
Malam hari setelah makan malam bersama Anisa langsung tidur. Keifano terheran biasanya istrinya masih berkutat dengan laptopnya dan selalu menyiapkan dan mengecek kembali materi terlebih dahulu untuk besok mengajar di kampusnya. Namun malam ini Anisa begitu terlihat tidak seperti biasanya. Perlahan Keifano mendekati Anisa dan menempelkan tangannya ke dahi Anisa. Seketika Keifano terkejut karena Anisa demam.
"Tadi sore kan hujan. Pasti Anisa kehujanan saat menuju ke parkiran mobil."
Keifano merasa khawatir lalu turun dari kamar dan mengambil baskom dan air. Keifano lalu mengompres Anisa berkali-kali dengan telaten hingga panasnya turun. Setelah panasnya turun Keifano lalu berbaring disampingnya.
"Selamat tidur istriku. Aku menyayangimu," ucap Keifano mengecup pipi Anisa sejenak dan lalu menaikkan selimutnya.
Keifano lalu memejamkan matanya yang sudah mengantuk karena menjaga Anisa semalaman.
Pagi hari Anisa mengerjapkan matanya dan merasakan ada sesuatu yang menempel pada dahinya. Anisa tersenyum tipis saat suaminya semalam perhatian kepadanya. Semenjak kesalahpahaman itu mereka sekarang hanya seperti dulu saat awal-awal menikah dan tidak ada kata sayang seperti biasanya yang terucap. Padahal mereka berdua merindukan saling memanggil dengan panggilan sayang.
"Kamu sudah bangun?" tanya Keifano yang habis mandi.
"Iya," jawabnya singkat.
"Kamu tidak usah ke kampus saja hari ini. Kesehatan kamu sedang tidak bagus dan semalam kamu demam."
Anisa mengangguk pelan dan memang dia memang tidak enak badan hari ini.
"Makasih semalam sudah merawat aku," ucap Anisa.
"Kamu adalah tanggungjawabku jadi tidak perlu berterimakasih kepadaku," ucap Keifano tersenyum tipis.
Sekarang Keifano sedang sarapan pagi bersama keluarganya. Keifano sudah bilang kalau Anisa lagi sakit dan Bibi sedang membuatkan bubur untuk Anisa. Tak lama kemudian buburnya sudah jadi. Bibi lalu akan memberikan bubur tersebut kepada Keifano.
"Ini Den, buburnya sudah jadi."
"Makasih ya Bi."
"Sama-sama Den. Semoga Non Anisa cepat pulih."
Keifano hanya mengangguk dan meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya. Setelah kepergian Keifano ke kamarnya lalu Keyla membuka suara.
"Wah Kakak so sweet banget ya. Kayaknya mau nyuapin Kak Anisa deh," ucap Keyla matanya berbinar-binar.
"Iya sepertinya Kakakmu sudah mulai bucin sama Anisa," ucap Yudha.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin diperhatikan seperti Kak Anisa makanya buruan nikah!" ucap Key yang lalu dipelototi oleh Karin.
"Hanya bercanda kok Mama," ucap Key tersenyum sambil memperlihatkannya gigi putihnya.
"Kakak ini keterlaluan deh. Keyla kan masih SMA dan jika yang seharusnya menikah itu adalah Kak Keisha."
Perkataan Keyla seketika membuat Keisha tersedak. Keisha sedang kuliah S3 dan tidak jadi S3 keluar negeri karena di Indonesia Keisha mengambil kelas internasional.
"Keyla kamu bisa lihat kalau Kakakmu ini masih kuliah," ucap Keisha.
"Tapi kan Kak, aku juga ingin Kakak segera menikah dan memberikan aku keponakan," ucap Keyla terkekeh.
Keyla sudah sering membujuk Kakaknya untuk menikah entah Keisha ataupun Key. Keyla hanya ingin punya keponakan banyak dari Kakak-kakaknya.
"Masih lama Kakak menikahnya. Kalau kamu mau duluan silakan!"
"Kakak ini yang benar saja. Keyla masih duduk di bangku SMA."
"Ya siapa tahu kalau setelah kamu lulus SMA langsung menikah. Buktinya Mama dulu menikah sama Papa saat setelah lulus SMA."
"Keisha jaga bicara kamu!" ucap Yudha.
"Ah tidak bisa begitu. Bagaimanapun juga Keyla masih anak-anak. Umumnya masih terlalu kecil untuk menikah," ucap Karin.
"Lalu apa bedanya dengan Mama dulu? Mama juga menikah muda kan sama Papa?" ucap Keisha yang membuat Karin kesal.
Anaknya itu selalu melawannya. Meskipun sikap Keisha seperti dirinya namun Karin juga merasa kesal jika Keisha melawannya.
"Sepertinya aku harus segera menikahkan Keisha. Bagaimanapun juga Keisha yang harus menikah duluan setelah itu baru Key dan yang terakhir Keyla." Batin Karin.
...*****...
Setelah sampai kamarnya Anisa terlihat masih bersenderan di ranjangnya. Keifano lalu memberikan bubur tersebut.
"Makanlah, biar perutmu terisi. Agar cepat sembuh," ucap Keifano berbicara dengan lembut.
"Tidak, mulutku rasanya pahit dan kepalaku pusing."
__ADS_1
"Kamu harus makan Anisa. Sini aku suapin," ucap Keifano yang merebut mangkok dari tangan Anisa.
Keifano lalu menyuapi Anisa hingga buburnya sampai habis.
"Apa mau nambah? Di dapur masih ada."
"Tidak perlu," jawab Anisa.
Keifano lalu meraih gelas yang berisi air putih tersebut.
"Ya sudah. Aku ke rumah sakit dulu. Kamu jaga kesehatan kamu ya."
Anisa mengangguk pelan dan Bibi telah mengambil mangkok dan gelas dari kamarnya. Setelah suaminya pergi ke rumah sakit. Anisa kembali ingin tidur karena tidak enak badan. Pagi ini dan sudah izin hari ini tidak mengajar dan materi kuliahnya sudah dikirim via online. Anisa merasakan pusing dan mual pagi ini. Rasanya perutnya seperti diaduk-aduk. Anisa lalu menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi.
"Hoekk....... Hoekkk.........." Anisa memuntahkan isi perutnya pada wastafel kamar mandi.
Berkali-kali Anisa merasakan mual pagi ini. Setelah selesai mual rasa pusingnya lumayan berkurang. Anisa membersihkan mulutnya dan berjalan pelan-pelan dari kamar mandi dan lalu duduk di tepi ranjangnya. Anisa meraih hp dan mengecek kalender. Matanya terbelalak saat sekarang sudah tanggal 8. Biasanya Anisa mendapatkan tamu bulanannya setiap akhir bulan.
"Aku terlambat datang bulan sudah 11 hari dan tadi aku mual. Mungkinkah aku hamil?" ucapnya lirih dan melihat ke arah perutnya yang masih rata.
"Ah aku harus memastikannya," ucap Anisa yang lalu mengambil alat tes kehamilan dari dalam lacinya.
Anisa masuk ke dalam kamar mandi dan lalu menggunakan alat tes kehamilan tersebut. Anisa berjalan mondar-mandir sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagu. Anisa penasaran menunggu hasilnya.
"Bagaimana kalau aku hamil? Keifano masih kecewa sama aku dan ia tidak ingin punya anak dariku." Sekarang Anisa dilanda ketakutan karena suaminya tidak percaya dengannya.
Anisa menarik napas dalam-dalam dan lalu menghembuskannya perlahan. Anisa dengan tangan gemetar lalu melihat hasilnya. Matanya berbinar-binar saat melihat hasilnya. Anisa tak menyangka sudah ada kehidupan dalam perutnya. Sang buah hatinya kini sudah hadir. Dengan segera Anisa mencuci alat tes kehamilan tersebut lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Anisa duduk ditepi ranjangnya.
"Aku hamil, sekarang sudah ada anak dalam perutku. Keifano kita akan punya anak sayang," ucapnya sambil tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Anak yang selalu dinantikannya kini telah hadir. Anisa seketika terlihat murung disisi lain suaminya tidak menginginkan anak darinya karena adanya kesalahpahaman waktu itu. Kini Anisa bingung akan bilang sama Keifano atau merahasiakan tentang kehamilannya sampai Anisa bisa menjelaskan kesalahpahaman tersebut.
"Aku harus bahagia atau bersedih," ucap Anisa yang tak terasa air matanya sudah menetes mengingat Keifano tidak ingin punya anak darinya karena sudah kecewa dengan Anisa.
Untuk sementara Anisa akan merahasiakan tentang kehamilannya. Anisa lalu teringat saat dulu pernah membicarakan jika Anisa hamil maka akan berubah panggilannya dengan Keifano menjadi ayah dan bunda.
"Hallo sayang, ini bunda nak. Makasih ya nak kamu sudah hadir. Bunda menyayangi kamu nak," ucap Anisa sambil mengusap perutnya pelan.
__ADS_1
Seketika Anisa merasakan perutnya bergejolak lagi karena mualnya kembali menyerang. Anisa berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Anisa mungkin nanti akan ke rumah sakit untuk periksa kandungannya dan sekalian ingin berkonsultasi pada kehamilan pertamanya.