Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 68 - Salah Paham


__ADS_3

Karin melajukan mobilnya menuju ke sebuah taman. Dirinya kini ingin menenangkan diri maupun pikirannya sejenak. Bagaimanapun juga ibu hamil tidak boleh banyak pikiran, itulah yang Karin tahu saat sepupunya Risa sedang hamil Reno waktu itu. Karin duduk di bangku taman tersebut.


Kini Karin masih meneteskan air mata. Vino yang melewati taman tersebut melihat perempuan yang dikenalinya pun langsung menepikan mobilnya. Vino berjalan mendekati perempuan yang masih singgah dihatinya. Vino juga merasakan sedih ketika sahabatnya itu menangis. Vino memberikan sapu tangannya yang ada inisial V tersebut kepada perempuan yang masih singgah dihatinya. Karin menerima sapu tangan dari Vino dan memakainya untuk menghapus air matanya.


"Vino, terima kasih."


"Sama-sama, bolehkah aku duduk?"


"Boleh saja Vino, kamu tidak perlu izin kepadaku karena taman ini bukan milikku," ucapnya sambil tersenyum.


Vino tersenyum dan lalu duduk disamping Karin. Kini sahabatnya itu sudah sedikit agak tenang setelah kedatangannya. Vino ingin tahu Karin kenapa tadi menangis.


"Karin, kamu kenapa tadi menangis? Kok kamu juga sendirian ke taman, mana suamimu?"


Mendengar kata suami raut wajah Karin yang tadinya riang jadi kembali sedih.


"Hiks... Hiks....." Karin meneteskan air matanya kembali.


"Karin tenanglah, kamu bisa cerita sama aku. Kalau kamu perlu bantuan, aku siap untuk membantumu apapun itu masalah yang sedang kamu hadapi." Vino berbicara dengan lembut.


"Kamu coba cerita kepadaku, mungkin saja aku bisa membantu kamu untuk mencari jalan keluarnya."


"Hanya sedikit salah paham saja kok Vino antara aku dan suamiku."


Vino lalu mengerti salah paham yang dimaksud Karin karena saat ini Karin sedang memakai dress yang pernah Vino berikan kepada Karin saat pernikahannya. Vino memberikan dress itu sebagai kado pernikahannya.


Yudha tadi sangat marah sama Karin karena selama ini Karin diam-diam mengkonsumsi pil penunda kehamilan ditambah lagi Karin memakai dress pemberian dari Vino, sahabatnya yang suka dengannya. Karin terpaksa memakai dress dari Vino yang memang tinggal dress itu yang muat dia pakai karena semua pakaiannya sudah sempit dan baru tadi Karin menyuruh Bibi untuk mencuci semua pakaian yang baru saja Karin beli kemarin. Meskipun pakaiannya baru dia beli tapi harus segera dicuci karena pakaiannya kotor akibat debu yang menempel. Setiap beli baju baru Karin pasti mencucinya terlebih dahulu sebelum memakainya.


"Vino terima kasih ya. Sapu tangannya akan aku kembalikan nanti setelah dicuci."

__ADS_1


"Karin tidak usah dikembalikan itu buat kamu saja."


"Hmm iya," jawabnya singkat.


"Karin sebenarnya ada masalah apa? Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Perhatikan kondisi kamu, aku sangat peduli kepadamu."


"Tidak ada apa-apa kok Vino sungguh," ucap Karin sambil tersenyum tipis.


"Karin jika suamimu menyakiti hatimu aku akan selalu ada untukmu. Kamu bisa meninggalkannya dan memulai hidup baru denganku. Aku janji akan membuatmu bahagia." Vino menggenggam tangan Karin dan mengecup tangganya dengan mesra.


Disaat Vino menggenggam tangan Karin dan mengecupnya ada seseorang yang memfotonya.


"Vino apa yang kamu lakukan?" Karin melepaskan genggaman tangan Vino.


"Aku mencintaimu Karin. Sudah setahun ini aku memendam perasaanku dan hari ini aku berani untuk mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku pendam."


Karin melongo mendengar ucapan Vino. Disaat hari ini dirinya tahu tentang kehamilannya. Dihari ini juga Vino menyatakan perasaannya.


"Aku tahu Karin. Tapi sepertinya kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu. Buktinya kamu menangis sendirian di taman dan mana suamimu yang katanya mencintaimu apa adanya itu?" ujarnya.


"Vino, lupakan perasaanmu padaku dan aku hanya mencintai suamiku. Kamu berhak bahagia dengan perempuan lain Vino. Cobalah berusaha untuk membuka hatimu."


Vino menghela nafas panjang. Kini dirinya tidak ada harapan lagi untuk bersama dengan Karin karena Karin begitu mencintai suaminya.


"Baiklah, aku akan mencoba membuka hatiku untuk perempuan lain."


"Nah gitu dong, itu namanya baru sahabatku. Semangat ya Vino."


"Terima kasih ya Karin, kamu memang sahabatku. Maafkan tadi atas perkataanku dan anggap saja tadi hanya angin lewat."

__ADS_1


"Hahahaha......." Karin tertawa terbahak-bahak saat Vino bilang perkataannya dianggap hanya angin lewat.


Vino bahagia kini Karin tidak sedih lagi.


"Vino sebaiknya kamu pulang saja ini hampir petang." Karin melihat kearah jam tangannya yang menunjukkan pukul 17:39 wib.


"Baiklah. Aku akan melihatmu masuk mobil dulu sebelum aku pulang ke rumah."


Karin mengangguk lalu berjalan ke arah mobilnya. Vino juga sama masuk ke mobilnya setelah melihat Karin sudah masuk ke mobilnya. Vino langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Di mobil Karin bingung mau kemana dia pergi. Karin lalu menghubungi sepupunya Risa untuk meminta bantuannya. Akhirnya Risa mau membantu Karin dan berjanji tidak akan memberi tahu Yudha keberadaannya. Rey dan Risa telah mempersiapkan kamar untuk Karin di hotel milik keluarga Rey. Akhirnya Karin lega setelah telepon dengan sepupunya.


Karin tadi tidak bercerita secara jelas tentang masalah rumah tangga yang sedang dihadapinya. Karin tadi hanya bercerita tentang saat ini cuma ada kesalahpahaman antara dirinya dan suaminya. Karin tidak bercerita kalau saat ini dirinya sedang hamil, nanti yang ada Risa dan Rey tidak mengizinkan untuk tinggal di hotelnya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah suaminya. Rey dan Risa juga tidak memaksanya untuk bercerita tentang urusan rumah tangganya. Mereka memakluminya dan tidak ingin ikut campur mengenai privasi kehidupan Karin.


Suara adzan magrib terdengar. Karin membelokkan mobilnya ke masjid. Setelah ke masjid untuk sholat, Karin melajukan mobilnya ke hotel milik keluarga Rey. Di sana juga terdapat restoran. Karin sebelum naik ke atas ke kamarnya, Karin memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Mereka tahu bahwa Karin sepupu yang punya hotelnya jadi Karin makan bisa sepuasnya dan gratis. Rey dan Risa pernah dinner bersama dengan Yudha dan Karin di restoran hotelnya.


Berbagai makanan sudah tersaji didepannya. Seketika nafsu makannya hilang. Karena Karin ingin ditemani makan bersama suaminya. Mungkin karena dirinya sedang hamil jadi ingin selalu berada didekat suaminya. Karin harus makan, karena dirinya saat ini tidak sendiri. Ada anaknya didalam perutnya yang butuh nutrisi. Karin lalu membuka hpnya dan mencari foto Yudha. Karin memakan makanannya sambil sesekali melihat foto suaminya. Aneh hanya dengan melihat wajah suaminya nafsu makannya kembali lagi. Bahkan Karin bisa menghabiskan dua porsi makan yang tadi dia pesan. Karin lalu meminum jus alpukat, Karena saat Risa hamil sering meminum jus alpukat jadi Karin juga memesannya.


Setelah makan Karin masuk ke lift dan menekan tombol 23, yang menunjukkan kamarnya berada di lantai 23. Karin masuk ke kamarnya, setelah 5 menit masuk kamar ada suara bel berbunyi. Karin membukanya ternyata seorang petugas hotel yang memberikan mukena dan sajadah untuknya dan atas perintah Rey. Karin lalu mengambil wudhu dan sholat isya.


Setelah sholat isya Karin merebahkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size tersebut. Karin membuka hpnya dan tidak ada pesan WhatsApp ataupun telepon dari suaminya. Karin menghela nafas panjang.


"Sepertinya Papa kamu masih marah sama Mama sayang, buktinya sampai saat ini Papamu tidak menghubungi Mama," ucapnya sambil mengelus perutnya pelan.


"Apa Kak Yudha belum membuka kado dariku ya?"


Seketika Karin mendapatkan telepon dari nomor asing. Karin melihat siapa yang meneleponnya, ternyata yang meneleponnya orang yang sudah mengenalnya selama dua tahun dibangku SMA saat di Korea. Karin merupakan siswi pindahan, Dirinya pindah sekolah ke Indonesia saat naik kelas XII. Karin lalu menerima telepon dari temannya dan Karin menceritakan tentang masalah yang sedang dihadapinya. Karin nyaman bercerita dengan sahabatnya semasa SMA saat di Korea. Karin juga rindu dengan sahabatnya.


Di rumah Yudha mengepalkan kedua tangannya saat mendapatkan pesan WhatsApp dari temannya. Yudha melihat foto Karin bersama Vino tadi sore di sebuah taman. Vino tadi menggenggam dan mengecup tangan Karin dengan mesra. Yudha terbakar api cemburu dan saat mengecek keberadaan Karin melalui GPS, Yudha terkejut saat ini Karin sedang berada di sebuah hotel. Pikiran Yudha jadi kemana-kemana saat ini apalagi setelah melihat kemesraan foto Karin dengan Vino. Yudha jadi semakin kesal dan marah kepada Karin.


"Berani-beraninya dia berselingkuh dibelakangku!"

__ADS_1


Yudha langsung memakai jaket lalu bergegas mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke hotel tersebut.


__ADS_2