Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 61 - Second Night


__ADS_3

Yudha dan Karin setelah makan mereka akan berbicara mengenai bulan madu yang tadi Yudha katakan dengan Papanya. Mereka lalu berbicara di taman belakang.


"Mas, kita kan akan bulan madu ke bandung. Kok Mas bilang akan ke Paris Perancis?"


"Sayang itu kan yang ke bandung hadiah dari Alya dan Dion. Kalau ke Paris itu memang sudah aku rencanakan sejak lama. Aku ingin berbulan madu bersama istri yang ku cintai di Perancis. Aku ingin membawamu ke Menara Eiffel."


"Jadi kita bulan madu dua kali gitu Mas?"


"Iya sayang biar kamu bisa cepat nyusul Alya hamil anak kembar. Aku ingin kamu segera hamil sayang, aku sudah menantikan kehadirannya." Yudha lalu memegang perut Karin.


Tatapannya sendu seolah penuh harapan. Harapan terbesarnya setelah menikahi Karin segera ingin punya anak darinya. Karin melongo mendengar perkataan suaminya itu yang sangat menginginkan anak darinya dan memang sudah menjadi resikonya menikah dengan laki-laki yang lebih tua darinya.


"Bulan madu dua kali? Aku bisa hamil beneran setelah ini. Padahal aku belum siap untuk punya anak." Batin Karin.


Karin masih membayangkan bagaimana Risa kemarin kesakitan saat akan melahirkan Reno. Teriakan Risa di dalam mobil masih terngiang-ngiang di kepalanya. Karin lalu berkemas-kemas melipat beberapa pakaiannya ke dalam koper. Karena mulai nanti malam Karin akan ikut suaminya kemanapun ia pergi Karin harus selalu berada disisinya.


Mulai hari ini Karin dibawa Yudha untuk tinggal bersama di rumahnya. Sehabis sholat isya mereka berangkat. Papa Yudhistira dan Mama Sabrina menyambut kedatangan menantunya dengan senang hati. Papa Yudhistira lega akhirnya gadis yang dulunya ingin ia jodohkan dengan anaknya ternyata gadis pilihan anaknya sendiri. Mama Sabrina bahagia sekarang Karin sudah resmi menjadi istri Yudha.


"Assalamualaikum......."


"Wa'alaikum Salam......."


Yudha dan Karin lalu mengecup punggung tangan Papa Yudhistira dan Mama Sabrina secara bergantian.


"Sayang, ayo masuk. Mama sudah masak spesial untuk menyambut kamu sebagai menantu di Keluarga Sanjaya," ucap Mama Sabrina tersenyum.


"Iya Mama." Karin tersenyum merekah yang terukir di wajahnya, ada aura bahagia saat ini.


Mama Sabrina menggandeng menantunya masuk ke dalam. Yudha bahagia Mamanya sangat suka dengan Karin dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Bibi membawa koper Yudha dan Karin untuk dimasukkan ke dalam kamar Yudha dan sekaligus menatanya di lemari yang berada di walk in closet.


Mereka lalu menuju ke ruang makan dan makan malam bersama. Setelah selesai makan malam Papa Yudhistira memulai pembicaraannya.


"Nak, apa kalian sudah merencanakan untuk bulan madu?"


"Iya sudah Papa, Yudha ingin mengajak Karin berbulan madu ke Paris. Tapi kita akan berbulan madu ke bandung terlebih dahulu soalnya kita dapat kado pernikahan dari Alya dan suaminya untuk bulan madu ke bandung," ucap Yudha menjelaskan.


"Wah mereka baik banget ya nak. Kasih kalian kado bulan madu ke bandung," ucap Papa Yudhistira.


"Jadi kalian bakalan dua kali bulan madunya?" Tanya Mama Sabrina dengan wajah yang berbinar-binar.

__ADS_1


"Iya Mama," ucap Karin singkat.


"Wah Mama, kita bakalan cepat punya cucu kalau begitu."


"Iya Papa. Oh iya nak, bukankah Alya sedang hamil anak kembar?"


"Iya Mama. Alya sedang hamil anak kembar."


"Hebat juga suaminya. Usianya yang 3 tahun lebih muda bisa membuat Alya mengandung sekaligus dua anak."


Yudha seperti tersambar petir mendengar ucapan Mamanya itu. Seolah-olah Yudha tidak bisa memberikan cucu untuk mereka sekaligus dua. Yudha tidak ingin kalah dengan Dion. Yudha akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Karin mengandung anak kembar juga. Yudha akan segera mewujudkan impian itu. Karena tidak ingin dianggap remeh oleh Mamanya. Yudha yakin Karin nanti juga bisa hamil anak kembar.


"Mama, Yudha juga bisa kok memberikan cucu untuk Papa dan Mama kembar. Coba saja lihat beberapa bulan nanti, Karin akan aku pastikan hamil anak kembar juga."


Karin terkejut saat suaminya berbicara seperti itu dengan kedua orang tuanya.


"Mama pegang omongan kamu ya sayang. Kayaknya memang seru kalau punya cucu kembar. Apalagi kalau yang satu laki-laki dan satunya perempuan."


"Iya Mama, sepertinya lucu ya kalau cucu kita wajahnya mirip Karin. Wajahnya pasti akan sangat imut dan menggemaskan."


"Iya Papa, Mama berharap cucu kita nanti segera hadir."


"Sayang, jangan lupa kamu kasih Karin obat penyubur kandungan."


Karin menenangkan suaminya agar tidak marah dengan Mama sendiri. Karin menggenggam tangan kiri Yudha dengan tangan kanannya. Yudha mengerti maksud istrinya agar tidak terbawa emosi. Yudha memang membutuhkan istri yang seperti Karin yang bisa mengingatkannya jika ia salah.


"Tidak begitu sayang maksud Mama. Kamu itu kan seorang dokter kandungan harusnya kamu memberikan itu juga ke istrimu."


"Karin tidak perlu minum obat penyubur kandungan Mama. Yudha bisa membuat Karin nanti hamil secepatnya. Mama bisa pegang omongan Yudha."


Yudha tidak habis pikir bahwa Mamanya meragukan kemampuannya. Sedangkan Mama Sabrina bermaksud baik agar menantunya cepat mengandung cucunya hanya itu saja yang ada di pikiran Mama Sabrina. Mereka lalu menyudahi acara makan malam mereka dan lalu pergi ke kamarnya masing-masing.


"Mama, tadi keterlaluan berbicara seperti itu dengan Yudha. Yudha jadi merasa tersinggung Mama."


"Papa, bukan maksud Mama menyinggung perasaan Yudha. Namun waktu itu menantu Keluarga Wijaya yang bernama Risa saat itu minum obat penyubur kandungan dari Yudha bisa langsung hamil kan?"


"Iya juga sih Mama. Sepupu Karin langsung hamil saat sudah mengkonsumsi obat yang Yudha berikan."


"Nah maka dari itu Pa. Mama ingin Karin juga mengkonsumsi obat itu juga. Tapi Yudha malah tersinggung. Mama tidak ada maksud untuk menyinggung perasaan Yudha.

__ADS_1


"Sudahlah Mama, Papa pusing. Itu biar Yudha yang menanganinya saja. Sekarang kita tidur saja Mama."


"Baiklah Papa ini juga sudah malam. Mama mau ambil minum dulu Papa. Marah-marah ternyata membuatku haus juga," ucap Mama Sabrina.


"Ambilkan Papa juga ya Mama. Papa juga haus."


Mama Sabrina lalu berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk minum dan membawakan minuman untuk suaminya.


Di kamar, Yudha menutup pintu dan menguncinya. Tak lupa Yudha mengaktifkan mode kedap suara di kamarnya. Yudha yang masih terbawa emosi atas perkataan Mamanya tadi saat meragukan kemampuannya. Yudha menatap wajah Karin, seketika Karin menjadi takut dengan tatapan suaminya.


"Mas... Mas kenapa?"


Yudha berusaha untuk mendekati istrinya. Karin semakin takut dengan Yudha saat ini. Karin perlahan berjalan mundur.


"Mas bicaralah! Jangan membuatku semakin bingung."


"Sayang ayo mari kita buktikan bahwa kita bisa berikan cucu kembar. Aku akan membuatmu hamil anak kembar sayang," ucap Yudha berbisik ditelinga Karin.


Karin terkejut ternyata suaminya masih mengingat ucapan Mamanya. Karin tidak menjawab perkataan suaminya. Yudha langsung mencium bibir Karin. Yudha yang masih terbawah emosi pun langsung Karin dorong tubuhnya dengan kedua tangannya sampai Yudha terduduk di ranjang.


"Aku gak mau jika kamu masih terbawa emosi!" ucap Karin sambil meninggalkan Yudha ke kamar mandi.


Yudha baru sadar apa yang ia lakukan barusan dan membuat istrinya takut. Yudha merutuki dirinya sendiri tidak bisa mengontrol emosinya. Yudha akan minta maaf setelah ini. Tak lama kemudian Karin keluar dari kamar mandi. Yudha yang akan mendekati Karin, tetapi Karin berusaha untuk menghindarinya.


"Sayang, maafkan aku. Tadi aku terbawa emosi. Aku hanya tidak terima Mama meragukan kemampuanku," ucapnya yang sudah mulai meneteskan air mata.


Karin masih terdiam. Baru kali ini Karin melihat Yudha menangis. Karin lalu mengusap air mata suaminya.


"Mas, jangan terlalu kepikiran apa yang Mama katakan. Mama tidak ada maksud untuk meragukan kemampuanmu."


"Mama hanya ingin segera kita memberikan cucu untuknya. Percayalah Mama tidak ada maksud yang lain. Kamu jangan sakit hati atas perkataan Mama dan kamu jangan marah ya sama Mama," ucap Karin kembali.


"Sayang, kamu memang yang terbaik dan aku butuh wanita sepertimu. Terima kasih ya sayang." Yudha lalu memeluk Karin.


Karin lega akhirnya dirinya bisa meyakinkan Yudha agar tidak terbawa emosi lagi dan sekarang sudah terbuka pikirannya.


"Iya Mas. Aku sudah pakai baju yang kamu tadi inginkan. Kamu ingin aku tadi memakainya kan?" ucap Karin sambil melepaskan pelukannya.


Yudha lalu melihat baju tidur yang Karin pakai. Baju tidur pemberian dari Risa dan Rey sangat pas di badan Karin. Yudha sangat takjub melihatnya. Malam ini Karin begitu cantik dimata Yudha. Yudha jadi semakin sayang dan mencintai istrinya.

__ADS_1


"Ah sayang, kamu sangat cantik sekali malam ini."


Karin tersenyum akhirnya suaminya tidak lagi emosi dan bahkan sekarang sudah bisa tersenyum. Sesuai dengan janjinya akhirnya malam ini mereka kembali memadu kasih. Yudha bahagia istrinya itu bisa pengertian dan Yudha memang membutuhkan wanita seperti Karin. Ternyata dirinya tidak salah pilih istri. Meskipun Karin masih muda namun usia tidak bisa menjamin pikiran seseorang untuk berpikiran dewasa.


__ADS_2