
Tinggalkan like sebelum membaca ya 😍🤗
Ferdi langsung membawa Keisha ke rumah sakit. Ia khawatir akan terjadi sesuatu dengan wanita yang masih singgah dalam hatinya tersebut. Waktu berjalan begitu cepat Dokter keluar.
"Gimana keadaan pasien Dokter?"
"Alhamdulillah, istri Anda tidak apa-apa. Hanya saja kandungannya lemah saat ini. Mohon usahakan istri Anda tidak terlalu banyak pikiran ya Pak. Agar hal ini tidak terjadi lagi."
Ferdi tersenyum getir saat Dokter berbicara seperti itu. Bahkan Ferdi tidak tahu apa sebabnya Keisha bisa sampai pendarahan.
"Seandainya saja Keisha beneran istriku dan anak yang ada dalam kandungnya adalah anakku. Alangkah bahagianya hidupku," batin Ferdi.
Ferdi segera menepis bayangan dan sekaligus harapan yang tidak akan pernah kesampaian itu.
"Baik Dok, apa saya bisa menemuinya?"
"Bisa Pak, silakan. Tapi pasien mungkin akan sadar beberapa jam lagi karena masih terpengaruh obat bius."
"Iya Dok."
Ferdi lalu segera masuk ke ruangan. Dia melihat wanita yang tengah mengandung itu belum sadar sampai saat ini. Ferdi lalu duduk di kursi dan menggenggam tangan Keisha.
"Keisha, kenapa kamu jadi seperti ini? Apa suami kamu tidak peduli lagi sama kamu?" lirihnya.
Tadi Ferdi melihat mobil suaminya Keisha ada di rumah. Sudah beberapa jam namun Keisha tidak kunjung ada tanda-tanda sadar. Pandangan Ferdi lalu pada perut buncit Keisha. Ia ingin menyapa anak dari wanita yang selalu ada dalam hatinya tersebut.
"Kamu sehat-sehat ya nak. Om berharap kamu bisa membuat Mama kamu kuat," ucapnya sambil mengusap perut Keisha pelan.
Ferdi terkejut saat bayi dalam kandungan Keisha itu merespon dengan tendangan kecilnya.
"Hallo sayang, Om bahagia kamu bisa merespon. Sehat-sehat ya, sampai kita nanti bisa berjumpa lagi. Om tunggu sampai kamu lahir. Om janji akan membawa mainan yang banyak untuk kamu."
Ferdi tersenyum tipis saat merasakan lagi tendangan kecil dari perut Keisha. Ferdi berpikir bahwa jika saja saat ini Keisha ada miliknya dan pastinya akan sangat bahagia karena bayi dalam kandungannya itu adalah anaknya. Namun itu semua hanya angan-angan saja. Karena Keisha saat itu menolak dijodohkan dengannya dan lebih memilih untuk menikah dengan Adrian.
Karena mendengar suara pria dari tadi yang berbicara, Keisha akhirnya mengerjapkan matanya. Keisha terkejut saat Ferdi berbicara dengan anaknya. Air matanya langsung menetes. Karena sikap hangat Ferdi tak pernah suaminya lakukan selama ini.
"Keisha, Alhamdulillah kamu sudah sadar."
"Eh, maaf tanganku reflek dan lancang memegang perut kamu," ucapnya kembali dan lalu menarik tangannya.
"Tidak apa-apa. Mas Ferdi makasih ya udah bawa aku ke rumah sakit."
"Iya sama-sama, tapi kamu harus di rawat malam ini karena kandungan kamu masih lemah."
"Mas, aku tidak tahu kalau tidak ada Mas Ferdi mungkin saja anakku tidak akan bisa selamat," ucap Keisha yang lalu air matanya kembali menetes.
"Hus jangan berbicara seperti itu. Kamu tidak boleh banyak pikiran ya. Kamu sedang hamil dan tidak baik kalau kamu kebanyakan pikiran," ucapnya yang lalu menghapus air mata Keisha.
"Seandainya saja aku nurut Papa waktu itu dan mau dijodohkan dengan Mas Ferdi, mungkin aku tidak akan pendarahan seperti tadi. Sikap Mas Ferdi sangat hangat dan dewasa sekali. Tidak seperti Mas Adrian," batin Keisha.
Menyesal? Sudah pasti itu yang dirasakan Keisha saat ini. Ingin bersama Ferdi itu tidak mungkin karena dia statusnya masih istri orang.
Penyesalan selalu saja datang diakhir. Keisha lalu teringat dengan saudara kembarnya yang tak lain adalah Keifano. Meskipun tadinya Keifano dan Anisa tidak saling mencintai namun pada akhirnya mereka bahagia dan saat ini Kakaknya itu sedang diberi anugerah terindah. Sebab Anisa sedang hamil juga saat ini.
"Harusnya aku nurut sama Papa seperti Keifano yang mau dijodohkan dengan Anisa. Sekarang rumah tangganya begitu bahagia. Aku jadi iri dengan saudara kembarku sendiri," batin Keisha.
Seketika Keisha sadar akan lamunannya ketika ia menolak laki-laki yang sedang menemaninya di rumah sakit. Ferdi masih saja perhatian dengannya meskipun Keisha dulu sudah menolaknya.
__ADS_1
"Keisha, apa kamu ada masalah dengan suamimu?"
"Kenapa Mas bisa berpikiran seperti itu?"
"Karena aku tadi lihat mobil Adrian masih terparkir di halaman rumah."
Keisha jadi berpikir ingin menutupi sesuatu tapi tidak bisa lagi karena Ferdi tahu ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Memang ada masalah dalam rumah tanggaku Mas. Suamiku menyalahkan aku saat tahu aku hamil. Karena Mas Adrian belum ingin cepat-cepat punya anak."
"Seandainya saja aku yang menjadi suami kamu Keisha. Aku justru bahagia akan segera punya anak darimu," ucapnya yang keceplosan.
"Eh astagfirullah, aku tidak bermaksud berbicara seperti tadi. Maafkan aku yang bicaranya tidak bisa direm," ucapnya kembali.
"Iya Mas tidak apa-apa," ucapnya tersenyum tipis.
"Aku Menyesal telah menolak laki-laki sebaik kamu Mas. Seandainya saja waktu bisa aku putar kembali Mas," batin Keisha.
"Mas Ferdi maafkan aku."
"Maaf untuk apa Keisha?" tanyanya bingung.
"Dulu aku menyakiti hati Mas Ferdi."
"Sudah kamu jangan pikirkan hal itu. Yang penting kamu fokus saja dulu sama kehamilan kamu."
"Iya Mas. Makasih ya atas perhatiannya."
Ferdi lalu mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Ferdi jadi ingin tahu kenapa Keisha bisa sampai pendarahan dan suaminya tidak peduli.
Keisha lalu menceritakan kalau tadi habis dari Dokter kandungan bersama suaminya. Ferdi terkejut saat Keisha bilang bahwa Adrian baru mengantarnya periksa satu kali.
"Jadi ceritanya seperti itu Mas. Lalu aku bilang kalau aku tidak pernah berbicara macam-macam dengan Dokternya. Tapi Mas Adrian tidak percaya dan bahkan mendorong aku sampai tubuhku terbentur ujung sofa. Mas Adrian lalu pergi naik ke lantai atas kamarnya saat aku mengeluh perutku sakit dan ia bilang tidak peduli."
"Astaga, suami kamu itu benar-benar keterlaluan Keisha."
"Mas Adrian tadi tidak tahu kalau aku pendarahan Mas. Untung saja ada Bibi yang menolongku."
"Benar-benar keterlaluan si Adrian itu. Sudah tahu Keisha mengeluh kesakitan juga Adrian tidak peduli. Apa hatinya terbuat dari batu?" gerutu Ferdi dalam hati.
"Oh iya Mas. Aku minta tolong kamu untuk pergi ke rumah suamiku. Kamu beritahu Mas Adrian kalau aku masuk rumah sakit."
"Keisha bahkan masih menganggap Adrian sebagai suaminya. Benar-benar istri yang setia, Adrian kamu beruntung sekali bisa mendapatkan wanita sebaik Keisha," batin Ferdi.
"Ditelepon saja Keisha biar Adrian biar langsung ke rumah sakit."
"Kalau begitu pinjam hp sebentar ya Mas."
"Boleh," ucapnya yang lalu meraih hp dalam sakunya.
Keisha menelepon suaminya beberapa kali dan tidak diangkat.
"Keisha aku beritahu ke Om Yudha ya kalau kamu masuk rumah sakit."
"Jangan Mas," cegah Keisha.
"Loh kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut Papa dan Mama akan kepikiran."
"Hmm baiklah."
Ferdi dari tadi ingin bertanya kenapa sudut bibir Keisha terlihat lebam. Karena penasaran akhirnya Ferdi akan memberanikan diri untuk bertanya.
"Keisha maaf, aku juga sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kamu. Tapi itu kenapa sudut bibir kamu jadi lebam seperti itu?"
"2 hari yang lalu Mas Adrian sedang bikin ppt untuk bahan yang akan diajarkan minggu depan. Malam itu aku sudah mengantuk dan aku tak sengaja menumpahkan kopi pada bajunya. Mas Adrian lalu marah dan memukul aku."
"Keisha, Adrian sudah melakukan KDRT sama kamu."
"Aku sudah tidak apa-apa kok Mas. Wajar saja Mas Adrian marah karena kopinya masih panas dan terkena bajunya."
"Itu bukan salah kamu Keisha, harusnya Adrian tidak menyuruh kamu untuk membuat kopi malam hari. Seharusnya malam hari Adrian bisa meluangkan waktunya untuk perhatian sama kamu."
"Tapi Mas Adrian tidak bisa seperti itu Mas. Ia tidak sayang lagi sama aku sejak aku hamil dan katanya tubuhku sudah tidak bagus lagi. Bahkan Mas Adrian bilang aku sudah seperti badut, bertubuh besar dengan perut yang membuncit."
Sudah 2 bulan ini Keisha nafsu makannya meningkat bahkan sampai 2 kali lipat dari biasanya.
"Kamu tidak terlihat gendut kok. Justru semakin terlihat chubby menurut aku."
Keisha hanya terdiam saja lalu Ferdi perlahan menggenggam tangan Keisha.
"Keisha, jika kamu tidak tahan dengan pernikahan ini. Lepaskan Adrian dan menikahlah denganku," pinta Ferdi.
Keisha terkejut saat Ferdi berbicara seperti itu dan perlahan Keisha lalu menarik tangannya.
"Mas Ferdi, laki-laki sebaik kamu tidak pantas bersanding dengan aku. Kamu bisa mendapatkan gadis cantik di luar sana yang lebih baik dariku."
"Tapi Keisha, aku hanya mencintaimu ..."
Keisha masih ingin mempertahankan rumah tangganya dan yakin jika anaknya lahir suaminya akan kembali lagi menyayanginya seperti dulu.
"Mas, aku sudah punya suami dan sebentar lagi aku akan punya anak. Aku yakin cepat atau lambat kalau kamu bisa mencintai wanita lain Mas."
Ferdi hanya diam saja saat ini karena lagi-lagi ditolak oleh Keisha.
"Baiklah, aku akan berusaha move on dan melupakan kamu. Aku permisi pulang dulu ya Keisha dan jangan lupa makan setelah itu diminum obatnya," ucapnya yang lalu beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati pintu.
"Maafkan aku Mas Ferdi,” lirihnya saat Ferdi sudah keluar dan menutup pintu.
Bersambung ...
Yuhu akhirnya author up lagi 1,4k kata 😁
Maaf baru sempat up lagi, melihat data statistik yg sangat memprihatinkan author jadi sedih.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian untuk novel yang berpenghasilan 1 bungkus yuppy ini 😥😂
Ditunggu vote gratisnya. Ini vote minggu kemarin.
__ADS_1