
Hari ini Karin bahagia akan di ajak suaminya jalan-jalan. Karin berdandan tipis agar terlihat lebih fresh. Gadis cantik berumur 19 tahun itu sebentar lagi akan mendapatkan gelar baru sebagai ibu muda dari ketiga anaknya. Pipinya semakin chubby tapi masih terlihat wajah imutnya.
"Sayang, kamu selalu menggemaskan."
"Mas, jangan mencubit pipiku terus."
"Hahaha..... Habis kamu selalu menggemaskan sayang."
"Karena aku gendut ya Mas?"
"Tidak sayang. Kamu semakin chubby semakin menggemaskan."
"Huh.. Alasan saja, sebenarnya mau bilang aku gendut." Batin Karin.
"Nak, Papamu sangat beruntung bisa mendapatkan hati Mama kamu. Lihatlah wajah Mama kamu masih sangat muda. Masih imut dan menggemaskan," ucapnya terkekeh kecil dengan tangannya masih berada di perut Karin.
"Mas, kita kapan berangkatnya kalau masih di kamar saja?"
"Hmm, iya ayo sayang sekarang kita akan berangkat." Yudha menggandeng tangan istrinya.
Yudha melajukan mobilnya ke arah mall. Yudha ingin mengajak istrinya jalan-jalan sekaligus berbelanja. Perut Karin semakin hari bertambah semakin membesar jadi Yudha akan membelikan beberapa baju untuk istrinya. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di mall.
"Sayang, aku mau ice cream itu."
"Baiklah, aku akan membelikan untukmu."
"Dua cup ya Mas. Toppingnya buah strawberry dan choco chips."
"Siap sayang. Kamu tunggu di sini sebentar ya."
__ADS_1
"Iya Mas." Karin menunggu Yudha dengan duduk di kursi. Karin mengelus perutnya pelan anak-anaknya kini sedang ingin ibunya mencicipi ice cream yang segar dan menggiurkan itu.
"Anak-anak Mama yang sabar ya. Papa kalian sedang membelikan ice cream untuk Mama," ucapnya sambil mengelus perutnya pelan dan Karin terkejut saat ketiga anaknya merespon dengan tendangan kecilnya.
Karena harus antri jadi Yudha agak lama membeli ice cream untuk Karin. Karin tidak menyangka di umurnya yang baru saja 19 tahun akan segera menjadi ibu dari ketiga anaknya. Karin bahagia anaknya tumbuh dengan sehat dalam kandungannya. Karin juga tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Besok pagi Yudha akan mengecek kandungan Karin.
Kini Yudha sudah membawa 2 cup ice cream pesanan istrinya.
"Sayang, ini pesanan ice cream kamu."
"Woah.. Mas pesan yang cup jumbo?" Matanya berbinar-binar saat melihat ice cream yang berada di tangan suaminya.
"Iya sayang karena anak kita tiga jadi aku pesannya yang cup jumbo hehehe," ucapnya terkekeh.
"Hmm.. Satu cup buat Mas ya. Kita nikmati ice cream ini sama-sama."
"Tidaklah Mas. Mana bisa aku menghabiskan dua cup jumbo seperti ini."
"Yuk segera kita nikmati ice cream ini. Nanti keasyikan mengobrol jadi meleleh ini ice cream."
"Iya Mas."
Mereka lalu menghabiskan ice cream itu sama-sama.
"Kalian sepertinya bahagia ya nak," ucap Karin mengelus perutnya pelan karena anaknya dari tadi menendang perutnya berkali-kali saat Karin memakan ice cream tersebut.
"Mereka bahagia sayang karena Papanya berhasil menemukan ice cream kesukaan si kembar."
Karin dan Yudha lalu tertawa bersama. Mereka tidak tahu bahwa ada sepasang mata mengintai yang sedang melihat aktivitas mereka saat ini. Orang yang sedang bersembunyi tersebut menyunggingkan senyumnya dan menelepon bos-nya. Setelah menghubungi bos-nya orang itu disuruh mengikuti kemanapun Yudha dan Karin pergi.
__ADS_1
Kini Karin dan Yudha sedang berada di toko pakaian. Karin memilih beberapa dress yang menurutnya longgar agar bisa muat jika nanti dipakai untuk beberapa bulan ke depan. Karena perutnya akan membesar setiap bulan. Tak lupa Yudha memilih beberapa baju yang bagus nan cantik untuk istrinya. Yudha ingin istrinya juga tampil cantik meskipun di rumah saja.
"Sayang, bajunya kenapa banyak sekali yang kamu pilihkan?" Karin melihat Yudha memilih beberapa baju dan dress untuk Karin.
"Sayang, biar kamu selalu tampil cantik walaupun di rumah saja."
"Gombal kamu Mas. Sudah mau punya anak juga."
"Biarin saja. Kan aku gombalnya cuma sama kamu."
Yudha dan Karin lalu berjalan menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Mereka tidak tahu ada orang yang masih mengintai Karin dan Yudha dari tadi atas perintah bos-nya. Tak lupa orang suruhan itu memfoto Karin dan Yudha dan dilaporkan ke bos-nya.
Setelah selesai berbelanja mereka makan di restoran. Yudha sesekali menyuapi istrinya. Padahal Karin sudah menolaknya karena mereka berada di tempat umum tidak sedang di rumah. Tapi Yudha tetap memaksa untuk menyuapi Karin. Akhirnya Karin menurut saja daripada suaminya ngambek. Karena suaminya sekarang lebih sering ngambek semasa Karin mulai hamil.
Setelah makan bersama. Karin dan Yudha kini akan pulang ke rumahnya. Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas, berhenti ke supermarket sebentar ya?"
"Mau beli apa sayang?"
"Mau beli buah-buahan. Aku sedang ingin membikin salad buah nanti saat kita sudah sampai di rumah."
"Baiklah sayang. Kita akan mampir ke supermarket."
Yudha melajukan mobilnya ke arah supermarket. Mereka membeli beberapa buah untuk membuat salad buah nanti. Setelah selesai berbelanja di supermarket, mereka akhirnya pulang ke rumah. Bibi membantu Yudha untuk membawa beberapa belanjaannya masuk ke dalam rumah. Bibi berbalik badan karena curiga ada seseorang yang sedang sedang memata-matai rumah majikannya.
Bibi segera masuk ke rumah dan memberitahu kepada Yudha. Ekspresi Yudha sangat terkejut mendengar ucapan Bibi saat ada seorang yang memata-matai rumahnya. Yudha lalu menyuruh Bibi untuk terus menemani Karin kalau di rumah selama Yudha bekerja di rumah sakit. Yudha sengaja tidak memberitahu Karin tentang hal ini karena tidak ingin Karin terlalu banyak pikiran sebab istrinya yang sedang hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran. Kini Karin sedang di dapur sedang memotong-motong beberapa buah yang akan dijadikan salad buah. Karin akan membuat salad buahnya banyak sekalian buat stok untuk beberapa hari ke depan. Karena Karin suka dengan salad buah. Kemarin Karin membeli salad buah di luar. Namun rasanya berbeda dengan buatannya. Akhirnya Karin kembali meracik membuat salad buah sendiri daripada beli. Salad buahnya kini sudah jadi tinggal di masukkan ke dalam kulkas dan akan bisa dinikmati nanti setelah dingin.
Orang tersebut mengirimkan lokasi rumah baru Yudha kepada bos-nya. Senyum sumringah terlihat di wajahnya. Bos mereka tak lain adalah Valeria Fani Xylscarret. Fani akan mencari waktu yang tepat untuk menemui Karin saat Yudha tidak ada di rumah. Selama ini Fani mencari tahu rumah baru Yudha tapi Mama Sabrina tidak memberitahu rumah anaknya karena suaminya tidak mengizinkannya. Papa Yudhistira tahu kalau Fani masih menyukai anaknya. Maka dari itu Papa Yudhistira tidak mau kehidupan rumah tangga Yudha dan Karin diganggu oleh Fani.
__ADS_1