
Karin ketiduran di kamarnya. Kado untuk suaminya tadi Karin letakkan dilaci meja riasnya. Yudha tersenyum saat membuka kamarnya melihat istrinya sedang tertidur pulas. Yudha lalu berjalan mendekati Karin dan mengecup keningnya sekilas. Yudha memperhatikan badan Istrinya.
"Kamu sekarang kelihatan agak gendutan sayang, tapi aku bahagia karena itu pertanda bahwa kamu bahagia menikah denganku," ucapnya lirih sambil mengusap puncak kepala Istrinya.
Bagaimana berat badan Karin tidak naik kalau dimalam hari Karin ngemil biskuit atau makan. Tapi Yudha bahagia kini tubuh istrinya tidak ramping lagi, sekarang lebih terlihat berisi. Yudha belum menyadari bahwa istrinya sudah terlambat datang bulan karena Karin juga belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hatinya sampai saat ini. Yudha hanya mengira Karin akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat saja.
Yudha lalu pergi ke kamar mandi. Setelah mandi sekarang Yudha sudah berpakaian rapi. Yudha lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang dan mengamati wajah Karin.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu mau menjadi pendamping hidupku. Dulu aku cuma bermimpi bisa menjadi laki-laki pilihanmu. Mungkin saja kita sudah ditakdirkan untuk bersama. Terima kasih kamu telah mau menjadi istriku," ucap Yudha mengecup pipi Karin pelan dan lalu memeluknya.
Karin yang dari tidur pulas pun terusik saat Yudha tiba-tiba memeluknya. Karin mulai mengerjapkan matanya dan melihat wajah suaminya.
"Mas...... Mas sudah pulang."
"Sudah sayang, Mas sudah pulang dari tadi."
"Ma-Maaf....." Lirihnya.
"Maaf untuk apa sayang?" Yudha bingung seketika istrinya meminta maaf.
"Maaf karena Karin ketiduran jadi gak menyambut kedatangan Mas."
"Tidak apa-apa sayang."
"Mas aku ke kamar mandi sebentar ya?"
Yudha mengangguk, Karin berjalan ke kamar mandi mencuci wajahnya. Karin lalu keluar dari kamar mandi dan melihat Yudha sedang duduk di sofa. Karin akan ke dapur untuk membuatkan teh jahe untuk suaminya. Karin melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dengan cepat Karin membuatkan teh jahe untuk suaminya. Setelah selesai Karin membawa ke kamarnya secangkir teh jahe tersebut. Mama Sabrina tadi saat akan ke dapur melihat menantunya membuat teh jahe. Mama Sabrina beruntung mempunyai menantu seperti Karin.
"Alhamdulillah, Yudha ternyata tidak salah pilih istri. Karin sangat perhatian sama Yudha dan menjalankan tugas sebagai istri dengan baik."
"Sayang, diminum dulu teh jahenya. Aku tinggal mandi dulu ya Mas." Karin memberikan teh jahe untuk suaminya.
"Iya sayang," ucap Yudha sambil mengambil secangkir teh jahe dari tangan Karin.
Karin lalu sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
"Mas pasti lapar. Ayo kita makan dulu Mas."
Yudha mengangguk dan mereka makan di ruang makan bersama.
Malam telah tiba setelah sholat isya berjamaah dan makan malam bersama-sama, Karin lupa memberi kado untuk suaminya. Kini Karin sudah terlelap dalam mimpi.
Pagi telah tiba mereka sudah sarapan pagi bersama dan Karin mengantarkan Yudha sambil ke depan. Karin melambaikan tangannya kepada suaminya. Karena hari ini jam pertama kosong jadi Karin masih di rumah. Karin melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
"Astaga aku lupa akan sesuatu," ucapnya sambil menepuk jidatnya.
Karin lalu membuka lacinya. Kotak hadiah yang akan dikasih untuk Yudha Karin letakkan diatas meja riasnya. Karin lalu membuka laci yang lainnya. Terdapat beberapa tablet dalam lembaran pil penunda kehamilannya yang sudah dikonsumsi maupun yang belum dikonsumsi. Karin lalu membuangnya ke tong sampah yang ada di kamarnya.
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Karena kini anakku sudah hadir," ucapnya sambil memegang perutnya dan bibirnya melengkung ke atas membentuk seperti bulan sabit.
__ADS_1
Karin sekarang sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke kampus. Saat keluar kamar Bibi sudah ada didepan pintu kamarnya. Seperti biasa Bibi membersihkan kamarnya setiap pagi.
"Bi, Karin minta tolong untuk mencuci semua pakaian yang baru saja aku beli ya. Badanku sudah agak gendutan jadi beberapa pakaianku sudah tidak muat aku pakai."
"Siap Non. Kalau begitu Bibi mau bersihkan kamar dulu."
Karin mengangguk dan lalu pergi ke kampusnya. Saat Bibi mau membuang sampah Bibi melihat beberapa obat pil penunda kehamilan yang Karin buang. Bibi lalu meraihnya dan akan memberikan ke Mama Sabrina. Bibi mengetuk pintu kamar Mama Sabrina.
"Nyonya......." Serunya memanggil Mama Sabrina.
"Ada apa Bi kok teriak-teriak?" Sambil membuka pintu kamarnya.
"Nyonya saya menemukan ini di kamar Den Yudha dan Non Karin."
Mama Sabrina membolakan matanya saat melihat beberapa pil penunda kehamilan.
"Nyonya saya permisi dulu."
"Ya..............."
Setelah Bibi pergi dari hadapannya. Mama Sabrina tak percaya bahwa menantunya tega melakukan hal itu diam-diam dibelakang suaminya.
"Ternyata Karin selama ini menunda kehamilannya bukan Yudha yang mandul. Yudha harus tahu nanti seperti apa kelakuan istri kesayangannya dibelakangnya," ucapnya menghela nafas panjang.
Mama Sabrina akan mengumpulkan semua orang nanti saat mereka sudah pulang.
Sore hari telah tiba kini Papa Yudhistira telah pulang. Mama Sabrina meminta suaminya untuk segera mandi dan makan lalu berkumpul di ruang keluarga. Yudha kini sudah tiba di rumahnya dan langsung menuju ke ruang keluarga.
"Ada yang mau Mama sampaikan. Kita tunggu Karin datang dulu ya nak."
"Hmm iya Mama," ucapnya sambil meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Bibi. Karin sudah tiba langsung saja Mama Sabrina untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Karena semuanya sudah berkumpul ada beberapa hal yang belum kalian ketahui selama ini."
Yudha jadi penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Mama Sabrina. Kemudian Mama Sabrina mengambil beberapa pil penunda kehamilan yang berada di sakunya dan meletakkannya ke meja. Mata Karin membulat sempurna saat melihat pil penunda kehamilannya ada di meja. Yudha terkejut ternyata Karin mengkonsumsi pil penunda kehamilan selama ini.
Kini Karin tidak memberi kejutan untuk suaminya tapi dirinya yang diberi kejutan oleh Mama mertuanya karena ketahuan meminum pil penunda kehamilan selama ini.
"Karin coba jelaskan kamu sudah berapa lama kamu mengkonsumsinya?" ucapnya dengan nada yang tinggi.
Karin terkejut dengan gaya nada bicara suaminya yang terdengar sangat marah.
"Sejak kita habis menikah." Karin berbicara dengan jujur.
"Kenapa kamu melakukan hal itu nak?"
"Papa, aku punya alasan tersendiri. Waktu itu aku tidak ingin terjadi kenapa-kenapa saat Karin ospek jika Karin hamil. Jadi terpaksa aku meminumnya Pa."
"Papa kecewa sama kamu nak," ucapnya sambil pergi meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
Kini tinggal Mama sabrina, Karin dan Yudha saja yang ada di ruang keluarga.
"Mas, aku bisa menjelaskan alasanku yang sebenarnya." Karin menggenggam tangan Yudha.
Yudha hanya terdiam saat ini. Dirinya bingung harus bicara apa lagi kepada istrinya. Rasa kecewanya kini sudah terlihat dari raut wajahnya.
"Karin apa yang kamu lakukan itu salah nak. Kamu tidak izin dulu kepada suami kamu untuk meminum pil penunda kehamilan. Yudha pasti mengerti kalau saat kamu mau ospek kamu bilang dulu ingin menunda kehamilan. Yudha maafkan Mama yang menuduh kamu waktu itu tidak bisa memberikan keturunan untuk Karin."
"Mama, maafin Karin."
"Sudahlah nak, kalian urus masalah ini dan cari jalan keluarnya. Mama mau menyusul Papamu dulu dan Mama tidak berhak mencampuri urusan kalian," ucapnya meninggalkan ruang keluarga.
Kini hanya tinggal mereka berdua di ruang keluarga.
"Mas.................." Karin memelankan suaranya.
Yudha masih terdiam, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Mas maafkan aku." Lirihnya sambil menunduk.
"Aku sedang tidak ingin bicara lagi sama kamu. Aku sangat kecewa Karin. Aku butuh ketenangan saat ini," ucapnya melepaskan genggaman tangan Karin dan bangkit dari tempat duduknya.
"Mas ada sesuatu hal yang belum kamu tahu," ucapnya saat Yudha berjalan menjauh dari dirinya.
Yudha tidak menoleh ataupun menjawab Karin. Yudha terlanjur kecewa sama istrinya. Karin mengikuti suaminya sampai ke kamar. Namun Yudha menutup pintu dan mengunci kamarnya sehingga Karin tidak bisa membuka pintunya.
"Mas dengarkan dulu penjelasanku. Saat ini aku sedang..." Karin hampir saja keceplosan bicara kalau dirinya sedang hamil.
Karin ingin melihat suaminya membuka kadonya secara langsung karena Karin ingin melihat ekspresi wajah suaminya. Entahlah ini kemauannya atau kemauan anaknya, Karin hanya ingin melihat suaminya membuka kadonya didepannya.
Yudha tidak mengaktifkan mode kedap suara saat ini. Jadi terdengar dari luar Karin berbicara apa saja.
"Mas buka pintunya... Aku ada kado buat kamu. Buka dulu isinya Mas, aku yakin kamu tidak akan marah lagi. Kamu hanya salah paham Mas hiks.. hiks..." Kini Karin sudah meneteskan air mata.
Yudha masih diam saja tidak menjawab perkataan istrinya maupun membukakan pintu untuknya.
"Mas aku ingin kamu membuka kado yang ada diatas meja riasku. Aku ingin melihatmu membukanya didepanku. Mas tolong buka pintunya." Karin mengetuk pintu kamarnya berusaha agar Yudha mau membukakan pintu untuknya.
Karin sudah setengah jam berada didepan pintu kamarnya. Tapi Yudha tidak kunjung membukakan pintunya. Yudha terlanjur kecewa sama istrinya.
"Maafkan aku telah mengecewakanmu Mas. Kalau kamu tidak mau membukakan pintunya, aku akan pergi dari rumah ini Mas," ucap Karin mengancam suaminya.
Sepuluh menit telah berlalu namun Yudha enggan membukakan pintu kamarnya. Karin lalu berdiri dari duduknya karena dari tadi Karin duduk di lantai bersenderan di balik pintu.
"Maafkan aku telah membuatmu kecewa Mas. Sungguh aku tidak ada niat untuk mengecewakamu. Kamu bilang ingin ketenangan kan? Aku akan mengabulkan permintaan kamu Mas."
Yudha tak kunjung membukakan pintu untuknya. Karin tidak tahu lagi harus gimana. Kini suaminya sudah terlanjur kecewa kepadanya. Karin lalu berniat akan menjauh dan pergi dari kehidupan Yudha. Membiarkan suaminya agar tenang terlebih dahulu seperti permintaannya.
"Mulai sekarang aku akan pergi dari hidupmu Mas. Semoga kamu bahagia meski tanpa diriku," ucapnya dengan nada tinggi agar Yudha dapat mendengarnya.
__ADS_1
Karin lalu menghapus air matanya. Kini Karin sangat kecewa, suaminya tidak mau membukakan pintu untuknya dan tidak mau mendengarkan dulu penjelasan darinya. Kini Karin pergi dari rumah Yudha. Didalam Yudha melihat ke arah jendela, mobil Karin terlihat pergi meninggalkan halaman rumah. Kini Karin benar-benar pergi dari rumahnya. Yudha menghapus air matanya lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang karena dari tadi Yudha berada dibalik pintu kamarnya, mendengarkan semua perkataan istrinya sambil menangis.