Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Langsung Terkena Karma


__ADS_3

Karin dan Key sekarang sudah di rawat di rumah sakit. Mereka sedang ditangani oleh Dokter. Orang yang menolong Karin tadi lalu menelepon Yudha. Betapa terkejutnya Yudha mengangkat teleponnya dan bukan istrinya yang meneleponnya. Yudha lalu ke rumah sakit tempat Key dan Karin dirawat. Dua puluh menit kemudian Yudha sudah sampai di rumah sakit.


"Pak, terima kasih sudah menolong istri dan anak saya."


"Sama-sama Pak. Ini hp dan tasnya istri Bapak."


"Terima kasih Pak." Yudha lalu menerima hp dan tas Karin."


Yudha kemudian mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar presiden nomor satu di Indonesia tersebut.


"Ini buat Bapak."


"Tidak Pak, saya menolong istri dan anak Bapak dengan ikhlas."


"Pak terimalah, sebagai tanda terima kasih saya."


"Tidak perlu Pak. Saya menolong dengan ikhlas."


"Terima kasih banyak ya Pak. Semoga kebaikan Bapak dibalas sama Allah."


"Aamiin... Kalau begitu saya permisi pulang dulu ya Pak."


"Iya Pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


"Sama-sama Pak."


Orang tersebut langsung pergi. Yudha bahagia yang menolong istri dan anaknya adalah orang yang baik. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Pak, bagaimana keadaan istri dan anak saya?"


"Istri Bapak hanya sedikit berdarah di bagian pelipisnya dan sudah kami obati. Tidak ada luka yang serius. Kalau untuk anak Bapak hanya saja tadi pingsan dan sekarang sudah sadar."


"Kalau kandungan istri saya gimana keadaannya dok? Bayinya tidak terjadi apa-apa kan dok?" Tanya Yudha begitu cemas dengan putri yang masih dalam kandungan istrinya.


Yudha takut jika Karin akan keguguran lagi seperti beberapa tahun silam. Mereka kehilangan 3 anak sekaligus waktu itu.


"Bayinya tidak apa-apa Pak. Hanya saja tadi pasien mengalami kontraksi palsu."


"Bolehkah saya untuk melihatnya dok?"


"Tentu saja Pak, silakan masuk."


Yudha langsung masuk ke ruangan tersebut. Mereka dalam satu kamar rawat. Terlihat istri dan anaknya berbaring di 2 ranjang rumah sakit yang berbeda. Karin masih dalam keadaan pingsan. Sedangkan Key sedang duduk di ranjangnya.


"Papa........." Key memanggil Yudha agar mendekatinya.


Yudha berjalan mendekati anaknya.


"Kamu tidak apa-apa nak?" Yudha mengecek semua tubuh anaknya. Key hanya ada lecet sedikit di bagian tangan kirinya.


"Key tidak apa-apa Papa. Tapi itu Mama kepalanya sampai diperban," ucap Key saat melihat Mama Karin yang belum sadar.


"Key mau menemani Mama Papa," ucapnya kembali.


"Ayo sayang." Yudha menurunkan anaknya dari ranjang.


Yudha berjalan mendekati istrinya diikuti Key dibelakangnya. Karin masih diinfus di tangannya.


"Sayang......." Lirihnya.


Yudha lalu duduk di kursi.

__ADS_1


"Sayang bangunlah, jangan membuat aku semakin cemas..." Yudha menggenggam tangan Karin.


"Papa, Mama akan baik-baik saja kan Pa? Dari tadi Mama kok tak kunjung sadar." Celoteh Key.


"Iya Mama akan baik-baik saja sayang."


Tak lama kemudian Karin mulai menggerakkan tangannya kemudian mulai mengerjapkan matanya. Karin memegang pelipisnya yang sudah dibalut perban tersebut.


"Auwww... Sakit sekali kepalaku."


"Sayang, jangan banyak bergerak kalau masih sakit."


Karin melihat ke arah perutnya dan dirinya masih hamil. Karin bersyukur anak dalam kandungannya tidak kenapa-kenapa. Karin lalu ingin mengerjai suaminya. Karin sekarang berusaha untuk menahan tawanya agar tidak ketahuan. Yudha membantu membenarkan bantal Karin untuk bersenderan. Sekarang Karin sudah bersenderan dengan nyaman.


"A-aku hamil?" Dengan ekspresi terkejut sambil memegang perut buncitnya.


Yudha mengernyitkan dahinya saat ini, diikuti alisnya yang saling bertautan.


"Apa Karin mengalami hilang ingatannya akibat kecelakaan tadi? Bahkan sepertinya dia terkejut saat mengetahui dirinya hamil saat ini." Batin Yudha.


"Kamu siapa? Mengapa kamu ada disini?" ucapnya berpura-pura tidak mengingat Yudha.


"Aku suamimu sayang. Apa kamu lupa denganku?"


Karin belum menjawab pertanyaan suaminya.


"Mama, apa Mama lupa juga dengan Key?"


Karin hanya terdiam saja, menurutnya ekspresi anak dan ayah yang saat ini ada didepannya sama persis.


"Kalian wajahnya terlihat mirip." Sambil tersenyum tipis.


"Kamu jaga Mama dulu ya sayang. Papa akan panggil Dokter dulu."


Yudha menekan tombol yang ada disebelah Karin. Kemudian dirinya berjalan menuju pintu. Yudha khawatir ada masalah pada daya ingat istrinya semenjak kecelakaan tadi. Karin hanya ingin melihat ekspresi Yudha bagaimana jika dirinya hilang ingatan sama seperti Yudha beberapa tahun yang lalu. Karin tadi ingin menyudahi sandiwaranya tapi Yudha terburu-buru untuk memanggil Dokter. Sekarang Dokter sudah masuk ke ruangan.


"Dok, kenapa istri saya tidak bisa mengingat saya dan anak saya? Kata Dokter istri saya tidak apa-apa. Tapi kenapa bisa seperti ini?"


"Eh? Mana mungkin pasien hilang ingatan. Pasien hanya mengalami luka ringan pada bagian pelipisnya."


"Tapi kenapa dok, kenapa istri saya tidak bisa mengingat saya saat ini? Bahkan dia tadi terkejut saat mengetahui bahwa dirinya sedang hamil."


"Pasien tidak apa-apa. Saya tidak mungkin salah mendiagnosa."


"Apa Dokter berpikir bahwa istri saya sedang berbohong gitu?"


"Sepertinya begitu Pak," ucapnya dengan hati-hati.


Yudha lalu mendekati istrinya.


"Sayang, apa benar kamu berbohong kepadaku? Kamu sebenarnya tidak hilang ingatan kan?" Yudha mengusap rambut panjang Karin.


"Iya Mas, aku tidak hilang ingatan. Ini karena kemauan anakmu karena aku tadi ingin melihat ekspresi wajah kamu sama Key. Putri kita ingin melihat wajah terkejutnya Papa dan Kakaknya secara bersamaan," ucapnya sambil menunduk dan mengelus perutnya.


"Astaga kamu lagi ngidam," ucap Yudha sambil menepuk jidatnya karena ngidam istrinya kali ini membikin dirinya jantungan.


Dokter hanya menggelengkan kepalanya, drama ibu hamil ternyata semacam ini.


"Tidak ada masalah kan Pak? Kalau begitu saya permisi. Masih ada pasien yang harus saya tangani."


"Iya dok, terima kasih."

__ADS_1


Dokter sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Key bahagia Mama ternyata gak hilang ingatan."


"Iya nak. Mama baik-baik saja." Karin mengusap pipi putranya.


"Mas maaf..." Karin menatap wajah suaminya.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu hanya membuatku khawatir. Aku kira kamu hilang ingatan beneran."


"Jadi Mas ingin aku hilang ingatan gitu?" Tatapannya yang sendu tiba-tiba berubah menjadi tajam.


"Duh, sepertinya aku salah bicara lagi." Batin Yudha.


"Eh, tidak sayang. Aku kan tadi tidak bilang begitu..."


Tak lama kemudian ada dua orang polisi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Karin.


"Dengan Ibu Karina Alexander."


"Ya. Saya Pak. Ada apa ya Pak?"


"Istri saya salah apa dok?" Yudha takut jika istrinya menabrak orang atau bagaimana.


"Kami hanya memberikan laporan bahwa yang menabrak mobil ibu adalah seorang wanita."


"Siapa Pak yang menabrak mobil istri saya?"


"Bu Bella yang menabraknya. Dia juga yang telah menyuruh 3 orang untuk menculik anak Bapak. Penculiknya telah mengaku bahwa mereka disuruh Bu Bella."


"Bella?" Karin dan Yudha terkejut.


Bella adalah seorang pengacara yang waktu itu Mama Sabrina akan jodohkan dengan Yudha karena saat itu Karin tak kunjung hamil setelah keguguran satu tahun lamanya.


"Iya beliau meninggal di tempat kejadian. Mobilnya rusak parah karena tertabrak truk pengangkut pasir."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun..."


"Kami kesini hanya melaporkan kejadian tersebut. Untuk mobil Ibu Karin rusak bagian depan dan belakang. Mobilnya masih ada di kantor kami. Kami kesini akan meminta ibu jika keluarga almarhumah datang, ibu siap untuk dimintai keterangan sebagai korban."


"Baik Pak..."


"Kalau begitu kami permisi."


Kedua polisi tersebut sekarang sudah pergi dari ruangan tersebut.


"Sayang, ternyata Bella yang mau menculik Key dan yang menabrak mobil kamu?"


"Iya Mas. Untung saja aku membelokkan mobilku saat ada truk melaju dengan kencang. Kalau tidak..." Perkataannya terpotong karena Karin kini sudah meneteskan air mata.


"Sudah sayang jangan kamu ingat kejadian tadi." Yudha kemudian memeluk istrinya dan berusaha untuk menenangkannya.


"Mas, kalau saja aku tidak membelokkan mobilku. Mungkin saja aku, Key dan putri kita tidak akan selamat." Karin memegang perutnya.


"Sayang, Allah masih sayang sama kamu dan anak kita. Jadi dia tidak akan mengambilnya secepat itu dariku. Bella yang langsung mendapatkan karmanya atas apa yang dia lakukan."


"Iya Mas benar. Bella yang langsung mendapatkan karmanya atas perbuatannya."


"Sayang, aku bersyukur kamu, Key dan putri kita tidak kenapa-kenapa. Kata Dokter kamu hanya mengalami kontraksi palsu," ucap Yudha sambil memegang perut Karin.


"Iya Mas. Alhamdulillah Key dan putri kita tidak apa-apa..."

__ADS_1


Karin bersyukur masih bisa selamat dan Key hanya lecet sedikit di bagian tangan kirinya. Yang Karin khawatirkan dari tadi putrinya yang masih dalam kandungannya. Ternyata putrinya tidak kenapa-kenapa. Karin masih trauma keguguran beberapa tahun yang lalu.


__ADS_2