
Kandungan Karin kini sudah berjalan 3 bulan. Mereka malam ini akan segera pergi ke Indonesia naik jet pribadi milik Keluarga Wijaya. Tujuan mereka adalah ke Jakarta tidak ke Bandung lagi karena Karin ingin pulang ke rumah orang tuanya. Pagi hari mereka sudah sampai di Indonesia. Dua mobil yang menjemput mereka.
Papa Keynan yang menjemput mereka hari ini. Mereka langsung pulang ke rumah. Semua keluarganya menyambut kedatangannya. Mereka sekarang berkumpul dengan keluarga besarnya.
Setelah mengobrol dan makan bersama. Karin dan Yudha beserta kedua anaknya kini sudah menempati kamarnya. Kedua anaknya untung tidak menangis. Seketika Karin ingin memakan rujak. Sepertinya segar sekali bayangannya. Karin membayangkannya sambil mengelus perutnya.
"Mas, aku ingin memakan rujak."
"Rujak?"
"Iya Mas. Aku ingin memakan rujak mangga muda. Sepertinya enak Mas dan aku ingin memakannya sekarang."
Yudha yang tadi sedang duduk di sofa pun lalu berdiri dan mengambil dompetnya.
"Baiklah sayang, aku akan membelikan rujak untukmu."
Saat mau melangkahkan kakinya keluar kamar. Karin mencegah Yudha untuk keluar kamar terlebih dahulu.
"Mas, tunggu sebentar. Aku ingin rujak bikinan sendiri. Aku ingin kamu mencari buahnya Mas dan aku nanti yang membikin bumbu rujaknya."
"Iya sayang. Aku akan mencarinya sekarang."
"Sabar ya nak. Papa akan mencari mangga muda untuk kamu," ucapnya sambil mengusap-usap perut Karin sebentar.
"Iya Papa," ucapnya menirukan suara anak kecil.
Kedua anaknya kini telah tertidur pulas. Sebelum pergi mencari mangga muda untuk istrinya tak lupa Yudha mengecup pipi anaknya satu persatu.
"Ya sudah sayang aku akan mencari buah mangganya sekarang juga."
Karin mengangguk pelan.
"Hati-hati ya Mas."
"Iya sayang. Aku tinggal sebentar ya, aku hanya pergi sebentar saja."
__ADS_1
Yudha lalu membuka pintu kamarnya. Setelah Yudha pergi, Karin lalu meminta Mamanya untuk menjaga cucunya sebentar. Karin akan membuat bumbu rujaknya.
Yudha pergi ke supermarket dan tidak ada mangga muda di supermarket. Yudha lalu pergi ke pasar. Setelah muter-muter pasar hampir setengah jam akhirnya Yudha menemukan penjual mangga. Yudha beli mangga dua kilogram agar Karin puas memilih mangga yang mana yang akan dirujak.
Setelah mendapatkan yang dirinya cari akhirnya Yudha melajukan mobilnya pulang ke rumah. Yudha lega akhirnya ngidam istrinya tidak aneh-aneh. Seperti Risa yang dulu saat ngidam saat hamil Reno dan Revano, Rey sampai pusing mencarinya.
Setelah sampai rumah Yudha langsung mencari istrinya. Ternyata Karin sedang di dapur meletakkan bumbu rujaknya ke dalam mangkuk.
"Sayang, ini pesanan kamu ada. Aku langsung membelinya dua kilogram biar kamu puas mau memilih mangga yang mana yang ingin kamu buat rujak." Sambil menyerahkan satu plastik kresek berwarna putih tersebut.
"Wah, terima kasih ya Mas," ucapnya sambil melihat buah mangganya.
Karin lalu mencuci mangga muda tersebut dan mengirisnya di piring.
"Mas, temani aku makan rujaknya."
"Aku ikut makan mangganya sayang?"
"Iya Mas. Cobalah, ini sangat enak sekali."
Yudha lalu mengambil satu irisan mangga yang paling kecil dan dimasukkan ke dalam bumbu dan memakannya. Rasanya terlalu asam sekali di lidahnya. Tapi kata Karin mangganya enak. Yudha baru tersadar bahwa yang namanya ibu hamil lagi ngidam lidahnya jadi terasa berbeda. Setelah Karin melihat Yudha sudah selesai memakan satu irisan mangganya.
"Lagi sayang?" ucapnya terbengong dan harus memakan mangga mudanya lagi.
"Iya Mas. Aku ingin melihatmu memakan rujak mangga mudanya lagi."
"Gimana Mas, enak kan rujak mangganya?"
"Hmm... Iya sayang. Enak kok rujak mangganya," ucapnya sambil tersenyum tipis agar istrinya senang.
...*****...
Hari cepat berlalu. Kini kandungan Karin sudah berjalan 6 bulan lebih 5 hari. Tadi Risa dan Rey ingin mengajak anak-anaknya pergi ke Bogor. Karin lalu ingin ikut dan Yudha lalu mengabulkan permintaan Karin. Mereka kini beriringan mobilnya.
Setelah sampai di Bogor. Yudha ingin mengabadikannya dengan berfoto bersama istrinya. Karin meminta tolong dengan Risa untuk menitipkan anaknya sebentar. Yudha meminta tolong dengan Rey untuk memfotonya. Mereka lalu berpose bergandengan tangan.
__ADS_1
"Sip. Hasilnya bagus banget," ucap Rey sambil mengacungkan jempolnya.
Yudha dan Karin lalu melihat hasil jepretan Rey.
"Wah iya bagus juga Kak Rey. Terima kasih ya."
"Iya sama-sama Karin."
Yudha dan Karin lalu mendekati anak-anaknya. Karin tidak menyangka di usianya yang baru 23 tahun akan punya anak lagi dan kini Yudha sudah berusia 30 tahun. Berkat bantuan Risa kini butik milik Karin sudah mempunyai cabang sampai ke Kota Bandung. Semenjak pulang ke Korea waktu itu bersama Yudha, Risa yang membantu Karin untuk memilih tempat yang strategis untuk butik milik Karin. Mamanya juga ikut membantunya dalam hal dekorasi butiknya. Tempat butiknya terkesan elegan dan mewah. Kini Karin sekarang berprofesi sebagai fashion designer. Karin sedang merancang gaun pernikahan. Rata-rata rancangannya terjual bisa sampai belasan juta untuk satu gaun pernikahan saja.
Sedangkan Yudha kini menjadi pengusaha sumses dalam bidang kuliner. Sekarang Yudha sudah mempunyai restoran sendiri. Karin dan Yudha sekarang sudah sukses dalam bidangnya masing-masing. Tak sia-sia Yudha belajar bisnis dan bekerja di cabang perusahaan Papanya Risa yang berada di Korea. Kini Yudha telah berhasil menjadi pengusaha sukses setelah meninggalkan profesinya sebagai seorang Dokter.
Mereka akhirnya bertamasya bersama anak-anak mereka. Udara yang sejuk sekali dan pemandangan yang indah cocok sekali untuk ibu hamil seperti Karin. Yudha sekarang sudah menjual rumahnya yang lama. Karena Karin tidak mau tinggal di rumahnya. Ingatan akan kehilangan ketiga anaknya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Akhirnya dengan bantuan Om Kevin, Papanya Risa rumah itu terjual dengan cepat. Kini sambil menunggu rumah yang tepat untuk mereka beli jadi Yudha dan Karin tinggal di rumah orang tua Karin.
Dua mingguan kemudian, Om Kevin memberitahu Yudha ada rumah yang baru dan bagus tak lupa letaknya yang sangat strategis. Yudha langsung mau meninjau rumah tersebut bersama dengan Karin. Kalau istrinya setuju Yudha akan ambil rumah tersebut.
Setelah melihat-lihat lokasi dan desain rumah tersebut Karin menyukainya. Akhirnya Yudha langsung membayar lunas rumah itu.
"Mas, kita akan mempunyai rumah baru lagi?"
"Iya Alhamdulilah sayang. Oh iya sayang nanti saat usia kehamilan kamu sudah berjalan 7 bulan nanti boleh tidak kalau aku mengundang kedua orang tuaku untuk hadir di acara tujuh bulanan?" Tanyanya penasaran.
"Boleh saja Mas," ucapnya dengan senyuman sambil mengusap perutnya pelan. Bagaimanapun juga calon cucunya juga ingin Nenek dan Kakeknya datang. Karin tidak ingin menaruh dendam dengan mertuanya. Meskipun Mama Sabrina berulang kali menyakiti hatinya.
"Kamu sudah memaafkan Mama Sabrina sayang?" Tanyanya dengan serius menatap wajah istrinya.
"Sudah lama aku memaafkan Mama kamu Mas. Hanya saja Mama kamu terus mengulanginya lagi dan berkali-kali mencampuri urusan kehidupan rumah tangga kita."
Yudha lega istrinya telah memaafkan Mamanya. Padahal Mamanya telah berbuat jahat selama ini dengan Karin. Yudha bersyukur akhirnya tidak salah memilih istri. Sudah cantik, pintar dan masih muda. Yang terpenting baginya Karin bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.
"Iya sayang. Maka aku ingin kita sekarang punya rumah sendiri. Kita bisa fokus dengan kehidupan kita dan juga anak-anak saja."
"Iya Mas. Makasih ya sudah mau mengerti kemauan aku."
__ADS_1
"Iya sayang dan ini juga demi kebaikan kita bersama sayang."
Karin tersenyum akhirnya mereka mempunyai rumah sendiri lagi.