Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Jawaban Anisa


__ADS_3

Anisa sudah sholat istikharah dalam seminggu ini beberapa kali. Anisa sudah memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan dan nanti akan menjawabnya langsung setelah Keifano datang. Dion sekarang sedang menelpon Yudha dan menyuruh Keifano datang nanti malam. Dion pun belum tahu akan jawaban anaknya mau menerima lamaran Keifano atau tidak. Soalnya Anisa nanti akan mengumumkannya saat Keluarga Sanjaya sudah datang.


Anisa masih ingat pesan Alya. Siapapun yang menjadi jodohnya nanti, Anisa harus patuh kepada suaminya. Meskipun usianya lebih muda atau lebih tua darinya. Tidak hanya itu Alya memberikan tips agar rumah tangga supaya langgeng. Kuncinya adalah saling jujur dan percaya terhadap pasangan. Sebab Alya dan Dion juga seperti itu. Mereka rumah tangganya tidak ada yang mengganggu baik pelakor atupun pebinor. Anisa pun menurut perkataan Uminya. Alya lega saat Anisa mengerti dan sanggup menjalankan apa yang Alya sarankan.


Di rumah Yudha sekarang mereka sedang dirundung kecemasan. Entahlah, mereka semua ingin Anisa yang menjadi istrinya Keifano terutama Karin. Sejak tadi Dion telepon lalu Karin memikirkan apa nanti jawaban Anisa.


"Mas, bagaimana kalau Anisa menolak Keifano?"


"Ya mau gimana lagi sayang. Berarti mereka tidak berjodoh."


"Kamu kok jawabnya gitu sih!" Karin kesal dengan suaminya. Yang Karin inginkan adalah solusi agar Keifano bisa tetap menikah dengan Anisa.


"Kita harus bagaimana lagi sayang? Masa tetap mau memaksa Anisa untuk menjadi istrinya Keifano?"


"Cinta itu tidak bisa dipaksakan sayang," ucap Yudha kembali.


"Mas lupa? Kak Risa dan Kak Rey kan dulunya juga dijodohkan. Tapi mereka akhirnya saling mencintai dan punya 2 anak dari pernikahannya."


"Wanita selalu benar. Meskipun aku berkata benar tapi tetap saja wanita yang menang." Batin Yudha.


"Mas kok diam saja?"


"Iya, yang kamu katakan memang benar."


"Ayo kita ke kamar Keifano. Aku sudah tidak sabar menunggu malam tiba. Aku ingin tahu jawaban Anisa mau menerima Keifano atau tidak."


Yudha mengangguk dan beranjak dari duduknya. Yudha dan Karin mengetuk pintu kamar anaknya.


"Ceklek," suara pintu kamar terbuka. Sekarang Karin dan Yudha sudah masuk ke dalam kamar anaknya.


"Nak, Om Dion barusan telepon. Katanya kita harus kesana nanti malam. Anisa akan menjawab mengenai lamaran kamu."


"Baiklah Mama."


"Kamu nanti jangan lupa berpakaian yang rapi ya nak."


"Pa, apa Anisa langsung menjawab iya? Tidak juga kan? Berpakaian biasa saja bolehkah?"


"Penampilan kamu harus lebih keren lagi dari kemarin nak. Firasat Mama, Anisa akan menerima lamaran kamu," jawab Karin dengan senyuman.


"Aku hanya takut jika Mama kecewa saat Anisa menolak aku." Batin Keifano.

__ADS_1


"Ya sudah Mama dan Papa hanya ingin menyampaikan bahwa Anisa akan memberikan jawabannya malam ini."


"Jika ditolak kamu harus berlapang dada ya nak."


"Iya Papa, Mama."


Karin dan Yudha lalu pergi dari kamar anaknya. Keifano lalu kembali ke ranjangnya.


...*****...


Malam telah tiba kini Keifano sudah berpakaian rapi. Keifano lalu turun dari kamarnya dan sudah ada Yudha dan Karin yang menunggunya.


"Sudah siap?" tanya Yudha.


"Sudah Papa."


"Ya sudah ayo. Kita segera berangkat," ucap Karin.


Keifano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah Keluarga Hendrawan. Empat puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Dion. Sang asisten rumah tangganya mempersilakan masuk. Sekarang mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu.


"Jadi bagaimana keputusan kamu nak?" tanya Yudha.


Karin juga tidak mau memaksa Anisa. Yudha tadi menjelaskan panjang lebar bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Jika dijalani dengan terpaksa nantinya tidak akan harmonis dalam rumah tangganya. Anisa lalu memandang Umi, Abi dan juga saudara kembarnya secara bergantian. Mereka memberikan kode anggukan kepala. Mereka akan setuju dengan apapun keputusan Anisa.


"Nak, jadi gimana? Apa kamu mau menerima lamaran nak Keifano?" tanya Dion kepada putrinya.


"Insya'allah Anisa menerima lamaran ini."


Karin, Yudha dan Keifano begitu terkejut dengan perkataan Anisa. Mereka pikir Anisa akan menolaknya.


"Sungguh nak? Apa aku tidak salah dengar?"


"Iya Tante. Anisa sudah sholat istikharah dan Allah memberikan pertunjuknya bahwa Keifano adalah jodoh Anisa."


"Alhamdulillah..." Mereka semua mengucapkan syukur atas perkataan Anisa.


Karin memberikan sekotak cincin berlian itu kepada Anisa. Alya lalu membantu untuk memakaikannya. Sekarang Anisa sudah resmi menyandang status sebagai calon istri Keifano.


"Jadi kita langsung bisa membahas tanggal pernikahannya," ucap Karin.


"Iya lebih cepat lebih baik," sahut Dion.

__ADS_1


"Lihatlah kedua anak kita terlihat saling malu-malu," ucap Yudha.


"Anisa kalau dilihat-lihat cantik juga, padahal dia sedang tidak berdandan. Cassandra saja setiap hari selalu tidak ketinggalan untuk selalu merias wajahnya. Anisa memang wanita yang berbeda." Batin Keifano.


Keifano tersenyum tipis dan melihat wajah Anisa. Sedangkan Anisa tidak berani memandang lama-lama wajah Keifano. Meskipun Keifano calon suaminya tapi Anisa enggan melihatnya terlalu lama. Anisa cuma melihat sekilas dan langsung menundukkan pandangannya. Itulah yang Karin suka dari Anisa. Selalu menjaga pandangannya terhadap laki-laki lain yang bukan mahramnya. Anisa seperti Alya dulu, dia juga menjaga pandangannya terhadap laki-laki. Karin kagum dengan Alya dan Dion yang mendidik anak-anaknya dengan baik. Bahkan Karin merasa kalah dengan mereka. Namun Karin bahagia semua anaknya menurut perintahnya.


Mereka lalu sepakat akan menikahkan Anisa dengan Keifano dua bulan lagi. Pertemuan mereka lalu diakhiri dengan makan malam bersama. Sekarang Keluarga Sanjaya sudah pamit pulang ke rumah. Karin tersenyum bahagia saat keluar dari rumah Dion. Tebakannya ternyata benar bahwa Anisa menerima Keifano sebagai calon suaminya. Karin bahagia akhirnya akan mempunyai menantu seperti Anisa, menantu yang menurutnya sempurna.


Sekarang mereka semua sudah sampai rumah. Tiba-tiba Key datang dan menemui Karin, Yudha dan Keifano. Key kepo lamaran Kakaknya akan ditolak atau diterima.


"Papa, Mama apa kata Kak Anisa? Lamaran Kak Keifano diterima atau ditolak?" tanyanya penasaran.


"Alhamdulillah Kakakmu akan segera menikah," jawab Karin.


"Alhamdulillah, Kak Anisa berarti menerima lamaran dari Kakak."


"Iya nak," jawab Yudha.


"Selamat ya Kak. Wah sebentar lagi aku akan punya Kakak ipar. Oh iya pernikahannya akan dilaksanakan kapan?"


"Dua bulan lagi."


"Kakak, setelah menikah aku ingin segera punya keponakan yang lucu-lucu."


"Heh, belajarlah dulu yang benar. Kamu jangan minta yang aneh-aneh dari Kakak," ucap Keifano sambil menepuk pundak Key.


"Ah, iya benar kata adikmu sayang. Kamu harus segera memberikan Papa dan Mama cucu yang lucu-lucu. Kalau bisa kembar seperti kamu dan Keisha," ucap Karin terkekeh.


"Hahaha bisa jadi mereka akan punya anak kembar juga nanti. Kan Anisa juga punya kembaran," ucap Yudha.


"Papa, Mama dan Key... Aku belum menikah tapi kalian sudah menagih anak saja dariku."


"Kan baru rencana sayang. Hidup itu harus ada planning."


"Keifano pamit ke kamar duluan." Keifano lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya.


Sedangkan di tempat lain Anisa sedang tersenyum melihat cincin yang melingkar pada jari manisnya.


"Aku akan menikah dengannya sebentar lagi. Mudah-mudahan saja perlahan Keifano nanti bisa mencintaiku," ucap Anisa tersenyum tipis.


Anisa berani menjawab iya karena Keifano sudah putus dengan kekasihnya. Lagian Anisa juga kasihan dengan Keifano yang hanya dimanfaatkan oleh mantan kekasihnya itu. Anisa akan mencoba untuk membuat Keifano mencintainya setelah menikah nanti. Bukankah cinta datang karena terbiasa. Anisa yakin seiring berjalannya waktu Keifano pasti akan mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2