
Karin terdiam sejenak didalam mobilnya, nanti Karin akan melihat ekspresi wajah suaminya ketika tahu dirinya hamil. Karin lalu memasang sabuk pengaman dan langsung melajukan mobilnya ke rumah. Dirinya tidak sabar menggunakan testpack untuk menunggu hasilnya. Tapi Karin yakin kalau hasilnya akan positif. Setelah masuk ke dalam kamarnya Karin meletakkan beberapa belanjaan ke sofa. Karin nanti akan menyuruh Bibi untuk mencuci pakaian yang baru saja dibelinya. Seperti biasa Karin selalu mencuci pakaiannya terlebih dahulu sebelum dikenakan. Karena kita kan tidak tahu berapa lama pakaian itu di toko dan pasti terkena debu-debu yang berterbangan setiap harinya. Karin membuka laci meja riasnya dan meraih sekotak yang berisi testpack tersebut. Risa yang memberikan saat dirinya menikah dengan Yudha.
"Akhirnya aku akan menggunakannya juga setelah sekian lama berada dilaciku."
Karin mengambil dua testpack sekaligus. Jadi dirinya tidak akan ragu lagi untuk melihat hasilnya. Dengan cepat Karin masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian Karin kini mondar-mandir menunggu hasilnya.
"Semoga saja hasilnya positif." Karin sudah benar-benar siap menjadi ibu sekarang.
Karin lalu perlahan-lahan masuk ke dalam kamar mandi lagi dan akan melihat hasilnya. Karin menarik nafas dalam-dalam sebelum melihat hasilnya. Karin lalu memberanikan diri untuk melihat kedua testpack yang baru saja dia gunakan. Hasilnya sama, kedua testpack tersebut memperlihatkan dua garis merah yang terpampang di sana. Karin tersenyum saat melihat hasilnya dan segera mencuci testpack tersebut lalu keluar dari kamar mandi. Karin bahagia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Ternyata tubuhnya yang menggendut dan perutnya yang agak terlihat sedikit karena sang buah hatinya sudah hadir didalam rahimnya. Karin berpikir kemarin dirinya menggendut karena kebanyakan lemak dan ternyata dugaannya salah karena kini sang buah hatinya yang telah tumbuh didalam perutnya. Karin baru hari ini menyadari bahwa sudah terlambat datang bulan selama dua minggu.
"Nak, kamu benar-benar sudah hadir didalam perut Mama. Ini kado ulang tahun terindah untuk Mama sayang. Papamu pasti akan bahagia kalau mendengar kabar bahagia ini." Karin mengelus perutnya pelan, kini Karin meneteskan air mata bahagianya.
Seminggu yang lalu Karin berulang tahun ke 19 tahun. Karin bingung ingin mengungkapkan kata-kata nanti saat dirinya ingin memberi tahu kepada suaminya bahwa saat ini dirinya sedang hamil anaknya. Seketika Karin punya ide brilian.
"Ahaaa...... Aku akan memberikan kado untuk Kak Yudha. Aku akan menulis surat untuk suamiku. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat membacanya dan melihat testpack ini," ucap Karin dengan senyum merekah.
Karin lalu menulis surat untuk suaminya. Setelah itu Karin meletakkan dua testpack tersebut ke dalam sebuah kotak yang berukuran sedang dan diatas testpack tersebut Karin meletakkan surat yang telah ditulisnya. Karin lalu menutup kotak berwarna merah muda tersebut dan menyimpannya di laci.
Kotak yang tadi dia beli tadinya akan Karin isi dengan aksesorisnya. Tapi Karin masih punya 2 kotak berukuran besar lainnya yang baru dibelinya dan bisa digunakan untuk tempat aksesorisnya. Karin akan memberikan kado tersebut ke suaminya nanti saat sudah pulang dari rumah sakit.
...*****...
DI RUMAH DION
Alya dan Dion kini tengah berbahagia. Anaknya sudah mulai aktif terus menendang-nendang didalam perutnya. Kandungan Alya kini sudah memasuki bulan ke 7 dan beberapa hari lagi akan masuk bulan ke 8 jadi perutnya sudah terlihat membesar apalagi dirinya hamil anak kembar.
Sekarang Alya dan Dion sudah tidak mengontrak rumah lagi. Mereka kini tinggal di rumah orang tua Dion. Sambil menunggu suaminya pulang dari kantor Alya berdiri di samping jendela kamar, menanti sang suami pulang. Semenjak hamil Alya selalu ingin terus dekat dengan suaminya. Alya tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Mungkin saja kedua anaknya ingin selalu dekat dengan ayahnya. Alya mengusap perutnya perlahan.
"Anak-anak Umi, sebentar lagi kita akan bertemu nak. Sabar ya sayang," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah membesar dan kedua anaknya merespon dengan tendangannya.
"Auwww..... Anak-anak Umi kalian sedang main bola ya didalam?" Alya merasakan ngilu perutnya ketika kedua anaknya menendang dengan kuat.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil Dion terparkir di halaman rumahnya. Alya membuka gorden dan tersenyum saat melihat suaminya telah datang. Dion pulang cepat saat ini karena dirinya mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sudah hamil besar. Papanya juga memaklumi anaknya dan mengizinkan anaknya untuk pulang lebih cepat. Saat akan masuk ke dalam kamar Dion tersenyum saat melihat Alya dengan perut buncitnya yang sudah terlihat. Rasa lelahnya kini terbayarkan melihat istri dan kedua calon anaknya yang masih didalam kandungan.
"Assalamualaikum Umi," ucap Dion saat sudah masuk ke dalam kamar.
Dion bahagia kini calon kedua anaknya sebentar lagi akan lahir. Tidak sampai 2 bulan lagi Alya akan segera melahirkan anaknya.
"Wa'alaikum Salam Bi," ucap Alya dengan senyuman.
Dion berjalan mendekati istrinya. Alya langsung mengecup punggung tangan suaminya. Dion juga mendaratkan kecupannya dikening istrinya sambil mengusap kepala pelan kepala istrinya. Rasa sayang dan cintanya kini makin bertambah. Semenjak Alya hamil Dion selalu menuruti keinginan istrinya. Alya meraih tas Dion dan menaruhnya. Lalu Alya membantu melepaskan dasi suaminya. Alya sebenarnya tetap ingin membuatkan teh hangat untuk suaminya saat pulang kerja. Namun dirinya dicegah oleh Dion sudah beberapa hari ini dengan alasan Alya tidak boleh terlalu kecapekan naik turun tangga di rumahnya. Alya menuruti perintah suaminya karena dirinya tidak mau menjadi istri yang durhaka. Sekarang Bibi yang membuatkan teh hangat untuk Dion setelah pulang dari kantor.
Dion tidak menyangka diusia mudanya akan segera punya anak dan bahkan 2 sekaligus. Dion bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan. Mereka saat ini sudah duduk di sofa. Bibi barusan menaruh teh hangat 2 cangkir di meja. Alya dan Dion lalu meminum teh hangat bersama. Dion bergeser ke kiri dan berusaha mendekatkan duduknya dengan Alya.
"Sayang, aku bahagia anak kita sebentar lagi akan lahir," ucap Dion sambil mengelus perut Alya.
Alya tersenyum suaminya itu kadang memanggilnya dengan sebutan Umi dan juga sayang.
"Iya Bi, waktu begitu cepat berlalu ya."
"Arghhh Bi............" Alya sambil memegang perutnya sebelah kanan.
"Kenapa Mi? Perutmu sakit? Atau jangan-jangan Umi mau melahirkan?" Dion panik saat ini sedangkan Alya sedang mengusap perutnya.
"Abi ada-ada saja. Kandungan Umi baru mau jalan 8 bulan dan belum waktunya untuk melahirkan. Tadi Umi hanya kaget saja kedua anak kita sedang bergerak-gerak didalam sana. Ini sekarang perut Umi terlihat lebih menonjol ke kanan."
Dion lalu memperhatikan perut Alya dan benar saja perutnya agak menonjol ke kanan.
"Ah iya Ini benar mereka sedang mencari posisi yang tepat yang menurutnya nyaman."
"Anak-anakku kalian sedang jalan-jalan diperut Umi ya? Kalian sudah merasa sesak ya berdua didalam? Sabar ya nak, sebentar lagi kalian akan lahir," ucap Dion kembali.
"Abi kok bicara seperti itu sih?"
__ADS_1
"Emangnya kenapa Mi?"
"Apa aku salah bicara lagi ya hmm..." Batin Dion.
"Sayang, anak kita ingin segera melihat dunia. Lihat saja mereka sering bergerak-gerak berganti posisi untuk mencari kenyamanan."
"Hmm iya Bi."
Alya melihat suaminya sepertinya kelelahan. Kemudian Alya akan memijit suaminya sebelum suaminya mandi.
"Abi hadap sana dulu."
"Kenapa Abi harus hadap ke sana Mi?" Dion bingung kenapa istrinya berbicara seperti itu.
"Pokoknya Abi nurut saja apa kata Umi."
Dion lalu memunggungi Alya kemudian Alya mulai memengang pundak Dion dan mulai memijitnya. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Alya menyudahi memijit suaminya. Dion langsung berbalik badan menghadap wajah cantik istrinya.
"Ternyata Umi sangat perhatian kepadaku. Sekarang badanku sudah enakan Mi."
"Iya Umi perhatian sama siapa lagi kalau bukan perhatian sama Abi. Lagian Abi kan calon ayah dari anak-anak Umi."
"Terima kasih ya Mi," ucapnya dengan senyuman lalu mengecup bibir Alya sebentar. Kali ini tidak ketahuan Mama Sofie lagi karena mereka berada di kamar Dion dan juga tinggal di rumah orang tuanya Dion.
"Abi mandi dulu gih," ucap Alya malu-malu.
Alya tersipu malu jika setiap kali Dion mengecup bibirnya meskipun mereka sudah menikah namun masih saja Alya merasa belum terbiasa akan hal itu.
"Iya Mi. Uh padahal Abi masih ingin berlama-lama sama Umi," ucapnya sambil mencubit pipi Alya.
Alya tidak jadi diet karena suaminya melarangnya. Jadi Alya sekarang pipinya masih terlihat chubby. Dion semakin gemas dengan istrinya. Hampir setiap hari mencubit pipi Alya.
__ADS_1