
Karin dan Yudha hari ini akan mulai pindah ke rumah barunya. Mereka kemarin sudah melakukan pengajian dan syukuran atas rumah barunya. Jadi mulai hari ini mereka akan tinggal di rumah baru tersebut. Rumahnya cukup besar karena ada 6 kamar. Kamar untuk mereka berdua, kamar untuk ketiga anaknya dan ada satu kamar tamu dan satu lagi kamar untuk pembantu.
Karin menatap kamarnya. Sangat indah interior kamarnya dan sesuai dengan keinginannya.
"Sayang, apa kamu suka dengan kamar baru kita?" Yudha sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Iya Mas, aku menyukainya. Mas mengagetkan aku saja." Karin lalu melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke arah sofa. Karin duduk di sofa tersebut dan menyenderkan tubuhnya.
Yudha berjalan mendekati istrinya dan duduk disampingnya. Pandangan Yudha kini ke arah perut Karin yang sudah mulai membesar. Yudha lalu mengusap-usap perut Karin.
"Anak Papa sehat-sehat ya nak. Tiga bulan lagi kita akan bertemu sayang," ucapnya sambil mengecup perut Karin. Anaknya pun merespon dengan tendangan kecilnya.
Perut Karin tidak terlalu besar karena hanya mengandung satu anak saja. Berbeda saat mengandung si kembar. Pinggangnya sering sakit waktu hamil si kembar. Yudha lalu merebahkan kepalanya ke perut Karin dan memeluknya. Karin tersenyum, kebiasaan suaminya saat dirinya hamil pasti seperti ini. Menempelkan kepalanya ke perutnya seraya ingin mendengarkan anaknya yang masih dalam kandungan. Karin juga nyaman jika suaminya seperti ini. Suaminya sangat sayang kepada anaknya yang masih ada dalam kandungannya. Karin mengelus kepala suaminya. Kalau sudah begini Yudha jadi betah berlama-lama memeluk istrinya.
Seketika air matanya menetes membasahi pipinya. Yudha yang tahu istrinya menangis lalu melepaskan pelukannya dan langsung menjatuhkan kepalanya dari perut Karin. Yudha langsung menghapus air mata Karin.
"Sayang kenapa kamu menangis?"
"Aku bahagia Mas. Karena kita bisa bersama lagi. Kamu ingat tidak saat aku sedang hamil si kembar. Kandunganku saat itu berjalan lima bulan dan baru bisa bertemu denganmu. Namun saat ini selama aku hamil kamu berada terus disamping diriku. Aku bahagia Mas selalu ada untukku."
Yudha lalu menghapus air mata Karin lagi.
"Aku berjanji akan selalu bersama kamu sayang. Kamu sudah, jangan menangis lagi ya? Nanti anak kita juga sedih." Sambil memegang perut Karin dengan tangan kirinya.
"Iya Mas," ucapnya dengan senyuman dan memegang tangan suaminya.
Yudha tangan kanannya lalu memegang dagu istrinya. Karin menutup matanya saat apa yang akan suaminya lakukan. Perlahan Yudha mendekatkan wajahnya pada istrinya. Saat mau mengecup bibirnya anaknya Keifano membuka pintu kamarnya secara tiba-tiba.
"Mama............." Seketika Keifano terbengong saat melihat Papa dan Mamanya.
Yudha lalu tidak jadi untuk mengecup bibir istrinya dengan segera menjauhkan wajahnya dan tersenyum ke arah putranya. Karin yang mendengar putranya memanggilnya pun lalu membuka matanya.
"Eh? Sayang, sini nak."
Keifano lalu berjalan mendekati Karin dan Yudha. Dengan cepat Yudha memangku putranya yang tadi menggagalkan aktivitasnya untuk mengecup bibir istrinya. Keifano berbicaranya masih cedal karena umurnya baru dua tahunan.
"Papa au tium Mama kok idak jak Keifano?" [Papa mau mencium Mama kok tidak mengajak Keifano?]
Yudha jadi salah tingkah bingung menjawab pertanyaan anaknya. Karin lalu mengerti bahwa suaminya bingung mencari alasan untuk menjawab pertanyaan putranya.
__ADS_1
"Tadi Papa Yudha mau ajak Keifano dengan Keisha. Namun kalian tadi masih bermain bersama," ucap Karin beralasan dan bingung juga mau jawab gimana lagi.
Keifano langsung mengecup pipi Karin.
"Papa juga dong nak. Masa cuma Mama saja?" Sambil meletakkan tangannya ke pipinya.
Keifano juga mengecup pipi Yudha. Karin dan Yudha langsung melempar senyuman. Yudha dan Karin juga mengecup pipi anaknya bergantian.
"Ma..... Dik pan luarna?" [Ma..... Adik kapan keluarnya?] Sambil memegang perut Karin.
"Sebentar lagi sayang," ucapnya dengan senyuman sambil mengusap kepala anaknya.
Yudha memberitahu kepada anaknya jika Keifano dan Keisha akan mempunyai adik biar anaknya paham jika perut Karin yang semakin membesar itu tandanya ada adiknya Keifano dan juga Keisha dalam perut Mamanya Anak-anaknya pun paham setelah mendengar penjelasan dari Papanya dan melihat perubahan perut Karin dari bulan ke bulan yang semakin membesar.
"Erut Mama kok gelak-gelak cendili?" [Perut Mama kok bergerak-gerak sendiri?"
"Itu tandanya sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan adik kamu nak," ucap Yudha menjelaskan.
"Acik...... Sebental agi emu dik." [Asyik....... Sebentar lagi bertemu adik.]
"Keifano ayang dik." [Keifano sayang adik.] Sambil memeluk perut Karin.
"Sayang bagaimana kalau kita mengajak anak-anak jalan-jalan ke mall?"
"Boleh juga sayang. Suntuk juga di rumah."
"Nak, kita jalan-jalan yuk. Kamu mau kan?"
Keifano menganggukkan kepalanya.
"Sekarang temuin Keisha dan beritahu kalau kita akan jalan-jalan."
"Iap Papa." [Siap Papa.] ucapnya sambil hormat.
"Anak yang pintar," ucap Karin sambil memegang pipi Keifano, Karin tersenyum senang anaknya penurut.
"Pintar dong sayang, kan Papa dan Mamanya juga pintar. Anaknya juga pasti akan pintar," ucapnya terkekeh.
Keifano lalu berjalan keluar dari kamar Papa dan Mamanya. Dengan cepat Yudha menutup pintu kamar dan menguncinya.
__ADS_1
"Kok dikunci sih Mas kamarnya? Kan kita sebentar lagi akan ke mall bersama anak-anak."
Yudha hanya tersenyum dan mendekati istrinya.
"Kita lanjutkan yang tadi sempat tertunda."
Karin melongo mendengar perkataan suaminya. Dengan cepat Yudha langsung mengecup bibir istrinya. Sekarang anaknya tidak akan mengganggunya karena kamarnya sudah Yudha kunci. Karin langsung mendorong tubuh suaminya pelan.
"Mas, aku mau mandi. Kita kan akan ke mall bareng anak-anak."
"Ah iya aku sampai lupa," ucapnya sambil menepuk jidatnya.
"Sayang tapi aku masih ingin bersamamu."
"Nanti lagi kan bisa Mas. Sudahlah aku mau ke kamar mandi dulu."
"Tidak boleh! Peluk aku dulu sayang. Aku ingin kamu memelukku."
Semenjak Karin hamil Yudha jadi manja dan sering minta untuk dipeluk. Karin merasa bahwa ini merupakan keinginan anaknya yang masih dalam kandungannya. Anaknya mungkin selalu ingin dekat-dekat dengan Papanya.
"Hmm iya sayang kemarilah," ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.
Yudha langsung memeluk istrinya. Rasanya begitu nyaman sekali saat berpelukan dengan Karin. Lima menit kemudian Yudha melepaskan pelukannya.
"Sudah puas kamu nak? Mengerjain Papa dan Mama berpelukan selama 5 menit lamanya?" ucap Karin sambil mengelus perutnya dan anaknya merespon dengan tendangannya.
Yudha terkekeh saat mendengar Karin berbicara seperti itu.
"Anak kita ingin kita selalu berdekatan sayang."
"Iya, itu sebenarnya juga modus Papanya juga kan?" ucapnya lalu diakhiri dengan tertawa.
"Modus sama istri sendiri kan tidak apa-apa sayang? Daripada modus sama perempuan lain."
Mendengar kata perempuan lain Karin langsung menatap tajam ke arah suaminya. Yudha seketika merutuki dirinya sendiri telah berbicara seperti itu. Karin lalu meninggalkan Yudha dan lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang Karin sedang mandi dan Yudha lalu duduk di sofa.
"Duh, sepertinya tadi aku salah bicara." Batin Yudha sambil memijat keningnya yang mulai pening.
Yudha baru sadar bahwa ibu hamil itu sifatnya sensitif dan akan sering emosian, mood juga sering berubah-ubah. Yudha merutuki dirinya sendiri tadi berbicara seperti itu.
__ADS_1