Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 35 - Tak Sanggup Untuk Kehilanganmu


__ADS_3

Saat ini Yudha sudah dipindahkan ke ruang rawatnya. Papa Yudhistira memesan kamar VVIP untuk anaknya, jadi yang menjaga Yudha bisa tidur di sofa. Yudha masih lengkap dengan berbagai alat yang terpasang ditubuhnya. Mama Sabrina sudah sadar dari pingsannya. Dia ingin bertemu dengan anaknya. Mama Angel membantunya untuk ke kamar Yudha dirawat.


"Titt....Titt.....Titt......." Terdengar suara detak jantung Yudha yang stabil melalui Elektrokardiogram pemeriksaan yang berfungsi untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik. Masih terlihat garis gelombang yang naik turun bergerak dan berbunyi di layar monitor pada alat elektrokardiograf.


"Yudha......." Mama Sabrina mendekat ke arah anaknya yang masih koma dan tinggal menunggu kesadarannya.


"Nak bangunlah, disini ada kita semua yang menunggu kesadaranmu."


Tak lama kemudian Risa dan Rey akan pamit pulang karena sudah malam. Ibu hamil harus banyak istirahat dan tidak boleh tidur terlalu malam.


"Om Yudhis, kami pamit pulang dulu ya Om. Besok kami akan kesini lagi. Mami dan Papi besok juga akan kesini."


"Iya nak. Kalian hati-hati ya."


"Iya Om." Rey lalu menggenggam tangan Risa dan pergi keluar meninggalkan rumah sakit.


"Yud, kami juga pamit pulang dulu. Besok sore kita akan kesini lagi."


"Iya Kevin, kalian hati-hati ya."


Papa Kevin mengangguk pelan.


"Ayo nak," ucap Papa Kevin.


"Pa, bolehkah Karin malam ini nginap di rumah sakit? Karin ingin menemani Kak Yudha. Mungkin saja nanti atau besok pagi Kak Yudha sudah sadar."


"Baiklah, tapi kamu juga harus istirahat ya nak. Besok kamu harus sekolah. Besok setelah subuh biar di jemput sopir ya nak?"


"Iya Pa."


Papa Kevin dan Mama Angel sudah keluar dari ruang rawat inap Yudha. Tinggal Mama Sabrina, Papa Yudhistira dan Karin yang berada di ruangan itu menemani Yudha.


"Mama dan Papa tidur dulu saja di sofa. Biar Karin yang menjaga Kak Yudha."


"Tapi kamu juga harus tidur nak. Besok kamu sekolah."


"Iya nanti Karin bisa tidur ditepi ranjang Kak Yudha."


"Baiklah nak."

__ADS_1


Mama Sabrina langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa yang di sana sudah ada Papa Yudhistira dari tadi. Karin lalu duduk di kursi yang tadi Mama Sabrina duduk. Karin lalu menggenggam tangan Yudha.


"Kak Yudha harus segera sadar ya. Di sini ada Karin bersama Papa dan Mama yang nungguin Kakak."


Karin lalu kepalanya sudah berada ditepi ranjang, mata Karin sudah mengantuk. Karin mulai memejamkan matanya. Sedangkan tangannya masih memegang tangan Yudha. Satu jam kemudian tangan Yudha ada pergerakan. Karin kaget tiba-tiba tangan Yudha mulai bergerak perlahan. Karin lalu melepaskan genggamannya dan akan memberitahukan hal ini dengan kedua orang tua Yudha.


"Mama, Papa tangan Kak Yudha mulai bergerak," ucapnya dengan gembira melihat pergerakan tangan Yudha.


Mama Sabrina dan Papa Yudhistira langsung bangun dan mendekati Yudha dan benar saja tangannya mulai ada pergerakan. Tak lama kemudian tubuh Yudha mengejang. Karin panik dan lalu menekan tombol disebelah agar dokter segera datang.


"Dokter........ Suster........." Mama Sabrina berteriak sekeras mungkin agar mereka cepat datang.


Tak lama kemudian dokter dan suster langsung datang ke ruangan Yudha.


"Dok kenapa anak saya bisa kejang-kejang?"


"Bentar ya Bu, ini lagi dicoba untuk diperiksa."


Detak jantung Yudha semakin melemah. Hingga akhirnya alat elektrokardiograf menampilkan satu garis dengan tulisan "Leads Off".


"Tit..................................."


"Maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Allah berkehendak lain. Pasien tidak dapat tertolong."


Mama Sabrina kembali pingsan dan suster yang menolongnya. Mendengar kata itu Karin menangis histeris.


"Tidak....... Tidak mungkin Kak Yudha meninggalkanku...." Karin berteriak sekeras mungkin.


"Dokter, tidak mungkin ini semua terjadi. Coba cek ulang dok. Tolong untuk dicek ulang. Anak saya tidak mungkin meninggal. Saya tidak mau kehilangan anak saya dok." Papa Yudhistira dengan penuh harap anaknya masih bisa bertahan hidup.


"Maaf Pak tadi kami sudah berusaha untuk menolong anak bapak. Namun tetap saja tidak dapat kami tolong. Bapak mohon bersabar ya, kami turut berduka cita atas meninggalnya putra bapak."


Saat akan melepaskan semua alat yang berada pada tubuh Yudha Karin berusaha untuk mencegahnya.


"Dokter tolong jangan dilepaskan alatnya. Dokter pernah mendengar bahwa ada pasien yang bisa saja mengalami mati suri? Jadi saya mohon biarkanlah seperti itu untuk sementara," ucap Karin penuh harap Yudha akan kembali lagi.


"Baiklah, kami akan membiarkan pasien seperti ini dalam waktu 2 jam. Kalau tidak ada perubahan, kami akan mencabut semua alat yang menempel pada tubuh pasien. Saya permisi dahulu."


Dokter lalu keluar dari ruang rawat Yudha. Karin mendekati Yudha, Karin tidak percaya bahwa Yudha telah meninggal.

__ADS_1


"Kak Yudha aku tak sanggup untuk kehilanganmu. Kakak pernah bilang akan menikahi Karin setelah lulus SMA. Tapi mana buktinya Kak? Kenapa Kakak meninggalkanku," ucapnya dengan menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Yudha.


Karena tidak ada reaksi dari Yudha, akhirnya Karin memeluk Yudha. Ini baru pertama kalinya Karin memeluk laki-laki selain Papa dan Kakeknya. Karin nekat melakukan ini agar Yudha bisa kembali meskipun hal yang dilakukan ini mustahil. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba, siapa tahu Yudha bisa kembali. Karin mencoba untuk memeluknya sambil menggoyangkan tubuh Yudha agar segera bangun. Papa Yudhistira terduduk lemah di lantai mengingat anaknya tidak bisa tertolong.


"Sayang bangun, ada Mama dan Papa yang harus kamu jaga. Bukankah kamu selalu bilang padaku bahwa Mama dan Papa ingin melihatmu segera untuk menikah dan memberikannya cucu."


Karin terdiam sejenak, hatinya benar-benar hancur sekarang bahwa usahanya untuk membuat Yudha kembali tidak berhasil. Namun Karin akan tetap berusaha satu kali lagi untuk mencoba berbicara dengan Yudha.


"Bangunlah sayang, kita bisa mewujudkannya. Aku janji kita akan menikah nanti setelah aku lulus SMA. Kamu harus percaya padaku, aku serius dengan perkataanku. Jika kamu tidak bangun, apa kamu tega denganku jika aku harus hidup sendirian di dunia ini tanpamu," ucap Karin yang masih menangis memeluk Yudha.


Tak lama kemudian alat elektrokardiograf mulai berbunyi lagi, pertanda detak jantung Yudha sudah mulai ada kembali. Karin bahagia ucapannya dapat merubah keadaan Yudha.


"Titt....Titt.....Titt......." Terdengar suara detak jantung Yudha yang kembali stabil setelah Karin mengucapkan kata-kata tersebut.


"Sa-Sayang kamu mendengarkan semua perkataanku dan kamu kembali untukku," ucap Karin tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan kembali menggenggam tangan Yudha.


Papa Yudhistira lalu berdiri mendekati Yudha dan Karin.


"Nak Alhamdulillah berkat kamu Yudha bisa kembali hidup lagi. Kamu adalah semangat hidupnya. Papa berterima kasih kepadamu." Papa Yudhistira sambil memegang pundak Karin.


"Sama-sama Pa." Karin tersenyum kepada calon mertuanya.


Papa Yudhistira lalu memencet tombol, karena terlalu lama Papa Yudhistira akan keluar ruangan Yudha untuk memanggil dokter. Namun saat akan keluar dokter sudah masuk ke ruang rawat Yudha. Dokter terkejut saat pasiennya detak jantungnya sudah kembali bahkan stabil.


"Ini suatu mukjizat Pak. Pasien dapat kembali hidup."


"Iya ini berkat calon menantu saya yang dari tadi menangis dan berusaha untuk berbicara dengan anak saya, sehingga anak saya kembali hidup."


"Kesembuhan pasien juga tergantung anda Nona. Saya harap anda selalu menemaninya saat koma seperti ini. Mungkin pasien akan segera sadar jika Nona terus berbicara dengan pasien dan mencoba memberikan semangat untuknya."


"Baik dok."


Dokter lalu keluar dari kamar Yudha.


"Nak, sebaiknya kamu istirahat di sofa. Biar Papa yang menjaga Yudha. Besok kamu bukannya masih sekolah kan nak?"


"Iya Pa."


"Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah memberikan calon menantu yang baik. Anakku bisa hidup kembali berkat Karin yang menyemangati Yudha." batin Yudhistira.

__ADS_1


Karin lalu berjalan menuju sofa untuk beristirahat. Mama Sabrina masih di ruang rawat lainnya karena kekurangan cairan akhirnya Mama Sabrina diinfus.


__ADS_2