapnya sambil mengecup kening Karin dua kali.
"Putri kita sangat cantik sayang," ucapnya yang melihat putrinya sebentar dan lalu dibawa oleh Suster untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum diadzani.
Karin menggangguk pelan dan tersenyum tipis karena sudah kehabisan tenaga melahirkan kedua anaknya. Luar biasa rasa sakitnya tapi saat melihat anaknya sudah lahir rasa sakitnya sudah terbayarkan.
Karin sekarang lagi ditangani oleh seorang Dokter. Yudha kini diarahkan ke ruangan bayi untuk mengadzani kedua anaknya. Yudha menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sekilas mirip dengannya. Yudha mengecup pipi putranya dan lalu mengadzaninya. Setelah itu Yudha meletakkan putranya ke dalam box bayi dan gantian menggendong bayi perempuan. Bayi mungil itu wajahnya sangat cantik. Tak lupa Yudha juga mengecup pipi putrinya terlebih dahulu sebelum mengadzaninya. Suster lalu akan bertanya-tanya kepada Yudha untuk mengisi data sang bayi.
"Kedua anaknya mau dinamakan siapa Pak?" Suster telah bersiap untuk menuliskan informasi yang akan ditempelkan dikedua box bayi tersebut.
"Keifano Putra Sanjaya untuk nama putra saya dan Keisha Putri Sanjaya untuk nama putri saya yang cantik ini," ucapnya sambil mengecup kening putrinya.
"Wah, nama yang bagus sekali Pak," ucap sang suster sambil menempelkan papan informasi mengenai bayi tersebut.
"Makasih Suster." Yudha lalu meletakkan putrinya ke box bayi.
Kini Karin sudah berada di ruang perawatan kelas VVIP. Karin akan dirawat beberapa hari lagi untuk pemulihan. Karin matanya masih terpejam karena masih terpengaruh obat bius saat penanganan tadi. Kini keluarganya sudah datang. Kedua box bayi tersebut diletakkan dekat dengan Karin.
"Nak Yudha, Karin belum sadar?" Tanya Mama Chintya.
"Belum Mama."
Pandangan Papa Keynan langsung ke arah kedua box bayi tersebut. Papa Keynan lalu berjalan perlahan untuk melihat kedua cucunya. Papa Keynan matanya terbelalak saat melihat kedua cucunya. Sangat cantik dan tampan.
"Mama, cepat kemari," ucapnya agar sang istri segera menghampirinya.
Mama Chintya berjalan lebih cepat agar segera sampai ke box bayi tersebut. Mama Chintya matanya berbinar-binar saat melihat kedua cucunya.
__ADS_1
"Subhanallah, cucu kita sangat cantik dan ganteng ya Papa."
"Iya Mama, anak kita kan cantik lagian suaminya juga ganteng. Ya cucu kita pasti cantik dan ganteng dong Mama. Lagian Kakeknya juga ganteng," ucapnya dengan percaya diri.
Mereka lalu terkekeh sambil melihat cucunya yang masih tertidur. Tak lama kemudian Karin mulai mengerjapkan matanya.
"Sayang... Alhamdulillah kamu sudah sadar," ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
Saat Karin sudah sadar Baby Keifano langsung menangis. Mama Chintya lalu menggendong cucunya dan berjalan mendekati Karin agar Karin menggendong anaknya.
"Nak, sepertinya putramu haus."
"Putraku haus Mama?"
"Iya nak. Coba kamu berikan asi kamu. Nanti anak kamu langsung terdiam."
"Coba bawa kesini Mama..."
Karin lalu menggendong putranya. Anaknya sekilas mirip wajahnya dengan suaminya. Karin mengecup wajah putranya dengan penuh kasih sayang. Karin lalu mencoba memberikan asi untuk putranya dan benar saja apa yang Mamanya katakan kalau anaknya kini tengah kehausan.
"Nama anak kita siapa Mas?"
"Keifano Putra Sanjaya," ucapnya dengan senyuman.
"Kalau nama putri kita siapa Mas?"
"Keisha Putri Sanjaya." Kemudian Yudha menggendong Baby Keisha dan mendekatkan ke arah Karin.
"Wah, cantiknya."
"Iya sayang, cantik seperti dirimu."
Tak lama kemudian Baby Keisha juga menangis. Kini Yudha berusaha untuk menenangkannya. Tapi sepertinya sia-sia. Baby Keisha juga merasakan kehausan.
"Sayang, Keisha juga haus nih." Kemudian Mama Chintya mengambil Baby Keifano agar Karin bisa memberikan asi untuk Baby Keisha.
__ADS_1
Baby Keifano kini sudah kenyang dan akhirnya tertidur. Sekarang giliran Baby Keisha yang harus minum asi. Tak lupa Karin juga mengecup wajah putrinya sebelum memberikan asi. Karin terkagum saat melihat putrinya. Sangatlah cantik meskipun masih bayi namun sudah terlihat aura kecantikannya.